Pelangi di Balik Bendera Hitam ISIL di Mosul

0
1,024 views

iraq-isil-flagLiputanIslam.com – Gerilyawan ekstrimis Daulat Islam Irak dan Suriah (ISIL/ISIS) dilaporkan tidak sendirian dalam menyerbu dan menduduki Mosul serta berusaha menguasai beberapa daerah lain di wilayah utara Irak.

Situs berita online al-Masalah memberitakan bahwa banyak laporan yang menyebutkan ISIL berhasil mengambil alih Mosul (belakangan separuh wilayah kota ini sudah dibebaskan pasukan khusus Irak, tanpa melibatkan pasukan rakyat) hanya dengan serangan gerilyawan yang jumlahnya tak sampai 1,000 orang.

Namun fakta di lapangan, menurut al-Masalah, ISIL yang dalam bahasa Arab disebut DAISH tersebut diam-diam didukung oleh ratusan militan dari beberapa kelompok teroris lain, di samping puluhan “makhluk baru menetas” yang ada di dalam kota Mosul sendiri. Jadi, walaupun bendera yang dikibarkan di Mosul berwarna hitam, lanjut media tersebut, tapi sebenarnya ada beberapa bendera lain yang berada di baliknya. Bendera-bendera itu berwarna merah, kuning dan hijau. Pelangi perang ini menghasilkan jumlah pasukan gerilyawan sedikitnya 3,000 orang yang terlibat dalam penyerbuan kota berpenduduk sekitar 2 juta jiwa tersebut.

Berikut ini adalah daftar “elemen teroris” yang dirilis oleh al-Masalah berdasar keterangan berbagai sumber pada Kamis (12/6/2014);

Eks Partai Ba’ath

Partai yang dulu berkuasa di bawah pimpinan diktator Irak terguling, Saddam Hossein, ini dicatat sebagai elemen yang getol mendukung ISIL dan bergabung dengan milisi produk jaringan teroris internasional al-Qaida tersebut.

Beberapa sumber menyebutkan kepada al-Masalah bahwa di Mosul terdapat banyak pria bersenjata yang mengenakan seragam “hijau tua zaitun” yang biasa dikenakan oleh aparat keamanan Irak di era rezim Saddam. Mereka berkeliaran di Mosul dan menjalankan instruksi-instruksi dari tokoh bernama Izzat al-Douri.

Para Eks Perwira Rezim Saddam

Para mantan komandan militer rezim Saddam ini disebutkan berjumlah puluhan orang. Di era Saddam, mereka adalah orang-orang yang menduduki jabatan perwira yang tersebar di beberapa komponen kekuasaan Saddam, termasuk angkatan bersenjata, pasukan garda republik dan dinas intelijen.

Kemudian, ketika ISIL masuk ke Mosul, ada pula puluhan tentara yang desersi serta para buron lama yang segera bergabung dengan ISIL. Jumlah mereka bertambah ketika ISIL melepas para tahanan di penjara-penjara Mosul dan menyeru mereka supaya ikut bertempur bersama ISIL.

Kelompok-Kelompok “Jihadis”

Ada beberapa kelompok jihadis yang bergabung dengan ISIL dalam peristiwa pendudukan kota Mosul, utamanya ialah kelompok yang menamakan dirinya “Jaish al-Mujahidin”, sebuah organisasi Salafi yang berusaha menggalakkan lagi aktivitas yang pernah mereka kemukakan pada tahun 2003.

Milisi Tarekat Naqsyabandiyyah

Al-Masalah juga menyebutkan adanya kelompok bersenjata penganut tarekat Naqsyabandiyyah yang bergabung dengan ISIL. Kelompok itu menamakan dirinya “Rijal al-Tariqah al-Naqsyabandiyyah” (Prajurit Tarekat Naqsyabandiyyah), dikenal radikal dan dipimpin oleh Ezzat Ibrahim al-Douri, mantan wakil presiden Irak terguling, Saddam Hosen, yang beraktivitas di Irak utara dan memiliki pengikut di beberapa kawasan Kurdi.

Jaish al-Islami

Nama lengkap kelompok ini ialah “al-Jaish al-Islami fi al-Iraq” (Prajurit Islam Irak). Menurut al-Masalah, keberadaan kelompok ini di tengah ISIL terlihat dari beberapa foto yang beredar. Kelompok ini merupakan kelompok ekstrimis Sunni dengan penampilan ala para eks perwira Irak rezim Saddam yang dipadu dengan pakaian adat.

Brigade Revolusi 20

Syekh Harits al-Dhari, sekretaris organisasi yang menamakan dirinya Majelis Ulama Irak mengakui keberadaan Brigade Revolusi 20 dalam pergerakan teroris bersenjata di Mosul dan beberapa kawasan Irak utara lainnya. Brigade Revolusi 20 terdiri atas para loyalis Syekh yang tinggal di luar Irak tersebut. Al-Masalah menyebut al-Dhari sebagai syekh pendukung teroris.

Jaish Ansar al-Sunnah

Salah satu faktor yang menguatkan kelompok-kelompok bersenjata ialah desersi para komandan dan anggota tentara Irak yang berasal dari suku Kurdi serta penduduk Mosul, Tikrit dan kawasan Irak Barat. Mereka mengapresiasi orang-orang yang menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok bersenjata tersebut. ISIL dan para sekutunya terlihat menghindari konflik di beberapa kawasan yang berada di bawah kendali pasukan Kurdi serta dihuni oleh warga Kristen dan Kurdi. Menurut al-Masalah, ini menandakan adanya konspirasi untuk melicinkan proses pengambil alihan Mosul secara total oleh ISIL.

Keterangan dari beberapa sumber yang diperoleh al-Masalah menyatakan bahwa para perwira dan prajurit Kurdi yang desersi itu sebenarnya sudah mendapatkan instruksi supaya mengabaikan tugas-tugasnya yang didapat dari pemerintahan Barzani, namun mereka diam-diam mendukung kelompok “Jaish Ansar al-Sunnah”, yaitu kelompok jihadis yang dibentuk pada September 2003 dan melibatkan antara lain para mantan anggota “Jamaah Ansar al-Islam al-Kurdiyyah” serta para militan Irak dan negara-negara Arab asing penganut faham Salafi/Wahabi.

Bervariasinya kelompok bersenjata yang bermain dalam peristiwa pendudukan kota Mosul membuat seorang syekh radikal asal Kuwait, Mohammad Hayef al-Mutairi, Kamis (12/6/2014) mengatakan bahwa Mosul telah dibebaskan oleh penduduknya sendiri dengan berbagai faksinya, dan bukan hanya oleh ISIL. (mm)

 

sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS