Merayakan Maulid Nabi Saw Bid’ah?

0
687 views

bahaya-bidah

Sebenarnya saya sudah sangat malas membicarakan betapa bodohnya kaum Wahabi-Salafy di dalam memahami Islam, tetapi saya kembali terusik setelah membaca sebuah tulisan salah seorang blogger yang menulis tentang Maulid yang katanya sia-sia, tak bermanfaat dan bahkan bid’ah, karena Nabi Saw tak pernah memberi contoh dalam melakukannya.

Setelah membaca tulisan ‘lucu’ tersebut, saya jadi teringat sebuah peristiwa beberapa tahun silam (sekitar tahun 80-an) yang melibatkan almarhum ayah saya. Saat itu saya masih terlibat di dalam sebuah gerakan Islam garis keras dan di antara anggotanya ternyata kawan sekolah ayah saya di Padang. (kita sebut saja namanya: Pak Wawan)

Karena ayah saya enggan masuk ke dalam gerakan tersebut, akhirnya saya mengundang Pak Wawan untuk datang ke rumah agar Pak Wawan ‘mendakwahi’ ayah saya. Dan tentu saja dengan semangat yang menggebu-gebu, Pak Wawan menyambut undangan saya.

Pak Wawan yang lulusan sekolah tinggi di Bandung, adalah seorang pengusaha yang sukses dan kaya. Setelah didakwahi oleh orang-orang Islam garis keras, Pak Wawan banyak mengalami perubahan di dalam gaya hidupnya.

Dia sangat antusias sekali ingin mengikuti dan mempraktekkan sunnah Nabi. Dan saking antusiasnya, dia membuang semua perabotan furniture di salah satu rumah mewahnya di bilangan Jakarta Selatan, seperti kursi, meja, bufet, dan banyak lagi yang menurutnya tidak dimiliki Nabi Saw. Dia selalu makan dengan tangan sambil duduk di atas lantai, memelihara jenggot dan mencukur kumisnya. Keningnya hitam karena banyak sujud.

Nah, ketika dia datang ke rumah ayah saya, dia langsung mendakwahi ayah saya agar membuang semua perabotan rumah tangga yang tidak pernah dicontohkan Nabi Saw. “Itu gaya hidup orang-orang Romawi yang Nasrani, bukan gaya hidup Nabi Saw,”katanya dengan nada yang penuh semangat ‘dakwah’.

Ayah saya yang sangat sabar, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tetap mendengarkan celoteh teman lamanya itu. Dan ketika saat makan siang tiba, kami pun makan bersama. Semula Pak Wawan tidak bersedia makan di meja makan, namun ayah saya memaksanya. “Demi menghormati tuan rumah, saya terpaksa makan di meja makan,” kata Pak Wawan serius. Ayah saya tersenyum sambil menyorongkan kursi untuk Pak Wawan.

Di meja makan, Pak Wawan membuat kejutan lainnya. Pak Wawan tidak mau menggunakan sendok dan garpu. Sekali lagi dengan semangat ia berkata, “Ini juga termasuk bid’ah! Nabi Saw tidak pernah menggunakan sendok dan garpu padahal pada zaman Nabi sudah ada sendok dan garpu,” katanya semangat sekali. “Sendok dan garpu merupakan warisan gaya hidup bangsawan dan raja-raja Romawi yang Kristen!” katanya menegaskan.

Tetapi ketika Pak Wawan melihat salah satu hidangan yang disajikan berupa sup yang masih mengepul hangat, dia agak terkejut. (karena jika masih panas tentu saja tangannya akan kepanasan jika akan menceduk sup panas). Namun tanpa kehilangan akal ia bergumam, “Nabi bilang kalo makan tidak baik makan dalam keadaan yang masih panas.” Kembali saya lihat ayah saya tersenyum. Ayah saya cuek tetap makan pakai sendok dan garpu dan tidak mau menunggu sup menjadi dingin.

Setelah berbincang cukup lama (selain berisi ‘dakwah’ tentu saja ada sedikit nostalgia, maklum pertemuan dua kawan karib yang sudah sekian lama tidak berjumpa), akhirnya keduanya harus berpisah. Ayah saya mengantarkan Pak Wawan sampai ke tempat mobil Pak Wawan diparkir.

Ketika Pak Wawan membuka pintu mobilnya, ayah saya berkata kepada Pak Wawan dengan nada bercanda, “Seharusnya kursi mobilmu ini juga dibuang, atau kau naik onta saja, Nabi khan gak pernah naik mobil?

Pak Wawan sedikit terperangah, ayah saya buru-buru menghiburnya, “Aku cuma bercanda, Wan!” Ayah saya tertawa-tawa, sementara wajah Pak Wawan kelihatan cemberut dan kulitnya yang putih memperlihatkan rona merah yang tak bisa di sembunyikannya.

Itulah sebuah pengalaman yang tak pernah saya lupakan. Sebuah pemahaman agama yang sempit, dangkal dan sangat puritan!

Jika bid’ah adalah semua yang tidak pernah dilakukan Nabi Saw, maka beranikah orang-orang Wahabi-Salafy menetapkan Abu Bakar telah melakukan sebuah bid’ah besar, karena Abu Bakar menunjuk penggantinya, padahal menurut Ahlus Sunnah Rasulullah Saw tidak pernah mencontohkannya?

Beranikah kaum Wahabi-Salafy menegaskan Umar bin Khathab telah melakukan bid’ah besar, karena Umar bin Khathab membuat penjara, padahal Nabi Saw tidak pernah melakukannya, Umar melakukan shalat tarawih sebulan penuh padahal Nabi Saw hanya melakukan dua atau tiga hari saja kemudian tidak pernah melakukannya lagi?

Mengapa syekh-syekh Wahabi menuduh orang yang mengucapkanshadaqallahul ‘azhim setelah membaca al-Quran sebagai bid’ah karena Nabi Saw tidak pernah mencontohkannya, tapi bukankah justru mereka sendiri melakukan bid’ah dengan menyebut radhiyallahu ‘anhu setelah nama para sahabat Nabi dsiebut, padahal tidak ada satu contoh dari Nabi Saw?

Apakah karena Nabi Saw tidak pernah mencontohkan berziarah ke makamnya sendiri, maka berarti tidak ada sunnah berziarah ke makamnya?

Saya berlindung kepada Allah Swt dari kebodohan cara berpikir ala Wahabi-Salafy ini ya Allah ya Rabbi dan saya juga berlindung kepada Allah Swt dari kejahatan mereka…amiiin

NO COMMENTS