Wahabi Sholat Ternyata Mengikuti Albani Manusia Akhir Zaman!

0
2,510 views

fatwa albani pro yahudi

Maaf ini satu kantor di Epson pada Salafi semua ya?

Para sahabat belajar sholat misalnya itu langsung praktek sholat dgn Nabi. Bukan baca kitab Hadits karena kitab Hadits belum ada. Begitu pula dgn anak para Sahabat yaitu generasi Tabi’in. Para Imam Mazhab yg dari Tabi’it Tabi’in juga begitu. Praktek sholat langsung dgn para Ulama Tabi’in meski mulai mengumpulkan hadits2.

Tahu tidak kapan 2 Hadits tersahih dibukukan? Imam Bukhari itu lahir tahun 196 Hijriyah. Membukukan Sahih Bukhari sekitar tahun 240 H. Imam Muslim lahir setelah Imam Bukhari.

Jadi generasi Salaf itu belajar dgn cara praktek langsung dgn para Ulama / Salafus Saleh. Bukan dgn mengkaji Kitab Bukhari dan Muslim karena itu belum ada.

Makanya di Hadits ada disebut Orang Tua wajib mengajarkan anaknya sholat saat usia 7 tahun dan memukulnya jika tidak sholat pada usia 10 tahun. Sudah pada baca hadits itu belum?

Apa ada orang2 di sini yang bisa sholat dari cuma membaca kitab hadits saja? Tidak belajar sholat dari orang tua / guru2 mereka?

Bahkan para Imam Hadits terkemuka seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Hajar, Imam Nawawi dsb saja belajar sholat dgn mengikuti Mazhab Syafi’e. Bukan dgn mempelajari hadits2 yg mereka kumpulkan karena jumlahnya tidak cukup. Dari 1 juta hadits yg dikumpulkan Imam Bukhari, hanya 7000-an yg disahihkan. Itu tidak cukup untuk membuat pedoman cara sholat lengkap:
ulama-ulama yang terkemudian yang mengikuti dan turut menyebarkan Mazhab Syafi’i, antara lain:
Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari
Imam Bukhari
Imam Muslim
Imam Nasa’i
Imam Baihaqi
Imam Turmudzi
Imam Ibnu Majah
Imam Tabari
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani
Imam Abu Daud
Imam Nawawi
Imam as-Suyuti
Imam Ibnu Katsir
Imam adz-Dzahabi
Imam al-Hakim

Lihat betapa banyaknya Imam2 Hadits terbesar di dunia yang hafal Al Qur’an dan menguasai ratusan ribu hadits dgn rendah hati sholat dgn mengikuti Mazhab Imam Syafi’ie.

Masak kalian yang belum tentu hafal Juz ‘Amma dgn sombong mencoba menggali sendiri kitab2 hadits agar bisa sholat sesuai sunnah Nabi. Tidak semua perbuatan ayah anda, anda tulis dalam “Hadits”. Begitu pula tidak semua Sunnah Nabi dituliskan para Sahabat ke dalam Hadits. Tapi Sunnah Nabi tsb mengalir lewat Sunnah Sahabat yg meniru Sunnah Nabi. Begitu seterusnya.

Posisi kepala, tangan, kaki, jari, dsb itu sulit dituliskan dgn hadits. Jadi harus praktek langsung. Cara terbaik belajar silat adalah dgn praktek langsung dgn guru2 silat. Tidak bisa orang cuma baca kitab silat akhirnya bisa jadi ahli silat.

Aneh jika seorang tukang servis jam hingga usia 20 tahun seperti Albani yang belajar sendiri di perpustakaan tiba2 jadi Ahli Hadits yg lebih hebat daripada Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Hajar dsb dan menulis cara Sholat Nabi yg ternyata bertentangan dgn cara yang dicontohkan oleh para Imam Mazhab. Memangnya dia punya mesin waktu Dora Emon sehingga bisa pergi dari abad 14 Hijriyah ke 1 Hijriyah untuk melihat Nabi sholat.

Dalil itu perlu. Tapi jangan berlebihan sehingga tidak mau sedekah atau baca Al Qur’an di hari Jum’at dgn alasan tidak ada Hadits Nabi yg menyebutkan itu.

 

— Pada Kam, 16/5/13, Sugiarto <sugiarto@sep.epson.com.sg> menulis:

Dari: Sugiarto <sugiarto@sep.epson.com.sg>
Judul: RE: [keluarga-islam] fwd :MANA DALILNYA?
Kepada: “Imam Mu’ti” <imam@sep.epson.com.sg>, “A Nizami” <nizaminz@yahoo.com>, “Joko Susanto” <PEB1981811@sep.epson.com.sg>
Cc: “Sutarno” <sutarno@sep.epson.com.sg>, “Iktiyar Wicaksono” <iktiyar.wicaksono@sep.epson.com.sg>, “Heru Triyanto” <heru.triyanto@sep.epson.com.sg>, “Bahtiar Yogana” <bahtiar.yogana@sep.epson.com.sg>, “Irfan Khalily” <irfan.khalily@sep.epson.com.sg>, “Maulana Makhdum Ibrohim” <maulana.ibrohim@sep.epson.com.sg>, “Jaka Hari Karyana” <jaka.hari@sep.epson.com.sg>
Tanggal: Kamis, 16 Mei, 2013, 8:45 PM

Trus kalo tiap Mbah bikin kitab, apakah pasti sama ustadz?
Hehehe..

Lah kalo ada mbah-nya yang mencari ilmu denagn bertapa di kuburan ato di gua2?
Masa’ sholatnya duduk sepanjang hari, trus kalo sholat yang pake sutroh ..mbah yang sakti pasti di depannya ada keris ato dupa…

Nggak salah kalo di negeri ini banyak ajaran.. lah rujukannya shohih mbahnya masing2…

“nantikan buku terbaru: shifat sholat Eyang Subur” pasti laris..

Eneng2 wae Ustadz ini.. JJJ

From: Imam Mu’ti
Sent: Friday, May 17, 2013 10:40 AM
To: A Nizami ; Sugiarto ; Joko Susanto
Cc: Sutarno ; Iktiyar Wicaksono; Heru Triyanto ; Bahtiar Yogana ; Irfan Khalily ; Maulana Makhdum Ibrohim ; Jaka Hari Karyana
Subject: RE: [keluarga-islam] fwd :MANA DALILNYA?

Saya telah membaca artikel kecil ini, dan ada kritik terhadap orang yang membikin kitab Shifat Sholat Nabi. Alasannya kita sudah sholat sesuai kakek nenek dan guru2 kita sebelumnya. Nah, apakah perlu diganti judul kitab Shifat Sholat Mbahku???
Perlu antum semua ketahui, setiap madzhab mempunyai mashdar tallaqqi ( sumber pengambilan ilmu sebagai rujukan ).
4 madzhab yang ada sepakat pada 3 mashdar yakni Al qur’an, As Sunnah dan Ijma’.
Mashdar talaqqi lainnya tidak disepakati seperti qiyas, masholihul mursalah dan amalan ahlul Madinah.
Hanya Imam Malik menjadikan amalan ahlul madinah/penduduk Madinah sebagai sandaran hokum syari’at. Tapi hal ini dibantah fuqoha’ lain, alasannya karena amalan penduduk Madinah sudah berbeda2 . Padahal waktu itu masih zaman tabi’ut taabi’in ( karena Imam Malik termasuk tabi;ut tabi’in ).
Nah, kalo amalan ahlul Madinah ( tempat Nabi berdakwah, tempat para pembesar sahabat dan tabi’in berada dan tempat sumber ilmu yang murni ) saja tidak disepakati oleh seluruh 3 madzhab besar lainnya, apalagi amalan ahlul Indonesia atau ahlul Batam yang jaraknya sangat jauh dari masa kenabian dan sangat jauh dari sisi tempat.
Karena itu sangat aneh kalo kita menyandarkan agama kepada nenek moyang saja….

From: A Nizami [mailto:nizaminz@yahoo.com]
Sent: Friday, May 17, 2013 10:16 AM
To: Sugiarto ; Joko Susanto
Cc: Sutarno ; Iktiyar Wicaksono; Heru Triyanto ; Bahtiar Yogana ; Imam Mu’ti; Irfan Khalily ; Maulana Makhdum Ibrohim ; Jaka Hari Karyana
Subject: RE: [keluarga-islam] fwd :MANA DALILNYA?

Harusnya tulisan ini jelas.
Membaca Al Qur’an, Sedekah, Zikir, itukan sudah ada dalilnya di Al Qur’an. Silahkan cari sendiri.
Jadi kalau ada orang yg membaca Al Qur’an tiap hari misalnya, kemudian dia ingin baca Yasin setiap malam Jum’at. Tidak bisa kita bilang itu Bid’ah karena tak ada dalilnya. Yasin itu kan Al Qur’an!

Begitu pula sedekah. Kalau kita misalnya sedekah setiap hari, tapi mau sedekah besar setiap hari Jum’at. Tidak bisa dibilang itu Bid’ah karena tidak ada Dalil Nabi sedekah setiap hari Jum’at.

Jadi jangan Ghuluw.

Karena tidak ada Dalil Hadits Nabi baca Al Qur’an di hari senin misalnya, akhirnya tidak mau baca Al Qur’an di hari Senin, dsb.

Harusnya perintah Iqro, Sedekah, Berzikir sebanyak2nya sudah cukup Dalil bagi kita untuk melakukan itu sebanyak2nya tanpa mengganggu kewajiban kita yg lain.

Jangan sampai tidak mau melakukan kebaikan di atas misalnya di hari Jum’at, Usai sholat, 40 hari, dsb karena tidak ada dalilnya, dsb…

Jangan sampai kikir/pelit atau bahkan tidak mau mengerjakan perintah Allah di atas dgn alasan “Tidak Ada Dalil” atau itu adalah Bid’ah. Na’udzubillah min Dzalik!

Setengah Hati:
Guruku menitipkan sedekah untuk kubagi pada hari arofah,

Kutanyakan adakah dalilnya?

Beliau menjawab : dan sejak kapan kamu perlu dalil untuk kebaikan?

Reza Pacicu:

Mao sedekah d hari jum’at…krn GAK ADA DALILnye maka BATAL deh berbuat baik…

Mao baca qur’an/yasiin d malam jum’at…krn GAK ADA DALIL maka BATAL deh bwt baca qur’an/yasiin

Mao NYANTUNIN anak yatim setiap bulan krn GAK ADA DALIL maka BATAL deh nyantuninnye

dan seterusnya…

Kapan nih ane bs BERBUAT BAIK yg sesuai syari’at?

Sumber:

http://kabarislam.wordpress.com/2013/05/14/tak-mau-jalankan-perintah-allah-sebab-tak-ada-dalil/

.
===
Belajar Islam sesuai Al Qur’an dan Hadits di http://media-islam.or.id

Buat website mulai 1 Dinar (Rp 2,4 juta) http://media-islam.or.id/2010/07/22/pembuatan-website-seharga-2-dinar

Bagi yg ingin turut membantu http://www.media-islam.or.id DSB, bisa transfer mulai rp 5 ribu ke : Rekening BCA No 0061947069 a/n Agus Nizami dan konfirmasi. Mudah2an bisa jadi sedekah kita sbg ilmu yg bermanfaat.
Milis Syiar Islam: syiar-islam-subscribe@yahoogroups.com

— Pada Kam, 16/5/13, Joko Susanto <PEB1981811@sep.epson.com.sg> menulis:

Dari: Joko Susanto <PEB1981811@sep.epson.com.sg>
Judul: RE: [keluarga-islam] fwd :MANA DALILNYA?
Kepada: ” Sugiarto ” <sugiarto@sep.epson.com.sg>
Cc: ” A Nizami ” <nizaminz@yahoo.com>, ” Sutarno ” <sutarno@sep.epson.com.sg>, “Iktiyar Wicaksono” <iktiyar.wicaksono@sep.epson.com.sg>, ” Heru Triyanto ” <heru.triyanto@sep.epson.com.sg>, ” Bahtiar Yogana ” <bahtiar.yogana@sep.epson.com.sg>, “Imam Mu’ti” <imam@sep.epson.com.sg>, ” Irfan Khalily ” <irfan.khalily@sep.epson.com.sg>, ” Maulana Makhdum Ibrohim ” <maulana.ibrohim@sep.epson.com.sg>, ” Jaka Hari Karyana ” <jaka.hari@sep.epson.com.sg>
Tanggal: Kamis, 16 Mei, 2013, 5:35 PM

Iya – ya…. La wong urusan dapur saja kalau mau ces pleng harus pakai dalil,
Sampai – sampai dia berusaha kursus kemana – mana untuk mencari cari dalil cara dan resep memasak yang mantap & paten.
Di Pt.Epson ni kalau kita nak mau melamar kerja tak cukup dengan adanya orang dalam saja baik itu kenalan aatopun saudara, tapi harus dengan Izasah asli sebagai syarat mutlak kerja di Pt.Epson ini.

Subhaanallohi wa bihamdihi.

From: Sugiarto
Sent: Thursday, May 16, 2013 6:07 PM
Cc: A Nizami ; Sutarno ; Iktiyar Wicaksono ; Heru Triyanto ; Bahtiar Yogana ; Imam Mu’ti ; Irfan Khalily ; Maulana Makhdum Ibrohim ; Joko Susanto ; Jaka Hari Karyana
Subject: RE: [keluarga-islam] fwd :MANA DALILNYA?

Bissmillah,

Sebelumnya saya minta maaf,
Sebagai orang awam,ingin berbagi pengalaman tentang hal ini ketika saya masih kecil dan Insya Allah saya masih ingat.

Ketika saya kecil kira2 baru kelas 2 SD saya bermain di rumah kakek saya (Rohimakumullah) di daerah jombang (basis NU dan Muhammadyah).
Sedikit informasi keluarga saya adalah NU murni, bahkan Bapak saya (Rohimakumullah) adalah anggota GP ansor yang pernah menumpas G30S PKI di jombang.

Ketika itu tidak sengaja saya memperhatikan cara sholat kakek saya, ketika bertasyahud beliau (rohimakumullah) “menunjuk” menggunakan jari tengah.
Saya lalu bertanya kepada Bapak saya (Rohimakumullah), “kok mbah kalo sholat pake jari tengah?” apakah mbah cacat?”

Bapak saya (Rohimakumullah) menjawab, itu “sudah kebiasaan”.

“Kenapa Bapak beda?”

Bapak saya (Rohimakumullah) menjawab, beda guru..

Besoknya saya diajak main kerumah teman beliau (Rohimakumullah),
Kebetulan orang muhammadyah murni, entah apa tiba2 beliau berdua membahas masalah basmallah,

Bapak saya (Rohimakumullah) berpendapat bahwa, wajib membaca bismillah. (Tanpa dalil, kenapa dan siapa yang mengajarkan)
Teman beliau berpendapat bahwa tdk perlu dengan alasan bahwa surat yang diturunkan pertama kali adalah “Iqro’” baru setelah itu “BissmiRobika.”

Lantas siapa yang benar?

Lihatlah, bagaimana jika mengajarkan tanpa dalil, tanpa ilmu, bukankah akan menjadi tertawaan orang2 kafir?

Semua rancu, korbannya adalah anak cucu.

Apakah kita akan mengajarkan anak kita prktikum tanpa teori? Tanpa asal usul?tanpa ilmu?
Apakah hanya di jawab sudah ikuti saja bapakmu ato gurumu?kalo tidak maka akan kualat?

Bagaimana kalo anak kita kritis? Apa jawaban kita?

Bukankah manusia tempat salah dan lupa?
Apakah bukan tidak mungkin kita guru2 kita salah?

Wallahu’alam,

Semoga kita semua di berikan hidayah dan di lunakkan hati kita yang keras.
Dan anak cucu kita di selamatkan dari ajaran2 yang tidak jelas di jaman Dajjal yang semakin merajalela.
Saya mohon janganlah mengajarkan sesuatu tanpa landasan ilmu dan membuat anak cucu kita menjadi bulan2an dajjal kelak.

Ingatlah, apabila orang awam melakukan kesalahan karena ajaran yang salah maka dosannya untuk dia dan orang yang mengajarkannya tanpa dikurangi sedikitpun.

Abu Muhammad Ibrahim

Dari: A Nizami <nizaminz@yahoo.com>
Judul: MANA DALILNYA?

Assalamu’alaikum wr wb,

Ardha Pt:
Nasehat Gus Mus : Ada yg dg gagah mengatakan: “TAK ADA dalilnya!”; ada yg dg rendah hati mengatakan: “Aku BELUM MENEMUKAN dalilnya.”

Yg mengatakan tak ada dalil karena dia tidak tahu dalil itu apa, yg mengatakan belum nemu dalilnya nyari aja gk pernah,

Ada yg sibuk memperdebatkan ibadah, hingga tak sempat beribadah.

Komentar saya: Itulah pentingnya Sanad. Kita bisa sholat bukan karena mempelajari berbagai hadits sahih. Tapi karena kita dari kecil mengikuti orang2 tua dan guru2 kita sholat. Sehingga kita bisa mengikuti gerakan, posisi badan, tangan, kaki dan kepala di setiap gerakan sholat.

Orang2 tua kita dulu juga belajar sholat seperti itu pada orang2 tua dan guru2 mereka dan terus bersambung hingga ke sahabat dan Nabi.

Bahkan Imam Hadits paling hebat seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim pun sholat dan melakukan ibadah lain mengikuti Mazhab Imam Syafi’ie. Bukan dgn mempelajari berbagai hadits ttg sholat yg mereka kumpulkan. Itu tidak cukup jumlahnya.

Tidak semua perbuatan orang tua kita bisa kita tuliskan dalam hadits. Tapi kita tahu sebagian perbuatan dan perkataan orang tua kita. Begitu pula tidak semua perbuatan Nabi ditulis di hadits. Tapi para sahabat meniru gerakan sholat Nabi, begitu pula anak2nya.

Jadi aneh jika ada orang pada abad 20 Masehi ini menulis buku Sholat Shifat Nabi yg katanya sesuai dgn cara Nabi Sholat, tapi menyelisihi yg dicontohkan para Imam Mazhab. Apa dia pakai mesin Waktu Dora Emon sehingga bisa pergi ke abad 7 Masehi dan melihat Nabi Sholat? Apa selama 1400 tahun ini ummat islam salah cara sholatnya hingga sampai dia menulis kitab tsb?

Meski demikian, saya selalu membaca hadits2 seperti Shahih Bukhari, Muslim, dsb meski untuk sholat dan ibadah lain tetap mengacu pada Mazhab Syafi’ie. Ilmu itu datang kepada kita melalui Ulama Pewaris Nabi. Bukan langsung jatuh dari langit. Hilangnya Ilmu juga dgn cara wafatnya para Ulama.

.sumber: kabarislamia.com

NO COMMENTS