Pengamat: “Darul Islam (DI), Akar Terorisme Indonesia”

0
954 views
Islam Times- Solahudin (S): Tiga tersangka pengeboman Bali (Mukhlas, Imam Samudra, dan Amrozi) semuanya mempraktikkan jihadisme salafi, yang mencap penolakan pemerintah untuk menerapkan hukum syariah sebagai kafir dan harus diperangi lewat jihad.
Darul Islam (DI)

Darul Islam (DI)

Isu dan aksi terorisme yang diciptakan AS cs, kemudian diperagakan segelintir Muslim yang berpikiran dangkal, reaksioner, dan berilmu cupet, makin marak di Indonesia. Paling arnyar, para pakar terorisme memperingatkan tentang bakal meningkatnya aksi terorisme di tanah air yang jauh lebih berbahaya bila para teroris takfiri warga Indonesia yang ikut-ikutan memberontak di Suriah, pulang ke tanah air.

Berkenaan dengan itu, Islam Times mengutip wawancara khabarsoutheastasia.com dengan jurnalis asal Jakarta yang meliput perburuan terorisme selama bertahun-tahun dan salah satu saksi mata tragedi bom Bali Oktober 2002, Solahudin. Juni tahun lalu, penelitian bertahun-tahunnya ihwal gerakan ekstremis Indonesia dibukukan dengan judul, “Akar Terorisme di Indonesia”. “Persoalan itu sangat rumit dan akarnya telah berumur lebih dari 50 tahun,” katanya.

Berikut petikan wawancaranya:

Tanya (T): Mengapa Anda mengatakan bahwa akar terorisme di Indonesia telah berusia beberapa dekade?

Solahudin (S): Tiga tersangka pengeboman Bali (Mukhlas, Imam Samudra, dan Amrozi) semuanya mempraktikkan jihadisme salafi, yang mencap penolakan pemerintah untuk menerapkan hukum syariah sebagai kafir dan harus diperangi lewat jihad.

Ideologi ini memungkinkan terorisme sebagai bagian dari jihad, termasuk membunuh warga sipil, anak-anak, dan perempuan, yang dilarang sebagian besar pemimpin Islam.

Saya meneliti apakah itu benar-benar ideologi impor. Sebenarnya, itu adalah ideologi yang tumbuh di sini dan telah mekar jauh sebelum al-Qaeda memproklamirkan dirinya. Lewat penelitian yang panjang, saya temukan bahwa Darul Islam, organisasi yang didirikan Kartosuwiryo pada 1950-an, menjadi yang pertama dianggap sebagai akar terorisme di Indonesia.

Organisasi ini mencap mendiang pemerintahan di bawah kepemimpinan Soekarno sebagai kafir karena menolak menerapkan syariah. Pada 1980-an, sekitar 200 jihadis bertolak ke Afghanistan untuk mengikuti pelatihan militer dan mempersiapkan diri guna melawan pemerintah.

Dan pada 1990-an, beberapa anggota Darul Islam memutuskan untuk memisahkan diri dan mendeklarasikan organisasi baru yang dikenal dengan Jamaah Islamiyah (JI). Mereka memperkenalkan ideologi jihadisme salafi, yang juga mencap pemerintah yang menolak menerapkan syariah sebagai kafir. Jadi, sebagaimana Anda saksikan, itu (terorisme) sebanarnya bukanlah ideologi impor.

T: Apa yang menyebabkan terorisme tumbuh subur di Indonesia?

S: Cukup bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Di daerah konflik seperti Poso, terorisme tumbuh karena adanya orang-orang yang kecewa terhadap pemerintah. Sementara di Jawa, yang dianggap sebagai daerah aman, murni dimotivasi agama. Jadi tidak hanya disebabkan rendahnya latar belakang pendidikan atau kesejahteraan.

Intinya, radikalisme (baca: ekstrimisme) dan terorisme tumbuh dengan cepat jika tiga aspek utama terpenuhi: orang-orang yang kecewa terhadap sistem saat ini, ideologi yang membolehkan hal semacam itu, dan organisasi-organisasi pendukung.

T: Bagaimana Anda melihat upaya pemerintah saat ini dalam memerangi terorisme?

S: Usaha intensif dari pemerintah , saya akan mengatakan , banyak membantu untuk mengurangi kualitas terorisme .

Sejak 2010 hingga 2013, terdapat 80 kasus dan sekitar 300 tersangka yang ditangkap. Namun, jika dibandingkan tragedi Bom Bali 2002 yang menewaskan 202 orang, hanya terdapat kasus-kasus kecil yang tidak merengut banyak korban. Hanya sedikit yang dibunuh. Sebagian besar mereka adalah tersangka yang tewas dalam misi bom bunuh dirinya.

Saya dapat mengatakan bahwa angka-angkanya mungkin meningkat, namun kualitasnya menurun, berkat polisi dan Densus 88 yang telah bekerja keras untuk memecahkan kasus-kasus tersebut. Namun, pendekatan keras melalui penegakan hukum semacam itu belum cukup, karena hanya mendakwa kejahatan para tersangka yang terlibat.

T: Apa yang harus menjadi langkah berikutnya?

S: Terdapat pula pendekatan lunak (soft approach), yang berarti memerangi terorisme sampai ke akar-akarnya. Harus ada penelitian khusus untuk itu, karena perlakuan di Jawa dan Poso akan berbeda. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah, menyertakan masyarakat dalam upaya tesebut, karena terorisme merupakan kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan. (IT/KSEA/rj)

sumber : http://www.islamtimes.org/

NO COMMENTS