Metamorfosis Ustadz Bachtiar Nasir

0
1,679 views

Ternyata bukan hanya Hizbut Tahrir Indonesia  yang menunjukkan gejala aneh di detik- detik menjelang pemilihan umum.  Kemarin, tak sengaja saya melihat seorang teman berkicau mengkritik seorang ulama – yang sebelumnya pernah dilihat berceramah tentang kemusyrikkan demokrasi, namun tiba-tiba saja pasca Pileg, ulama ini menjadi salah satu penggagas Poros Tengah, bersama Amien Rais.

Namanya Ustadz Bachtiar Nasir, saat ini beliau adalah Sekjen MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia). Pada  acara Tadabbur Al Quran Damai Indonesiaku di TV One,  beliau mengulas tentang syirik – dan dalam video yang berdurasi hanya delapan menit tersebut, beliau berkata, “  … demokrasi bisa saja menjadi berhala sistem baru, orang-orang yang menggunakannya dan mengatakan bahwa tidak ada sistem yang lebih baik bahkan sistem Allah tidak penting untuk diterapkan ketimbang sistem demokrasi, dia sudah musyrik, dia sudah kafir.” Selengkapnya bisa dilihat di sini.

Bagi saya yang awam, sungguh, saya tidak ingin mempertanyakan argumen-argumennya yang digunakan untuk memberi  predikat musyrik ataupun kafir kepada kaum muslimin yang mendukung penuh sistem demokrasi, itu diluar kapasitas saya. Namun, wahai Ustadz Bachtiar yang mulia, izinkan saya bertanya, “Mengapa Anda menjilat ludah Anda sendiri – dengan ikut terjun ke dalam kancah politik tanah air – yang jelas-jelas merupakan pesta demokrasi – bukankah menurut Anda demokrasi itu musyrik?”

Berikut ini saya kutipkan berita dari Antara News,

“Atas nama Koalisi Umat Islam kami mendesak dan menuntut pimpinan partai politik Islam agar jangan terjebak pada matematika politik. Sebanyak 32 persen suara itu dimiliki umat Islam,” kata Ketua Pelaksana Koalisi Politik Islam Ust Bachtiar Nasir dalam konferensi pers di Jalan Cikini Raya, Jakarta, Kamis petang. Bachtiar mengklaim pihaknya telah menampung aspirasi arus bawah suara umat Islam yang menginginkan partai Islam bersatu memilih calon presiden dan calon wakil presidennya sendiri. Oleh karena itu pihaknya mengundang tokoh ormas dan parpol Islam bertemu di sebuah kediaman di Jalan Cikini Raya Nomor 24, Kamis. Menurut dia, kontrak politik yang terjadi saat ini antara partai berbasis massa Islam dengan partai nasionalis lebih dipengaruhi ego individu belaka.  “Maka kami mengumpulkan tokoh Islam agar bersatu memilih capres dan cawapres sendiri,” kata dia.

Senja itu, Kamis (17/4) merupakan saksi bisu metamorfosis seorang Bachtiar Nasir. Selain beliau, beberapa tokoh parpol Islam berkumpul, hadir dalam pertemuan dengan agenda utama membentuk ‘Koalisi Hijau’ agar dapat mencalonkan satu nama capresnya sendiri dalam ajang pilpres Juli mendatang. Saya bertanya-tanya, dorongan apakah gerangan yang menjadikan beliau turun gunung – menguliti dan mendobrak keyakinannya sendiri – yang pernah disampaikan dengan begitu fasih di hadapan para jemaah, dan disiarkan ke seluruh Indonesia?

Campur Tangan Arab Saudi

Beberapa hari yang lalu, ABI Press mewawancarai seorang ulama muda NU, KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani. Beliau  adalah salah seorang pengurus Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama (LTM) PBNU – yang mendapat mandat khusus dari PBNU untuk mengurusi hal-hal terkait permasalahan aktual Islam di Indonesia.

Menurutnya, dana Arab Saudi juga masuk ke Indonesia dalam jumlah besar untuk menghadapi pemilu dan mewahabikan Indonesia. “Tiga bulan kemarin, saat rapat di PBNU, saya ketahui bahwa jumlah untuk menghadapi pemilu dan mewahabikan Indonesia itu mencapai angka 500 miliar. Tapi berselang dua minggu kemudian, ternyata sudah berubah menjadi 1,2 atau 1,3 triliun untuk satu provinsi,” ungkapnya.

Menyusun Puzzle

Tiga tahun silam, Arab Saudi dan sekutunya, memulai petualangan berdarahnya di Suriah. Raja yang memimpin negara monarkhi ini, membiayai perang, memasok jihadis – untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad, atas nama demokrasi. Arab Saudi mendukung poros moderat, dan mengajarkan kepada Suriah tentang kebebasan, kendatipun di kerajaannya sendiri tidak ada makhluk yang bernama kebebasan. Bersama dengan Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Turki, dan Qatar, mereka sepakat berseru,”Lawan dan tumbangkan Assad.”

Suriah, negeri indah di Timur Tengah yang merupakan negara sekuler, dengan prinsip al din lillah; wal wathan li al jami’ (agama untuk Allah, negara untuk masyarakat) – mampu membawa Suriah menjadi negara yang bebas dari hutang – mencapai kemandirian ekonomi, kehidupan yang harmonis antara warga negara kendati memiliki latar belakang budaya, suku dan agama yang berbeda. Suriah juga, yang menjadi tempat lahirnya ulama-ulama  Ahlussunah moderat – dan sebagai negara yang telah berkali-kali duel dengan Israel, hanya Suriah-lah yang masih konsisten memusuhi Israel, dan mendukung penuh gerakan perlawanan terhadap plot Zionis.

Sekilas, Suriah memiliki kemiripan dengan Indonesia. Bhineka Tunggal Ika, begitu semboyan kita – yang menyatukan ribuan perbedaan dalam satu kesatuan tanah air, bangsa, dan bahasa. Negeri yang terletak di jalur sutera dengan kekayaan alam yang melimpah – tidakkah menarik minat bagi Arab Saudi untuk turut mencengkramkan kukunya ?

Arab Saudi, sanggup menikam Suriah. Sanggup menusuk Irak. Arab Saudi juga sanggup menebarkan segala bentuk kebencian dan permusuhan atas kelompok lain yang tidak sesuai dengan paham radikalnya. Kemudian terungkap bahwasanya dalam pemilu kali ini – Saudi sanggup merogoh kocek dalam-dalam demi mewahabikan Indonesia. Ah tentu saja saya jadi berprasangka, bahwa demi agendanya kali ini, dengan cara apapun – mereka akan berusaha menaikkan “orang-orang mereka” ke dalam tampuk pemerintahan yang kelak akan memuluskan agendanya untuk menguasai Indonesia.

Dengan tumpukan uang yang tertata rapi senilai triliunan rupiah,  susah rasanya untuk tidak tergoda mencicipinya. Tapi tidak mungkin  bagi seorang yang berakhlak mulia lagi lurus seperti Ustadz Bachtiar Nasir terperdaya  oleh gemerlap harta sehingga bersedia tenggelam kedalam kubangan kemusyirikan – bahkan mungkin dalam lumpur kekafiran yang kekal di neraka – dan  sebagai seorang muslim, hendaknya kita berbaik sangka.

No tags for this post.

NO COMMENTS