WAHABI BERUSAHA MEMPENGARUHI WARGA NAHDLIYIN, BAHKAN MEMBAJAK MASJID NU

1
4,882 views

wahabi  berusaha mempengaruhi warga nahdliyin dengan membagikan brosur juga mengajak kiai masuk kelompok mereka. Bahkan para aktvis  wahabi masuk ke masjid masjid membagikan bulletin dan majalah serta buku. Belum lagi beberapa masjid NU yang jadi sasaran pembajakan oleh mereka. Kantong kantong NU berusaha diwahabikan, dalam hal ini HANYA SYi’AH lah yang melindungi NU. Syi’ah tidak mensyi’ahkan NU tetapi menolak wahabi menyusup ke NU

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menyebut ada kaitan antara aliran Wahabi dengan jaringan terorisme. Sebab, menurut Said, ajaran ini menyebutkan ziarah kubur, tahlilan, haul, dan istighosah itu musyrik dan bid’ah.

“Nah, di hati dan pikiran anak-anak muda, kalau begitu orang NU musyrik, kalau gitu orang tua saya tahlilan musyrik juga, halal darahnya, bisa dibunuh,” kata dia. Sebab itu, menurutnya ajaran Wahabi sangat berbahaya.

Bagaimana pandangan Said Aqil mengenai Wahabi, Terorisme dan Pemerintah Arab Saudi, kutipan wawancara yang dimuat Merdeka.com, Jumat (28/9/2012) ini menggambarkan secara jelas pandangan doktor alumni Iniversitas Ummul Quro’, Mekkah, tersebut.

Sejauh mana pengaruh asing membentuk radikalisme di Indonesia?

Kita awali dulu dari Timur Tengah. Dulu, begitu Anwar Sadat berkuasa di Mesir, tahanan kelompok Ikhwanul Muslimin dipenjara, semua dilepas. Mereka kebanyakan pintar, ahli. Setelah keluar dari tahanan, kebanyakan megajar di Arab Saudi. Di Arab mereka membentuk gerakan Sahwah Islamiyah atau kesadaran kebangkitan Islam. Sebenarnya pemerintah Arab Saudi sudah prihatin, khawatir mereka menjadi senjata makan tuan.

Tapi, kebetulan pada 1980-an, Uni Soviet masuk ke Afghanistan. Pemerintah Arab menjaring, menampung anak-anak, termasuk kelompok Ikhwanul Muslimin, berjihad ke Afghanistan, termasuk Usamah Bin Ladin. Bin Ladin ini keluarga kaya, pemborong Masjidil Haram. Singkat cerita, setelah Soviet lari, kemudian bubar, Arab Saudi memanggil mereka kembali. Yang pulang banyak, yang tidak juga banyak.

Lalu Bin Ladin membentuk Al-Qoidah. Menurut mazhab Wahabi, membikin organisasi bid’ah. Maka Bin Ladin diancam kalau tidak pulang dicabut kewaranegaraannya. Sampai tiga kali dipanggil, tidak mau pulang, maka dicabutlah kewarganegaraanya. Nah, sekarang jadi sambung dengan cerita teroris di Indonesia. Di sini ada DITII, di sana ada Al-Qaiudah. Tapi saya heran, mereka ini berjuang atas nama Islam, tapi tidak pernah ada gerakan Al-Qaidah pergi ke Palestina.

Walau mengebom itu salah, saya heran, padahal mengatasnamakan demi Islam, tapi tidak pernah ada Al-Qaidah pergi ke Israil mengebom atau apalah. Yang dibom, malah Pakistan, Indonesia, dan Yaman. Kenapa tidak pergi ke Israil kalau memang benar-benar ingin berjihad. Walau saya sebenarnya juga tidak setuju kalau sekonyong-konyong mengebom Israel, itu biadab juga. Tapi artinya, kalau benar-benar ingin berjuang kenapa tidak ke Israel.

Lalu hubunganya dengan Indonesia?

Kemudian beberapa organisasi di Indonesia mulai tumbuh. Mohon maaf, ketika beberapa lembaga atau yayasan pendidikan di Indonesia didanai oleh masyarakat Saudi beraliran Wahabi, Ingat, bukan pemerintah Arab Saudi. Dana dari masyarakat membiayai pesantren baru muncul, di antaranya; Asshofwah, Assunnah, Al Fitroh, Annida. Mereka ada di Kebon Nanas, Lenteng Agung, Jakarta, Sukabumi, Bogor, Jember, Surabaya, Cirebon, Lampung dan Mataram.

Mereka mendirikan yayasan Wahabi. Tapi sebentar, jangan salah tulis, saya tidak pernah mengatakan Wahabi teroris, banyak orang salah paham. Tapi doktrin, ajaran Wahabi bisa, dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena ketika mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik.

Nah, di hati dan pikiran anak-anak muda, kalau begitu orang NU musyrik, kalau begitu orang tua saya tahlilan musyrik juga, halal darahnya, bisa dibunuh. Kalau seperti itu, tinggal ada keberanian atau tidak, ada kesempatan dan kemampuan atau tidak, nekat dan tega atau tidak. Kalau ada kesempatan, ada keberanian, ada kemampuan, tinggal mengebom saja. Walau ajaran Wahabi sebenarnya mengutuk pengeboman, tidak metolerir, tapi ajaran mereka keras,

Contoh, di pesantren Assunnah, Kalisari Jonggrang, Cirebon Kota. Pemimpinnya Salim Bajri, sampai sekarang masih ada, punya santri namanya Syarifudin mengebom masjid Polresta Cirebon, punya santri namanya Ahmad Yusuf dari Losari, mengebom gereja kota di Solo. Ajarannya sih tidak pernah memerintahkan mengebom, tapi bisa mengakibatkan.

Anda setuju Wahabi pembentuk radikalisme?

Saya tidak pernah mengatakan Wahabi teroris, banyak orang salah paham. Tapi doktrin, ajaran Wahabi dapat mendorong anak-anak muda menjadi teroris. Karena ketika mereka megatakan tahlilan musyrik, haul dan istighosah bidah, musyrik, dan ini-itu musyrik. Jadi ajaran Wahabi itu bagi anak-anak muda berbahaya.

Bisa dibilang ada persaingan antara Wahabi dan Sunni?

Ya jelas dong. Jadi mereka punya sistem, uang, dana, pelatih. Tapi sekali lagi jangan salah paham. Saya hormat kepada Raja Abdullah bin Abdul Aziz karena saya alumnus sana. Tapi saya menentang Wahabi.

Jadi sebatas perbedaan pendapat?

Ya, yang saya tentang Wahabi, bukan raja Arab Saudi. Karena duta besar Arab Saudi bilang saya ini mencaci Raja Arab. Itu salah.

Berapa pesantren beraliran Wahabi ini?

Setahu saya ada 12 pesantren, di antaranya Asshofwah, Assunnah, Al Fitrah, Annida. Pesantren seperti ini (Wahabi) lahirnya baru sekitar 1980-an.

BIODATA

Nama : Said Aqil Siroj
Tempat/Tanggal Lahir : Cirebon, 3 Juli 1953
Hobi : Membaca, ibadah, silaturrahmi
Istri : Nur Hayati Abdul Qodir
Anak : Muhammad Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Rihab Said Aqil, Aqil Said Aqil

Pendidikan:
S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982
S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987
S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994

Pendidikan Non-Formal:
Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek Cirebon
Hidayatul Mubtadi’en Pesantren Lirboyo Kediri (1965-1970)
Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1972-1975)

Pengalaman Organisasi:
Sekertaris PMII Rayon Krapyak Yogyakarta (1972-1974)
Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Mekkah (1983-1987)
Wakil Katib ‘Aam PBNU (1994-1998)
Katib ‘Aam PBNU (1998-1999)
Penasihat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (Gandi) (1998)
Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) (1998-sekarang)
Penasihat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI (1998-sekarang)
Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 (1998)
Ketua TGPF Kasus pembantaian Dukun Santet Banyuwangi (1998)
Penasihat PMKRI (1999-sekarang)
Ketua Panitia Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri (1999)
Anggota Kehormatan MATAKIN (1999-2002)
Rais Syuriah PBNU (1999-2004)
Ketua PBNU (2004-sekarang)
Ketua Majelis Wali Amanat UI, (2012-sekarang)

Kegiatan:
Tim ahli bahasa Indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah (1991)
Dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) (1995-1997)
Dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (1995-sekarang)
Wakil Direktur Universitas Islam Malang (Unisma) (1997-1999)
MKDU penasihat fakultas di Universitas Surabaya (Ubaya) (1998-sekarang)
Wakil ketua dari lima tim penyusun rancangan AD / ART PKB (1998)
Dosen luar biasa Institut Islam Tribakti Lirboyo Kediri (1999 – sekarang)
Majelis Permusyawaratan Rakyat anggota fraksi yang mewakili NU (1999-2004)
Lulusan Unisma direktur (1999-2003)
Penasihat Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) (2001-sekarang)
Dosen pascasarjana ST Ibrahim Maqdum Tuban (2003-sekarang)
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) 2010-2015.

Unta

Berikut wawancara HARIAN BANGSA dengan KH Imam Ghazai Said, MA, cendekiawan muslim yang banyak mengamati gerakan Islam radikal. Pengasuh pesantren mahasiswa An-Nur Wonocolo ini memang sangat paham soal berbagai gerakan Islam, terutama yang berasal dari Timur Tengah.

Ia selain banyak menulis dan mengoleksi leteratur Islam aliran keras juga bertahun-tahun studi di Timur Tengah. Ia mendapat gelar S-1- di Universitas Al-Azhar Mesir, sedang S-2 di Hartoum International Institute Sudan. Kemudian ia melanjutkan ke S-3 di Kairo University Mesir. Kini intelektual muslim ini aktif sebagai Rois Syuriah PCNU Surabaya dan dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Kalau kelompok Salafy?

Mereka bergerak dalam bidang pendidikan. Misalnya LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab) yang sekarang menjadi Lembaga Ilmu Keislaman cabang dari Jamiatul Imam Riyadh. Ini dibiayai dari sana sangat besar. Sebenarnya orang-orang seperti Ulil (Ulil Abshar Abdalla, red), Imdad dan sebagainya  alumni LPBA ini. Lah, mereka ketemu dengan Rofik Munawar yang dulu ketua PKS Jawa Timur. Anis Matta (sekjen PKS) itu juga teman Ulil di LPBA. Mereka dulu alumni situ. Hanya saja ada yang kemudian terbawa dan larut dalam salafy seperti Anis Mattta, tapi ada yang nggak, ya kayak Ulil itu. Kalau Anis  Matta terbawa Salafy tapi pola politiknya ikut Ikhwanul Muslimin.

Kelompok Salafy ini sangat puritan. Jadi tahlilan, dibaan, ziarah kubur, mereka sangat tidak mau. Mereka menganggap itu syirik. Nah, disinilah, dalam bidang peribadatan itu, kelompok PKS ketemu dengan Salafy.

Sedang orang-orang seperti Ulil, Imdad dan anak-anak pesantren yang sekolah di LPBA melakukan pemberotakan. Mereka menganggap (paham Salafy) itu tak cocok dengan budaya saya (Ulil cs) yang NU. Akhirnya mereka melanjutkan ke ilmu-ilmu filsafat, sosial dan sebagainya, termasuk belajar ke Magnez Suseno di Driyarkara. Kemudian berkomunikasi dengan Nurcholis Madjid, ketika Nurcholis masih ada (hidup). Nah, dalam diri Ulil cs ini kemudian terbentuklah suatu sosok yang berasal dari pola radikal (Salafy), ketemu dengan ilmu-ilmu sosial, ketemu dengan Nurcholis Madjid, ketemu dengan Gus Dur dan sebagainya. Jadi mereka ini meramu dari berbagai unsur itu sehingga jadilah orang seperti Ulil, Hamid Basyaib, Luthfi Syaukani, Muqsith dan sebagainya.

Apa ada kesamaan dalam soal simbol-simbol pakaian di antara mereka?

Ya, memang ada kesamaan, baik kelompok Hizbut Tahrir, Tarbiah (PKS) maupun Salafy. Misalnya pakai celana cingkrang, berjenggot dan sebagainya. Tapi semua kelompok ini sama menyerang NU.

Bisa dijelaskan soal NU dalam konteks negara nasional?

NU fiqh mainded. Fiqh siyasi (politik) di NU kurang berkembang. Fiqh yang dikembangkan NU adalah fiqh dalam kontek negara nasional. Ketika Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri NU, red) mengeluarkan fatwa resolusi jihad Negara Indonesia dalam kondisi bukan negara agama. Karena saat itu kalimat menjalankan syariat Islam sudah dihapus kemudian Belanda datang lagi akhirnya Kiai Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad. Jadi Negara yang dipertahankan waktu itu negara “sekuler” kan. Jadi NU tak bisa lepas dari negara nasionalis atau sebagai nasionalis. Nah, fatwa jihad Kiai Hasyim itu merupakan fatwa pertama di dunia Islam yang mempertahankan negara nasionalis. Belum ada ketika itu ulama yang berfatwa kewajiban jihad untuk mempertahankan Negara nasionalis. Jadi Kiai Hasyim Asy’ari itu pelopor pertama.

Apa kira-kira dasar pemikirannya?

Mungkin bagi Kiai Hasyim yang terpenting Indonesia merdeka dulu. Apalagi bangsa Indonesia mayoritas umat Islam. Ini yang harus diutamakan. Jadi Kiai Hasyim membuat fatwa untuk mengusir penjajah dan mempertahankan negara nasional. Nah, ini bagi wacana pemikiran internasional seperti orang-orang yang menginginkan sistem kahalifah kontroversi. Perjuangan NU berikutnya, dalam sejarahnya, seluruhnya selalu terkait dengan negara. Soekarno, misalnya, diberi gelar waliyul amri dlaruri bissyaukah

Jadi pemerintah darurat yang mempunyai kekuatan. Ini asalnya kan diberi oleh konfrensi ulama di Cipanas 1954. Kemudian pada 1956 oleh NU dianggap sah. Ini artinya apa? Karena dikaitkan dengan fiqh? Sebab perempuan yang tidak punya wali dalam pernikahan walinya harus Sulthon. Padahal hadits as-sultonu waliyu man laa waliya lah. Sulthon itu adalah wali bagi orang yang tak punya wali. Kalau Sulthon ini tidak diberi legitimasi sesuai syariat kan tidak sah Sulthon ini. Jadi ini terkait dengan fiqh maka negara walau sekuler harus diakui sah menurut syariah. Nah, cara berpikir ini saya kira cerdas. Kalau nggak gimana. Sulthon itu siapa, padahal kalau orang kawin harus mencatatkan diri ke situ. Nah, itulah NU. Tapi ini kemudian disalahpahami oleh kelompok Islam modernis. Dikira NU itu oportunis pada negara karena memberi legitimasi. Padahal sebenarnya ini terkait dengan fiqh.

Faktor lain?

Faktor kedua memang pada tahun 50-an itu Kartosuwirjo sedang mengadakan pemberontakan. Nah, pemberian gelar waliyul amri dlaruri bissyaukah itu sebagai legitimasi pada Soekarno agar bisa mengatasi gerakan pemberontakan itu. Tapi inti NU itu sebenarnya pada fiqh urusan perkawinan tadi itu, bukan  pada fiqh siyasahnya (politik). Selanjutnya perjuangan NU terus berkait dengan negara nasionalisme. Ini yang harus dipahami oleh kelompok-kelompok baru ini seperti Hizbut Tahrir dan sebagainya itu

.Senin, 13/07/2009 13:43

Salah satu kitab kuning karya ulama besar Nusantara Syekh KH Ihsan bin Dahlan dari Jampes Kediri, Sirajut Thalibin, dibajak oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah Beirut, Lebanon demi kepentingan wahabi. Nama pengarangnya diganti syekh Ahmad Zaini Dahlan Al-Hasani Al-Hasyimi.Penggantian nama pengarang ini kemungkinan karena kesalahan dari penerbit. Namun bisa jadi disengaja karena nama pengarang di dalam halaman pengantar kitab ini juga diganti. Tidak hanya itu, sambutan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ary dalam kitab asalnya dibuang. Sementara keseluruhan isi kitab dua jilid itu sama persis.Pembacakan telah terjadi sejak 2006 yang lalu dan baru diketahui setelah kitab ini tersebar di Indonesia. Informasi pembacakan ini diperoleh dari salah seorang alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Forum Mahasiswa Alumni Lirboyo (Formal) di Jakarta juga telah melakukan pengecekan ulang, dan ternyata memang terjadi pembajakan karya di bidang tasawuf yang sudah mendunia ini. 

NU Online telah membandingkan kitab terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah dengan kitab asal yang diterbitkan oleh Darul Fiqr yang juga di Beirut Lebanon. Nama Syekh Ihsan bin Dahlan Al-Kadiri atau di kalangan pesantren lebih dikenal dengan Kiai Ihsan Jampes diganti dengan Syekh Ahmad Zaini Dahlan.

Dalam halaman pengantar, nama Syeih Ihsan Jampes di paragraf kedua juga diganti, dan penerbit menambahkan tiga halaman berisi biografi Syekh Ahmad Zaini Dahlan yang wafat pada 1886. Sementara keseluruhan isi dalam pengantar itu, bahkan keseluruhan isi kitab dua jilid itu sama persis dengan kitab asal.

Penerbit juga membuang taqridhah atau semacam pengantar dari Syekh KH Hasyim Asy’ary Jombang dan Syekh KH Abdur Rahman bin Abdul Karim Kediri dan Syekh KH Muhammad Yunus Abdullah Kediri.

Diduga pembajakan dengan mengganti nama pengarang ini hanya untuk kepentingan pasar. ”Nama Syekh Ahmad Zaini Dahlan mungkin lebih dikenal terutama oleh masyarakat Arab,” kata Abdur Rosyid, pengurus Formal yang juga bekerja di salah saru penerbitan Islam di Jakarta.

Di berbagai pondok pesantren di Indonesia nama Syekh Ahmad Zaini Dahlan pun tidak asing lagi. Syekhi Ahmad Zaini Dahlan terutama dikenal sebagai pengarang Kitab Syarah Jurumiyah, kitab dasar di bidang ilmu nahwu. Kitab Jurumiyah ini hampir pasti dipelajari oleh para santri yang memulai pendidikan di pesantren.

Kitab Sirajut Thalibin adalah syarah atau penjabaran dari kitab Minhajul Abidin karya Imam Ghazali. Sirajut Thalibin ini sempat mendapatkan pujian luas dari ulama Timur Tengah dan kini menjadi referensi utama para mahasiswa di Mesir dan negara-negara Timur Tengah yang lain. Menurut Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj, kitab ini juga dikaji di beberapa majelis taklim kaum muslimin di Afrika dan Amerika.

Unta

Biadab !
.
Milik  orang dirampok dengan alasan dakwah !!!
.
Syi’ah  berdakwah  melalui  wacana – debat dan dialog ilmiah..
.
Tetapi wahabi berdakwah dengan cara anarkhis dan merampok..
.
.
Mereka membantah ???
.
Pesantren wahabi berdiri dimana mana dalam tempo cepat ?? duit darimana ??
.
Majalah, web web, VCD, buku buku wahabi  merajalela duit darimana ???
.
Ustad Ustad wahabi berfoya foya dengan uang saudi, jamaah disuruh jualan madu..
.
Dakwah kok demi  uang
.
…………………………………………………………………….
29/12/2010  jam 08:52

Warga NU Bali Gelar Pelatihan Antisipasi Wahabi dan Salafi Denpasar, NU Online

.
Sejak beberapa tahun belakangan, serangan kaum Salafi atau Wahabi terhadap warga Nahdliyyin di Provinsi Bali sangat gencar, baik melalui media cetak seperti penyebaran buku-buku, maupun melalui dakwah secara langsung seperti khotbah Jum’at, pengajian, seminar dan lain-lain.

Tidak sedikit, kaum Salafi yang berhasil menjadi khotib Jum’at di masjid-masjid dan musholla yang didirikan oleh kaum Nahdliyyin, berulah. Bahkan tidak jarang ulah kaum Salafi tersebut sangat berlebihan, seperti merubah tata cara ibadah yang telah berlangsung sejak lama, seperti melarang adzan dua kali dalam shalat Jum’at, melarang shalat qabliyah Jum’at, melarang tahlilan, maulid nabi dan lain sebagainya.

Hal tersebut akhirnya memotivasi Dewan Pengurus Wilayah Forum Silaturrahmi Masjid dan Musholla Indonesia (DPW Fahmi Tamami), Provinsi Bali, yang diketuai H Hadi Sutrisno, untuk mengadakan pelatihan aswaja di masjid-masjid dan musholla-musholla kaum nahdliyyin se wilayah Denpasar dan sekitarnya.

Pelatihan aswaja sebagai upaya untuk membentengi dan penguatan ideologi dan ajaran ahlussunnah wal jama’ah bagi warga nahdliyyin di provinsi Bali tersebut, dilaksanakan dalam dua tahap.

Pada tahap pertama, didatangkan Ustadz Muhammad Idrus Ramli, dari Lembaga Bahtsul Masail NU Jember, untuk mengisi internalisasi dan penguatan aswaja bagi warga nahdliyyin dengan acara diskusi dan dialog terbuka di 12 masjid dan musholla di Bali.

Acara tahap pertama tersebut diadakan pada tanggal 21 Juli 2010 sampai 27 Juli 2010.

Tidak jarang, dalam acara seminar dan dialog tersebut, didatangkan pula tokoh-tokoh Salafi untuk melakukan dialog publik di hadapan warga nahdliyyin. Namun sayang sekali, sebagian besar tokoh Salafi tidak siap hadir dalam acara dialog tersebut.

Sebagian dialog dengan tokoh Salafi dalam acara tersebut telah didokumentasikan oleh Ustadz Idrus, pengurus LTN PWNU Jawa Timur tersebut, dalam buku terbarunya, Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi, terbitan Bina Aswaja Surabaya, Desember 2010.

Dalam acara dialog terbuka selama satu minggu tersebut, Ustadz Idrus menyajikan materinya dari buku-buku LBM NU Jember seperti buku Membongkar Kebohongan Buku Mantan Kiai NU Menggugat Sholawat dan Dzikir Syirik, buku Madzhab Al-Asy’ari Benarkah Ahlussunnah Wal-Jama’ah?, dan buku Membedah Bid’ah dan Tradisi dalam Perspektif Ahli Hadits dan Ulama Salafi, terbitan Khalista 2010.

Pada tahap kedua, DPW Fahmi Tamami melalui Lembaga Dakwahnya, yang diketuai H Imam Asrori dan Ust Sholehan Nur, mengadakan pelatihan aswaja dengan fokus Latihan Berdebat Dengan Salafi, selama dua hari, yaitu 25 s/d 26 Desember 2010 kemarin, dan bertempat di Musholla Yayasan Marga Utama, Renon Denpasar.

Acara pelatihan tersebut, diikuti oleh 50 peserta dari kalangan Kiai dan Asatidz yang mewakili masjid dan mushalla di Profinsi Bali. Dalam acara pelatihan debat ini, Ustadz Idrus menyajikan materinya dengan buku terbarunya, Buku Pintar Berdebat Dengan Wahhabi.

Sebagai hasil dari pelatihan tahap kedua, peserta yang hadir bersepakat membentuk forum kajian aswaja setiap bulan, dengan peserta yang mewakili seluruh masjid dan musholla di bawah DPW Fahmi Tamami Bali. Forum tersebut akan melakukan kajian aswaja secara rutin setiap bulan, dengan visi dan misi advokasi aswaja bagi kaum nahdliyyin yang diusik oleh kaum Salafi dan melindungi aset NU dari ancaman Salafi.

…………………………………………………………………………..

2007

Kehidupan beragama di Indonesia semakin tidak aman. Sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam telah serampangan mengambilalih masjid-masjid milik warga (Nahdlatul Ulama) NU dengan alasan bid’ah dan beraliran sesat.

“Saya mendapat laporan, masjid-masjid milik warga NU, terutama di daerah-daerah banyak yang diambilalih oleh kelompok yang mengklaim dirinya paling Islam. Alasannya, karena NU dianggap ahli bid’ah dan beraliran sesat,” demikian diungkapkan Ketua PBNU Masdar F Mas’udi kepada wartawan di Kantor Wahid Institute, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, Rabu (24/5/2007)

Pengambilahan yang dimaksud, kata Masdar, berbentuk penggantian para takmir masjid yang selama ini diisi oleh warga nahdliiyin (sebutan untuk warga NU). Demikian juga dengan tradisi-tradisi ritual keagamaan khas NU pun diganti.

Tak tanggung-tanggung. Meski tak menyebut detil, Masdar mengatakan, jumlah masjid milik warga NU yang diambilalih mencapai ratusan. “Banyak, hampir semua. Saya kira ratusan,“ katanya.

Masdar menambahkan, memang tidak ada label NU pada masjid-masjid yang dimaksud. Namun, tidak sedikit masjid-masjid tersebut dibangun bersama-bersama oleh warga NU, dan itu adalah merupakan hak warga NU.

“Warga NU memang tidak pernah memberikan pelabelan terhadap masjid yang dibangun bersama. Hal itu merupakan kelongggaran warga NU terhadap warga yang lain. Tapi kelonggaran itu dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang mengklaim dirinya paling Islam,“ terang Masdar.

Meski tidak menjelaskan secara detil identitas kelompok di balik semuanya, namun Masdar mensinyalir hal itu dilakukan oleh kelompok garis keras. “Saya kira kelompok-kelompok fundamentalis itu,“ tandasnya.

Masdar menyerukan kepada warga nahdliyyin untuk mengambil kembali masjid-masjid tersebut. Karena masjid-masjid tersebut merupakan hak NU. “Warga NU harus mengambil haknya,“ katanya.

Meski demikian, ia menyatakan bahwa NU tidak akan membalas aksi pengambilalihan tersebut dengan cara kekerasan. “Kita tidak akan menyerang, tidak akan menyerbu orang lain. Yang jelas kita akan ambil apa yang menjadi hak kita,“ tegasnya.
Genderang perang mulai ditabuh Nahdlatul Ulama (NU) untuk menghadapi gerakan dari kelompok Islam garis keras yang muncul akhir-akhir ini. Organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia ini siap melayani ‘tantangan’ kelompok Islam radikal yang sudah sangat meresahkan warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU) itu.

Pada Sabtu (25/2) lalu, Pimpinan Pusat (PP) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) mengeluarkan maklumat yang berisi tentang peneguhan kembali terhadap ajaran dan amaliyah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang selama ini dijalankan oleh warga nahdliyin. Sebanyak 8 ketua Pengurus Wilayah LDNU se-Indonesia menandatangani maklumat yang merupakan respon atas tuduhan sesat terhadap ajaran dan amaliyah NU itu.

“…kami menyadari dengan sepenuh hati, bahwa dewasa ini telah tumbuh dan berkembang gejala pemikiran dan gerakan ke-Islam-an (al-harakah al-islamiyyah) melalui praktek-praktek keagamaan yang dapat melunturkan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah ala NU, maka dengan ini kami menyatakan: …Senantiasa menjalankan amaliah ibadah Ahlussunnah wal Jama’ah ala NU, melestarikan praktek-praktek dan tradisi keagamaan salafush shalih; sepert salat-salat sunnat, salat tarawih 20 rakaat; wirid, salawat, qunut, talqin, ziarah qubur, tahlil, manaqib, ratib, maulid Nabi, haul, dan istighotsah; serta toleran terhadap tradisi budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam sebagai bagian dari dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah ala NU,” demikian salah satu poin dalam maklumat tersebut.

Ketua Umum PP LDNU KH Nuril Huda kepada NU Online menyatakan, gerakan kelompok garis keras itu sudah melewati batas toleransi. Karena mereka tidak lagi sebatas mengambilalih masjid-masjid milik warga nahdliyin, melainkan sudah berani menghasut dan menuduh NU adalah sesat.

“Masjid-masjid NU mulai diambilalih. Muncul banyak buku-buku yang menghujat ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah ala NU. Salat tarawih 20 rakaat; wirid, salawat, qunut, talqin, ziarah qubur, tahlil, maulid Nabi, istighotsah dan lain-lain dianggap ajaran sesat. Ini sudah tidak bisa ditoleransi lagi,” terang Kiai Nuril di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (27/2).

Apalagi, lanjut Kiai Nuril, gerakan mereka sudah sangat luas dan hampir merata di seluruh daerah, tidak hanya daerah yang berbasis nahdliyin. Jika NU tak segera mengambil sikap tegas, maka bukan mustahil tradisi keagamaan yang dijalankan warga nahdliyin selama ini akan hilang.

Tak hanya itu. Hal yang paling dikhawatirkan NU, menurut Kiai Nuril, adalah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 pun ikut terancam. Pasalnya, kuat disinyalir, kelompok Islam garis keras tersebut berkeinginan menjadi Indonesia sebagai negara Islam.

Karenanya, selain peneguhan kembali terhadap ajaran dan amaliyah Aswaja ala NU, dalam maklumat tersebut juga ditegaskan bahwa NU tetap pada komitmennya untuk setia menjaga keutuhan NKRI. NU tak ingin ada pihak-pihak tertentu yang mencoba mengusik keberadaan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Ditambahkan Kiai Nuril, sebagai tindak lanjut atas maklumat tersebut, setiap PW LDNU se-Indonesia akan menguatkan barisan dalam rangka menghadapi gerakan kelompok Islam garis keras tersebut. “Kita sudah tetapkan ada lima zona konsolidasi NU. Antara lain, zona Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan. Masing-masing zona ini akan menghimpun dan mengkonsolidasikan seluruh PW LDNU di provinsi yang berada di wilayahnya,” jelasnya.

Keberadaan zona-zona tersebut, kata Kiai Nuril, diharapkan dapat menata dengan rapih gerakan dakwah NU di daerah-daerah. Dengan demikian, masjid-masjid NU serta ajaran dan amaliyah NU dapat terjaga. “Walaupun berbeda prinsip, tapi kita ingin sama-sama saling menghormati dan menghargai keyakinan masing-masing. Tidak ada lagi tuduhan bahwa NU adalah sesat dan sebagainya,” pungkasnya

itu terjadi di mana?, di kampung-kampung kami juga banyak mas masjid NU yang di rebut, terutama di daerah pinggiran dimana kebanyakan warganya lugu-lugu.. kalo wahabi merebut masjid orang yang dianggap syirik atau kafir itu biasa, malah dianggap “jihad”. beberapa peninggalan Islam zaman Nabi saw banyak yang di rusak di Saudi Arabia bahkan dijadikan tempat parkir. ironisnya barang-barang mewah peninggalan raja saudi macam kendaraan (mobil dll) malah disimpan di musium.. kalo anda pergi haji atau umroh, film-film dukumentasi seperti itu ditayangkan di pesawat milik maskapai Saudi “Saudia Airline”

tentang pengabilan mesjid2 nu saya tidak setuju itu rumah tuhan tapi yg lebih saya takuti klo ajaran2 garis keras itu bisa mengkafirkan orang dg ajaran2anya itu yg bahaya.klo blh saya usul hati2 lah wahai orang2 muslim. islam akan hancur oleh orang2 islam yg mngaku islam yg menggunakan qur’an dan hadis apalgi yg sudah memfitnah dan mau memecah belah negara,hrsnya kita sadar negara islam blm tentu bisa mensejahterakan negaranya,klo yg terjadi fitnah gmana?hrsnya kita bersyukur hidup di negara yg mayoritas 80% muslim,saya netral saya dari pesantren tebu-ireng.dan saya cuma bisa berusaha utk membantu menyadarkan orang2 agar lebih ati2 dg ajaran2 yg di masuki sifat2 dajjal.smoga allah swt menjaga qur’an dan hadis dari2 orang2 kafir dan memberi hidayah supaya orang2 kafir yg menggunakan al-quran segera sadar dan mengerti apa itu islam

   Hadapi Wahabi, Kyai NU Cirebon Rapatkan Barisan

Selasa, 27 Mei 2008 14:00 AM
.
Para kiai pesantren yang tergabung dalam Ulama NU se-Kab. Cirebon, menyerukan kepada umat Islam di Indonesia agar mewaspadai gerakan keagamaan baru dari luar
Para kiai juga meminta umat Islam terutama warga nahdhiyin agar berhati-hati terhadap agenda gerakan transnasional, yang membawa misi aliran Wahabi dari Arab Saudi yang ingin menggeser tradisi keagamaan NU dengan budaya mereka sendiri. Sebab mereka yang anti tradisi NU itu melakukannya melalui berbagai cara, mislnya dengan mensyurukkan, memuratdkan dan mengkafirkan budaya keagamaan NU
.
Demikian beberapa butir hasil pertemuan Saresehan Kiai NU se Kab. Cirebon, Minggu (25/5) di Pondok Pesantren Khatulistiwa, Kempek, Kec. Gempol. Hadir dalam pertemuan itu antara lain KH. Syarif Utsman Yahya (Kempek Ciwaringin), KH. Syarif Hud Yahya (Babakan Ciwaringin), KH. Rahmatullah dan KH. Mughni (Tegal Gubug), KH. Mansur (Jagapura Gegesik), KH. Haris Jauhari (Susukan), KH. Ibrahim Rozi (Weru), KH. Zahid Hidayat (Plered), KH. Doim (Kapetakan), KH. Hamidin (Gunung Djati), KH. Mahfudz Bakri (Kasepuhan). Selanjutnya dari wilayah Timur, KH. Faizin Adnan dan KH. Zuhdi (Losari), KH. Hasanuddin Kriyani (Buntet), KH. Ridwan Sufyan (Pabedilan), serta para aktifis NU lainnya
.
Menurut pengasuh pesantren Khatulistiwa Kempek yang juga penggagas pertemuan saresehan, KH. Syarif Utsman Yahya, umat Islam harus menyatukan langkah dan gerak dalam menghadapi kenyataan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia
.
Pihaknya berharap, agar golongan trans-nasional yang membawa misi wahabi itu menghormati pluralitas atau kemajemukan di Indonesia. Keragaman keberagamaan di Indonesia merupakan sebuah keniscayaan. Makanya, satu sama lain harus saling menghargai sebab sama-sama bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah seperti serta para sahabat Nabi
.
“Jadi jangan saling mengkafirkan, memurtadkan dan mengklaim syirik golongan lain. Kalau tak suka jangan mengecam dan menjelek-menjelekkan, jalani ibadah versi keyakinan masing-masing. Selanjutnya jangan suka mengklaim atas nama umat Islam. Padahal, umat Islam di Indonesia sangat beragam pahamnya. Kita harus menghargai kebudayaan bagaimana nusantara sebagai basis kebangsaan. Tradisi NU sudah puluhan tahun, moso mau digeser dengan budaya kaum wahabi yang baru beberapa tahun datang ke Indonesia”, tandasnya.

Awas! Kantong NU Disusupi Kelompok Wahabi Radikal

Agustus 11, 2009 oleh   

Jember, NU Online
Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan berlipat saat ini dibandingkan tahun 1984. Salah satunya adalah tantangan dari kelompok Islam Wahabi radikal yang menyusup ke kantong-kantong NU.

Hal ini terungkap dalam pertemuan antara Ketua Pengurus Besar NU, KH Masdar Farid Mas’udi, dengan sejumlah petinggi NU cabang Jember, Kencong, dan Lumajang, di Pondok Pesantren Al Amin Ambulu, Senin (10/8).Masdar menganggap pertemuannya dengan sejumlah petinggi NU itu tidak ada yang istimewa. Diwawancarai beritajatim.com usai pertemuan, ia mengatakan, jika NU bertekad kembali ke khittah, maka sesungguhnya tekad itu harus berlipat ganda.

“Tahun 1984 tantangan NU hanya satu: tidak disukai penguasa. Kalau sekarang, tantangannya dari atas, samping kiri-kanan, dan dari bawah,” kata Masdar.

Dari atas, menurut Masdar, ada perebutan kekuasaan yang terus terjadi dari waktu ke waktu, yang menyeret NU untuk berpolitik praktis. Politik praktis sendiri, kata dia, “tend to corrupt (cenderung korup). Karena menjejaki politik praktis, NU kemasukan penyakit money politics. Kalau NU kemasukan penyakit money politics, lalu siapa yang diandalkan menjadi guru moral dan akhlak?.”

Dari samping, NU menghadapi tantangan dari kelompok fundamentalisme radikal. Kelompok ini menyusup ke kantong-kantong NU. “Banyak masjid NU dikuasai dan disusupi,” kata Masdar bernada prihatin.

Bagaimana mereka bisa masuk? Masdar mengatakan, kelompok radikal masuk melalui masjid. “Masjid itu kan kantong umat. NU mengambil jarak dan tak begitu care (peduli) dengan umat. NU harus sungguh-sungguh ngopeni (memelihara) umat,” katanya.

Sementara itu, NU justru menghadapi tantangan dari umatnya sendiri. Umat sudah tidak lagi memiliki kesetiaan yang tinggi terhadap para kiai. “Terakhir mengarahkan NU untuk mendukung Si A, ternyata umat mendukung Si B. Pimpinan NU ditinggal sendirian sama umatnya,” kata Masdar.

Masdar berpendapat, perlu ada upaya sungguh-sungguh untuk mengembalikan NU ke jati diri sebagai organisasi yang melayani umat.

sumber : http://www.nu.or.id

1 COMMENT

  1. ahdatul Ulama adalah Organisasi Relegius yang cukup banyak ajaran-ajaran yang menyesatkan umat,menyesatkan orang Islam di Indonesia.Ajarannya yang banyak mengajak ke arah kemmusyrikan,musrik dan musrik. Tidak mengajrakan Islam dari Quran tetapi mengajarkan dari Kyai yang nota bene Kyai itu suka menghamili santrinya tanpa melalui dari pernikahan yang sah.
    Kyai-kyai NU di Indonesia berusaha membodohkan orang Islam dengan dalih melestarikan budaya. kedok pluralisme.kedok kebersamaan. tetapi mereka berusaha untuk meyakinkan santrinya kalau dia itu seperti Nabi. semua harus diikuti. sampai diajak berzin* pun wajib mau dan ditakut-takuti oleh sang kyai yangberjubah putih dan kopiah ala Arab.
    KYAI NU banyak yang sombong the Big Head dan The Big Mouth. kepalanya besar karena tidak mau belajar dari Quran dan sunnah.Sukanya hanya menebar kedustaan dan propaganda. HATINYA BUSUK. karena di dalam hati kyai-kyai NU itu ada kejahatan-kejahatan untuk menundukkan orang Islam di Indonesia .HATINYA SERAKAH karena seorang kyai juga terjun di dunia politik yang jahad dan mereka ….
    sudah bisa ditebak, juga melakukan ….. Korupsi

    ‪#‎nahdlatululama‬
    ‪#‎NU‬
    ‪#‎bubarkan_NU‬

Comments are closed.