Wahabi Yang Plin Plan

0
786 views

b0289
Tetapi pada tulisan kali ini aku tidak bermaksud untuk membela Syaikh Idahram. Perhatianku justru tertarik kepada tulisannya berikut ini

Secara jelas terlihat Firanda memasukkan nama Asya’iroh atau Asy’ariyyah kedalam golongan sekte sesat versinya. Tetapi yang lucunya seakan tanpa malu di halaman yang sama justru dia menjadikan ulama Asy’ariyah sebagai rujukan hujjahnya.

Dimana kau taruh mukamu wahai Firanda sehingga tanpa rasa malu mengutip-ngutip ilmu dari ulama yang sektenya Kau anggap sesat?, dan tentu saja bukan hanya Firanda yang menganggap Asy’ariah sesat melainkan wahabi, lihatlah apa pendapat syaikh-syaikh mereka

Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi

Pendapat yang benar, Asy’ariyah dan Maturidiyah termasuk kelompok ahlul bid’ah, tidak boleh seorang pun menyatakan Asy’ariyah adalah Ahlus Sunnah. Barang siapa yang menyatakan dua kelompok ini Ahlus Sunnah wal Jamaah berarti telah menjerumuskan dirinya dalam kesalahan fatal dan bahaya yang besar. (At Ta’kid hlm. 7)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan pernah ditanya, “Apakah Asy’ariyah dan Maturidiyah termasuk Ahlus Sunnah?”Beliau menjawab, “Mereka tidak teranggap sebagai Ahlus Sunnah. Tidak ada seorang pun yang menggolongkan mereka ke dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka memang menamakan diri mereka termasuk Ahlus Sunnah akan tetapi mereka bukanlah Ahlus Sunnah.” (Lihat Ta’kid Musallamat Salafiyah, hlm. 19—30)

Memang beginilah keadaan wahabi. Mereka tidak pernah konsisten didalam memegang ucapan. Di satu sisi mencelanya secara habis-habisan tetapi disisi lain justru mengambil ilmunya secara habis-habisan. Tapi mau gimana lagi? Bisa apa wahabi tanpa mengutip ilmu dari Ulama Asy’ari yang mereka anggap sesat itu? Meskipun dengan lantang mereka selalu berteriak “Jangan mengambil ilmu dari ahlul bid’ah (bid’ah versi mereka tentunya) dan jangan bermajelis dengan Ahlul Bid’ah” (Lihat disini http://almanhaj.or.id/content/2602/slash/0/jangan-mengambil-ilmu-dari-ahli-bidah/), tetapi ikrar tersebut bisa di simpan lagi jika memiliki kepentingan. Secara jujur mau nggak mau memang harus mengambil  ilmu dari Asy’ariyah juga.

Berikut kutipan dialog Syaikh Al Fauzan dari As-ilah Al Manaahij, Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, hal. 235-238

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah ditanya,
Sebagian orang ada yang menyebut mubtadi’ (ahlu bid’ah) pada sebagian ulama besar seperti Ibnu Hajar, An Nawawi, Ibnu Hazm, Asy Syaukani, dan Al Baihaqi. Apakah benar perkataan mereka?
Jawaban Syaikh hafizhohullah,
Para imam yang telah disebutkan itu memiliki banyak keutamaan, ilmu yang luas, memberi faedah yang banyak bagi umat, bersungguh-sungguh dalam menjaga dan menebarkan sunnah, mereka pun memiliki banyak tulisan, kebaikan ini semua telah menutupi kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat –semoga Allah merahmati mereka-.
Perkara menyatakan mereka-mereka tadi sebagai mubtadi’ (karena kesalahan yang mereka perbuat, pen), maka kami nasehatkan kepada para penuntut ilmu (yang belajar Islam), janganlah tersibukkan dengan hal semacam itu. Karena hal itu hanya akan menghalangi kita mendapatkan ilmu.
Orang-orang yang melakukan semacam ini akan terhalangi dari mendapatkan ilmu. Waktunya akan habis tersibukkan dengan fitnah semacam itu. Ia pun lebih suka ada perdebatan (perselisihan). Aku nasehatkan kepada semua untuk terus menunut ilmu dan tetap semangat meraihnya. Menyibukkan diri dalam hal semacam itu, sungguh tidak ada faedah di dalamnya.
Perlu diketahui bahwa An Nawawi, Ibnu Hazm, Ibnu Hajr, Asy Syaukani, Al Baihaqi, kesemuanya adalah ulama-ulama besar. Mereka adalah ulama yang tsiqoh (kredibel) menurut para ulama. Mereka punya karya tulis yang amat banyak, tulisan mereka pun jadi rujukan kaum muslimin, sehingga itu semua sudah menutupi kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat –semoga Allah merahmati mereka-.

Ringkasnya Syaikh Fauzan menyadari kelemahan kelompok wahabinya, didalam hatinya mengakui akan keluasan ilmu yang di miliki ulama-ulama Asy’ariyyah merupakan suatu hal yang konyol jika mengabaikan kitab-kitab mereka. Memang tidak bisa dibantah oleh siapapun jika didalam mazhab Syafi’i yang dianggap wahabi sebagai ta’asub dan mazhab Asy’ariyyah yang wahabi anggap sesat dipenuhi sederet ulama-ulama yang mumpuni di berbagai cabang ilmu syari’ah, lebih-lebih lagi didalam ilmu hadits. Dan wahabi pun mengakui bahwa nama-nama tersebut merupakan Profesor-profesor besar didalam keilmuan. Tetapi meskipun begitu kesombongan tetap masih ada didalam hati mereka, lihat kalimat Syaikh Fauzan “sehingga itu semua sudah menutupi kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat”, apa maksud perkataan ini? Logiskah perkataan tersebut meluncur dari ucapannya? seolah-olah Syaikh Fauzan merasa dirinya lebih pintar dan lebih alim dalam memahami yang haq dan yang bathil ketimbang Imam Ibnu Hajar, Imam Nawawi, Imam Baihaqi, Imam Syaukani dan Ibn Hazm.

Inikah kesombongan itu? wallahu a’lam, Aku hanya mengingatkan bahwa Sombong adalah dosa yang pertama kali dilakukan oleh mahluk ciptaan Allah yaitu Iblis ketika menolak peritah Allah SWT agar iblis bersujud kepada Nabi Adam AS. Akhirnya iblispun dikeluarkan dari surga, dan dengan segala tipu dayanya  mengajak manusia untuk berbuat dosa dan maksiat sehingga pada akhirnya muncul berbagai macam dosa lainnya. Astagfirulah….!!!, dan masih banyak lagi keburukan-keburukan sifat sombong yang tertera di dalam Al-Qur’an dan Hadits, semoga kalian (wahabi) tidak begitu.

Tetapi aku melihat sungguh lucu apa yang dipertontonkan wahabi. Mereka tak ubahnya  memakan muntahannya sendiri. Disatu sisi mereka  mencela Asy’ariyah secara habis-habisan tetapi disisi lain justru tidak mampu berhujjah apa-apa tanpa kitab-kitab para ulama Asy’ariyah. Disatu sisi mereka mencela habis-habisan ta’asub tetapi disisi lain justru mereka memperlihatkan rasa ta’asub yang kentara, disisi satu sisi mereka mencela ghuluw secara habis-habisan sementara disisi lain mereka justru ghuluw kepada pendapat diri mereka sendiri. Inilah yang orang-orang bilang plin plan.

NO COMMENTS