Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (9)

0
910 views

Membongkar Kepalsuan Syubhat Salafi Wahhâbi Tentang Ketinggian Fisikal Allah SWT Di Atas Makhluk-Nya

Menyoroti Pendalilan Kesebelas-Keempat belas Ustadz Firanda

Pendahuluan

 

cover_ahl_vs_slfy_resize_2

 

Setiap kali Ahlul Batil berbicara mencecer dalil yang mereka anggap mendukung kesesatan akidah Tajsîm dan Tasybîh mereka maka kesesatan dan kajahilan mereka kian terlihat nyata dan kejahilan serta kedunguan mereka menjadi bahan tertawaan kaum uqalâ’/yang berkala sehat! Itulah yang kita saksikan dari para sarjana Salafi Wahhâbi, utamanya Firanda, Ustadz kebanggaan kaum awam Salafi Indonesia. Semakin mereka mencecer apa yang mereka banggakan sebagai dalil kesesatan akidah mereka, maka kejahilan dan kedunguan mereka semakin tanpak nyata!

Pada dalil-dalil lanjutannya, Ustadz Firanda makin mengukuhkan bukti keawaman pemahaman agamanya lebih dari yang telah ia pamerkan melalui syubhat-syubhat sebelumnya.

Untuk menyingkat waktu, saya ajak sobat abusalafy yang cerdas lagi kritis untuk menyimak pendalilan-pendalilan Ustadz Firanda di bawah ini.

Ustadz Firanda berkata:

“Kesebelas: Nabi saw. mengisyaratkan ke atas saat meminta kesaksian kepada Allah SWT. … (kemudian ia menyebutkan penggalan sebuah hadis riwayat Muslim).” (Lihat: Ketinggian Allah Di Atas makhluk-Nya:23)

Abu Salafy berkata:

Pertama-tama yang perlu dimengerti di sini adalah bahwa dalam riwayat itu tidak ada sabda Nabi saw. yang menerangkan bahwa beliau menganggkat tangan ke aras atas itu karena Allah SWT bereda di atas! Tidak ada. Beliau tidak menyabdakan sama sekali apa yang kemudian menjadi akidah Ustadz Firanda!! Apa yang disajikan oleh riwayat di atas tidak lebih dari sebuah tindakan/fi’il. Dan dalâlah Sunnah Fi’liyyah tidak memberikan kepastian akan sebuah petunjuk. Ia multi tafsir/ihtimâlât. Dan seperti dipastikan dalam sebuah kaidah Ushul bahwa sebuah nash jika mengandung multi tafsir maka gugurlah pendalilan dengannya kecuali jika didudkung dan dikukuhkan oleh bukti lain dari luar nash itu sendiri!

Di sini, nash riwayat Muslim di atas hanya menyebutkan bahwa Nabi saw. mengisyaratkan dengan mengangkat jari telunjuk beliau saw. ke arah atas! Tidak lebih dari itu. Lalu apakah dengan serta merta kita memahaminya sebagai bukti bahwa Allah berada dan berlokasi di atas?! Tidaklah terlintas pemahaman seperti ke dalam akal sehat siapa pun kecuali akal-akal kerdil kaum Mujassimah Musyabbihah yang memang sudah terpatri padanya akidah sesat bahwa Allah berada dan berlokasi di arah atas sana! Sementara umat Islam –berdasarkan bukti-bukti tekstual; Al Qur’an dan Hadis, serta bukti-bukti rasional meyakini bahwa: Maha Suci Allah dari bertempat dn berlokasi, baik di atas maupun di arah mana pun. Allah SWT Dzat yang tidak butuh bertempat!

Jadi sekali lagi, pendalilan Ustadz Firanda di atas adalah sesuatu yang dipaksakan dan mengada-ngada!

Menyoroti Pendalilan Kedua Belas Ustadz Firanda

Pendalilan kedua belas Ustadz Firanda ini pasti makin membuat Anda geli terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak! Ia berdalil bahwa disunnahkan berdoa sambil menengadahkan tangan menghadap ke atas itu adalah bukti bahwa Allah SWT berada dan berlokasi di atas!! Bukankah ini sangat kekanak-kanakan?! Tetapi janganlah Anda heran, sebab kaum yang telah menggadaikan akal warasnya kepada para masyâikh dungu Wahhâbi di Arab Saudi sana pastilah tidak dapat membedakan antara dalil dan kedunguan. Percayalah!

Saya tidak mengerti apakah Ustadz Firanda dan kaum Mujassimah lainnya telah terlanjur berikrar dan sumpah setia di hadapan arca Latta dan Hubal bahwa mereka akan berjuang terus melastarikan akidah syirik yang memposturisasi Tuhan dan bahwa mereka akan bersikap degil di hadapan semua dalil dan membohongkannya betapa pun dalil itu gamblang dan terang seterang matahari di siang bolong. Dan bahwa mereka akan mencecer segala sesuatu yang dapat mereka cecer untuk mendukung akidah Tajsîm Tasybîh ala kaum Musyrik Arab!!

Perhatikan Ustadz Firanda berdalil:

“Kedua belas: Disunnahkannya seorang yang berdoa menengadahkan tangan menghadap ke atas. … .” setelahnya ia menyebutkan beberapa hadis yang menunjukkan dianjurkannya mengangkat tangan dalam berdoa. (Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya:23)

Abu Salafy:

Dalam kesempatan lain telah saya jelaskan bahwa mengangkat kedua tangan ke atas ketika berdoa sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah bertempat dan berlokasi di atas! Sama sekali tidak! Para ulama Islam –selain Mujassimah Musyabbihah, dan Wahhâbi adalah bagian paling aktif di dalamnya- seperti telah saya sebutkan di sana telah menerangkan bahwa arah atas adalah kiblat berdoa sebagaimana Ka’bah adalah kiblat Shalat. Namun karena kaum Salafi Wahhâbi sangat mirip dengan kaum yang disinggung dalam Surah al Kahfi ayat 93:

قَوْماً لا يَكادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلاً

“… suatu kaum yang  hampir tidak mengerti pembicaraan.”

Karenanya saya terpaksa mengulang siapa tau kali ini mereka mau mengerti pembicaraan manusia!

Arah Atas Adalah Kiblat Dalam Berdoa

Dalam kesempatan ini saya akan menyajikan keterangan para ulama Ahlusunnah bahwa menghadapkan tangan ke aras atas itu bukan menunjukkan bahwa Allah bertempat di atas, akan tetapi ia adalah kiblat doa. Dan Allah SWT berhak memerintahkan dan memperhamba kita untuk mengarahkan ke arah mana saja yang Dia kehendaki.

  • Penjelasana Imam Abu Manshûr Al Mâtûridi (W. 333H)

“Adapun mengangkat tangan ke arah langit saat berdoa maka ia murni karena tuntutan ibadah (dalam syariat). Allah berhak memperhamba hamba-hamba-Nya dengan apa saja yang Ia kehendaki dan mengarahkan mereka ke arah mana saja yang Ia kehendaki. Dan jika ada yang menganggap bahwa diangkatnya pandangan ke arah langit karena Allah di arah itu maka ia seperti orang yang menganggap bahwa Allah berada di arah bawah (perut) bumi karena ia meletakkan dahinya di saat sujud baik dalam shalat ataupun di luar shalat. Atau seperti orang yang menganggap bahwa Allah itu berada di sisi barat atau timur karena ia menghadap Allah di saat shalat atau Allah bereda di sisi Mekkah karenanya ia haji menuju kota Mekkah.”[1]

  • Penjelasan Imam Ghazzali

Imam Ghazali berkata dalam kitab al Ihyâ’ (kitab yang sangat dibenci habis kaum Wahhâbi Salafi): “Adapun mengangkat tangan ketika memohon/berdoa ke arah langit maka itu dikarenakan ia adalah kiblat doa. Di dalamnya juga terdapat isyarat bahwa Dzat yang kita berdoa kepadanya adalah menyandang sifat Kemaha-agungan dan Kemaha-perkasaan sebagai peringatan bahwa menuju arah atas adalah sebagai sifat keagungan dan ketinggian. Karena sesungguhnya Dia (Allah) di atas segala sesuatu dengan penguasaan dan penaklukan.”[2]

  • Penjelasan Allamah Muhammad al Husaini az Zabidi

Imam Sayyid Muhammad al Husaini az Zabidi –pensyarah kitab al Ihyâ’– menerangkan perkataan Imam Ghazali di atas sebagai berikut:

Adapun mengangkat tangan ketika memohon/berdoa ke arah langit maka itu dikarenakan ia adalah kiblat doa. (sebagaimana Ka’bah adalah kiblah Shalat. Ia (seorang mushalli) menghadap Allah dengan dada dan wajahnya. Sedangkan Dzat yang kita tuju dengan doa dan shalat kita itu MAHA SUCI DARI BERTEMPAT DI KA’BAH ATAU DI LANGIT.

An Nasafi telah menyinggung masalah ini, ia berkata, “Dan mengangkat tangan dan wajah ketika berdoa adalah murni ta’abbud/arahan agama, persis seperti menghadap Ka’bah ketika shalat. Jadi langit adalah kiblat doa sedangkan Ka’bah adaalah kiblat shalat.”

Di dalamnya juga terdapat isyarat bahwa Dzat yang kita berdoa kepadanya adalah menyandang sifat Kemaha-agungan dan Kemaha-perkasaan sebagai peringatan bahwa menuju arah atas adalah sebagai sifat keagungan dan ketinggian. Karena sesungguhnya Dia (Allah) di atas segala sesuatu dengan penguasaan dan penaklukan. (dan yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah:

وَ هُوَ الْقاهِرُ فَوْقَ عِبادِهِ

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.” (QS. Al An’âm [6];18)

Karena penyebutan status kehambaan (ubûdiyyah) ketika menyebutkan pihak yang Allah di atasnya, menguatkan asumsi penafsiran bahwa yang dimaksud adalah penguasaan dan penaklukan. Dan penulis (Imam Ghazali) telah menyebutkan dengan panjang lebar dalam kitab al Iqtishâd rahasia mengapa menghadapkan ke arah atas dalam berdoa. Harap dirujuk.”[3]

Dalam kesempatan lain beliau juga menegaskan: “Jika ada yang berkata, ‘Apabila Allah Dzat Yang maha Haq itu tidak berada di lokasi/arah tertentu, lalu apa arti mengangkat tangan ke arah langit di saat berdoa?

Maka jawabnya dari dua sisi, seperti disebutkan ath Thurthûsyi[4]:

Pertama: Ia murni penghambaan (sesuai perintah semata), seperti menghadap Ka’bah dalam shalat, menempelkan dahi ketika sujud, dengan tetap meyakini prinsip Kemaha Sucian Allah dari BERTEMPAT DI KA’BAH ATAU DI TEMPAT SUJUD. Maka langit itu seakan ia sebagai kiblat doa.

Kedua: Langit itu adalah tempat turunnya rizki dan wahyu dan rahmat dan keberkahan. … [5]

  • Keterangan Imam an Nawawi dan Al Hafidz Ibnu Hajar

Imam an Nawawi juga menegaskan hal itu dalam syarahnya atas Shahih Muslim. Dan anehnya keterangan Imam Nawawi itu justru ketika ia mensyarahi hadis Jâriyahyang diandalkan sebagai dalil kesembilan oleh Ustadz Firanda. Ini sungguh aneh! Apakah Ustadz Firanda tidak membaca keterangan para ulama Ahlusunnah yang mensyarahi hadis Jâriyah dan ia hanya membuka mata dan telinganya terhadap keterangan kaum Mujassimah seperti Abu Ya’la, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan para masyaikh Wahhabi yang cupet akal dan pikirannya seperti Bin Bâz, al Utsaimin, al Fauzân, at Uwaijiri dkk!!

Imam Nawawi berkata, “Sesungguhnya langit adalah kiblat untuk para pendoa sedangkan Ka’bah adalah kiblat untuk orang-orang yang shalat.”[6]

Keterangan serupa juga disampaikan para ulama di antaranya al Hâfidz Ibnu Hajar dalam syarah Shahih Bukharinya.

  • Keterangan Mulla Ali al Qâri

Mulla Ali al Qâri berkata, “Langit adalah kiblat doa dengan arti dia adalah tempat turunnya rahmat yang mana ia adalah sebab berbagai nikmat. Dan ia (doa itu) penyebab dicegahnya beragam bencana…. dan Syeikh Abu Mu’în an nasafi panutan dalam disiplin ini menyebutkan dalam kitab at Tamhîd-nya bahwa para muhaqqiqîn telah menegaskan bahwa diangkatnya tangan saat berdoa adalah murni perintah agama.”[7]

  • Keterangan Allamah Al Bayâdhi

Allamah al Bayâdhi al Hanafi berkata: “Diangkatnya tangan di saat berdoa ke arah langit bukan karena Allah Ta’ala berada di atas langit tertinggi, akan tetapi karena ia adalah kiblat doa, karena dari arah itulah kebaikan dinanti-nati dan dan keberkahan diharap turun, sesuai dengan firman Allah:

وَ فِي السَّماءِ رِزْقُكُمْ وَ ما تُوعَدُونَ

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz Dzariyat [51];22)

Disampin adanya isyarat akan sifat Kemaha Agungan dan Keperkasaan yang Iasandang dan bahwa Dia berada di atas makhluk-Nya dengan penaklukan dan penguasaan.”[8]

Saya yakin keterangan para ulama di atas sudah cukup membuktikan bahwa pendalilan Ustadz Firanda atas akidah Tajsîm dan Tasybîh-nya bahwa Allah bertempat di atas dengan dalil di atas adalah sangat rapuh dan sekaligus menggelikan. Karenanya saya tidak akan memperpanjang pembicaraan tentangnya!

Menyoroti Pendalilan Ketiga Belas Ustadz Firanda

Ustadz Firanda –seperti penganut Sekte Sesat Mujassimah lainnya- juga berdalil dengan diperkenankannya penduduk surga memandang Wajah Allah sebagai bukti bahwa Allah berada di atas sana!

Ustadz Firanda Berkata:

“Ketiga Belas: Penjelasan bahwa penduduk Jannah akan melihat Wajah Rabb-nya.

Para ulama menjelaskan bahwa salah satu dalil yang menunjukkan ketinggian Akkah SWT adalah bisa dilihatnya Allah SWT nanti oleh penduduk Jannah. … “ (Lihat:Ketinggian Allah Di Atas makhluk-Nya: 25) Dan setelahnya ia menyebutkan sebuah riwayat bahwa kelak penduduk surga akan melihat Tuhan dengan mata telangjang sebagaimana mereka dahulu di dunia melihat bulan yang tidak terhalang oleh awan.

Abu Salafy Berkata:

Dalam kesempatan ini saya juga tidak akan berpanjang-panjang dalam menanggapi pendalilan Ustadz Firanda di atas. Sebab:

Pertama, ia tidak menyebutkan siapa ulama yang ia katakan telah menyimpulkan dari dilihatnya Allah kelak di akhirat oleh ahli mahsyar atau di surga oleh penduduk surga itu adalah bukti bahwa Allah bertempat dan berlokasi di atas?! Ia hanya mengatakan,“Para ulama menjelaskan bahwa salah satu dalil yang menunjukkan ketinggian Akkah SWT adalah bisa dilihatnya Allah SWT nanti oleh penduduk Jannah.”Siapakah mereka itu? Ustadz Firanda tidak menyebutkan satu nama pun, paling-paling ia hanya mampu menyebut nama para tokoh Sekte Mujassimah Musyabbihah yang memang telah membangun akidah sesatnya di atas anggapan bahwa Allah bertempat dan berlokasi di atas langit!! Adapun para ulama Islam dari kelompok dan mazhab manapun baik Asy’ariyah, al Maturudiyah, Mu’tazilah, Zaidiyah, Syiah Imamiyah dan Abadhiyah tidak mungkin akan menerima akidah sesat tersebut!

Kedua, Memang benar bahwa kebanyakan ulama Ahlusunnah menerima hadis tentang Ru’yah (dapat dilihatnya Allah kelak di akhirat) tetapi pada waktu yang sama mereka menolak jika dikatakan bahwa Allah itu dilihat pada suatu tempat. Maha Suci Allah dari berada di sebuah sudut/tempat dan Maha Suci Allah dari Kaifiyyah!

Perhatikan keterangan para ulama yang dirangkum al Hafidz Ibnu Hajar al Asqallâni dalam Fathu al Bâri-nya ketika ia mensyarahi hadis yang dibawakan oleh Ustadz Firanda di atas.

Al Hafidz Ibnu Hajar dengan tegas mengatakan bahwa prinsip dasar akidah bahwa Allah Maha Suci dari al Jihah wa al kaifiyyah/Maha Suci dari bertempat/berlokasi di sebuah arah/lokasi/tempat tertentu dan Maha Suci dari penetapan cara/bagaimana dilihatnya Allah SWT!

Lebih lanjut baca keterangan al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathu al Bâri,28/204/Kitabu at Tauhid, Bab Qaulillah Ta’âla: Wajûhun yaumaidzin Nâdzirah…

Jadi diterimanya riwayat tentang dapat dilihatnya Wajah Allah di surga atau di alam akhirat sama sekali tidak dengan serta merta membenarkan akidah kaum Mujassimah bahwa Allah berada di atas. Sebab para ulama telah berselisih pendapat tentang esensi dan hakikat MELIHAT ALLAH yang dimaksud dalam hadis dan ayat tersebut! Disamping masih terbuka peluang bagi sebagian dalam menolak keshahihan hadis riwayat tentangnya dan atau ketepatan tafsir dan pemaknaan ayat-ayat tentang Ru’yah!

Menoyoroti Pendalilan Keempat Belas Ustasz Firanda

Dalil keempat belas yang dibanggakan Ustadz Firanda adalah sangat menggelikan dan sekaligus membuktikan keawaman dan kedangkalan pengetahuannya tentang akidah dan hadis! Ia berdalil dengan hadis tertentu yang mengatakan ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA SETIAP MALAM sementara itu ia menutup mata (atau lebih tepat: menutup akalnya) dari memerhatikan hadis-hadis lain yang justeru menjelaskan maksud dari hadis yang ia banggakan tersebut! Di sini ia menggabungkan antara kajahilan dan kedunguan dengan keangkuhan sekaligus! Bagaimana ia tidak mau meluangkan waktunya untuk meneliti hadis andalannya itu dari berbagai sisi periwayatnnya sehingga ia akan menemukan hadis-hadis lain yang juga shahih telah menerangkan bahwa yang dimaksud DENGAN TURUHNYA TUHAN itu adalah TURUNYA MALAIKATNYA!

Ini semua terjadi, selain akibat kebutaan dari hidayah Allah SWT juga karena ia tidak memiliki metodologi yang jelas dalam mengkaji hadis! Ia asal COMOT hadis yang dianggapnya dapat mendukung akidah sesatnya! Kenyataan ini sangat berbahaya sekali, dan sering menjadi penyebab kesesatan si pengkaji!

Ustadz Firanda Berkata:

Keempat belas: Penjelasan tentang turunnya Allah SWT ke langit dunia setiap sepertiga malam yang terakhir.” Setelahnya ia menyebutkan sebuah hadis dati riwayat Bukhari dan Muslim yang ia katakan sebagai hadis mutawatir. (Lihat:Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya:25-26)

Abu Salafy Berkata:

Ketahuilah bahwa hadis-hadis yang redaksinya menyebutkan bahwa Allah SWT TURUN ke langit dunia, dzâhir teks/redaksinya bukan yang dimaksud! Sebab mustahil Allah itu berupa JISM sehingga diasumsikan keberadaan-Nya di sebuah lokasi/arah tertentu.. di atas langit ke tujuh atau di atas Arsy kemudian Allah TURUN ke langit dunia! Sebab langit dunia itu adalah makhluk ciptaan Allah, lalu bagaimana kita yakini Allah turun dan berada/bertempat di langit dunia?!

Dengan ini dapat dikatakan bahwa mereka yang meyakini TURUNNYA ALLAH ke langit dunia sebenarnya. Ia sadari atau tidak! Ia akui atau tidak telah meyakini MANUNGGALNYA ALLAH DENGAN SEBAGIAN MAKHLUKNYA! Sebab langit dunia adalah makhluk Allah! Dan pada waktu yang sama mereka pasti telah terjatuh dalam kubangan TAJSÎM! Sebagaimana mereka juga meyakini hal mustahil atas Allah SWT yaitu GERAK DAN BERPINDAH. Semua ini adalah mustahil bagi Allah SWT. Maha suci Allah dari pensifatan kaum jahil lagi sesat!

Tetapi pemaknaan yang benar tentang hadis-hadis Nuzûl/turun itu adalah bahwa yang turun itu adalah Malaikat pesuruh Allah SWT untuk menyerukan kepada penghuni langit dunia di waktu sahur/menjelang shubuh. Dan dalam bahasa Arab sah-sah saja menyandarkan sebuah pekerjaan tertentu kepada yang memerintahkan dilaksakannya pekerjaan itu walaupun ia tidak mengerjakannya sendiri. Seperti contoh misalnya: Obama menyerang Suria. Itu artinya bahwa Obama yang memerintahkan pasukannya agar menyerang negeri Muslim itu. Tidak mesti ia yang melakukannya sendiri![9]

Pengertian ini telah didukung oleh beberapa hadis shahih lainnya, seperti:

Hadis Pertama: Hadis riwayat Imam Nasa’i dalam as Sunan al Kubra,6/124 dengan sanad shahih dan ia juga dimuat dalam ‘Amalu al yaum wa al Lailah:30 hadis nomer.482 dari Abu Sa’id al Khudri dan Abu Hurairah bahwa keduanya berkata, “Rasulullah saw, bersabda:

إنَّ اللهَ  عز  و جل يُمْهِل حتَّى يمضِيَ شطر الليل الأَول ثم يأمر منادِيًا يُنادي يقول: هل مِنْ داعٍ فيستجاب له؟ هل مِنْ  مستغفِر  يُغْفَرُ  لهُ ؟ هل مِنْ سائلٍ يعطَى؟

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla- memberi tangguh sampai berlalu seperoh pertama malam, kemudian Dia memerintah penyeru agar menyerukan: ‘Adakah orang yang mau berdoa lalu diijabahkan untuknya? Adakah orang yang memohon ampunan lalu ia diampuni? Adakah orang yang meminta lalu ia diberi?”

Hadis Kedua: Hadis riwayat Ustman bin Abil ‘Âsh ats Tsaqafi, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

تُفتَحُ أبوابُ السماءِ نِصفَ الليلِ فينادي منادٍ: هل مِنْ  داعٍ  فيستجاب  له؟ هل مِنْ  سائلٍ فيُعطى ؟ هل مِنْ مكروبٍ فيُفرج  عنه؟ فلا يبقى مسلِمٌ يدعو بدعوةٍ إلا استجاب الله عز و جل إلا زانية تسعى بفرجِها أو عشارا.

 “Pintu-pintu langit dibuka di pertengahan malam lalu penyeru (malaikat) menyerukan, ‘Adakah orang yang mau berdoa lalu diijabahkan untuknya? Adakah orang yang meminta lalu ia diberi? Adakah seorang yang ditimpa bencana lalu ia dibebaskan darinya? Maka tiada seorang Muslim berdoa dengan doa tertentu melainkan Allah ijabahkan untuknya kecuali seorang wanita pezina yang menjajakan kehormatannya atau seorang ‘Assysâr.”

Hadis ini telah diriwayatkan oleh:

1)      Ahmad dalam Musnad-nya,4/22 dan 217.

2)      Al Bazzâr dalam Kasyfu al Astâr,4/44.

3)      Ath Thabarani dalam Mu’jam-nya,9/51

Dan masih banyak lainnya. Sanad hadis di atas shahih. Dan arti ‘asysyâr adalah seorang yang kerjanya memeras sepersepuluh harta orang atau tukang peras suruan penguasa.[10]

Hadis-hadis yang sangat gamblang di atas dengan tegas dan tanpa sedikit keraguan menetapkan bahwa yang turun ke langit dunia bukanlah Allah SWT seperti yang diyakini kaum Mujassimah Musyabbihah yang akidah sesaatnya sedang dijajakan Ustadz Firanda di tanah air tercinta ini.

Keangkuhan Dan Kejahilan Ustadz Firanda al Wahhâbi

Tentang hadis nuzûl yang dijadikan dalil oleh Ustadz Firanda sebagai dalil ketinggian fisikal Allah di atas makhluk-Nya, para ulama telah memberikan keterangan panjang lebar yang sudah semestinya sebagai pencari kebenaran memperhatikan dan menelitinya. Tetapi anehnya, Ustadz Wahhâbi yang satu ini sama sekali tidak memperhatikan dan mengubris keterangan para ulama tersebut. Kenyataan ini membuktikan kedegilan, keangkuhan dan kejahilan sikap! Sebab bagaimana ia menutup mata hatinya dari keterangan mereka, dan tetap sok hebat dengan menyimpulkan dan memaknai hadis tanpa hidayah dan petunjuk dengan keterangan para ulama yang mu’tabar serta bersinar dengan cahaya ulasan mereka!

Ustadz Firanda, dengan tanpa malu membanggakan penafsiran kaum Musyabbihah terhadap hadis di atas dan membelakangi pemahaman jumhûr ulama Islam! Firanda memahami dari hadis nuzûl bahwa Allah berada dan bertempat di atas! Dan pemahaman ini adalah pemahaman penganut Sekte Musyabbihah Mujassimah!

Dan untuk lebih jelasnya, saya ajak sobat abusalafy menyimak keterangan dua tokoh ulama Ahlusunnah yang sangat dibenci dan diserang oleh penganut Sekte Wahhâbi Salafi karena sikap mereka yang tegas memaparkan dan menelanjangi kesesatan kaum Mujassimah Musyabbihah seperti Wahhâbi Salafi! Mereka adalah Muhyiddîn an Nawawi dalam syarah Shahih Muslim dan al Hafidz Ibnu Hajar al Asqallâni dalamFathu al Bâri Bi Syarhi Shahîh al Bukhâri.

  • Keterangan An Nawawi

“Sabda Nabi saw.:

ينزلُ ربُّنا كلَّ ليلةٍ  إلى سماء الدنيا …

“Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia lalu berkata, ‘Adakah orang yang menyeru-Ku maka Aku akan ijabahkan untuknya.’”

Hadis ini termasuk Hadis-hadis Shifât. Tentangnya ada dua aliran/pendapat ulama yang terkenal. Telah lewat ketarangan lengkap tentangnya pada Kitabul Îmân, kesimpulannya adalah sebagai berikut:

Aliran Pertama: adalah mazhab Jumhûr Salaf dan sebagian Ahli Kalam bahwa hadis-hadis seperti itu harus diimani bahwa ia adalah haq/benar sesuai dengan makna yang pantas bagi Allah. Dan jelas bahwa dzahir maknanya yang berlaku pada kita bukanlah yang dimaksud. Mereka tidak melibatkan diri dalam menakwilkannya dengan tetap meyakini Kemaha Sucian Allah dari sifat-sifat makhluk dan Maha Suci dari BERPINDAH DAN BERGERAK dan seluruh sifat makhluk.

Aliran Kedua: yaitu mazhab kebanyakan Ahli Kalam dan sekelompok Salaf, dan ia adalah mazhab yang telah dinukil dari (Imam) Malik, al Auza’i. Hadis-hadis itu harus ditakwil dengan makna yang pantas sesuai dengan masing-masing teksnya dalam hadis-hadis tersebut. Atas dasar itu, mereka menakwilkan hadis ini (hadis nuzûl) dengan dua takwil:

Pertama, adalah takwil Malik bin Anas dan ulama lainnya. Hadis itu maknanya adalah: TURUNNYA RAHMAT DAN PERINTAH SERTA MALAIKAT ALLAH. Seperti dikatakan: ‘Si Sultan melakukan ini dan itu.’ Sedangkan yang melakukannya adalah pendukung dan pengikutnya.

Kedua, kalimat itu adalah isti’ârah/kata pinjam. Maksudnya adalah menunjukkan bahwa Allah memberikan perhatian-Nya kepada para pendoa dengan mengijabahkan dan berlemah lembut kepadanya. Allahu A’lam.”[11]

Abu Salafy:

Dari keterangan lugas an Nawawi di atas dapat dimengerti beberapa poin:

  • Poin pertama, bahwa hadis-hadis nuzûl termasuk hadis-hadis shifat yang telah disikapi dengan dua sikap oleh para ulama Islam baik Salaf maupun Khalaf… baik Ahli hadis maupun Mutakallimûn.
  • Poin Kedua, Mereka semua tetap menetankan prinsip Kemaha Sucian Allah dari sifat makhluk, khususnya TURUN yang tidak dapat dipisah dari pengertian GERAK DAN BERPINDAH DARI TEMPAT YANG TINGGI KEPADA TEMPAT YANG LEBIH RENDAH!!
  • Poin ketiga, Imam Malik (salah seorang ulama Salaf yang sering kali namanya dicatut oleh Wahhâbi Salafi untuk mendukung kesesatan akidahtajsîm dan tasybîh mereka, tentunya dengan mempelesetkan ucapan beliau) telah menakwil makna kata nuzûl/turun dengan turunnya rahmat, perintah dan malaikat Allah! Bukan Allah yang turun! Penakwilan Imam Malik ini adalah bukti bahwa diantara Salaf ada yang menakwil. Tidak seperti Salafi Wahhâbi yang mengecam takwil.
  • Keterangan Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqallâni

Ketika menerangkan hadis nomer 1145 pada Bab ad Du’â’ wa ash Shalâh Min Âkhiril Lail/Doa dan Shalat Di Waktu Akhir Malam, Ibnu Hajar menerangkan:

 ينزلُ ربُّنا كلَّ ليلةٍ  إلى سماء الدنيا

“Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia”

Dengannya berdalil orang yang menetapkan untuk Allah arah. Ia berkata, ‘Arah itu adalah arah atas. Sementara JUMHUR ULAMA  menentangnya. Karena pendapat itu menyeret kepada keyakinan bahwa Allah BERLOKASI, Maha Suci Allah  dari berlokasi.

Abu Salafy:

Dari keterangan Ibnu Hajar di atas dapat kita saksikan bahwa anggapan bahwa Allah itu berada di arah atas adalah pendapat yang ditentang oleh JUMHUR ulama Islam! Ia adalah pendapat kaum Musyabbihah seperti akan dipertegas oleh Ibnu Hajar dengan keterangan lanjutannya di bawah ini:

Dan telah diperselisihkan tentang makna NUZÛL/TURUN dalam beberapa pendapat:

  • Di antara mereka ada yang mengartikan dengan dzahir dan hakikat makna kata itu. Mereka itu adalah KAUM MUSYABBIHAH! Maha Suci Allah dari anggapan mereka itu.
  • Di antara mereka ada yang menolak secara total hadis-hadis yang datang tentang masalah ini. Mereka adalah kaum Khawarij dan Mu’tazilah. Sikap ini adalah mukâbarah/penolakan tanpa dasar!
  • Di antara mereka ada yang memberlakukan sesuai dengan redaksi yang datang, mengimaninya dengan tetap berpegang dengan prinsip PENYUCIAN ALLAH dari kaifiyyah dan tasybîh! Ini adaklah mazhab mayoritas Salaf.
  • Di antara mereka ada yang menakwilkannya dengan takwil yang sesuai dan berlaku dalam pembicaraan orang-orang Arab.

Abu Salafy:

Setelahnya, Ibnu Hajar menyebutkan keterangan Ibnu al Arabi yang menyebutkan tiga aliran seperti disebutkan di atas: (1) menolak hadis. (2) menyerahkan makna hadis dan tidak memaknainya dengan makna apapun. (3) menakwilkannya. Dan pendapat terakhir ini yang ia pilih.

Dan setelahnya Ibnu Hajar menyimpulkan: “Al Hashil, intinya bahwa ia ditakwilkan dengan dua makna: (pertama), makna turun di sini adalah turunnya perintah atau malaikat Allah atas perintah-Nya. Atau (kedua) adalah kata isti’ârah dengan makna Kelemah-lembutan Allah kepada para pendoa dengan mengijabahkan doa mereka dan semisalnya.

Dan Abu Bakar bin Faurak telah mengkhikayatkan bahwa sebagian masyâikh/guru besar hadis telah membaca kata:  ينزل dengan membaca dhammah huruf pertamanya: يُنزل(yang artinya: menurunkan) maksudnya menurunkan malaikat. Bacaan ini dikuatkan oleh riwayat an Nasa’i… dan hadis Utsman bin Abi al ‘Âsh… .” (kemudian beliau menyeburtkan dua hadis yang telah saya sebutkan sebelumnya)

… Ibnu Hajar juga mengutip keterangan Imam al Baidhawi sebagai mengatakan, “Karena telah tetap berdasarkan bukti-bukti pasti bahwa Allah Maha Suci dari bersifat Jism dan berlokasi maka mustahil bagi Allah TURUN dengan arti berpindah dari sebuah tempat ke tempat lain yang lebih rendah. Jadi maknanya adalah turunnya rahmat Allah. … “[12]

Abu Salafy:

Dari keterangan panjang yang sengaja saya sebutkan ini dapat dimengerti bahwa masalah nuzûlnya Allah SWT telah difahami para ulama Islam (selain penganut Sekte Mujassimah Musyabbihah) dengan makna yang sesuai dengan Kemaha Sucian Allah dari bertempat, berlokasi di atas, bergerak dan berpindah. Sebab arti kata nazala dalam bahasa adalah turun dengan bergerak dan berpindah dari sebuah tempat ke tempat lain yang lebih rendah! Maka jika kita mengartikan kata nazala tidak dengan makna bahasa di atas berarti kita telah menakwilkannya. Dan apabila ada yang mengartikan kata nazala dengan arti bahasanya –seperti yang dilakukan oleh penganut Sekte Wahhâbi- maka ia tidak bisa lari dari konsekuensinya yaitu bergerak dan berpindah. Dan jika ia mengelak dengan mengatakanturun tidak seperti turunnya apapun atau siapapun, maka pengelakan itu adalah sikap dagelan yang tidak lucu! Sebab jika mereka mengatakan: harus mengartikan kata nazala dengan arti bahasanya, maka arti kebahasaan itu tidak dapat dipisahkan dari konotasi gerak dan turun! Dan selama mereka menolak prinsip takwil dalam menyikapi ayat atau hadis shifat maka mau tidak mau mereka telah terjebak dalam Tajsîm danTasybîh dan segala konsekuensinya! Maha Suci Allah dari sifat-sifat kekurangan dan kehinaan.

Khulashatul Kalâm

Dan akhirnya, setelah panjang lebar menanggapi syubhat-syubhat Ustadz Firanda, dapat Anda saksikan bagaimana berguguran satu demi satu apa yang dibanggakan Ustadz Firanda sebagai dalil. Dan apa yang ia paksakan atas nama Islam… atas nama Al Qur’an dan Sunnah… atas nama Akidah Salaf Shaleh… ternyata tidak lain hanya akidah sesat kaum Mujassimah Musyabbihah yang telah dikecam ulama Islam di sepanjang zaman!

Semoga ketarngan ini dapat memelekkan mata-mata yang masih terhalang dari menyaksikan cahaya kebenaran dan membuka hati yang tertutup akibat kejahilan, fanatisme dan ketertipuan oleh kesesatan kaum sesat! Amin.

Dan kita akan berjumpa lagi insya Allah dalam kesempatan lain untuk menanggapi sisa-sisa syubhat-syubat yang dicecer Ustadz Firanda. Nantikan!

(Bersambung Insya Allah)


[1] Kitab at Tauhid:75-76.

[2] Ihyâ’ ‘Ulûlid Dîn,1/107. Dâr al Ma’rifah. Lebanon.

[3] Ithâf as Sâdah al Muttaqîn Bi Syarhi Ihyâ’i ‘Ulûmid Dîn,2/170. Dar al Kotob al Ilmiyah. Beirut-Lebanon.

[4] Syeikh ath Thurthusyi nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin al Walîd al Andalusi al Maliki (w.520 H)

[5] Ibid.5/244.

[6] Syarah Muslim,5/24.

[7] Syarah al Fiqhi al Akbar:199.

[8] Isyârât al Marâm:198.

[9] Maaf, saya menyebutkan contoh seperti di atas, walaupun kemudian saya beristighfar karena tangan saya telah mengetik nama Presiden yang tangannya telah berlumuran darah kaum Muslimin baik di Afganistan, Irak, Suria dan negeri-negeri lainnya.

[10] Lihat Lisânul Arab,6/261.

[11] Syarah Shahih Muslim; oleh Imam Nawawi,6/36-37.

[12] Fathu al Bâri,6/36-37.

NO COMMENTS