Pakar: ASEAN Harus Tingkatkan Kerjasama Kontra Terorisme

0
449 views
Islam Times- “Mereka melihat mayoritas rakyat Aceh itu Muslim dan geografi Aceh strategis untuk melakukan latihan militansi, ” kata Armujito, seraya menambahkan bahwa warga setempat yang menolak kehadiran kaum militan itu.
Negara-negara anggota ASEAN (http://up.edu.ph)

Negara-negara anggota ASEAN (http://up.edu.ph)

Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) perlu berbuat lebih banyak sebagai blok regional dalam memerangi terorisme. “Memerangi terorisme tidak dapat dilakukan sendirian,” ujar Prof. Abdul Razak Ahmad dari Universitas Pertahanan Nasional Malaysia dalam seminar bertema geopolitik gerakan teroris Asia Tenggara di Banda Aceh, 18 Januari silam.

“Kita harus bekerja sama dengan masyarakat internasional. ASEAN memiliki peran strategis dalam mengatasi terorisme. Tapi, kolaborasi dalam hal ini masih terbatas,” lanjutnya.

Saking berkomitmen untuk mendorong kerjasama ekonomi, seluruh negara anggota ASEAN cenderung mengabaikan masalah keamanan regional, kendati baru-baru ini Konvensi ASEAN tentang Kontra-Terorisme (ACCT) sudah diratifikasi.

“Hal ini memerlukan reposisi yang serius. ASEAN memerlukan lebih dari sekedar sebuah konvensi,” ujar Razak, mengutip KAT, 18 Februari 2014. Mengingat rehabilitasi dan program pencegahan masih terlihat lemah, ia pun mendesak ASEAN untuk mengembangkan strategi umum yang jelas di wilayah ini untuk mencegah kebangkitan jaringan terorisme regional.

“Siapa yang bisa menjamin bahwa puluhan warga Indonesia yang sekarang berjihad di Suriah tidak akan melancarkan serangan saat mereka pulang ke rumah?” ujarnya mengingatkan.

Sementara itu, menurut Wakil Kepala Kepolisian Daerah Aceh, Armujito yang juga menjadi pembicara dalam seminar itu, provinsi Aceh merupakan situs strategis bagi kaum militan untuk melakukan aktivitasnya. Ia kemudian menceritakan tentang bagaimana aparat keamanan setempat berhasil membongkar sebuah kamp pelatihan teroris di wilayah pegunungan Kabupaten Aceh Besar Kabupaten pada Maret 2010 setelah militan menyusup ke provinsi itu.

“Mereka melihat mayoritas rakyat Aceh itu Muslim dan geografi Aceh strategis untuk melakukan latihan militansi, ” kata Armujito, seraya menambahkan bahwa warga setempat yang menolak kehadiran kaum militan itu.

Saat ditanya tentang peristiwa 31 Desember 2013 lalu, saat mana Densus 88 melakukan penyergapan terduga teroris di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, di mana enam di antaranya tewas, Armujito mengatakan bahwa unit anti-teror telah mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan. “Kalau itu mengancam nyawa, terutama ketika mereka (militan) memiliki senjata, maka polisi berhak menggunakan senjata. Di sini berlaku hukum membunuh atau dibunuh,” katanya.

Namun demikian, aparat keamanan harus menghormati hak-hak individu manakala memburu teroris, tukas Yusni Sabi dari Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang membantu mengorganisikan seminar tersebut. “Penegakan hukum tidak boleh melanggar hak asasi manusia karena akan mendorong lahirnya kelompok teroris baru,” katanya.

Dalam seminar itu, kalangan pendidik berbicara tentang peran mereka dalam menebar budaya damai. “Jika perguruan tinggi mampu mendidik siswanya dengan baik, niscaya siswa akan menjadi agen perdamaian yang meminimalisasi radikalisme,” kata wakil rektor Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) Rusli Yusuf.

Adapun Wakil Ketua DPR Aceh (DPRA) Sulaiman Abda menunjukkan upaya pencegahan radikalisme perlu dimulai sejak dini, yang dilanjutkan melalui perguruan tinggi dan diperkuat dalam kehidupan keluarga. “Terorisme sangat berbahaya bagi masyarakat dan keutuhan negara,” tegasnya. (IT/KAT/rj)

sumber : http://www.islamtimes.org/

NO COMMENTS