Wahabi, Konflik Suriah, dan Kasih Sayang Ilahi

0
874 views

Oleh: M. Alfian Aulia Syahrani, Mahasiswa UIN Sunan KalijagaYogyakarta

NDFSebagaimana telah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya, sebuah tulisan yang membahas tentang kampus saya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mendadak menjadi wadah bagi kalangan garis keras dan sebagai salah satu pusat penggalangan dukungan bagi kelompok takfiri Wahabi yang tengah berperang di Suriah.

Pada awalnya, saya tidak mengklaim bahwa tema tulisan yang saya pilih dan saya sebarkan adalah tema yang sangat penting. Tidak pernah terbesit dalam benak saya bahwa tulisan tentang Suriah maupun Syiah akan menjadi sebuah tema atau topik yang menjadi pembicaraan orang awam, mahasiswa, dosen, atau siapapun itu. Jauh sebelumnya, saya melihat konflik Suriah adalah sebuah konflik yang pengaruhnya akan tetap eksis di negara-negara Timur Tengah atau Asia Tengah. Tidak pernah terbayang bahwa pengaruh dari konflik tersebut akan sampai ke negara saya, Indonesia. Tetapi, kini, hal itu menjadi sangat penting.

Sekitar satu tahun belakangan ini, saya sisihkan banyak waktu untuk mengamati persoalan yang terjadi di Suriah. Hari-hari saya banyak dihabiskan untuk mengamati, menganalisa, dan melihat perkembangan yang terjadi di Suriah. Hidup saya banyak berubah karena konflik Suriah.

Ada banyak faktor yang mendorong saya untuk menyisihkan banyak waktu untuk mendalami konflik Suriah. Salah satunya adalah terkait seruan jihad yang eksis dikumandangkan oleh para ulama garis keras. Saya tertarik untuk mengetahui lebih jauh perihal kejadian yang sesungguhnya terjadi di Suriah. Saya mendengar bahwa puluhan WNI (Warga Negara Indonesia) juga turut serta ambil bagian dalam konflik Suriah ini. Mereka yang menyatakan diri mereka tengah berjihad ke Suriah, tanpa ragu sedikitpun, meneriakkan takbir dan slogan “berjuang di jalan Allah”. Di lain pihak, senjata-senjata yang mereka gunakan di Suriah adalah pemberian Saudi Arabia, Israel, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa. Dengan senjata-senjata itu mereka menghancurkan bangunan, membunuh orang tidak bersalah, mengubur dalam-dalam mimpi anak-anak Suriah, dan yang tidak masuk akal, dengan menyalib, menembak secara membabi-buta, memenggal kepala manusia, semuanya dibalut dengan teriakan takbir, Allahhu akbar.

Bom bunuh diri, eksekusi masal di depan umum, merebus kepala, bermain bola dengan kepala, hingga memakan hati manusia, adalah beberapa “pemandangan” yang dapat kita saksikan dari sekian banyak “pemandangan” yang ada di Suriah. Perang Suriah yang dilancarkan oleh Saudi Arabia, Israel, Amerika Serikat, Qatar, Turki, serta beberapa negara Eropa telah menyeret umat manusia menuju sebuah masa depan yang diliputi rasa pesimis. Dengan mendatangkan teroris takfiri Wahabbi dari berbagai negara di belahan dunia, mereka melancarkan perang kepada pemerintah Suriah. Para teroris bercelana cingkrang ini menyambut seruan jihad yang dikumandangkan oleh para ulama Zionis berkedok Islam. Tanpa disadari, orang-orang yang mengatakan diri mereka tengah berjihad ke Suriah untuk menumbangkan rezim Assad yang konon dikabarkan mendirikan pemerintahan Syi’ah. “Manusia-manusia” tak berakal ini menari-nari sesuai irama Israel atau Amerika Serikat. Tanpa berpikir, tanpa merenungi, mereka sibuk dengan tujuan akhir mereka, yakni surga dan bidadari.

Para “teroris” berpaham Wahabbi ini datang ke Suriah tidak semata-mata untuk bekerja bagi kepentingan Zionis. Lebih dari semua itu, para teroris pro Zionis ini hadir ke Suriah untuk mempromosikan Tuhan sebagai Yang kejam, brutal, barbar, dan anti rasa kemanusiaan. Mereka tengah memperkenalkan Tuhan kepada dunia sebagai Yang Maha Kejam, Maha Penindas, Maha Barbar, dengan berkedok Islam.

Beberapa saat yang lalu, salah seorang teman saya di Australia menanyakan konflik yang tengah terjadi di Suriah. Ia merasa ada sesuatu yang ganjal dari konflik Suriah. Di Australia, konflik Suriah tengah hangat diperbincangkan oleh sekelompok orang. Kelompok tersebut adalah kelompok garis keras yang merupakan pendatang. Kelompok tersebut juga mempengaruhi masyarakat awam Australia. Ia juga bercerita tentang banyaknya warga Australia yang bergabung dengan para teroris di Suriah. Namun, ada yang menarik, orang-orang yang berangkat ke Suriah itu didominasi oleh orang-orang yang bercelana cingkrang, berjanggut semrawut, dan gemar mengkafirkan orang lain. Saya mencoba memberikan penjelasan semampu saya. Bahwa konflik di Suriah, bukanlah konflik yang berkaitan atau bernuansa Islam. Akan tetapi, konflik Suriah adalah sebuah konflik yang menggunakan seruan jihad dan Islam sebagai kedok untuk menarik perhatian para pemuda dari seluruh penjuru dunia.

Kelompok pertama, adalah mereka yang datang ke Suriah dikarenakan seruan dari para ulama-ulama Zionis berjubah Islam. Pada umumnya, kelompok ini datang ke Suriah akibat dari hasil pencucian otak. Mereka yang menghadiri pengajian garis keras di masjid maupun di tempat-tempat tersembunyi terinspirasi oleh pidato atau ceramah berapi-api dari para ulama-ulama Zionis. Mereka menganggap bahwa pidato atau ceramah dari ulama-ulama Zionis tersebut adalah final, atau bisa dikatakan sebagai “keinginan” Tuhan. Harap dimengerti, kelompok Wahabi ini menganggap diri mereka sebagai juru bicara Tuhan. Maka dari itu, mereka menganggap ajaran merekalah yang paling benar. Ajaran merekalah yang diinginkan oleh Tuhan. Di luar ajaran mereka, adalah sesat, kafir. Dan tentunya, halal darahnya.

Kelompok kedua, mereka yang datang dari para penggemar situs-situs website macam arrahmah, hidayatullah, HTI, voa-Islam, dan sederet website Zionis lainnya. Situs-situs website ini rutin memberikan kabar tentang Suriah. Melalui propoganda sesat, situs-situs ini telah menyeret beberapa pemuda dari Indonesia untuk terjun ke medan tempur Suriah dan bergabung bersama para teroris. Mereka tidak hanya tertipu oleh pemberitaan yang ditampilkan oleh situs-situs Zionis ini, namun, mereka juga tertipu oleh gambar-gambar editan yang diedit sedemikian rupa, seolah-olah gambar tersebut adalah hasil kekejaman pemerintahan Bashar al-Assad. Percaya atau tidak, ternyata gambar editan mampu membodohkan para pemuda Indonesia.

 

Bersambung ke bagian kedua.

 

sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS