Slogan “Yogyakarta City of Tolerance” Dipertanyakan

0
443 views

1007434-toleransi-harmoni-780x390YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Slogan “Yogyakarta City of Tolerance” dinilai belum sepenuhnya mampu diaplikasikan dalam dinamika kehidupan sosial di masyarakat. Akhir-akhir ini tindakan intoleransi dianggap semakin marak menodai kenyamanan Yogyakarta.

Branding ‘Yogyakarta City of Tolerance’ dicetuskan sekitar 2002-2003-an, namun tampaknya kini tinggal slogan semata,” ujar Subkhi Ridho, aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), saat menjadi pembicara di acara Bincang Senja dengan tema “Masa Depan Keberagaman Yogyakarta” , Kamis (30/1/2014).

Berturut-turut sejak awal 2013, sebut Subkhi, terjadi berbagai aksi intoleransi di Yogyakarta. Ironisnya, aksi tersebut tidak mampu dibendung oleh pemerintah maupun pihak berwajib. Beberapa waktu lalu, sebut Subkhi memberikan contoh, bertebaran spanduk-spanduk anti-Syiah di berbagai sudut kota.

Spanduk tersebut, kata Subkhi, jelas merupakan bentuk teror bagi penganut syiah. Menurut dia, lagi-lagi pemerintah seakan menutup mata dan tak menindak tegas dengan melakukan penertiban. “Alasannya karena belum ada aduan dari masyarakat. Jelas bentuk teror, tapi tidak ditertibkan. Lantas di manakahbranding ‘Yogyakarta City of Tolerance’?” ujar dia.

Subkhi berharap pemerintah dan pihak berwajib tidak membiarkan dan bertindak ketika ada aksi yang menjurus ke intoleransi. Hal itu demi menjaga toleransi di Yogyakarta.

Direktur Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) Hairus Salim menuturkan, tindakan intoleransi sudah terjadi di Yogyakarta sejak satu dekade lalu. Salah satu bentuknya, sebut dia, sekitar 10 tahun lalu beredar peringatan agar orangtua tidak menyekolahkan anaknya ke sekolah Kristen atau Katolik.

“Tiga tahun ini mulai muncul intoleransi dengan bentuk kos-kosan khusus muslim,” ujar Hairus. Kondisi ini, kata dia, diperparah dengan munculnya beberapa mal yang menjadikan kota ini tak lagi village, tetapi menjadi kota urban yang menurut dia mengikis jati diri Yogyakarta. “Bisa jadi jika tidak segera disikapi, Yogyakarta bukan lagi ‘City of Tolerance’, tapi ‘Lost City’,” ujar dia.

sumber :http://regional.kompas.com/

NO COMMENTS