Wahabi mazhab boneka antek antek Amerika !

0
1,722 views

971065_467445590030401_1793797612_n

Semua Kekacauan Sosial Lahir dari Akhlak yang Buruk.
“Semua yang semestinya tidak terjadi kemarin dan hari ini lahir dari akhlak yang buruk umat manusia. Jika umat manusia dalam tingkah laku dan kehidupan kesehariannya meniru akhlak Ilahi maka tidak satupun problema sosial yang akan timbul. Maka satu-satunya cara menyelesaikan semua persoalan yang muncul akibat dari penerapan akhlak yang buruk adalah menerapkan akhlak yang baik dalam semua lini kehidupan.”(Ayatullah al Uzhma Jawadi Amuli).

wahabi sering melontarkan tuduhan-tuduhan kepada kelompok muslim yang lain sebagai pelaku TBC (tahayul, bid’ah, churafat), kafir dan musyrik. Bahkan menganggap terhadap orang muslim tertentu, lebih berbahaya daripada orang Yahudi dan orang Kafir. Mereka memang usil, sirik, sok tahu, sok alim, dan suka iri sehingga sering mempermasalahkan tradisi masyarakat muslim di Indonesia, seperti maulid Nabi, haul ulama, tahlilan, dziba’an, ziarah kubur, qunut shubuh, ratiban, tawassul, menghadiahkan pahala kepada orang yang sudah meninggal, do’a berjama’ah, zikir keras berjama’ah, bersalaman sesudah shalat, dan lain sebagainya. Anehnya, mereka lunak, lemah lembut, dan bersahabat karib, bahkan tunduk dan merunduk-runduk kepada Amerika dan Israel.

Ayatullah al Uzhma Jawadi Amuli dalam lanjutan kelas akhlak yang diasuhnya di kota suci Qom Republik Islam Iran menyampaikan ucapan bela sungkawa kepada seluruh kaum muslimin berkaitan dengan hari peringatan syahadah Sayyidah Fatimah Ma’sumah sa dan atas  meninggalnya guru akhlak Ayatullah Khusvaqt. Beliau berharap agar ruh ulama besar yang meninggal saat sedang berziarah di Haramain Arab Saudi tersebut dimuliakan dan ditinggikan kedudukannya oleh Allah SWT.

Ayatullah Jawad Amuli dalam pembahasan akhlaknya menyatakan bahwa akhlak sangat berperan penting dalam mewujudkan kehidupan sosial yang bahagia dan sejahtera, tidak hanya berkaitan dengan kebaikan di dunia namun juga kebahagiaan di akhirat kelak. Beliau berkata lebih lanjut, “Jika seseorang beragama tanpa disertai dengan pemahaman dan kaidah ilmu yang memadai, maka  orang itu akan menemui banyak masalah yang membahayakan eksistensinya. Ia akan memusuhi para ilmuan sebagaimana pernah terjadi dimasa kegelapan, dan sebagaimana yang ditunjukkan Taliban dan Al Qaedah masa kini yang hanya akan merusak citra agama dan menebarkan kepahitan karena agama yang dianutnya tanpa ilmu dan pemahaman yang baik. Namun jika seseorang berilmu namun tidak beragama, tinggal menunggu waktu yang tidak lama, perang dunia pertama dan kedua akan kembali terjadi.”

 

Guru besar Hauzah Ilmiah Qom yang juga salah satu ulama marja taklid tersebut kemudian melanjutkan bahwa semua persoalan yang dihadapi di dunia saat ini bersumber dari penerapan akhlak yang buruk. “Semua yang semestinya tidak terjadi kemarin dan hari ini lahir dari akhlak yang buruk umat manusia. Jika umat manusia dalam tingkah laku dan kehidupan kesehariannya meniru akhlak Ilahi maka tidak satupun problema sosial yang akan timbul. Maka satu-satunya cara menyelesaikan semua persoalan yang muncul akibat dari penerapan akhlak yang buruk adalah menerapkan akhlak yang baik dalam semua lini kehidupan.”

 

Ayatullah Jawad Amuli kemudian menekankan pentingnya penegakan akhlak yang mulia, sebab akhlak mulia menurutnya adalah diantara tujuan utama diutusnya para Anbiyah dan inti dakwah dari para Aimmah as. “Kalau kita menelaah dengan seksama, khutbah-khutbah, surat-surat dan hikmah-hikmah Imam Ali as yang terangkum dalam Nahjul Balaghah kesemuanya bermuara pada penekanan untuk menegakkan akhlak yang mulia.” Ujar ulama yang juga dikenal sebagai mufassir Al-Qur’an tersebut.

Shimon Peres bersama Abdullah Gul dan Erdogan

Tentu saja, para pemimpin boneka tidak bisa secara terang-terangan melancarkan perang melawan simbol (keagamaan) seperti hijab ( http://en.wikipedia.org/wiki/Hijab ) (pakaian wanita islami), gaya hidup hidup sederhana, dsb. sebagaimana Syah Reza Pahlavi asal Iran melakukannya namun kemudian kehilangan dukungan publik dan para pelaku Perang Dunia mengasingkannya ke sebuah pulau. Nampaknya, kemasan Barat untuk Islam secara bertahap berubah menjadi gaya hidup Barat, dengan komitmen seremoni keagamaan dan berbaur serta minum-minum bersama. Inilah kemunculan Islam versi Amerika

.

Bukankah pemimpin negeri-negeri  Islam ( http://en.wikipedia.org/wiki/Islam ) eharusnya tampil islami? Mengapa mereka minum, berjabat tangan dengan “orang asing”, dan mendukung rezim tirani seperti Israel ( http://en.wikipedia.org/wiki/Israel ) ? Tulisan di bawah coba memberikan penjelasan pertanyaan tersebutPendiri Republik Islam Iran ( http://en.wikipedia.org/wiki/Iran ) telah membedakan antara Islam “sejati” dan Islam versi Amerika. Islam ( http://ejajufri.wordpress.com/tag/islam ) versi Amerika didefinisikan sebagai Islam harta dan kekuasaan, penipuan, kompromistis dan diperbudak, serta kapitalis dari kalangan tertindas dan melarat.

Dalam versi ini, inti dan nilai berharga Islam terlupakan dan yang tersisa hanyalah lapisan. Dengan kata lain, semangat menjalankan keislaman, perintah Tuhan dan praktik keagamaan menjadi rusak dan tinggal kulitnya saja.Mungkin, faktor utama sikap kompromistis pemimpin negeri-negeri Islam itu karena kesalahpahaman atas ajaran Islam.

Pemikiran seorang muslim, yang tahu bahwa Tuhan adalah pembuat hukum dan penguasa semesta alam, tidak akan dan tidak bisa harmonis dengan keyakinan materialistis Barat. Usaha seorang kapitalis Barat untuk mengasimilasi simbol-simbol kebudayaan ( http://ejajufri.wordpress.com/tag/kebudayaan ) berbagai bangsa merupakan perang psikologis untuk menggambarkan semangat seluruh peradaban yang disatukan dengan gaya hidup modern Barat.

Jelas sekali, para elit penguasa dan bangsawan akan menentukan gaya hidup kelompok yang lain. Sebuah masyarakat dengan penguasa yang berkesesuaian dengan gaya hidup seperti itu, akan menjadi juru bicara resmi bagi periklanan gaya hidup yang sama.

Hubungan Amerika Serikat dan Arab ( http://en.wikipedia.org/wiki/Arab_people ) Saudi ( http://en.wikipedia.org/wiki/Saudi_Arabia ).

Seiring berjalannya waktu, masyarakat menjadi terbiasa dengan tingkah-laku pemimpin politik mereka dan rasa sensitivitas mulai menghilang. Pemimpin politik, selebritis, atlit, dan lainnya yang media puja sebagai orang terhormat, menjadi teladan bagi generasi muda. Teladan seperti ini dan kelaziman gaya hidup Barat menciptakan kesenjangan antara generasi muda dengan rasa kepercayaan terhadap agama dan nasional.

 

Hijab dan pakaian.

Simbol penting dari pergeseran masyarakat Islam terhadap penafsiran Amerika terhadap Islam adalah hijab dan etika berpakaian. Menurut Islam, pentingnya hijab bagi mereka yang beriman akan berpengaruh penting bagi “kesehatan” masyarakat umum.

 

 

Emir Qatar ( http://en.wikipedia.org/wiki/Qatar ) dan Bahrain bersama istri bertemu Elizabeth

Di banyak negeri-negeri Islam, etika berpakaian islami secara signifikan berubah ke arah etika berpakai barat, yang paling jelas terlihat dalam pejabat tinggi negara tersebut dan keluarganya. Wanita di Saudi, Qatar, dan negara Teluk Persia lainnya menjadi contoh fakta ini. Meskipun tindakan keras telah diambil oleh pemerintah Saudi dan sanksi Islam bagi wanita muslim sudah jelas, wanita-wanita muda dari keluarga Saud menghindarinya.

 

Keserakahan dan pencari harta.

Salah satu aturan penting Islam sejati bagi seorang muslim adalah gaya hidup sederhana dan menghindari kemewahan. Hal ini semakin ditekankan bagi para pemimpin, karena mereka dilihat oleh rakyat; dan harus memiliki kehidupan kelas terendah untuk memahami penderitan dan kesulitan rakyat.

Relasi Qatar dan Amerika Serikat.

Sayangnya, para penguasa Arab korup dan reaksioner yang memerintah atas nama Islam, memiliki catatan gelap dalam hal ini, sekalipun banyak umat Islam yang berjuang dari kemiskinan dan penderitaan; namun mereka menjalani kehidupan mewah di kerajaan.

 

Kompromistis.

Minum, berpose, ekonomi, keamanan, dan militer berlapis, dsb serta bekerja sama dengan musuh yang diakui Islam merupakan wujud terbesar Islam versi Amerika, terlihat jelas dalam kediktatoran Arab dan negara lain di kawasan; sehingga orang-orang di negara ini kehilangan harapan dari pemimpin mereka dalam menyelamatkan kemerdekaan, harga diri warga, dan mereformasi status quo. Gelombang kebangkitan Islam dipicu oleh fakta pahit ini.

Tzipi Livni dan Emir Qatar yg disebut memiliki skandal.

 

Mencari keadilan dan keberanian.

Keberanian di hadapan pemimpin arogan dan kekuatan jahat dunia dan menangis demi keadilan merupakan ciri lain Islam sejati yang tidak ditemukan gemanya di negara-negara tersebut; seolah-olah pemimpin reaksioner Arab dan pemimpin negara muslim yang ditekan tidak memiliki seni lain kecuali menyerah terhadap kekuataan intimadasi Barat. Mungkin karena alasan inilah, Turki ( http://en.wikipedia.org/wiki/Turki ), Saudi, Qatar, dan pemimpin Arab lainnya berada di sisi Israel dalam perang melawan Suriah.

Keterasingan dari massa muslim.

Ketidakpedulian terhadap negara dan umat muslim merupakan ciri menonjol Islam versi Amerika, dengan contoh di negara-negara yang terkena dampak revolusi atau di ambang revolusi. Penguasa negara-negara ini melanggar hak-hak dasar rakyat dan agama Tuhan untuk kepentingan kalangan mereka sendiri dan orang-orang di Amerika Serikat. Fakta ini juga menjadi penyebab kebangkitan Islam di kawasan.

Hillary dan Menlu Turki, Ahmet Davutoğlu.

Pemimpin Revolusi Islam dalam Konferensi Internasional Profesor Universitas Muslim ( http://en.wikipedia.org/wiki/Muslim ) dan Kebangkitan Islam menyatakan, “Musuh takut dengan kebangkitan Islam sejati… mereka tidak takut dengan Islam yang menjadi budak dolar; mereka tidak takut dengan Islam yang tenggelam dalam kemewahan dan kerusakan, sebuah Islam yang tidak mengakar di tengah masyarakat, tapi mereka takut dengan Islam yang disertai dengan tindakan, Islam yang menanamkan kepercayaan kepada Tuhan. Tidak diragukan lagi, musuh-musuh takut kebangkitan Islam dengan ciri-ciri seperti ini. Mereka menolak menggunakan (istilah) Islamic Awakening ‘kebangkitan Islam’ untuk pergerakan yang saat ini terjadi di kawasan.” (SH/EA)

Bangsa Indonesia ini jauh beradab dibanding mereka. bersekutu dengan musuh, padahal tidak jauh dari negeri2 mereka musuh membantai dan menganiyaya saudara se Agama.

Raja Hamad dari Bahrain.

NO COMMENTS