Musnahnya Wahhabi dan Bangkitnya Kembali Menjadi Kerajaan Arab Saudi

0
1,386 views
ilustrasi ibnu saudMuslimedianews.com ~ Tahun 1744, terjadi kemitraan antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan Ibnu Saud melalui upacara sumpah yang menetapkan Ibnu Saud dengan emir dan Ibnu Abdul Wahhab sebagai Imam, belakangan disebut Syaikhul Islam. Putra tertua Ibnu Saud, Abdul ‘Aziz ibnu Saud dinikahkan dengan putri Ibnu Abdul Wahhab. Dinasti-Wahhabi pun terbentuk, menjadi Saudi Arabia. Gerakan Wahhabi dan Dinasti Saud sejak kemunculannya berusaha menundukkan suku-suku di Jazirah Arab dibawah bendera Saudi/Wahhabi.

Tahun 1746, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengumumkan proklamasi jihad kepada siapa saja yang menentang al-Da’wah lit-Tauhid. Penyerangan mulai dilancarkan ke daerah suku-suku yang dinyatakan olehnya kafir. Setiap suku yang belum masuk Wahhabi di beri dua opsi : masuk wahhabi dan mengucapkan sumpah setia atau diperangi sebagai orang musyrik dan kafir. Banyak yang tidak tahan menghadapi kebrutalan emir Abdul Aziz putra Ibnu Saud. 

Kunjungi www.facebook.com/muslimedianews Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2014/03/musnahnya-wahhabi-dan-bangkitnya.html#ixzz3YlUoqX3c

Tahun 1773, tidak ada lagi lawan di Najd, semua sudah ditaklukkan oleh Saudi-Wahhabi, sementara kota Riyadl sudah menyerah. Tahun 1806, Abdul Aziz ibnu Saud wafat. Ia telah menebarkan teror ke banyak wilayah di Jazirah Arab : diselatan sampai Oman dan Yaman, sedankan di daerah utama sampai Baghdad dan Damaskus.Wahhabi yang bersekutu dengan Inggris merongrong dan memberontak terhadap Khilafah Turki Utsmani yang saat itu secara de jure maupun de facto mengusai semenanjung Jazirah Arab dan Timur Tengah secara umum.

“Jazirah Arab secara umum berada dibawah kekuasaan Turki Utsmani… Klan keluarga Syarif Hussein (keturunan Rasulullah Saw) yang menguasai kota suci Makkah sejak 700 tahun lalu itu didirikan oleh Qadatah ibnu Idris (1133-1220 M) yang dilahirkan di Yanbu’, Jazirah Arab. Dia memanfaatkan firtah pertikaian yang terjadi ditengah masyarakat Makkah sebagai peluang untuk menguasainya. Dia berhasil menjadi penguasa Makkah pada tahun 1201. Kekuasaannya semakin meluas ke Madinah sebelah utara, dan Yaman sebelah selatan. Kemudian Sultan Utsmani Salim I menguasai Mesir dan semenanjung Hijaz tahun 1517. Para Syarif dari anak cucu Qatadah itu terus memegang kekuasaan di Jazirah Arab dibawah pemerintahan Turki Utsmani dari masa ke masa, baik secara de jure maupun de facto. Syarif Hussein bin Ali bin Muhammad bin Abdul Mun’in bin Awan merupakan penguasa terakhir dari kalangan syarif tersebut. Dialah yang mengumumkan revolusi Arab pada tahun 1916 dan menjadi raja Hijaz. Sampai akhirnya, dia lengser dari kekuasaannya akibat keluarga Saud menguasai Hijaz tahun 1924. Lalu diwaristi putranya, Raja Ali, namun hanya berkuasa setahun”. (al-Jazirah al-‘Arabiyyah fi al-Watsa’iq al-Barithaniyya; Najd wa Hijaz)

Ketika Makkah berhasil direbut oleh Wahhabi dari tangan Khalifah Turki Utsmani, maka dominasi Wahhabi ditanah suci menjadi tantangan langsung terhadap otoritas Turki kala itu. Beberapa kali serangan dilancarkan dari Baghdad oleh Khalifah, tetapi gagal.Muhammad Ali Pasha, wazir atau wakil Khalifah di Mesir, diserahi tanggung jawab mengambil alih kembali Hijaz dan tanah suci, mengambalikannya kepada Khalifah sebagai khadimul haramain (pelayan 2 tanah suci : Makkah dan Madinah).

Setelah gagal di tahun 1811, pada tahun 1812 pasukan Turki Utsmani dari Mesir tersebut berhasil menduduki Madinah. Tahun 1815, kembali pasukan Mesir menyerbu Riyadl, Makkah dan Jeddah. Kali ini pasukan Wahhabi kocar-kacir. Pada saat itu, Ibrahim Pasya, putra penguasa Mesir sebagai wakil pemerintahan Turki Utsmani, datang dengan kekuatan sekitar 8000 pasukan kavaleri dan infantri dari Mesir, Albania dan Turki. Muhammad Ibnu Saud sendiri beserta keluarganya ditawan dan dibawa ke Kairo, kemudian ke Konstantinopel. Di Ibukota Khilafah Utsmani itu dia dipermalukan, diarak keliling kota ditengah cemoohan penonton selama 3 hari. Kemudian kepalanya dipenggal dan tubuhnya dipertontonkan kepada kerumunan yang marah.

Sisa keluarga Saudi-Wahhabi menjadi tawanan di Kairo. Kehancuran Wahhabi disambut gembira dibanyak negeri Muslim. Seorang ulama bermadzhab Hanafi bernama Muhammad Amin ibnu Abidin yang hidup di awal abad ke-19 mengatakan :

“Ia mengaku pengikut Madzhab Hanbali, tapi dalam pemikiran-pemikirannya hanya dia saja yang muslim dan semua orang lain adalah musyrik. Ia mengatakan bahwa membunuh Ahlussunnah adalah halal, sampai akhirnya Allah menghancurkannya pada tahun 1233 H (1818 M) melalui pasukan muslim”.

Tahun 1902, Abdul Aziz, putra Abdurraman ibnu Saud mengungsi ke Kuwait, memulai usaha meraih kejayaan dinasti Saud yang hilang. Dengan bantuan Syaikh Kuwait yang selama ini melindunginya, Ibnu Saud, demikian nama populer Abdul Aziz, berhasil meraih Riyadl den mengumumkan pemulihan kembali Dinasti Saud disana. Klan As-Sabah di Kuwait mendorong Ibnu Saud menaklukkan Riyadl karena mereka takut kekuasaan Klan Rasyidi yag menguasai Riyadl semakin kuat dan luas-juga terutama karena adanya aliansi Rasyidi dengan Khilafah Utsmani- sehingga mengancam Kuwait.

Pertarungan di Najd terjadi antara Ibnu Saud yang dibantu Inggris melawan Klan Rasyidi yang dibantu Khilafah Utsmani. Inggris ikut campur karena khawatir dukungan Khilafah Utsmani terhadap Ibnu Rasyid akan mengancam kepentingan mereka di Kuwait.

Tahun 1906, wilayah Qasim direbut sehingga kekuasaan Ibnu Saud semakin dekat ke jantung Klan Rasyidi di Najd Utara. Selain Qasim, Ibnu Saud juga menguasai kota-kota penting lainnya, seperti ‘Unayzah dan Buraydah. Najd praktis terbelah menjadi dua: separuh dikuasai Ibnu Saud dan separuh lagi dikuasai Klan Rasyidi.

Gambaran antara dahsyatnya peperangan yang terjadi antara pihak Ibnu Saud yang dibantu Inggris dengan Ibnu Rasyidi dengan dibantu Khilafah Turki Utsmani, dikatakan oleh sejarawan Wahhabi, Ibnu Bisyr al-Najdi dalam bukunya Uwan al-Majd sebagai peperangan berdarah yang banyak menelan korban dipihak Khilafah Utsmani. Dalam sekali serang saja, sedikitnya 2400 lebih tentara muslim Khilafah Turki Utsmani yang terdiri dari orang-orang Mesir, Maroko dan Quraisy tewas terbunuh.

Pada 26 Desember 1915, ketika Perang Dunia I berkecamuk, Ibnu Saud menyepakati traktat dengan Inggris. Berdasarkan traktat ini, pemerintah Inggris mengakui kekuasaan Ibnu Saud atas Najd, Qatif, Jubail dan wilayah-wilayah yang bergabung didalam empat wilayah utama ini. Dukungan penuh pemerintah Inggris itu diakui secara resmi oleh mereka. Maka, apabila wilayah-wilayah ini diserang, Inggris akan membantu Ibnu Saud dengan kekuatan penuh. Traktat ini juga mendatangkan keuntungan material bagi Ibnu Saud. Ia mendapatkan ribuan senapan dan uang. Ibnu Saud juga menerima subsidi dan bantuan senjata yang dikirim secara teratur sampai tahun 1924, bersamaan dengan runtuhnya Khilafah Turki Utsmani.

Sebagai imbalannya, Ibnu Saud tidak akan mengadakan perundingan dan membuat traktat dengan negara asing lainnya. Ibnu Saud juga tidak akan menyerang ke, atau campur tangan di, Kuwait, Bahrain, Qatar dan Oman (yang berada dibawah proteksi Inggris). Traktat ini mengawali keterlibatan langsung Inggris dalam politik Ibnu Saud.

Sementara itu, saingan Ibnu Saud di Najd, Ibnu Rasyid, tetap berada dibawah naungan Khilafah Utsmani. Seiring dengan mulai lemahnya Khilafah, setelah berbulan-bulan dikepung, akhirnya pada 4 November 1921, Ha’il (ibukota Klan Rasyidi) jatuh ketangan Ibnu Saud yang dibantu Inggris melalui dana dan persenjataan. Penduduk oase subur disebalah utara itu pun terpaksa mengucapkan bai’at ketundukan kepada Ibnu Saud.

Sesudah menaklukkan Ha’il, Ibnu saud beralih ke Hijaz. Satu demi satu kota di Hijaz jatuh ke tangan Ibnu Saud. ‘Asir, wilayah di Hijaz selatan, jatuh pada 1922, disusul Thaif, Makkah dan Madinah (ditahun 1924), Jeddah (diawal tahun 1925).

Tahun 1925 juga, dibulan Desember, Ibnu Saud menyatakan diri sebagai Raja , dan pada awal Januari 1926 ia menjadi Raja Hijaz sekaligus Sulthan Najd, dan daerah-daerah bawahannya.

Untuk pertama kalinya, sejak berdirinya Negara Saudi II, 4 wilayah penting di Jazirah Arab, yaitu Najd, Hijaz, ‘Asir dan Hasa, kembali berada ditangan kekuataan Klan Saudi. Dan pada tahun 1932, Ibnu Saud telah berhasil menyatukan apa yang sekarang dikenal sebagai Kerajaan Arab Saudi.

Sumber : Buku “Best Seller” : Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi : Mereka  Membunuh Semuanya, Termaasuk Ulama. Penerti Pustaka Pesantren 2011.

Kunjungi www.facebook.com/muslimedianews Sumber MMN: http://www.muslimedianews.com/2014/03/musnahnya-wahhabi-dan-bangkitnya.html#ixzz3YlUhhW8v

No tags for this post.

NO COMMENTS