Siapa Muawiyah Sebenarnya?

0
627 views

muawiyah-bin-abu-sufyan-

 

Quito R. Motinggo

Menurut kaum Wahabi & Nasibi yang diwakili oleh Abu Sulaiman 1] :

Muawiyah tidak menginginkan kekuasaan, atau dengan kata lain tidak menolak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ra, tetapi Muawiyah (hanya) meminta Ali agar menyerahkan pembunuh Utsman, dan setelah itu dia (Muawiyah) akan mematuhinya (Ali).”

Pernyataan di atas ini jelas-jelas janggal dan memang salah satu ciri kaum Wahabi & Nasibi yang selalu menggunakan argumen-argumen yang serba janggal. Karena bagaimana pun jika otak kita masih utuh, kita akan sadar bahwa apa yang diminta oleh Muawiyah saat itu adalah Qishash, dan Qishash hanya bisa dilaksanakan oleh seorang khalifah yang sah.

Zamir Sayyid mengomentari hal ini di dalam Sharra Muwaffaq hlm. 530 :

Tugas seorang Imam (khalifah) adalah menerapkan Syari’ah, menerapkan hukum Qishash, Nikah, Jihad, Eid, dan hukum-hukum seperti itu yang tidak dapat diimplementasikan tanpa seorang Imam (khalifah)”

Di dalam kitab Syarah al-Maqashid hlm. 251 bisa kita dibaca :

Penunjukkan (pengangkatan) seorang Imam adalah mutlak diperlukan, karena dialah yang mengimplementasikan syariat dan menempatkan batas-batas yang diperlukan atas seseorang”

Jadi, jika seseorang (seperti Abu Sulaiman ini) menggunakan pendirian Muawiyah seperti itu, maka jelas bahwa apa yang diminta oleh Muawiyah adalah aneh, seperti olok-olokan saja, karena bagaimana mungkin Qishash bisa dilaksanakan sementara dia sendiri menolak mengakui kekhalifahan Imam Ali yang sah! Lalu bagaimana suatu sistem pemerintahan yang sehat bisa memberi izin warganya untuk melakukan tindakan BALAS DENDAM? Apakah seseorang warga negara di bawah sistem pemerintahan Islam (atau sistem mana pun) dibolehkan untuk melakukan pembunuhan demi membalaskan dendam atas kematian sanak keluarganya? Apakah “alim” Nasibi ini (Abu Sulaiman) ingin menciptakan suatu sistem anarki yang seperti itu? Tampaknya lelaki ini tidak mengerti apa-apa tentang hal ini!

Argumen-argumen murahan seperti itu jelas-jelas hanya usaha yang dipaksakan untuk membela Muawiyah semata-mata!

Seluruh ulama Ahlus Sunnah juga sepakat bahwa pemerintahan yang sah jelas-jelas dipegang oleh Imam Ali bin Abi Thalib as. Jadi siapa pun yang menentang pemerintah yang sah saat itu maka dia bughat ataubaghy : durhaka atau memberontak!

Itulah sebabnya Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang taat kepada Ali maka berarti ia taat kepadaku dan barangsiapa yang taat kepadaku berarti taat kepada Allah. Dan barangsipa yang tidak taat kepada Ali maka dia tidak taat kepadaku dan barangsiapa yang tidak taat kepadaku berarti dia tidak taat kepada Allah.” (Kanz al-‘Ummal, hadits no. 32973)2]

MENGGUNAKAN DARAH UTSMAN HANYA UNTUK MENIPU ORANG-ORANG DUNGU

Imam Ali as melayangkan surat kepada Muawiyah yang menyatakan,“(Masyarakat) Makkah dan Madinah sudah memberikan bai’at kepada saya. Anda pun mesti melakukan hal yang sama (seperti mereka) untuk menghindarkan perang antara Iraq (Imam Ali) dan Siria (Muawiyah). Tapi Muawiyah menggunakan darah Utsman untuk menolak memberikan bai’atnya. Dia menggunakan alasan ini untuk menyesatkan orang-orang Arab yang dungu, menyuap banyak orang dengan uang dan tanah!” (Ibn Maghazili, Manaqib Ali bin Abi Thalib, hlm. 128, Bab Perang Shiffin)

APAKAH MOTIF MUAWIYAH SEBENARNYA DIBALIK PENENTANGANNYA TERHADAP IMAM ALI?

Di dalam kitab Ahlus Sunnah, al-Nasa’ih al-Kaafiyah hlm. 19, kita bisa membaca :

Khalifah Utsman meminta bantuan (tentara) kepada Muawiyah, tetapi Muawiyah tidak mempedulikannya. Ketika situasi semakin memburuk dan hanya tersisa sedikit kesempatan untuk khalifah Utsman dapat bertahan hidup, barulah Muawiyah mengirimkan Yazin bin Asand al-Khasyiri dengan pasukannya dan Muawiyah berkata kepadanya untuk mengamati Zikush dan tetap di sana. Sang panglima (Yazid) mematuhi perintah ini dan ketika Utsman terbunuh, Muawiyah memrintahkan pasukannya untuk kembali (ke Siria). Tindakan Muawiyah ini bertujuan untuk memperlihatkan kepada masyarakat (Siria) bahwa dia telah mengirimkan pasukannya (ke Madinah), padahal kenyataannya semua itu hanya tipu muslihatnya agar dia dapat (nantinya) mengekspolitasi kematian Utsman untuk mengambil alih kekuasaan.”

Muawiyah bukanlah orang yang cerdik. Lelaki ini hanyalah seorang politikus licik yang memanfaatkan kebodohan masyarakat Siria agar dia memperoleh kekuasaan yang lebih besar lagi. Mungkin sebagian kaum Nasibi belum merasa yakin dengan argumen ini, maka mari kita ungkapkan satu argumen lainnya untuk mereka. Mudah-mudahan otak mereka masih utuh sehingga mereka masih bisa menggunakannya untuk berpikir.

SATU BUKTI LAINNYA : PERJANJIAN MUAWIYAH DENGAN AMR BIN ASH

Di dalam kitab ‘Iqd al-Farid Jil. 2, hlm. 238, kita akan membaca sebuah kesaksian dari mulut Imam kaum Nasibi ini, yaitu Muawiyah. “Muawiyah meminta Amr bin Ash agar berbai’at (sumpah setia) kepadanya. Amr menjawab, “Jika bai’at itu berkenaan dengan urusan akhirat, maka pasti Allah tidak besertamu, tapi jika baiat itu berkenaan dengan urusan dunia, maka aku menginginkan bagianku”. Muawiyah menjawab, “Di duniaku ada bagian yang sama”. Amr mengatakan, “Aku ingin engkau menuliskan hal ini (di atas kertas), bahwa engkau akan memberikan wilayah Mesir dan sekitarnya kepadaku”. Muawiyah menyetujuinya dan Amr pun memberikan baiat kepadanya. Amr mengatakan agar hal ini juga tertulis dalam sebuah kesepakatan bersama. Muawiyah pun mengatakan, “Orang tidak akan melihat perjanjian ini.” Maka Amr pun berujar, “Lakukanlah!”. Pada kesempatan itu Umro datang dan Amr berkata, “Muawiyah, aku telah menjual agamaku kepadamu.” Umro berkata, “Sungguh, berilah dia kesepakatan sepenuhnya karena dia adalah sahabat Nabi!” 3]

Orang modern sekarang ini menyebut cara-cara seperti ini sebagai KOLUSI!

(Bersambung)

Catatan kaki:

Catatan penting : semua kitab-kitab di atas mau pun di bawah ini ditulis oleh para sarjana Muslim Ahlus Sunnah

1. Abu Sulaiman menggunakan argumen-argumen yang diambilnya dari kitab Siyar A’alam Al-Nubala’a, yang ditulis oleh Al-Tsahabi, Jil. 3hlm. 140.

2. Muttaqi al-Hindi, Kanz ul Ummal, hlm 614, Hadith no. 32974 & 32977

  • Mustadrak al-Hakim, Jil. 3, hlm. 128
  • Riyadh al-Nadira, Jil. 3, hlm. 110

3. Ibn ‘Abd Rabbih, ‘Iqd al-Farid Jil. 2, hlm. 238

NO COMMENTS