Terungkap! Firanda Banyak Melakukan Kesalahan Dalam Tata Bahasa Arab

3
4,104 views
SUARA-MUSLIM.COM ~ Beberapa waktu lalu diadakan Dialog Ilmiah di Batam 28 Desember 2013 yang mempertemukan Ustadz Firanda dari pihak Salafi (baca: Wahabi) dan Ustadz Muhammad Idrus Ramli dari pihak Ahlussunnah Wal Jama’ah (baca: Aswaja). Dalam dialog tersebut ternyata Firanda banyak melakukan kesalahan-kesalahan fatal yang mendandakan Beliau belum terlalu cakap dalam Tata Bahasa Arab.  Pada Menit 25:44 dan 49:02, Firanda yang katanya mengajar hadis di Madinah mengatakan Ni’matul Bid’ah, padahal seharusnya Ni’matil Bid’ah,  seperti  yang dilafalkan oleh lulusan Pesantren Lokal  Ustadz Idrus ramli pada menit 32:18

 

Berikut penjelasannya :
Tentang ni’ma dan bi’sa
 
نعم و بئس

Ni’ma dan bi’sa adalah dua kata dalam bahasa arab yang digunakan untuk memuji dan mencela. Hukumnya seperti fi’il madhi. La mahalla laha minal i’robi. Tidak dihukumi rafa’, nasab, jar maupun jazm. Harakatnya akhirnya fathah. Tidak bisa dirubah lagi

Adapun bila failnya muannats dan pada ni’ma atau bi’sa ditambah dengan ta’ mati, maka otomatis ta’ yang mati tersebut berharakat kasroh. Contoh : ni’matil mar’atu, ni’matil bid’atu
Membaca ni’matul pada kata-kata ini adalah sebuah kekeliruan fatal dalam segi ilmu bahasa arab karena menyalahi kaidah yang ada
Pertama, kata-kata ni’matul tidak lagi berlaku sebagaimana fi’il madhi, namun menjadi seolah-olah isim yang berlaku hukum i’rob. Bisa jadi rafa, nasab dan jazam
Kedua, tak ta’nis sakinah dibelakang fi’il madhi, tidak bisa dibaca dlommah dengan alasan apapun
Ketiga, kalau lah orang yang keliru membaca ni’matil dengan ni’matul beralasan itu adalah kalimat isim yang bisa berlaku i’rob atasnya, maka hukum kalimah sesudahnya harus dibaca jar, karena menjadi mudhof ilaih dari kata-kata ni’matul
==II==
Pada menit 1:21:44 Firanda mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Izz bin Abdissalam tentang bid’ah hasanah adalah hanya membangun sekolah, jembatan dan lain2.
Mari kita simak penjelasan Izz Bin Abdissalam yang sesungguhnya
فَصْلٌ فِي الْبِدَعِ الْبِدْعَةُ فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَصْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . وَهِيَ مُنْقَسِمَةٌ إلَى : بِدْعَةٌ وَاجِبَةٌ ، وَبِدْعَةٌ مُحَرَّمَةٌ ، وَبِدْعَةٌ مَنْدُوبَةٌ ، وَبِدْعَةٌ مَكْرُوهَةٌ ، وَبِدْعَةٌ مُبَاحَةٌ ، وَالطَّرِيقُ فِي مَعْرِفَةِ ذَلِكَ أَنْ تُعْرَضَ الْبِدْعَةُ عَلَى قَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ : فَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْإِيجَابِ فَهِيَ وَاجِبَةٌ ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ التَّحْرِيمِ فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمَنْدُوبِ فَهِيَ مَنْدُوبَةٌ ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمَكْرُوهِ فَهِيَ مَكْرُوهَةٌ ، وَإِنْ دَخَلَتْ فِي قَوَاعِدِ الْمُبَاحِ فَهِيَ مُبَاحَةٌ ،
Pasal tentang bid’ah
Bid’ah adalah sesuatu yang belum pernah dilakukan pada masa rasulullah saw. Bid’ah itu terbagi menjadi : 1. Bid’ah Wajib 2. Bid’ah yang diharamkan 3. Bid’ah yang dianjurkan 4. Bid’ah makruh 5. Bid’ah yang mubah
Cara membedakan bid’ah-bid’ah tersebut di atas adalah menyesuaikannya dengan kaidah-kaidah syari’at
Apabila berkaitan dengan sesuatu yang wajib, maka hukum bid’ah itu termasuk wajib. Bila berkaitan dengan kaidah-kaidah pengharaman, maka hukum bid’ahnya juga haram dan seterusnya
وَلِلْبِدَعِ الْوَاجِبَةِ أَمْثِلَةٌ .
Adapun contoh dari bid’ah yang wajib antara lain :
أَحَدُهَا : الِاشْتِغَالُ بِعِلْمِ النَّحْوِ الَّذِي يُفْهَمُ بِهِ كَلَامُ اللَّهِ وَكَلَامُ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَذَلِكَ وَاجِبٌ لِأَنَّ حِفْظَ الشَّرِيعَةِ وَاجِبٌ وَلَا يَتَأَتَّى حِفْظُهَا إلَّا بِمَعْرِفَةِ ذَلِكَ ، وَمَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ .
Pertama, Menyibukkan diri dengan belajar ilmu nahwu untuk dapat memahami firman Allah dan Hadits Rasulullah saw. Bid’ah ini wajib (fardu kifayah, pen) karena merupakan sebuah keharusan untuk memahami syari’at.
Qoidah fiqih :
Maa laa yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajibun (sesuatu yang menjadi sebuah keharusan demi sempurnanya sebuah kewajiban, maka hukumnya juga wajib)
الْمِثَالُ الثَّانِي : حِفْظُ غَرِيبِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مِنْ اللُّغَةِ . .
Kedua, menghafal istilah-istilah sulit dari kitabullah dan sunnah
الْمِثَالُ الثَّالِثُ : تَدْوِينُ أُصُولِ الْفِقْهِ
Ketiga, penyusunan ushul fiqih
الْمِثَالُ الرَّابِعُ : الْكَلَامُ فِي الْجُرْحِ وَالتَّعْدِيلِ لِتَمْيِيزِ الصَّحِيحِ مِنْ السَّقِيمِ ، وَقَدْ دَلَّتْ قَوَاعِدُ الشَّرِيعَةِ عَلَى أَنَّ حِفْظَ الشَّرِيعَةِ فَرْضُ كِفَايَةٍ فِيمَا زَادَ عَلَى الْقَدْرِ الْمُتَعَيَّنِ ، وَلَا يَتَأَتَّى حِفْظُ الشَّرِيعَةِ إلَّا بِمَا ذَكَرْنَاهُ .
Keempat, pembahasan tentang jarh dan ta’dil dalam ilmu hadits.
وَلِلْبِدَعِ الْمُحَرَّمَةِ أَمْثِلَةٌ . مِنْهَا : مَذْهَبُ الْقَدَرِيَّةِ ، وَمِنْهَا مَذْهَبُ الْجَبْرِيَّةِ ، وَمِنْهَا مَذْهَبُ الْمُرْجِئَةِ ، وَمِنْهَا مَذْهَبُ الْمُجَسِّمَةِ ، وَالرَّدُّ عَلَى هَؤُلَاءِ مِنْ الْبِدَعِ الْوَاجِبَةِ .
Adapun bid’ah-bid’ah yang haram contohnya seperti, munculnya faham qodariyah, jabariyah, murjiah juga mujassimah. Menentang faham-faham ini adalah bid’ah wajib
وَلِلْبِدَعِ الْمَنْدُوبَةِ أَمْثِلَةٌ . مِنْهَا : إحْدَاثُ الرُّبُطِ وَالْمَدَارِسِ وَبِنَاءِ الْقَنَاطِرِ ، وَمِنْهَا كُلُّ إحْسَانٍ لَمْ يُعْهَدْ فِي الْعَصْرِ الْأَوَّلِ ،
Adapun bid’ah mandubah contohnya seperti mendirikan sekolah dan bangunan lainnya. Termasuk juga hal-hal baik yang belum pernah ada pada periode awal islam
وَمِنْهَا : صَلَاةُ التَّرَاوِيحِ ، وَمِنْهَا الْكَلَامُ فِي دَقَائِقِ التَّصَوُّفِ ، وَمِنْهَا الْكَلَامُ فِي الْجَدَلِ فِي جَمْعِ الْمَحَافِلِ لِلِاسْتِدْلَالِ عَلَى الْمَسَائِلِ إذَا قُصِدَ بِذَلِكَ وَجْهُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ .
Termasuk bid’ah mandubah adalah sholat tarawih, membahas hal-hal pelik dalam masalah tasawuf, serta mengadakan diskusi ilmiyah demi memutuskan berbagai masalah
وَلِلْبِدَعِ الْمَكْرُوهَةِ أَمْثِلَةٌ . مِنْهَا : زَخْرَفَةُ الْمَسَاجِدِ ، وَمِنْهَا تَزْوِيقُ الْمَصَاحِفِ ، وَأَمَّا تَلْحِينُ الْقُرْآنِ بِحَيْثُ تَتَغَيَّرُ أَلْفَاظُهُ عَنْ الْوَضْعِ الْعَرَبِيِّ ، فَالْأَصَحُّ أَنَّهُ مِنْ الْبِدَعِ الْمُحَرَّمَةِ .
Bid’ah makruhah contohnya : menghiasi  masjid dengan berbagai ornament, menghias Al Qur’an. Sedangkan melagukan Al Qur’an (hingga tidak sesuai dengan bahasa arab) maka termasuk bid’ah yang haram
وَلِلْبِدَعِ الْمُبَاحَةِ أَمْثِلَةٌ . مِنْهَا : الْمُصَافَحَةُ عَقِيبَ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ ، وَمِنْهَا التَّوَسُّعُ فِي اللَّذِيذِ مِنْ الْمَآكِلِ وَالْمَشَارِبِ وَالْمَلَابِسِ وَالْمَسَاكِنِ ، وَلُبْسِ الطَّيَالِسَةِ ، وَتَوْسِيعِ الْأَكْمَامِ . وَقَدْ يُخْتَلَفُ فِي بَعْضِ ذَلِكَ ، فَيَجْعَلُهُ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ مِنْ الْبِدَعِ الْمَكْرُوهَةِ ، وَيَجْعَلُهُ آخَرُونَ مِنْ السُّنَنِ الْمَفْعُولَةِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا بَعْدَهُ ، وَذَلِكَ كَالِاسْتِعَاذَةِ فِي الصَّلَاةِ وَالْبَسْمَلَةِ .
Contoh bid’ah yang mubah antara lain : bersalaman setelah selesai sholat subuh dan asar, membuat berbagai masakan lezat, pakaian yang bagus, memperindah rumah. Terkadang ada pula ulama yang memilih hukum makruh atas semua itu. Namun ada pula yang berpendapat bahwa hal-hal di atas telah ada sejak zaman nabi
Termasuk bid’ah mubah juga adalah membaca taawudz sebelum menunaikan sholat dan sebelum membaca basmalah


Penulis: Abi Awadh Naufal
(Sumber: taklim.tv, muslimedianews)

sumber : suara-muslim.com

3 COMMENTS

  1. Subhanallah,….mantap tenan penjelasan Ust. Romly,…..semoga Allah berkahkan umur beliau,….kubu Salafy ambil kesempatan buat ‘ngaji’ sekalian tuh,….

  2. Yang terpenting dan lebih aman sebagai orang awam. Belajar itu penting memperbaiki kesalahan itu baik tapi islam harus berkiblat pd alqur’ an dan hadist. Yg di contohkan sj jarang dilakukan malah menambah yg gak. Gak usa ruwetlah! Rasul contohkan .dalil ada . Laksanakan. Biar aman .

  3. saya gak bisa faham sama aliran yg satu ini……. mereka bilang mendo,akan orang yang telah mati gak boleh…….tapi ketika temen mereka meninggal mereka do,akan juga ketika sholat jenazah…………..mereka bilang do,a secara bersama sama bid,ah……lalu bagaimana do,a ketika sholat jum,at pada khotbah kedua………..

Comments are closed.