Mengapa Ponpes Al-Khoirot Keluar dari PKS

1
3,041 views

pks sapiPondok Pesantren Al-Khoirot (PPA) Malang adalah salah satu dari sedikit pesantren yang secara resmi kelembagaan mendukung PKS sejak masih disebut PK (Partai Keadilan).

Sebagai pesantren yang secara kultural berafiliasi ke NU (Nahdlatul Ulama) pilihan ini terasa “aneh” di mata banyak orang terutama di kalangan ulama NU. Keanehan itu wajar karena beberapa faktor. Pertama, semua tahu bahwa kalangan petinggi PKS mayoritas kalangan aktifis Wahabi. Sehingga tidak sedikitnya sebagai partai Wahabi. Dan semua orang tua bahwa NU dan Wahabi itu ibarat air dan minyak. Sulit untuk dapat bertemu dengan nyaman. Sama dengan NU vs Muhammadiyah pada zaman dahulu (sekarang pun masih ada tapi intensitasnya kalah dengan NU vs Wahabi).

Kedua, umumnya ulama dan pesantren NU akan cenderung memilih partai dengan ideologi yang tidak jauh dari NU seperti PKB dan PPP.

Jadi, kenapa PPA memilih Partai Keadilan? Jawabnya sederhana: karena saat itu kami merasa ada kesamaan visi secara substantif antara kami dan PK. Yaitu, menegakkan dakwah Islam dan membersihkan Indonesia dari korupsi.

Kedua komitmen itu kami lihat ada pada para aktifis PKS saat Majlis Syuro dipegang oleh Ustadz Rahmat. Kesederhanaan para elite politik dan anggota legislatif dari PK tampak menonjol dan sering diekspos media massa. Kami pun semakin yakin akan tepatnya pilihan kami. Dan kamipun mengenyampingkan “perbedaan ideologis” (NU – Wahabi) .

Namun, pada tahun 2009 kami Dewan Pengasuh PP Al-Khoirot sepakat untuk mencabut dukungan kami kepada partai ini dan menyerukan kepada seluruh, alumni dan simpatisan PPA agar tidak lagi memilih partai ini karena beberapa alasan:

Pertama, adanya perubahan signifikan atas perilaku kalangan elite partai yang tidak lagi hidup bersahaja. Gaya hidup mewahnya malah melebihi kalangan elite partai lain. Dan ini sangat ironis karena di tengah sikap itu mereka masih tak segan berlindung di balik dalil-dalil agama.

Kedua, elite PKS tidak lagi tampil beda seperti dulu yang membuat kami merasa tidak rugi untuk mendukung mereka kendatipun harus mengorbankan teman dan ideologi kultural dan kehilangan teman. Sekarang, kami merasa terlalu berlebihan berkorban untuk sebuah partai yang elitenya tidak ada bedanya dengan yang lain dalam perilaku glamor dan korupsinya.

Keputusan tahun 2009 itu ternyata sangat tepat. Dan seluruh stock holder PPA merasa bersyukur atas pilihan yang tepat untuk bercerai dengan partai ini. Berita-berita tentang keterlibatan sejumlah petinggi PKS dalam skandal korupsi membuka mata banyak orang. Walaupun kami sama sekali tidak terkejut dan sudah kami duga jauh sebelumnya.

Korupsi yang dilakukan sebenarnya hanyalah akibat dari akar masalah mendasar yang mereka lakukan yaitu gaya hidup hedonis dan materialistik.

Kami dan bangsa Indonesia merindukan partai-partai yang elitenya bergaya hhidup sederhana seperti Jokowi, gubernur DKI yang tidak begitu faham ilmu agama tingkat lanjut, tapi mengamalkan inti dari ajaran Islam dengan sangat baik.

 

sumber : http://alkhoirot.blogdetik.com/

1 COMMENT

Comments are closed.