Pemecatan Bandar bin Sultan dari Posisi Kepala Dinas Rahasia Arab Saudi

0
597 views

Pemecatan Bandar bin Sultan dari Posisi Kepala Dinas Rahasia Arab SaudiBerbagai sumber melaporkan bahwa Pangeran Bandar bin Sultan dipecat dari posisinya sebagai kepala Dinas Rahasia Arab Saudi. Rencananya Pangeran Muhammad bin Nayef yang saat ini menjabat Menteri Dalam Negeri akan menggantikan posisi Bandar. Muhammad bin Nayef saat ini masih berada di Amerika Serikat dan saat kembali ke Arab Saudi, ia secara resmi akan dilantik sebagai kepala Dinas Rahasia negara ini.

 

Saat ini, pencopotan Bandar bin Sultan dari posisi penting Dinas Rahasia Arab Saudi menjadi buah bibir di negara ini. Desas-desus terkait sebab pencopotan ini pun semakin santer terdengar, karena ia tercatat sebagai tokoh yang disebut-sebut berada di balik kebijakan dalam dan luar negeri Arab Saudi.

 

Sejumlah elit politik mengumumkan bahwa pencopotan Bandar dari posisinya disebabkan penyakit yang menggerogotinya. Mereka memberi catatan bahwa dikarenakan proses panjang penyembuhan penyakitnya, Bandar tidak mampu melaksanakan kewajibannya sebagai orang nomor satu di Dinas Rahasia Arab Saudi. Namun yang pasti, sebab pencopotan ini bukan sekedar karena penyakit yang diderita Bandar.

 

Banyak alasan dalam pemecatan ini lebih dari sekedar penyakit, karena dalam beberapa tahun terakhir baik ketika Bandar menjabat dubes Arab Saudi untuk Amerika atau ketika ia mengepalai Dinas Intelijen Riyadh, Pangeran Bandar bin Sultan termasuk tokoh berpengaruh di lingkungan kerajaan serta tercatat sebagai penentu kebijakan di sektor keamanan dalam negeri atau kebijakan Riyadh dalam menyikapi isu-isu regional.

 

Sejak krisis Suriah meletus, Bandar bin Sultan termasuk salah satu tokoh yang namanya senantiasa digandengkan dengan krisis Damaskus. Bandar, termasuk salah satu pemain utama dalam sejumlah instabilitas di kawasan khususnya di Suriah dan Irak. Dukungannya terhadap kelompok teroris yang aktif di Suriah selama tiga tahun terakhir sangat kentara dan diketahui oleh semua orang. Bandar memiliki hubungan khusus dengan kelompok teroris di Suriah. baru-baru ini, Bandar juga mengkritik keluarga kerajaan terkait dukungan mereka tehadap kelompok teroris. Kritik tersebut telah menyakiti Raja Abdullah, selaku pemimpin tertinggi Arab Saudi.

 

Kemungkinan besar alasan pemecatan Bandar bin Sultan dari posisi sebagai kepala Dinas Intelijen Arab Saudi adalah isu yang diangkat sejumlah petinggi negara ini “Kegagalan Kebijakan Luar Negeri” Riyadh dalam krisis Suriah. Bahkan sejumlah elit politik berkeyakinan bahwa dalam beberapa bulan terakhir kinerja Bandar sempat membuat Washington khawatir dan bahkan mempengaruhi hubungan Gedung Putih-Riyadh.

 

Kini muncul harapan dengan dilantiknya Pangeran Muhammad bin Nayef bin Abdulaziz sebagai kepala Dinas Intelijen baru, hubungan Riyadh dan Washington akan kembali normal. Karena Pangeran Muhammad bin Nayef adalah orang kepercayaan Amerika Serikat.

 

Namun dibalik masalah ini berkaitan dengan kebijakan luar negeri dan hubungannya dengan Bandar bin Sultan. Adapun di Arab Saudi sendiri, Bandar disoroti sebagai salah satu pihak yang mengincar mahkota kerajaan. Dalam perang perebutan kekuasaan dalam keluarga al-Saud, Bandar disebut-sebut sebagai pihak yang cukup kuat.

 

Sepertinya sikap keras kepala dan egoisme Bandar dalam mengambil keputusan menjadi sebab lain ketakutan Raja Abdullah. Ketakutan ini sedemikian besar sehingga rajat tua Abdullah dan sedang dililit berbagai penyakit, memilih untuk memecat Bandar yang tengah dalam kodisi seperti dirinya dirundung penyakit dari posisi kepala Dinas Intelijen.

 

Kebijakan Raja Abdullah ini selain untuk meredam protes dalam negeri juga ditujukan untuk mengangkat posisi Pangeran Muhammad bin Nayef serta menfokuskan pengambilan keputusan di Arab Saudi. Selain itu, tuntutan Amerika pun dapat dipenuhi melalui perubahan dalam kanal Dinas Keamanan Arab Saudi. Khususnya sejumlah berita menunjukkan bahwa penunjukan Muhammad bin Nayef sebagai pengganti Bandar muncul dari pesanan para petinggi Gedung Putih. (IRIB Indonesia/MF/NA)

sumber : http://indonesian.irib.ir/

NO COMMENTS