Ustadz M. Thalib Lucu dan Ngawur, NU Dibilang Wahabi

0
1,137 views

ustadz-m-thalib

 

 

 

 

 

 

 

Menyatakan NU sebagai Wahabi hanya karena kaum nahdliyin pengikut K.H. Abdul Wahab Chasbullah adalah pernyataan yang hanya keluar dari orang yang berpikiran ngawur.
Dengan judul Ustadz M. Thalib: NU Wahabi Sejati dan Transnasional, sebuah situs antara lain menulis:
Sering kali tokoh-tokoh atau orang awam kebanyakan di Indonesia menyebut “Wahabi” untuk menstigma suatu kelompok orang. Stigma itu biasanya karena tidak setuju dan tidak sependapat dengan aktivitas dakwah yang dilakukan. Stigma “Wahabi” itu dinisbatkan atau disandarkan kepada kelompok yang mengikuti ulama yang benama Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At-Tamimi rahimahullâh (1115-1206 H).
Jika demikian logika berpikirnya, NU itu adalah Wahabi, karena mereka, warga nahdliyin, adalah pengikut K.H. Abdul Wahab Chasbullah rahimahullah, salah satu pendiri NU.
Ustadz Muhammad Thalib Al-Yamani, amir MMI, dalam perbincangan dengan situs tersebut, Rabu (12/6/2013), mengatakan bahwa NU itu Wahabi sejati. Mengapa? Karena pendiri NU itu adalah K.H. Abdul Wahab Chasbullah. Wahabi itu dinisbatkan kepada nama K.H. Abdul Wahab. Jelas NU itu Wahabi….
Selanjutnya Ustadz juga mengatakan bahwa NU itu transnasional. Mengapa demikian? Karena, pertama, para pendiri NU belajar di Makkah, Saudi Arabia. Kedua, NU menganut madzhab Imam Syafi’ie rahimahullah, yang notabene bukan orang Indonesia. Jadi jelas, “NU itu transnasional,” kata Ustadz Thalib….
Sekarang ini BNPT bekerja sama dengan lembaga dalam tubuh NU untuk menjalankan program deradikalisasi. Salah satu program itu adalah menjadikan masjid-masjid di Indonesia steril dari ideologi transnasional. Padahal jelas-jelas NU itu transnasional dilihat dari dua sisi yang dikemukakan oleh Ustadz Thalib di atas. “Maka itu mereka melakukan bunuh diri,” kata Ustadz Thalib. (Arrahmah)
Ciri-ciri Wahabi
Salah satu yang menjadi keprihatinan kami adalah pembodohan yang dilakukan oleh sebagian kelompok muslim yang mengaku hendak memurnikan kembali aqidah Islam yang telah terpolusi. Mereka menganggap bahwa mayoritas kaum muslimin telah berbuat syirik, bid’ah, dan khurafat, sehingga harus diselamatkan. Yang lebih membahayakan lagi, kelompok itu mengatasnamakan dirinya penghidup kembali aqidah salaf shalih sehingga mereka menamakan dirinya sebagai ‘Salafy’. Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka juga mengaku sebagai pengikut Ahlusunah wal Jama’ah. Padahal kenyataannya mereka bukanlah kelompok Salafy dan Ahlusunah wal Jama’ah, melainkan mereka adalah kelompok Wahabi yang sengaja menyusup dalam tubuh Ahlusunah wal Jama’ah. Mereka ibarat penyakit kanker yang siap menggerogoti aqidah Ahlusunah wal Jama’ah, khususnya di tanah air Indonesia, yang mayoritas penduduknya bermadzhab Syafi’i…..
Logika tindakan mereka ibarat kaum Khawarij zaman awal kemunculan Islam dulu. Mereka gunakan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasul untuk mengkafirkan saudara mereka sesama muslim. Ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan untuk kaum munafik, kafir, dan musyrik, lantas mereka praktekkan untuk saudara-saudara mereka sesama muslim. Hadits-hadits Rasul mereka terapkan secara serampangan untuk saudara-saudara muslim mereka.
Pengkafiran (takfiri), itulah nama yang cocok buat kelompok yang selama ini mengaku sebagai kelompok Salafy. Kelompok yang selama ini menyusup dalam tubuh Ahlussunnah. Kelompok yang pada hakikatnya bernama ‘Wahabi’, pengikut setia Muhammad bin Abdul Wahab. Ya, kami setuju jika kelompok Wahabi yang berkedok Ahlussunnah dan mengaku sebagai Salafy yang ternyata palsu itu digelari dengan sebutan Jamaah Takfiriyah, kelompok pengkafiran saudara mereka sesama muslim….”
Jadi, pendefinisian “Wahabi” bukan semata-mata didasarkan pada nama tokohnya, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab, melainkan lebih daripada itu, yakni berdasarkan ciri-ciri mereka seperti disebut di atas.
Maka, menyatakan NU sebagai Wahabi hanya karena kaum nahdliyin pengikut K.H. Abdul Wahab Chasbullah adalah pernyataan pokrol yang hanya keluar dari orang yang berpikiran ngawur.
NU itu bukan Wahabi, karena ciri-ciri Wahabi sama sekali tidak ada pada NU.
Gerakan Islam Transnasional
Kini republik ini berada dalam bayang-bayang cengkeraman kelompok-kelompok garis keras yang mencita-citakan berdirinya pemerintahan Islam atau daulah Islamiyah. Sosok-sosok penganut atau paling tidak memiliki ide yang sama dengan sekte Wahabi yang diimpor dari kawasan Timur Tengah kini telah hadir di republik ini….. Mereka memiliki jaringan pembinaan maupun pendanaan dalam skala internasional. Sebab itu gerakan ini disebut ‘gerakan transnasional’.
Dalam beraktivitas, gerakan Islam transnasional ini tidak seluruhnya bertindak terang-terangan. Sebagian yang lain dilakukan secara tertutup dan terorganisasi secara rapi serta terstruktur…..
Maka, demi keutuhan NKRI, sudah saatnya penguasa negeri ini bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok itu….”
Jadi, yang dimaksud “gerakan Islam transnasional” adalah gerakan kelompok-kelompok garis keras yang mencita-citakan berdirinya pemerintahan Islam, penganut atau paling tidak memiliki ide yang sama dengan sekte Wahabi. Dan, inilah yang dimaksud dengan kata “transnasional” dalam konteks membicarakan pembentukan pemerintahan Islam di negeri ini.
Maka, mengatakan bahwa NU itu transnasional karena, pertama, para pendiri NU belajar di Makkah, Arab Saudi, kedua, NU menganut madzhab Imam Syafi’ii, yang notabene bukan orang Indonesia, adalah pernyataan yang, sekali lagi, hanya keluar dari orang yang berpikiran ngawur.
NU itu bukanlah ormas Islam yang bercita-cita membentuk pemerintahan Islam. Bagi NU, jelas sistem pemerintahan kita adalah demokrasi, dengan Pancasila dan UUD ’45 sebagai dasarnya. Jadi, NU sama sekali tidak bisa disebut organisasi gerakan Islam transnasional.
NU Setia kepada Negara
Bahwa NU bekerja sama dengan BNPT ya sudah sewajarnya.
Sebagian bagian dari negeri ini, ketika negara, dalam hal ini BNPT, membutuhkan bantuannya, wajar jika NU membantu.
Dalam konteks ini, bahkan sangat tepat ketika NU dilibatkan dalam program deradikalisasi. Mudah-mudahan, dengan bantuan para ustadz, ulama, dai, dan lain-lain, yang dimiliki NU, yang terkenal dengan pendekatannya yang moderat, program pemerintah untuk menjadikan masjid-masjid di Indonesia steril dari ideologi gerakan Islam transnasional benar-benar menuai sukses.
Lelucon, atau Ingin Menetralisir?
Atau, mungkin saja ada yang berpendapat bahwa apa yang dikatakan Ustadz Muhammad Thalib Al-Yamani terkait NU itu sekadar lelucon karena mungkin berobsesi menjadi Pelawak?
Jika benar demikian, bagaimanapun itu adalah lelucon yang sangat menyakitkan.
Mengapa? Sebab, predikat “Wahabi” dalam konteks aqidah dan “transnasional” dalam konteks cita-cita pembentukan pemerintahan Islam adalah predikat-predikat yang sangat sensitif. Bahkan negatif. Wahabi negatif karena begitu gampangnya mengkafirkan umat Islam yang lain, sedang transnasional atau gerakan Islam transnasional negatif karena cita-citanya bertentangan dengan dasar negara kita.
Atau, jangan-jangan Ustadz Muhammad Thalib Al-Yamani ingin menetralisir citra negatif predikat “Wahabi” dan “transnasional” karena dia sesungguhnya…?
Sumber: Majalah Alkisah

 

sumber : http://www.nahimunkar.net

 

NO COMMENTS