Nicola Nasser: Bertahan Hidup, Pilihan Terakhir Arab Saudi (I)

0
459 views
Islam Times- Kampanye demokrasi Mantan Presiden AS George W. Bush, yang ditentang Saudi, katanya, memperingatkan penguasa untuk waspada. “Protes rakyat Arab sejak 2011 mendorong mereka untuk memimpin kontrarevolusi defensif regional dan sejak itu, kesenjangan dalam hubungan bilateral makn melebar,” terang Nasser.
Abdullah bin Abdulaziz el-Saud

Abdullah bin Abdulaziz el-Saud

“Bertahan hidup” menjadi kata kunci untuk memahami kebijakan eksternal dan internal terbaru dinasti Saudi. Semula dirancang untuk mencegah perubahan, semua itu justru secara paradoks menciptakan lebih banyak musuh di tengah dunia yang berubah, yang ditandai gejolak geopolitik regional dan berkembangnya tuntutan internal bagi perubahan.

Demikian ungkap jurnalis veteran Arab, Nicola Nasser. “Minyak strategis berusia 70 yang mengamankan aliansi AS-Saudi sepertinya akan retak pada ulang tahunnya yang ke-69, menjelang pertemuan puncak Presiden AS Barak Obama dan Raja Abdullah bin Abdul Aziz pada bulan Maret lalu,” imbuhnya.

“Dengan AS yang kini berkomitmen untuk membangun poros timur dan kemungkinan berada di jalur menjadi eksportir minyak pada 2017,” lanjut Nasser, “kebijakan Amerika dan Arab Saudi tidak lagi identik.”

Kampanye demokrasi Mantan Presiden AS George W. Bush, yang ditentang Saudi, katanya, memperingatkan penguasa untuk waspada. “Protes rakyat Arab sejak 2011 mendorong mereka untuk memimpin kontrarevolusi defensif regional dan sejak itu, kesenjangan dalam hubungan bilateral makn melebar,” terang Nasser.

Penguasa Saudi tidak dapat mempercayai strategi “perubahan rezim” AS di wilayah tersebut, yang tergantung pada Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai instrumen perubahan, yang disponsori saingan regionalnya, seperti Turki dan sesama anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC), seperti Qatar, yang sejak lama berusaha menyaingi kepemimpinan Saudi di GCC, peran utama Arab Saudi dalam politik Arab, dan representasi politik Saudi atas Muslim Sunni.

“Aliansi segitiga Qatar, Turki, dan IM ini akan berkembang menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup Arab Saudi jika diizinkan untuk menciptakan perubahan di Suriah, Irak, Mesir, Yaman, Lebanon, Tunisia, Libya, dan tempat lain di wilayah ini,” papar Nasser. Semua itu akan segera menjadikan Arab Saudi sebagai target “perubahan” berikutnya.

AS sebagai pilar keamanan Saudi, ujarnya, kini tampaknya mulai diragukan mengingat Amerika Serikat tidak mampu memenuhi harapan Saudi dalam nyaris semua masalah paling penting di Timur Tengah, mulai dari konflik Arab-“Israel” hingga konflik Arab-Iran serta konflik berkelanjutan yang berdarah-darah di Suriah, apalagi konflik dengan IM, terutama di Mesir.

“Dalam konteks ini, menggunakan IM sebagai instrumen \’perubahan rezim\’ di kawasan itu telah menciptakan fobia Saudi terhadap IM,” kata Nasser. Perubahan berjalan lambat di kerajaan itu, namun, setelah beberapa dekade pendidikan Islam yang intensif, perubahan hanya dapat terjadi dalam bentuk Islam yang disamarkan.

“Mungkin tampak ironis bagi teokrasi Wahhabi untuk menentang sangat keras pihak yang memadukan agama dengan politik. Tapi, itu justru dikarenakan monarki (diktator) tersebut mendasarkan legitimasinya pada Islam (versi brutal dan dangkal ala Wahhabisme) yang takut disaingi IM,” tulis wartawan Roula Khalaf di Financial Times pada bulan Maret lalu.

Obama, kata Nasser, tampaknya tidak mampu memperbaiki pagar bilateral. Penolakannya untuk terlibat dalam perang-perang regional Saudi mengingatkan mereka bahwa ia adalah orang yang sama, yang saat menjadi senator pada 2002 menyatakan, “Mari kita berjuang untuk memastikan apa yang disebut dengan sekutu kita di Timur Tengah–Arab Saudi dan Mesir. Berhenti menindas rakyat mereka sendiri, dan menekan perbedaan pendapat, dan menoleransi korupsi serta ketidakadilan, dan salah-kelola ekonomi mereka.”

Namun, kata Nasser, seperti yang diperlihatkan kunjungan Obama ke kerajaan itu pada 28 Maret, perbedaan bilateral akan tetap bersifat taktis, sementara aliansi strategis akan terus terjalin hingga kerajaan absolut itu menemukan pengganti yang kredibel bagi penjamin keamanan Amerikanya, meskipun itu tampaknya merupakan perkembangan tidak realistis di masa depan yang diramalkan.

Secara regional, lanjut Nasser, nasib kerajaan itu tidak jauh lebih baik. Front regional “moderat” anti-Iran yang dipromosikan AS dan dianjurkan Arab Saudi, dengan “Israel” sebagai mitra yang menyamar, tampaknya sekarang menjadi usaha yang mulai redup. “Seruan Saudi untuk mengubah \’dewan\’ GCC menjadi \’serikat\’ GCC kini telah mati,” imbuhnya.

Ancaman publik Oman untuk menarik diri dari GCC, ujar Nasser, semestinya mengubahnya menjadi serikat dan keretakan Saudi dengan Qatar saat ini mengancam keberadaan GCC itu sendiri. “Undangan Saudi pada Yordania dan Maroko untuk bergabung dalam GCC pun tidak diinginkan anggota GCC lainnya dan [ditolak] Maroko,” katanya.

Di Bahrain, kerajaan Wahhabi itu telah melakukan intervensi militer untuk melumat pemberontakan demokratis berusia tiga tahun yang masih berlangsung [sampai sekarang]. “Pertemuan puncak negara-negara Arab terbaru di Kuwait juga tidak menghasilkan kesepakatan dengan Arab Saudi perihal Suriah,” papar Nasser.

Upaya membentuk pemerintahan Lebanon tanpa Hizbullah dan koalisi pro-Suriah gagal total. “Seruan Mesir untuk \’solusi politik\’ di Suriah dan penolakannya untuk memberikan kursi Suriah di Liga Arab pada pihak oposisi tidak dapat diartikan sebagai posisi yang ramah dari negara yang dibantu Arab Saudi, sebagai imbalan atas transisinya yang menjauh dari IM,” tutur Nasser.

Turki menentang kemitraan Mesir-Saudi yang baru dibentuk. “[Sementara] Irak menuduh kerajaan itu mengobarkan \’perang\’ terhadapnya, di mana sekarang Saudi menjadi satu-satunya negara yang tidak memiliki duta permanen untuk Irak,” tegas Nasser.

Seraya itu, kerajaan tersebut juga terus berurusan dengan Iran sebagai “ancaman eksistensial”. “Di latar belakang, ancaman Israel tidak akan pernah dapat diabaikan (kendati terdapat bukti nyata di sana-sini bahwa penguasa diktator kerajaan haus darah ini belakangan makin intensif menjalin hubungan dengan rezim zionis itu),” ujarnya. (IT/GR/rj)

sumber : http://www.islamtimes.org/

NO COMMENTS