Wahabi Indonesia dan Arab

0
824 views

INFOSALAFI.COM:  Penganut Wahabisme di Arab Saudi relatif tenang-tenang saja, beda dengan di Indonesia. Ini fakta menarik, ada apa? Jawaban sementara ini; karena tujuan “pemurnian Islam” yang menjadi roh perjuangan gerakan ini sudah dianggap tercapai. “Islam” di Arab Saudi sudah dianggap bersih dari kurafat, tahayul, bidah dan kultus pada orang-orang populer. Selebihnya karena mereka makmur dan kekuasaan raja sangat kuat.

Walau sebenarnya tidak konsisten juga. Karena raja begitu dimuliakan di Arab Saudi sana. Sementara dalam Islam tidak mengenal istilah pemimpin yang diwariskan seperti halnya sistem kerajaan di Saudi Arabia. Namun entah mengapa ini sudah dianggap “murni” oleh Wahabi di Arab.

Sebaliknya di Indonesia, Wahabisme mendapat pijakan yang subur untuk menanamkan benih perjuangannya. Di sini kurafat, tahayul dan bidah dinilai merajalela. Dasar negara bukan syariat Islam melainkan Pancasila. Hukum negara juga bukan Islam melainkan hukum ciptaan manusia dan karenanya dikategorikan sebagai thogut. Maka, semua itu harus diperangi baik secara lembut maupun secara kasar.

Teriak jihad berkumandang di mana-mana. Bom meledak. Kerusuhan terjadi. Pertama kali tercatat perang besar antara kaum Wahabi dengan kaum yang dinilai menyimpang terjadi di tanah Minangkabau dalam apa yang disebut perang Padri (1803-1838). Lalu menyusul gerakan-gerakan kekerasan lainnya pasca Indonesia merdeka, yang tujuannya mengganti dasar negara Pancasila menjadi syariat Islam, seperti dilakukan NII/DI TII (1949-1962).

Perang Padri terjadi karena kaum Adat dipaksa dengan kekerasan untuk mengikuti cara-cara beragama mereka. Yang tidak mau ikut sukarela langsung dibasmi, ditumpas, dibunuh, dibantai, dan dibabat habis. Inilah sejarah kelam tanah Minangkabau oleh apa yang disebut “pemurnian agama”. Kaum adat akhirnya terdesak dan meminta bantuan pada penjajah Belanda. Perang besar terjadi. Seiring waktu kaum adat menyadari telah diperalat dan balik menyerang Belanda. Akhirnya kaum Padri dan kaum Adat bersatu padu melawan penjajahan Belanda.

Sekarang, semua bentuk pemberontakan untuk mengganti dasar negara Pancasila dengan syariat Islam sudah ditumpas habis. Pemaksaan beragama dengan kekerasan menjadi suatu bentuk tindak pidana dan karenanya pelaku dapat dihukum. Namun kaum teroris yang diilhami paham Wahabisme masih terus bergerilya di lapangan jihad, siap dengan senjata, bom, dan kelewang di tangan.

Yang tidak kuat berjihad secara fisik cukup dengan kata-kata, dengan tulisan, dan dengan doa. Yang intinya sama, berjihad melawan negara thogut, negara kafir, bernama Indonesia. Menuju mimpi negara Islam dan Khilafah Islamiyah. Sambil berjihad demikian kaum Wahabi ini terus memanfaatkan segala fasilitas publik yang disediakan negara “thogut” ini.

Mengutip wikipedia, Wahabisme adalah gerakan keagamaan atau cabang dari Islam. Gerakan ini dikembangkan oleh seorang teolog Muslim abad ke-18, Muhammad bin Abdul Wahhab dari Najd, Arab Saudi, yang menganjurkan pembersihan Islam dari “ketidakmurnian”.

Wahabisme merupakan bentuk dominan dari Islam di Arab Saudi. Wahabisme telah mengembangkan pengaruh yang cukup besar di dunia muslim melalui pendanaan masjid Saudi, sekolah, dan program sosial. Doktrin utama Wahabisme adalah Tauhid, Keesaan dan Kesatuan Allah. Ibnu Abd-al-Wahhab dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Ibnu Taimiyyah dan mempertanyakan interprestasi klasik Islam, mengaku mengandalkan Alquran dan Hadist.  Ia menyerang “kemerosotan moral yang dirasakan oleh kelemahan politik” di Semenanjung Arab dan mengutuk apa yang dianggap penyembahan berhala, kultus populer orang-orang kudus, kuil dan kunjungan ke kuburan.

Masih menurut wikipedia, istilah “Wahabi” dan “Salafi” (serta istilah ahl-al hadith, orang-orang hadist) sering digunakan secara bergantian, tapi Wahabi juga telah disebut “orientasi tertentu dalam Salafisme”, beberapa oreintasi menganggap ultra-konservatif dan sesat.

Inilah musuh terbesar bangsa ini sekarang. Musuh terbesar kedua setelah korupsi.

Kebalikan dengan kaum demokrat, liberal, dan moderat tidak pernah terdengar memelopori terorisme pasca Reformasi belakangan ini. Itulah bedanya.(sutomopaguci.kompasiana.com)

 

sumber : http://www.infosalafi.com/

NO COMMENTS