Tragedi Suriah: Dari Makan Hati Hingga Merebus Kepala Manusia

0
2,709 views

daraa-prison-blurredPertengahan tahun lalu, kita dibuat terhenyak dan kaget ketika marak muncul sebuah video perang Suriah, yang menampilkan seorang jihadis bernama Abu Sakkar membelah dada dari Tentara Suriah yang telah gugur, lalu memakan hati/ jantungnya sembari bertakbir. Tindakan Abu Sakkar ini menuai kecaman dari seluruh dunia, tak terkecuali oleh Mr. Putin, Presiden Rusia.  Dalam sebuah  Konferensi Pers dengan anggota KTT G8, sambil menatap David Cameron dengan pandangan tidak menyenangkan, Putin berkata: “Mereka adalah orang yang tidak hanya membunuh musuh mereka, namun mereka juga menyayat tubuhnya, lalu memakan isinya di depan kamera. Apakah ini orang-orang ini yang akan diberikan pasokan senjata?”

Setelahnya, kita masih saja terus menerus disuguhi pemandangan serupa yang sangat mengerikan, kepala-kepala yang telah dipenggal dan dipamerkan dengan senyum lebar. Tidak ada rasa jijik maupun rasa bersalah yang tergambar di wajah para pembantai tersebut.

Belum lama ini, mereka kembali menunjukkan kebiadabannya yang lain (maaf saya harus mengungkapkan ini) yaitu merebus 2 kepala musuhnya yang sudah mereka penggal saat mereka menyerang penjara Garaz. Sepengetahuan saya (yang sangat terbatas) belum pernah rasanya saya menemukan sebuah hukum yang membenarkan hal keji seperti itu. Dari berbagai sumber, saya menemukan ada beberapa hukum dalam peperangan menurut Islam yang tertuang dalam al-Qur’an dan hadits diantaranya:

Al-Qur’an:
Umat Muslim hanya dibolehkan membunuh, mengusir  dan memerangi umat kafir yang telah memerangi mereka terlebih dahulu dan dilarang melampaui batas. Dilarang berperang di Masjidil Haram, kecuali umat kafir telah memerangi terlebih dahulu ditempat tersebut.  Jika pihak musuh sudah berhenti memerangi dan tidak adalagi kerusakan maka diwajibkan untuk berhenti berperang. Berperang hanya dijalan yang diperintahkan oleh Allah. Wajib melindungi orang-orang musyrik yang meminta perlindungan terhadap Umat Muslim.

Al-Hadits:

Berikut beberapa peraturan dalam berperang yang harus dipatuhi oleh umat Muslim ketika berperang melawan musuh: Dilarang melakukan pengkhianatan jika sudah terjadi kesepakatan damai. Dilarang membunuh wanita dan anak-anakkecuali mereka ikut berperang maka boleh diperangi. Dilarang membunuh orang tua dan orang sakit. Dilarang membunuh pekerja (orang upahan). Dilarang mengganggu para biarawan dan tidak membunuh umat yang tengah beribadah. Dilarang memutilasi mayat musuh. Dilarang membakar pepohonan, merusak ladang atau kebun. Dilarang membunuh ternak kecuali untuk dimakan. Dilarang menghancurkan desa atau kota.

Dalam salah satu larangan perang, jelas disebutkan bahwa memutilasi mayat musuh adalah dilarang. Dilarang artinya haram. Tidak bisa ditawar-tawar lagi, walau sebejat apapun musuhnya. Tapi hal tersebut tidak diindahkan oleh mereka, tiada hari yang berlalu di Suriah– yang terbebas dari pembunuhan dan pembantaian keji, siapa yang dapat menghentikannya?

Dalam wawancara ini, saya sependapat dengan apa yang disampaikan oleh mahasiswa Indonesia yang tengah berada di Suriah tersebut bahwasanya; “Kondisi mereka [jihadis] tergantung pendukungnya. Kalau aliran dananya di hentikan dan impor militan juga distop, maka mereka akan melemah dengan sendirinya. Jika negara tetangga kooperatif untuk menjaga perbatasan, maka mereka akan kehabisan nafas.  Namun sampai hari ini dari Turki maupun Yordania, masih membuka perbatasannya lebar- lebar untuk siapa saja yang pergi berperang ke Suriah. Kedua negara itu hanya melarang mereka kembali melalui negaranya. Itulah penyebab para milisi berebut ingin menguasai daerah perbatasan.”

Arab Saudi, salah satu penyumbang dana terbesar dalam membiayai pemberontak di Suriah, secara mengejutkan tiba-tiba mengeluarkan keputusan resmi yaitu memasukkan banyak faksi jihadis, seperti Al-Qaeda dan affiliasinya, Hizbullah yang berada di Arab Saudi, Syiah Huthi di Yaman dan juga Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris.  Mungkin, pemicu awalnya adalah ketakutan dari Arab Saudi akan kembalinya para jihadis ke negeri asal mereka (termasuk ke Saudi)  dalam kondisi sudah terlatih dan berpengalaman berperang dan akan membuat huru-hara.

Terbersit harapan, ketika Arab Saudi memasukkan jihadis tersebut ke dalam kelompok teroris maka otomatis Saudi akan menghentikan pendanaannya. Sayang harapan tinggal harapan,  mereka kini menggunakan taktik baru, mereka mendukung penuh faksi jihadis lain yang ‘tampil’ lebih moderat. Ambisi Saudi untuk menguasai Suriah kian kentara ketika Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Salman bin Abdulaziz, mengatakan dalam KTT Liga Arab bahwa komunitas internasional telah mengkhianati para pemberontak Suriah karena tidak lagi mempersenjatai mereka. Bukan hanya itu, Salman juga mendesak agar Liga Arab mempercepat proses pengalihan kursi keanggotan Suriah kepada kelompok oposisi untuk memberi status formal kepada kelompok itu, agar segera diakui dunia.

Sepertinya, perang Suriah memang tidak dirancang untuk dihentikan karena mereka memiliki kepentingan yang sangat besar atas Suriah. Pun ketika jihadis seperti al-Nusra telah diblack-list oleh Saudi, mereka akan segera menemukan ‘tuannya’ yang baru.

sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS