Siapa Muawiyah Sebenarnya? (3)

1
2,614 views

muawiyah-bin-abu-sufyan-

Seorang ulama Ahlus Sunnah, Shah Abdul Aziz al-Dahlawi, di dalam kitab fatwanya, Fatwa Azizi, Bab 8, Bab Marwan, hlm. 161, membuat pernyataan :

“Para sarjana ahli hadis telah menyimpulkan bahwa tindakan Muawiyah (melawan Ali bin Abi Thalib) didasarkan pada dendam pribadinya dan hawa nafsunya, bukan karena permusuhan yang telah ada antara kaum Quraisy dengan Bani Umayyah menyusul dengan terbunuhnya khalifah Dzun Nurayn (Utsman). Yang sebenarnya adalah bahwa dia (Muawiyah) adalah seorang pelaku dosa-dosa besar, pendurhaka (baghy), pemberontak dan seorang yang fasiq!” 1]

Tidak ada yang meragukan hal ini kecuali kaum Wahabi, yang merupakan produk Inggeris 2] dan Kerajaan Saudi.
Di dalam kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh para sarjana Ahlus Sunnah, disebutkan bahwa ketika Muawiyyah bin Yazid (Muawiyyah II) diangkat menjadi khalifah untuk menggantikan Yazid bin Muawiyyah, dia memberikan khotbah sbb :

“Sesungguhnya kekhilafahan itu milik Allah Swt. Kakekku (Muawiyah bin Abu Sufyan) telah memerangi orang yang memang layak atas kekhalifahan, dan orang itu adalah Ali bin Abi Thalib dan dia melakukan tindakan-tindakan seperti itu yang kalian telah menyadarinya dan sebagai konsekuensinya dia menderita karena tindakan-tindakannya itu.” 3]

 

Yang menarik adalah bahwa pernyataan ini disampaikan oleh cucu Muawiyyah sendiri, atau putra dari Yazid bin Muawiyah. Dan karena pernyataan dan sikap-sikap Muawiyah II ini melawan dan menentang kebijakan-kebijakan Bani Umayyah yang sudah mengakar di kalangan mereka, maka akhirnya cucu Muawiyah ini pun dibunuh dengan diracun oleh kerabatnya sendiri dari Bani Umayyah.

 

Mengapa Muawiyah menuntut qishash atas darah Utsman kepada Ali bin Abi Thalib, tetapi tidak kepada Amr bin Ash, salah seorag provokator untuk memberontak kepada Utsman bin Affan? Padahal Amr bin Ash telah berkata secara terang-terangan: “Akulah Abu Abdullah! Ketika aku menggaruk borok maka aku telah memotongnya. Aku selalu menyrukan perlawanan terhadapnya (Utsman) dengan penuh nafsu. Aku bahkan telah menghasut para penggembala di puncak pegunungan untuk memberontak kepadanya (Utsman).” 4]

 

Para sejarawan juga mencatat, bahwa setelah Muawiyah berkuasa, dia justru mengangkat Amr bin Ash menjadi orang kepercayaannya atau penasihatnya. Aneh bukan?

 

Sebuah komentar terbaru dari seorang akademisi Sunni Professor Masudul Hasan, di dalam kitabnya Hazrat Ali al-Murtadha, halaman. 248mengatakan :

“Kendati Muawiyah menangis untuk membalas dendam atas darah Utsman, terbuktyi tidak melakukan apa pun, sebaliknya malah melakukan persekutuan dengan laki-laki yang pada kenyataannya telah menimbulkan pemberontakan terhadap Utsman. Kendati Amr bin Ash adalah orang yang paling keras melawan Utsman semasa hidupnya, terlihat seperti orang yang tidak melakukan satu kesalahan dan bergabung (bersama Muawiyah) menjadi kelompok orang-orang yang menuntut balas atas darah Utsman yang padahal dia sendiri terlibat secara langsung atau tidak langsung atas pembunuhannya.”

 

Catatan Kaki :
Saya tekankan di sini bahwa : semua kitab-kitab yang menjadi referensi tulisan ini adalah kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah!

1. Banyak sekali hadis Rasulullah Saw yang menyatakan seperti :
– “Memusuhi Ali berarti memusuhi Rasulullah Saw.” Lihat kitab Kanz al-‘Ummal Jil. 15 hlm. 96, hadis no. 273, Cet. Ke-2. (Kitab ini ada lengkap di perpustakaan LIPIA. Saya pernah membacanya di perpustakaan LPBA (sekarang LIPIA) yang dulu berlokasi di Matraman Jakarta Timur)

– “Barangsiapa yang menyakiti Ali berarti telah menyakitiku.” Lihat hadis ini di dalam : * Mustadarak al-Hakim Jil. 2, hlm. 122,

* Musnad Ahmad bin Hanbal Jil 3, hlm. 483.
* Dzakhair al-‘Uqba hlm. 65
* Tarikh al-Khulafa’ li Suyuthi, hlm. 173.

Masih banyak hadis lainnya yang pada kesempatan lain akan saya ungkapkan lebih jauh lagi. Insya Allah!

2. Ada 3 sekte “Islam” yang ketiga-tiganya adalah produk Imperialis Inggeris :
– Di Saudi Arabia adalah Wahabi.
– Di Pakistan adalah Ahmadiyyah Qaddiyan
– Di Iran adalah Bahaiyyah. (Baca buku : Mudzakkarah Mr. Hempher)

3. Tarîkh al-Khamîs, Jil. 2, hlm. 301
– Tarîkh al-Ya’qubi, Jil. 2, hlm. 241;
– Sawâiq al- Muhriqah, hlm. 134;
– Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 325.

4. Al-Thabari, Jil. 4, hlm. 356-57

1 COMMENT

  1. Tapi yang perlu kita petik hikmahnya, yang perlu diketahui dan disadari oleh Ummat bahwa : walaupun kami sepanjang abad hingga abad 20 M akan sampai hidup dalam perburuan berbagai rezim (dinasty) bani umayyah maupun abbasiyah karena ingin dimusnahkan sehingga tidak ada lagi penerus (pewaris) hak-hak ahlul bait rasulullah saw, tapi kami jadi manusia-manusia yang digembleng hidupnya, dalam pelarian dan ketakutan kami selalu hidup berpura-pura ditengah-tengah ummat Islam, Ilmu-ilmu yang kami warisi dari datuk-buyut kami mulai dari Ali bin abi thalib yang mendapat pengajaran langsung dari Rasulullah hingga turun kepada para anaknya Hasan dan Husein serta turun temurun hingga sekarang menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia termasuk berbagai belahan nusantara Indonesia ini, dengan modal warisan ilmu turun-temurun yang mana ilmu itu tidak ada yang percaya selain kalangan kami sendiri (kalaupun ada hanya sedikit), kami dikaruniai karomah-karomah khusus dari allah swt yang mana tidak mungkin karomah itu diberikan kepada selain kami (ahlal dzikri).alhamdulillahi robbil ‘alamina walhamdulillahil ‘aliimil hakiim

Comments are closed.