Membangun Kuburan Orang-Orang Suci, Bolehkah? (3-selesai)

0
1,271 views

kuburan-nabi-yunusSalah satu yang cukup menghebohkan belakangan ini adalah penghancuran dan penjarahan makam Nabi Yunus as di Mosul oleh kelompok ISIS. Dengan beringasnya mereka merusak bangunan indah makam tersebut yang tentu saja dibangun sebagai tanda penghormatan kepada Nabi Yunus as. Mereka beralasan bahwa membangun kuburan adalah sebagai bentuk penyembahan kepada makhluk dan kesyirikan yang nyata. Tentu saja pendapat ini bukan hal yang baru, karena pandangan seperti ini dianut oleh kelompok-kelompok takfiri sebelum ISIS berdiri. Karena itu pada kesempatan ini, LI akan menganalisis masalah membangun kuburan para nabi dan rasul, wali, ulama, serta orang-orang saleh lainnya, agar kita tidak terjebak pada sikap ekstrim kaum jihad-takfiri ini yang mengatasnamakan agama.

 

C. Menghargai Peninggalan Orang-Orang Suci

”Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian makam Ibrahim sebagai tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku (ini) untuk orang-orang yang melakukan tawaf, yang beriktikaf, yang rukuk, dan yang sujud.” (Qs. Al-Baqarah [2]:125)

Kita tahu bahwa maqam Ibrahim (di Mekkah itu) hanyalah bekas kakinya, tetapi Allah memerintahkan manusia untuk menjadikannya tempat salat. Jika membangun dan salat di tempat bekas kakinya Ibrahim as, sesuatu yang dibolehkan bahkan dianjurkan, maka bagaimana mungkin membangun atau salat di dekat kuburan Ibrahim as di Palestina sebagai syirik. Namun demikian, karena Allah swt telah menentukan kiblat kita ke Ka’bah, maka tidak boleh menjadikannya sebagai kiblat bagi kita. Artinya, yang perlu dipahami bahwa menghormati kuburan dengan sendirinya tidak dapat dinilai sebagai perbuatan syirik, sebagaimana menghormati atau salat dan sujud di hadapan Ka’bah tidak dimaknai menyembah dan beribadah kepada Ka’bah. Secara lahir, Ka’bah juga hanyalah tumpukan batu, namun kita harus menjaga dan meghormatinya. Lantas bagaimana jika yang disitu adalah kuburan tempat jasad Nabi Ibrahim as, atau jasad Rasulullah saw?

Ibnu Uqail al-Hanbali ditanya mana yang lebih utama, kubur Nabi saw atau Ka’bah? Maka ia mejawab, “Jika yang engkau kehendaki itu hanya kuburan, tentu Ka’bah lebih utama. Namun jika yang engkau kehendaki itu orang yang menjadi penghuni kubur, yakni Nabi saw, demi Allah, tiada akan ada suatu pun yang menandingi, baik itu Arsy, malaikat penyangganya, surga atau cakrawala tempat beredarnya planet, karena di dalam kubur itu terdapat tubuh yang kalau ditimbang dengan bumi dan seluruh langit, dia akan lebih berat.” (Sayid Al-Maliki, Membela Sunnah Nabi, 2013, hal. 304)

Sayid Muhammad Alwi al-Maliki menegaskan, “Menjaga dan melestarikan barang-barang peninggalan Rasulullah saw adalah besar sekali manfaatnya. Dengan atsar itu, akan diketahui kebesaran umat Islam, menghilangkan skeptis atas kredibilitas para pelakunya, khususnya dinamika mereka sebagai lokomotif penggerak gerbong revolusi cara berpikir, menyangkut yang rasional ataupun irrasional, menunjukkan leadership yang begitu rapi. Dengan demikian mengabaikan situs kepurbakalaan adalah bagian degradasi dalam menantang kehadiran dunia modern. Suatu warisan yang begitu artistik yang telah meresap dalam jiwa bangsa yang bertauhid, akan menyakitkan hati mereka yang merasa memiliki Islam jika barang-barang itu tersia-siakan, di mana tidak diragukan lagi, barang atau situs peninggalan itu akan merias keagungan umat yang mengaku bertamaddun tinggi. Kita pun tentu amat kecewa jika saja indikasi yang menampakkan keotentikan agama ternyata telah sirna, tak pelak lagi, mungkin lambat laun kharisma umat itu sendiri akan pudar dan surut kemudian tidak dikenal orang” (Sayid Al-Maliki, Membela Sunnah Nabi, 2013, hal. 319)

Jadi bagi Sayid al-Maliki memelihara peninggalan Nabi saw—dan tentu juga para Nabi lainnya dan orang-orang saleh—merupakan sebagai usaha untuk menjaga keotentikan agama. Dan menghancurkannya sama dengan menghancurkan keotentikan agama. Alquran sendiri mengindikasikan otentisitas agama dengan keseriusan menjaga peninggalan para Nabi, seperti misalnya Tabut Nabi Musa as, “Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka, ‘sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya Tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa da keluarga Harun; Tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (Q.S. al-Baqarah: 248)

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini menyatakan bahwa Tabut tersebut memiliki potensi yang begitu besar, mereka taruh di garda depan balatentara hingga mereka mendapat kemenangan berkat tawassul kepada Allah swt, atau bertawassul dengan benda yang berada di dalamnya. Mereka tidak berperang melainkan Tabut itu mesti menyertai mereka. Dalam sisi ini Allah sendiri mengabarkan tentang fungsi dan isinya bahwa di dalamnya terdapat ketenangan ilahiyah dan beberapa barang peninggalan para Nabi, diantaranya tongkat abi Musa, tongkat Nabi Harun, pakaiannya, dua terompah dan dua papan dari kitab Taurat.

Begitulah Tabut menjadi salah satu bagian penting peninggalan Nabi Musa yang bersamanya kaum Yahudi selalu memperoleh kemenangan dalam peperangan. Sekarang perhatikan kisah sahabat Nabi saw, Khalid al-Walid yang diriwayatkan oleh at-Thabraniy berikut ini :

“Dari Ja’far bin Abdullah bin al-Hakam bahwa Khalid bin Walid kehilangan kopiahnya di peperangan Yarmuk. Maka ia memerintahkan pasukannya, ‘carilah’, namun mereka tidak menemukanya. Tapi ia berkata lagi, ‘carilah!’ hingga akhirnya mereka meemukannya, seuah kopiah yang sudah lusuh. Maka Khalid berkata, “Dahulu Rasulullah saw melakuka umrah dan mecukur rambutnya. Maka orang-orang berkeliling untuk mendapatkan rambut beliau. Pada saat itu, aku medahului mereka mengambil rambut bagian ubun-ubun beliau. Kemudian aku letakkan rambut tersebut dalam kopiah ini, maka tidaklah aku berperang dengan kopiah ini bersamaku, kecuali aku memperoleh kemenangan.” (H.R. Thabraniy)

Tentang menjaga dan menghormati rambut Nabi saw setelah beliau wafat juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahih-nya berikut ini :

“Dari Usman bin Abdullah bin Muhib yang berkata, ‘Keluargaku mengutusku pada Ummu Salamah untuk membawa air dalam suatu wadah. Maka Ummu Salamah membawakan lonceng besar dari perak, di dalamnya ada rambut Rasulullah saw, yang mana jika ada seseorang yag sakit mata atau lainya, maka diutuslah seseorang kepada Ummu Salamah dengan membawa wadah (untuk tempat air). Usman berkata, ‘Aku melihat ke dalam lonceng besar itu, di dalamnya ada beberapa helai rambut merah” (H.R. Bukhari kitab al-Libas, no. 5446)

Begitulah perhatian dan peghormatan para sahabat dan Isteri Rasulullah saw terhadap salah satu bagian dari tubuh Rasulullah saw, yakni beberapa helai rambutnya. Mereka letakkan secara terhormat di dalam kopiah atau membuat tempat seperti lonceng untuk menjaganya. Lantas, bagaimana jika yang ada adalah seluruh jasad Rasulullah saw atau para Nabi lainya? Apakah tidak layak kita membuatkan tempat untuk menjaga dan menghormatinya? Jika baju, tongkat, cincin, pedang, sendal, rambut dan lainnya dari peninggalan para Nabi dan orang-orang suci lainnya merupakan hal baik untuk dilestarikan dan dibuatkan tempat untuk menjaganya seperti museum, maka bagaimana dengan jasad orang-orang suci tersebut, apakah tidak layak kita persiapkan tempat yang indah untuk menjaganya dan untuk menarik perhatian umat akan perjuangan mereka menegakkan agama, kebenaran dan keadilan. Perhatikanlah wahai orang-orang yang berpikir.Selesai. (hd/liputanislam.com)


Mari share berita terpercaya, bukan hoax
sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS