Ulama Ahlu Sunnah dan Aliran Wahabi

0
1,339 views

Ketika Muhammad bin Abdul Wahab masih hidup, bukan saja Sheikh Sulaiman yang menentangnya dan banyak menulis kitab atau surat yang mempertanyakan kejanggalan pendiri aliran Wahabi ini. Bahkan Abdullah bin Abdul Latif Syafii, salah satu ulama Ahlu Sunnah dan guru Muhammad bin Abdul Wahab menulis buku berjudul “Tajrid Saif al-Jihad Li Muddaa al-Ijtihad” yang isinya mengkritik ajaran kaum Wahabi itu. Sheikh Abdullah bin Ibrahim, ulama Taif dalam bukunya “Tahridh al-Aghbiya Aala al-Istighatsa bil al-Ambiya wa al-Auliya” menyebut bertawasul kepada pemuka agama bukan bid’ah. Dalam bukunya tersebut, Sheikh Abdullah menjawab syubhah

yang dilontarkan kaum Wahabi.

 

ABNA, 23 Mei 2013 (Dikutip olehBUTONet 2 pada tanggal 8 April 2014) —Para ulama dengan menunjukkan reaksinya terhadap ideologi aneh Muhammad bin Abdul Wahab telah berhasil mencerahkan pikiran rakyat dari ideologi Wahabi. Para ulama dengan usahanya ini juga berhasil menyelamatkan banyak kaum Muslimin dari bahaya terperosok dalam kebodohan  Wahabi.

 

 

Mayoritas pengikut Wahabi mengklaim diri bahwa mereka adalah bagian dari kelompok Ahlu Sunnah (Sunni) dan memiliki akidah yang sama, namun kelompok Wahabi yang aneh ini dalam realitasnya memiliki keyakinan yang berbeda dengan Sunni. Pada awal kemunculan kelompok  Wahabi, para ulama Ahlu Sunnah gencar menulis kitab yang mempertanyakan keyakinan ajaran Muhammad bin Abdul Wahab itu.

Orang pertama yang mengkritik dan menyerang bid’ah yang ditebar Muhammad bin Abdul Wahab adalah Sheikh Sulaiman, yang tak lain adalah saudara dari pendiri aliran Wahabi itu sendiri. Dalam kitabnya yang berjudul al-Sawaiq al-Ilahiah fi Mazhab al-Wahabiyah  dan Faslul Khitab fi al-Rad Aala Muhammad bin Abdul Wahab, Sheikh Sulaiman mengkritik keras bida’ah dan ketergelinciran saudaranya. Ia pun menentang habis-habisan ideologi Muhammad bin Abdul Wahab itu.

Ada dialog yang terkenal antara dua bersaudara ini dan layak untuk disimak. Sulaiman bertanya kepada Muhammad bin Abdul Wahab, “Wahai Muhammad! Rukun Islam ada berapa?” Saudaranya menjawab, ada lima. Sulaiman berkata lagi, “Namun kamu meyakini rukun Islam ada enam. Rukun keenam adalah kamu meyakini bahwa siapa pun yang tidak mengikutimu adalah kafir! Keyakinan ini dalam ideologimu dan termasuk rukun Islam keenam.”

Dari dialog antara dua bersaudara tersebut, kita dapat menalari sikap radikal paling mencolok Muhammad bin Abdul Wahab adalah keyakinannya bahwa “Siapa pun yang tidak mengikuti dirinya adalah kafir“. Kaum Muslimin paling banyak dirugikan oleh ideologi aneh Muhammad bin Abdul Wahab ini yang kemudian antara lain bertransformasi menjadi Wahabi ekstrim serta yang banyak membantai warga Sunni dan Syiah. Padahal, dalam ajaran Islam, hubungan antara Tuhan dan makhluk didasarkan pada rahmat dan kecintaan. Sementara, hubungan sesama anggota masyarakat adalah dilandasi rasa persaudaraan.

Ketika Muhammad bin Abdul Wahab masih hidup, bukan saja Sheikh Sulaiman yang menentangnya dan banyak menulis kitab serta surat yang mempertanyakan kejanggalan pendiri aliran Wahabi ini. Bahkan, Abdullah bin Abdul Latif Syafii, salah satu ulama Ahlu Sunnah dan guru Muhammad bin Abdul Wahab menulis buku berjudul “Tajrid Saif al-Jihad Li Muddaa al-Ijtihad” yang isinya mengkritik ajaran kaum Wahabi. Sheikh Abdullah bin Ibrahim, ulama Taif, dalam bukunya berjudul “Tahridh al-Aghbiya Aala al-Istighatsa  bil al-Ambiya wa al-Auliya” menyebut bertawasul kepada pemuka agama bukan bid’ah. Dalam bukunya tersebut, Sheikh Abdullah menjawab syubhah yang dilontarkan kaum Wahabi.

Ada lagi kitab Al-Aqwal al-Mardiyah fi al-Rad Aala al-Wahabiyah  yang ditulis Sheikh Atha Dimsyiqi.  Sayid Alawi bin Ahmad Haddad mengatakan, “Banyak jawaban dan kritikan yang dilontarkan oleh ulama besar mazhab Ahlu Sunnah atas Muhammad bin Abdul Wahab (ajaran Wahabi), mulai dari Mekah, Madinah, dan kota-kota lain seperti Ihsa, Basra, Aleppo, dan seterusnya.”

Selama Muhammad bin Abdul Wahab hidup hingga kematiannya banyak ulama yang menentang ideologi yang disebarkan pendiri Wahabi ini. Di antara ulama tersebut adalah Afifuddin Abdullah bin Dawud Hanbali, Ahmad bin Ali Basri Syafii, Sheikh Atha Makki, Sheikh Tahir  Hanafi, dan Sheikh Mustafa Hamami Misri (salah satu ulama al-Azhar yang menulis kitab “Ghauts al-Ibad bihi Bayan al-Rashad“).

Tentang akidah  Muhammad bin Abdul Wahab (Wahabi) tersebut, salah satu ulama dan mufti besar Kota Mekah di akhir pemerintahan Utsmani, Sheikh Ahmad Zaini Dahlan, menulis: “Ia menyangka ziarah ke kuburan Nabi Muhammad SAW, bertawassul (kepada Nabi Muhammad SAW, para nabi, dan ulama), dan ziarah pada makam mereka adalah syirik. Ia pun menilai siapa saja yang menisbatkan sesuatu kepada selain Tuhan, meski melalui jalur rasio yang diperbolehkan, adalah syirik. Misalnya, dengan mengatakan si fulan sembuh berkat obat saya, maka itu berarti syirik.  Sungguh, Muhammad bin Abdul Wahab banyak melakukan falasi untuk menipu kaum awam serta menariknya menjadi pengikut aliran Wahabi.”

Meski adanya penentangan luas dari para ulama dan pencerahan gencar yang mereka lakukan, namun sangat disayangkan benih-benih ideologi rapuh itu semakin tumbuh subur akibat dukungan dana dan militer pemerintah al-Saud serta Inggris, yang kemudian tumbuh menjadi seperti pohon. Dan pohon ini hanya membuahkan kekerasan, friksi dan pertentangan sesama kaum Muslimin.

 

Sejak awal terbentuknya, Wahabi telah melakukan pembantaian besar-besaran untuk menguasai Mekah dan Madinah, dua kota yang menjadi pusat Islam. Pengikut aliran ini mengaku dirinya sebagai Muslim paling benar. Tak hanya itu, perilaku aneh dan kekerasan mereka disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw serta Al-Qur’an.

Pada awalnya ulama Sunni sangat gencar menentang Wahabi, namun selanjutnya secara bertahap mereka lebih memilih bungkam dan membiarkan aliran aneh itu berkembang. Salah satu alasan kebungkaman mereka adalah ketakutan terhadap aliran Wahabi dan juga sayang terhadap jiwa mereka. Dengan bungkamnya ulama, maraknya propaganda Wahabi, dan ancaman yang ditebar pengikut Muhammad bin Abdul Wahab itu, sejumlah pengikut Sunni  masuk menjadi pengikut Wahabi.

Fenomena maraknya pengikut Sunni yang masuk menjadi pengikut Wahabi juga disebabkan karena ulama mereka tidak serius seperti pendahulunya dalam memberi pencerahan (soal bahaya ideologi Muhammad bin Abdul Wahab) kepada umatnya. Aliran Wahabi yang mendapat angin dan berkembang pesat di sejumlah negara Islam, khususnya Arab Saudi, mulai menerapkan kekerasan dan penentangannya terhadap pemberdayaan akal atau rasio.  Dan para pengikutnya pun dikondisikan untuk memusuhi “akal”, sehingga terlelap dalam kejumudan.

Pembantaian kaum Muslimin di Suriah — yang juga mencakup anak-anak tak berdosa — merupakan contoh nyata dari ideologi aneh dan kejumudan akal kaum Wahabi. Perusakan makam para pemuka agama, penistaan para perempuan-perempuan Suriah, pemotongan anggota badan siapa pun yang menentang mereka, serta perilaku sadis lainnya, menunjukkan fanatisme dan kekerasan yang ditebar para pengikut Wahabi.

Alhamdulillah, kini kita  menyadari bahwa klaim jihad, tuntutan kebebasan dan bantuan kepada rakyat Suriah semuanya sekadar alasan untuk merusak kehidupan rakyat negeri ini. Kaum Wahabi ekstrim di Suriah alih-alih membantu rakyat Suriah, mereka justru merusak dan membuat kehidupan rakyat semakin parah; juga aktif membantai warga atau memaksanya mengungsi. Harta warga pun dijarah dan tidak memberi ampun bagi siapa pun, termasuk anak-anak dan perempuan. Sangat disayangkan, sampai saat ini, para ulama Ahlu Sunnah belum menunjukkan sikap yang tegas terhadap kejahatan yang anti Islam  (dengan berkedok “jihad”) ini.

 

Toleransi dan ketegasan adalah dua sifat Nabi Muhammad SAW dan merupakan ajaran Al-Quran. Kedua sifat mulia tersebut juga menghiasi kehidupan politik dan sosial beliau sepanjang hidup beliau, baik dalam perilaku maupun amaliah. Ketegasan dan keteguhan merupakan keharusan untuk menegakkan keadilan serta menjamin keamanan. Toleransi yang tidak pada tempatnya justru akan melenyapkan hak-hak manusia (hak-hak asasi manusia).

 

Pengampunan dan kelembutan yang timbul dari kelemahan ketika menghadapi kezaliman merupakan kehinaan dan bentuk dari sikap menyerah terhadap kezaliman. Ini akan membuat pelaku kezaliman semakin leluasa menjalankan aksinya.

 

Oleh karena itu, kita harus menolak model toleransi seperti ini. Meski disebut sebagai Nabi pembawa rahmat  bagi seluruh umat manusia, namun  Rasulullah Muhammad SAW tidak pernah mendiamkan ketidakadilan, kezaliman, dan bid’ah. Beliau gencar memeranginya. Dalam ajaran Islam, berdamai dengan kaum yang zalim dan suka menumpahkan darah, tidak dibenarkan.

Dengan merujuk ayat 73 Surat al-Isra, kita memahami bahwa dalam pandangan Al-Quran, kaum Muslimin dan Mukminin tidak diperkenankan menunjukkan kelemahan dalam soal agama. Dari ayat All-Qur’an tersebut kita juga dianjurkan untuk menentang ahli bid’ah dan orang kafir dengan sungguh-sungguh.

 

Dewasa ini umat Islam juga seharusnya tidak menunjukkan  toleransi terhadap propaganda anti agama dan permusuhan yang ditebarkan kaum Wahabi (tepatnya:“takfiri”).

sumber : http://www.globalnews.buton-network.com/

No tags for this post.

NO COMMENTS