Wahabi Gunakan Istilah Salafi Untuk Mengelabuhi

0
904 views

NU Jombang Online,
wahabi_0

Kalangan penganut ajaran gerakan Wahabi di Indonesia dan di dunia lebih senang menyebut dirinya sebagai penganut ajaran gerakan Salafi. Padahal dua istilah ini sangat berbeda satu dengan yang lain. Gerakan Wahabi dinisbatkan kepada ajaran Syech Muhammad Bin Abdul Wahab, sedangkan ajaran Salafi merujuk kepada ajaran yang dikembangkan Imam Ahmad Bin Hambal, salah satu Imam Madzhab yang diikuti oleh pengikut ajaran Ahlissunnah Wal Jamaah. Pengikut ajaran yang terakhir ini sering disebut sebagai Salafiyun.

Penggunaan sebutan Salafi yang digunakan oleh pengikut Wahabi, bukanlah sesuatu yang tidak disengaja. Tetapi digunakan untuk mengelabuhi, agar seolah-olah mereka menjadi bagian dari ajaran Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja) sehingga mereka bisa masuk dengan mudah ke dalam kantong-kantong pengikut ajaran Aswaja yang menjadi mayoritas di dunia, khususnya di Indonesia.

Demikian salah satu materi yang disampaikan oleh KH Wazir Ali, Lc, Wakil Rais Syuriah PCNU Jombang dan salah satu Pengasuh PP Mamba’ul Maarif Denanyar Jombang, dalam kegiatan Lailatul Ijtimak (malam konsolidasi) PCNU Jombang pada Sabtu (26/01) di Masjid Jogoroto Jombang.

Kegiatan yang dilakukan secara reguler bergiliran tempat tersebut bekerjasama dengan MWC-MWC se Eks-Kawedanan Mojoagung, yang terdiri dari kecamatan Mojoagung, Peterongan, Sumobito, Kesamben dan Jogoroto.

Hadir pada malam itu sekitar 250 orang, baik dari pengurus MWC, Ranting-ranting dan Banom NU (Muslimat NU, Ansor NU, Fatayat NU, IPNU-IPPNU). Disamping itu juga hadir Ketua PCNU Jombang, KH Isrofil Amar, dan jajaran Muspika Kecamatan Jogoroto.

Dalam kegiatan tersebut, sebagaimana yang tersusun dalam modul lailatul ijtimak PCNU Jombang, Kiyai Wazir secara keseluruhan menyampaikan tentang definisi Aswaja; 3 pilar-pilar ajaran Aswaja yang terdiri dari Iman, Islam dan Ihsan; 3 pilar keilmuan Aswaja yang terdiri dari akidah, syariah dan tasawuf/thoriqoh; karakteristik ajaran Aswaja yang tawasuth (tengah, tidak ekstrim), I’tidal (adil), tasamuh (toleran) dan tawazun (seimbang, antara akal dan nash, antara dunia dan akhirat, antara pikiran dan gerakan).

Di akhir presentasinya, Kiyai Wazir juga menyampaikan tentang organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang berpaham Ahlussunnah Waljamaah dan yang berpaham Wahabi. “Banyak Ormas di Indonesia yang menggunakan organisasinya untuk menyebarkan ajaran Wahabi di Indonesia, misalnya MTA dan MMI. Bahkan banyak yayasan didirikan untuk menyebarkan ajaran Wahabi. Di Jember ada, di Bangil ada juga di Surabaya”, kata kiyai Wazir menjelaskan. (mus)

NO COMMENTS