Siapa Azhari (pembawa pemikiran Al-Azhar – Kairo), Siapa Salafi-Wahabi?

0
583 views

imageSiapa mahasiswa Al-Azhar yang berseberangan dengan Al-Azhar? Posisi Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan? Apa ideologi dan kurikulum yang diusung Al-Azhar? Alumni yang seperti apa yang diharapkan oleh Al-Azhar?
Akan kita tahu, bagaimana alumni yang dikehendaki Al-Azhar – Kairo – Mesir yang sangat berbeda dengan tuntutan Arab Saudi berkaitan dengan alumninya.

Siapa Azhari (pembawa pemikiran Al-Azhar – Kairo), Siapa Salafi-Wahabi?
Oleh: Zulfahani Hasyim*
Tulisan ini tertulis setelah kegelisahan penulis yang berlangsung sejak lama dan membuncah saat penulis menyaksikan wawancara Dr. Ahmad Karimah, salah satu pengajar di Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar Kairo di staisun televisi Mesir, Al-Masriyah. Beliau mengungkapkan kegelisahan beliau akan serangan-serangan baik dalam bentuk fisik atau opini publik terhadap Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan di Mesir oleh dua kelompok radikal Islam di Mesir yaitu Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Salafi. Sebelumnya penulis pernah mendapati sendiri di kampus, seorang mahasiswa Mesir yang berkoar-koar tentang “kekeliruan” akidah yang dianut Al-Azhar. Melabeli pengajar-pengajarAl-Azhar dengan label sesat dan bahkan kafir. Saat itu penulis langsung menegur dia dan mengajaknya diskusi. Namun bukan diskusi yang baik yang terjadi tapi justru debat kusir yang tidak ada ujungnya.
Selain itu penulis juga ‘meraba’ lewat jejaring sosial dan aktivitas keseharian mahasiswa Al-Azhar terutama yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Dari sana penulis mendapati beberapa mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Al-Azhar justru mempunyai pola pikir yang berseberangan dengan Al-Azhar, baik dalam segi ideologi maupun pandangan politiknya. Ini sangat aneh, karena mereka berjalan di luarmain stream yang ada. Sudah sama-sama kita ketahui bahwa Al-Azhar berdiri sebagai institusi pendidikan dan keagamaan dalam posisi moderat dengan mengusung ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah demi bisa merangkul berbagai golongan dalam tubuh Islam. Memang bukan hal baru jika murid berbeda pandangan dengan gurunya, namun tentu itu sebatas berbeda dalam masalah furu’iyah,bukan ushuliyah. Keanehan ini muncul lantaran mereka menyelisihi Al-Azhar sebagai tempat dia belajar dalam hampir keseluruhan kurikulum Al-Azhar.
Padahal jika kita mau menengok ke dalam alur pendidikan mereka ini, mereka yang menyelisihi Al-Azhar rata-rata mendapat beasiswa dari Al-Azhar, mendapat fasilitas asrama gratis, dan bahkan mendapat lisensi Al-Azhar ketika merekalulus.
Fenomena ini juga tidak hanya berlaku sebatas mereka yang masih berstatus mahasiswa namun juga mereka yang sudah berstatus alumni. Justru yang sudah berstatus alumni ini yang saya golongkan sebagai golongan paling “berbahaya” bagi nama baik Al-Azhar. Kenapa? Karena mereka-mereka inilah yang sudah menyentuh masyarakat lewat berbagai interaksi sosial.
Dari sini akan penulis jelaskan secara singkat tentang beberapa hal. Pertama, siapa mahasiswa Al-Azhar yang berseberangan dengan Al-Azhar, kedua posisi Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan, ketiga ideologi dan kurikulum yang diusung Al-Azhar, keempat alumni yang seperti apa yang diharapkan oleh Al-Azhar.
Pertama, siapa mereka yang berseberangan dengan Al-Azhar? Perlu diketahui Al-Azhar tidak pernah pilah-pilih dalam mengambil murid dan mahasiswa, tidak pernah melihat warna kulit dan negara asal, tidak melihat dari suku apa dia berasal, dan tidak melihat dari golongan apa mereka berangkat ke Al-Azhar. Al-Azhar dengan senang hati membuka diri untuk semua orang yang mengaku tidak ada Tuhan selain Allah dan Baginda Muhammad adalah utusan Allah. Al-Azhar dengan senang hati merangkul mereka semua tanpa membeda-bedakan dari bangsa apa dia, dari organisasi apa dia, dan dari golongan apa dia. Al-Azhar dengan sabar mendidik mereka dengan kurikulum pilihan Al-Azhar yang tentunya sudah melewati proses ijtihad para dosen dan syeikh-syeikh petinggi Al-Azhar.
Meski Al-Azhar memilih jalur moderat dan membuka diri dengan semua golongan dan menghormatinya, namun Al-Azhar tetap punya prinsip terutama dalam hal akidah.Al-Azhar dalam hal ini memilih akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai pedomannya, memilih empat madzhab fikih (Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, dan Hanabilah) sebagai acuan ibadah dan muammalahnya, serta memilih tariqah Sufiyah Islamiyah sebagai pegangan ajaran budipekertinya.
Sampaidi sini ternyata semua pedoman dan acuan Al-Azhar yang seharusnya bisa merangkul semua golongan Islam tersebut justru mendapat tentangan dan perlawanan dari anak didik Al-Azhar sendiri. Mereka ini adalah mahasiswa-mahasiswa atau alumni-alumni yang secara organisasi berasal dari segolongan kader partai yang sejalan dengan Ikhwanul Muslimin (selanjutnya ditulis IM) dan yang berasal dari golongan Salafi-Wahabi. Atau juga mereka yangsebenarnya bukan kader partai yang sejalan dengan IM atau dari golongan Salafi-Wahabi namun terkena “virus” dari dua golongan ini, bisa dikatakan mereka ini “korban”. Atau mereka yang memang sudah punya genetika Salafi-Wahabi sejak dari Indonesia atau Malaysia, atau genetika partai-partai yang sejalan dengan IM.
Mahasiswa dan alumni Al-Azhar yang seperti disebut di atas inilah yang berseberangan dengan Al-Azhar baik secara perilaku maupun ideologi. Penulis tidak tahu menahu tentang mengapa dan bagaimana mereka bisa masuk Al-Azhar, yang penulis tahu mereka ini memakai atribut dan label Al-Azhar atau lulusan Al-Azhar untuk merebut simpati dan perhatian masyarakat awam ketika mereka berdakwah dan terjun ke masyarakat. Namun begitu, apa yang mereka dakwahkan tidaklah sama dengan apa yang Al-Azhar ajarkan. Mereka hanya seperti numpang nama keren Al-Azhar yang sudah mendunia dan diakui keunggulan keilmuannya. Dengan begitu mereka bisa menyisipkan ajaran-ajaran IM dan Salafi Wahabi.
Al-Azhar sendiri meski tidak pernah secara eksplisit menyatakan permusuhan dengan golongan IM dan Salafi-Wahabi, namun Al-Azhar menentang ajaran-ajaran takfir(pengkafiran tanpa peninjauan ulang), ajaran pencampuran kepentingan politik dengan agama, ajaran fanatisme buta terhadap satu madzhab atau personal, dan ajaran-ajaran Islam yang tidak berlandaskan madzhab fikih yang empat (Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, dan Hanabilah). Dan ajaran-ajaran tersebut dihukumi oleh Al-Azhar sbagai ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya yang mengajarkan toleransi dan merupakan rahmat bagi sekalian alam. Dengan begitu Al-Azhar meski secara institusi tidak menyatakan “perang” dengan IM dan Salafi-Wahabi, namun Al-Azhar memegang prinsip untuk menentang ajaran-ajaranyang kebetulan dianut oleh IM dan Salafi-Wahabi. Meskipun bertentangan dan berlawanan Al-Azhar masih menghormati dan respek terhadap penganut-penganut pemikiran-pemikiran tersebut di atas.
Pada babakan selanjutnya ternyata mahasiswa-mahasiswa dan alumni-alumni Al-Azhar“aspal” (asli tapi palsu) semacan ini tidak berhenti hanya dalam memakai danmemanfaatkan nama Al-Azhar untuk mensukseskan kepentingan-kepentingan mereka, namun berlanjut pada menyerang Al-Azhar baik dalam bentuk fisik, politik,maupun opini publik. Mereka seperti penghianat yang menikam gurunya sendiri dari belakang. Mereka tak lagi memikirkan nilai-nilai moral apalagi syariat. Mereka menyerang Al-Azhar dengan segala daya dan upayanya.
Dari sini, masyarakat Indonesia penulis ajak untuk berhati-hati dengan banyaknya alumni Al-Azhar yang “aspal” semacam ini. Mereka menyodorkan ijazah Al-Azhar kepada anda tapi mereka tidak mengikuti dan mendalami apa yang Al-Azhar ajarkan baik ketika di Mesir maupun ketika sudah berada di kampung halaman masing-masing. Mereka ini bisa dipastikan selama berada di Mesir tidak belajar kepada para dosen Al-Azhar dan para masyayikhnya. Mereka jauh dari aktivitas talaqi di ruwaq-ruwaq masjid Al-azhar. Dan malah sebaliknya, mereka belajar dengan ulama-ulama Mesir yang berseberangan dengan Al-Azhar, baik dari sisi ideologi atau pun pandangan politik. Mereka hanya mempelajari diktat Al-Azhar sekedar agar bisa menjawab soal ujian, tanpa mengamalkan dan membenarkannya. Mereka menipu masyarakat awam bahwa Al-Azhar sudah mengajarkan apa yang mereka dakwahkan padahal selama di Mesir mereka menghujat dan mencaci Al-Azhar.
Lantas bagaimana posisi Al-Azhar di dunia Islam secara global? Sudah sama-sama kita ketahui bahwa Al-Azhar adalah institusi pendidikan Islam yang moderat. Al-Azhar tidak mengajarkan fanatik buta pada anak didiknya. Setiap hal yang Al-Azhar ajarkan maka anak didiknya diperbolehkan menelitinya dan mengkoreksinya jika ada kesalahan tentu dengan argumen-argumen yang kuat dan bisa dipertanggungjawabkan. Al-Azhar berdiri di semua lapisan dan golongan masyarakat Islam. Al-Azhar tidak berpihak pada satu partai atau kepentingan politik manapun. Al-Azhar tulus mendidik putra-putri terbaik Islam untuk dijadikan kader bagi umat Islam yang moderat yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin.
Dari sini sudah jelas bahwa Al-Azhar berada di pihak yang moderat. Namun begitu Al-Azhar tetap memiliki prinsip dan pedoman untuk dijalankan oleh mahasiswa dan alumninya. Al-Azhar pun memilih beberapa ideologi yang sudah penulis sebut diatas.
Ideologi dan kurikulum Al-Azhar berpedoman menurut tiga sisi, dari sisi akidah Al-Azhar berpedoman pada madzhab yang didirikan oleh Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari(selanjutnya disebut Asy’ariyah atau Asya’irah) dan madzhab yang didirikan oleh Abu Mansur Al-Maturidi (selanjutnya disebut Maturidiyah). Dari sisi fikih (ibadah dan muammalah) Al-Azhar memakai empat mazdhab fikih yang ada di dalam Islam yaitu Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, dan Hanabilah. Dan dari sisi akhlak Al-Azhar berpegang pada tariqah Sufiyah Islamiyah, tariqah-tariqah sufi yang masih sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Sekarang muncul pertanyaan jika memang moderat kenapa mengambil madzhab teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah? Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mencoba membawa pembaca menelusuri secara singkat perkembangan ilmu akidah atau bisaa disebut ilmu kalam di dunia Islam. Pada abad pertama Islam perselisihan masalah akidah atau kalam tidaklah kentara, yang ada hanya perselisihan politik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib kw., dan Muawwiyah berujung munculnya madzhab Syiah, Khawarij, dan Murji’ah. Namun seiring meluasnya wilayah Islam dan masuknya beberapa penganut agama lain ke dalam Islam yang tentu masih menyisakan dalam pikiran mereka sebagian ajaran-ajaran agama mereka sebelumnya, dan juga gerakan penerjemahan buku-buku filsafat Yunani ke dalam Bahasa Arab sebagai bahasa negara Islam saat itu mulailah muncul beberapa aliran pemikiran dalam Islam. Hinggapada abad kedua Hijriyyah muncul Wasil bin Atha’ dengan pemikiran Muktazilahnya sebagai reaksi atas tiga madzhab besar yang menghegemoni Dinasti Ummayah saat itu yaitu Qadariyah, Jabariyah, dan Murji’ah. Aliran yang didirikan Wasil binAtha’ ini bisa disebut sebagai aliran rasionalis Islam yang mencoba menengahi problem naql (teks) dan ‘aql (akal) saat itu. Karena pada generasi-generasi setelah Wasil bin Atha’ para ulama Muktazilah lebih cenderung mendewakan akal dari pada nas, maka Abu Al-Hasan Al-Asy’ari yang notabene murid dari salah satu tokoh Muktazilah yang bernama Al-Juba’i, menyatakan diri keluar dari Muktazilah setelah beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw. dan dalam mimpi tersebut Rasulullah saw. menasihati Abu Al-Hasan Al-Asy’ari untuk menggunakan nas (Al-Qur’an dan Al-Hadits) dengan tetap menggunakan akal pikiran sebagai penyeimbang akidahnya. Dan barangkali karena Asy’ariyah berada pada titik tengah di mana tetap menggunakan nas Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai acuan akidah serta menyeimbangkannya dengan rasionalitas, maka Al-Azhar memilih memakai madzhab kalam Asy’ariyah dan Maturidiyah yang notabene mempunyai banyak kesamaan dengan Asy’ariyah.
Jika di atas sudah penulis jelaskan bagaimana posisi Al-Azhar dan bagaimana ideologinya, maka pertanyaan terakhir adalah alumni seperti apa yang diharapkanAl-Azhar? Al-Azhar tidak pernah membaiat alumninya untuk menjadi dai, tapi mewajibkan alumninya untuk menyebarkan Islam yang moderat di setiap lini kehidupan. Artinya alumni Al-Azhar tidak harus jadi dai atau pengajar. Mereka boleh saja jadi bisnisman, wirausahawan, pejabat pemerintahan, dan lain sebagainya. Namun yang terpenting adalah mereka bisa membawa dan menunaikan misi Al-Azhar yaitu menyiarkan Islam moderat yang rahmatan lil ‘alamin. Alumni Al-Azhar haruslah berpandangan luas tentang Islam dan peradabannya. Harus dalam menguasai ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan Hadits. Meski harus mengambil salah satu madzhab alumni Al-Azhar harus jauh dari fanatisme mebuta. Alumni Al-Azhar harus tampil moderat di tengah masyarakat Islam dan memberikan banyak solusi kepada mereka. Bukan sebaliknya mengkafir-kafirkan golongan yang tidak sepaham dengannya atau membid’ahkan amalan-amalan suatu kelompok masyarakat yang sebenarnya merupakan bagian dari tradisi Islam lokal.
Maka dari itu jika ada alumni yang tidak sesuai dengan ciri-ciri di atas, bisa dipastikan mereka adalah alumni yang tidak diharapkan oleh Al-Azhar. Namun meski mereka berseberangan dengan Al-Azhar, Al-Azhar masih berbaik hati dengan memberikan berbagai gelar kepada mereka, mulai dari Lc, MA, hingga Dr. Ini adalah bukti kemoderatan dan ajarah kasih-sayang Al-Azhar kepada umat Islam, dimana walau sudah ditikam dari belakang dan bahkan diserang secara terang-terangan Al-Azhar masih tetap memaafkan dan bahkan masih mau memberikan ijazah pada mereka. Semakin mereka menyerang Al-Azhar semakin nampak betapa tolerannya Al-Azhar. Dan akhirnya nampak siapa yang sebenar-benarnya memperjuangkan Islam dan siapa yang memperjuangkan hawa nafsunya sendiri.
Penulis secara pribadi menghimbau kepada seluruh elemen mahasiswa Al-Azhar dan alumni Al-Azhar yang masih berpegang pada ideologi asli Al-Azhar untuk menyampaikan kepada masyarakat tentang hakikat Al-Azhar, membuat opini publik sebanyak-banyaknya melalui media apapun tentang hakikat ideologi Al-Azhar yang orisinal, agar almamater kita tercinta ini terhindar dari fitnah IM dan Salafi-Wahabi.
Dan bagi masyarakat awam yang kebetulan mendapat bimbingan agama dari salah satu alumni Al-Azhar mohon dicek kembali apakah dia masih memegang prinsip-prinsip Al-Azhar yang saya sebutkan di atas atau tidak. Sehingga nantinya masyarakat bisa memilah mana permata mana kerikil, mana Azhari mana Salafi-Wahabi?
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk(munafik) dari yang baik (mukmin).” (QS: Ali ‘Imran: 179)
*Mahasiswa tingkat akhir, fakultas Ushuluddin, Akidah Filsafat. Universitas Al-Azhar

NO COMMENTS