Menabur Benih Teroris, [Kelak] Menuai Tangis

0
1,521 views

Oleh: Eka Arif, Aktivis

benih-isisSejak ISIS mendeklarasikan “pemerintahan”  dengan Abu Bakar al-Baghdady sebagai pemimpinnya, sejak itu pulasuara-suara pendukungnya semakin vokal. Dari Indonesia yang jaraknya ribuan kilometer dengan Raqqa (ibu kota Daulah Islam), sekelompok ISIS mendeklarasikan baiat atau janji setia kepada pemimpinnya.

Sebagai bentuk dukungan kepada ISIS, kini di media masa dan jejaring sosial  bertebaran para penyeru jihad untuk menegakkan Khilafah. Bagi mereka, umat Islam saat ini tidak membutuhkan seorang Presiden sebagai kepala negara dari sebuah sistem demokrasi yang kafir dan batil. Mereka menginginkan seorang Khalifah, yaitu kepala negara yang berdasarkan syariat Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dimana Khalifah akan memimpin umat Islam di seluruh dunia di bawah sistem Khilafah Ala Minhajin Nubuwah.

Mereka boleh saja merasa diri sedang berjihad untuk menegakkan syariat Islam, namun tidak demikian halnya dengan kebanyakan masyarakat dunia yang mencintai perdamaian. Menurut Prof Ahmad Syafii Maarif [Guru Bangsa, Mantan Ketua Umum Muhammadiyah] sebagaimana watak seluruh gerakan teror di dunia, Muslim atau non-Muslim, tujuannya adalah menabur ketakutan, kebencian, pembunuhan, dan kebiadaban atas nama aliran kepercayaan yang dianutnya. Korbannya sudah ratusan ribu yang bergelimpangan di daerah-daerah operasi kejahatan. Tak mungkin bagi kita untuk bertanya kepada kelompok ini tentang kemanusiaan, kedamaian, dan persaudaraan.

Doktrin yang ditanamkan kepada pengikutnya adalah melibas siapa saja yang berbeda dengan mereka, apa pun agamanya, semua darahnya dianggap halal. Wajah sangar mereka adalah pertanda bahwa hatinya memang penuh dendam.

Topeng agama yang sering dipakai semata-mata untuk menyamarkan rencana jahatnya, demi kekuasaan duniawi yang disembunyikan. Dengan kedok agama, tindakan perampokan, penjarahan, pembunuhan, penculikan, dan pemerkosaan seperti mendapat pembenaran teologis. Dunia ini memang sudah terbalik-balik, dan umat Islam sering benar menari menurut tabuhan genderang pihak lain, seperti dulu yang terjadi di Afghanistan.

Doktrin ini kemudian disebarluaskan dengan berbagai cara. Misalnya di jejaring sosial seperti Facebook, mereka membuat halaman (fanpage) dan aktif update perkembangan terkini di daerah-daerah “kantong jihad” seperti Irak dan Suriah. Dan sebagaimana yang sudah teramat sering kita saksikan, mereka begitu berbahagia saat bisa membunuh musuhnya, kendati musuh sudah dalam keadaan tak berdaya. Video dan foto tentara-tentara lawan yang berhasil mereka tangkap – untuk kemudian dibunuh dengan cara keji seperti digorok lehernya – bertebaran memenuhi beranda hingga grup. Lalu, saat akun mereka dihapus facebook lantaran melanggar ketentuan, tanpa kenal menyerah mereka kembali membuat halaman baru, lagi dan lagi.

Saat ini di Indonesia, walau tingkat kesejahteraan masih rendah, setidaknya—kita masih bisa bangun dengan tenang di pagi hari, masih bisa bekerja mencari nafkah tanpa harus khawatir dengan adanya hujan peluru dan mesiu. Kedamaian ini – sepatutnya kita syukuri. Namun mengapa masih saja ada kelompok-kelompok yang gencar menyebarkan serangkaian propaganda untuk mencabik-cabik perdamaian?

Penyerangan Demi Penyerangan di Yogya, Ada Apa?

Informasi dari Suara Indonesia Untuk Perubahan pada tanggal 3 Juni 2014, diungkapkan bahwa dalam dalam dua bulan terakhir, terjadi aksi kekerasan ormas keagamaan di Indonesia, khususnya di wilayah Yogyakarta, yaitu:

1. Penutupan paksa gereja di Widoro, Gunungkidul.
2. Pemukulan terhadap aktivis lintas iman di Gunungkidul.
3. Penolakan tempat untuk acara Paskah Adiyuswa Sinode GKJ.
4. Penyerangan terhadap ibadah doa rosario di rumah Direktur Galang Press Julius Felicianus.

Namun aparat pemerintah dalam hal ini Kapolri, merespon penyerangan ini dengan statemen yang ngawur: jangan menjadikan rumah sebagai tempat ibadah. Lha, sejak kapan hukum Indonesia membatasi acara keagamaan dilangsungkan di rumah? Di tempat saya tinggal, hampir tiap minggu ada saja warga yang mengadakan acara keagamaan di rumahnya, seperti  acara yasinan dan selamatan. Tetangga saya yang beragama Kristen, setiap minggu mengadakan acara do’a bersama – dan sejauh ini belum pernah sekalipun ada komplain – apalagi sampai diserang.

Pemerintah harusnya memberikan rasa aman kepada rakyatnya – dan bertindak tegas kepada pihak-pihak yang sengaja memperkeruh suasana dengan melakukan tindakan anarkis maupun memprovokasi untuk melakukan kekerasan dengan menjual ayat-ayat Allah. Hanya saja,  melihat lalai dan lambannya pemerintah dalam menindak pihak yang menggoyang keutuhan NKRI, tidak menutup kemungkinan jika ‘para perovokator’ ini memang sengaja ‘dipelihara’ untuk menimbulkan gesekan-gesekan di akar rumput, sehingga para mafia dapat melenggang bebas melakukan transaksi untuk mengeruk harta kekayaan bangsa ini lebih dalam.

Dan pada akhirnya, rakyat juga yang menangis…

 

sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS