Membangun Kuburan Orang-Orang Suci, Bolehkah? (1)

0
552 views

kuburan-nabi-yunusSalah satu yang cukup menghebohkan belakangan ini adalah penghancuran dan penjarahan makam Nabi Yunus as di Mosul oleh kelompok ISIS. Dengan beringasnya mereka merusak bangunan indah makam tersebut yang tentu saja dibangun sebagai tanda penghormatan kepada Nabi Yunus as. Mereka beralasan bahwa membangun kuburan adalah sebagai bentuk penyembahan kepada makhluk dan kesyirikan yang nyata. Tentu saja pendapat ini bukan hal yang baru, karena pandangan seperti ini dianut oleh kelompok-kelompok takfiri sebelum ISIS berdiri. Karena itu pada kesempatan ini, LI akan menganalisis masalah membangun kuburan para nabi dan rasul, wali, ulama, serta orang-orang saleh lainnya, agar kita tidak terjebak pada sikap ekstrim kaum jihad-takfiri ini yang mengatasnamakan agama. Tulisan ini dibuat dalam beberapa bagian.

—————–

A. Pelajaran dari Kisah Ashabul Kahfi

Alkisah bahwa sekelompok pemuda yang pandai dan beriman, yang hidup dalam kondisi sangat menyenangkan, nyaman dan sejahtera, dengan segala macam anugerah dan fasilitas, demi melindungi iman dan kesalehan mereka dan menentang penguasa yang tidak sah, telah meninggalkan semua kesenangan tersebut dan mencari perlindungan ke dalam sebuah gua demi menjaga kelurusan iman mereka dan ketabahan mereka di jalan iman. Tanpa mereka sadari mereka tertidur selama ratusan tahun di dalam gua tersebut. Saat mereka terbangun dan merasakan  kelaparan, seseorang diperintahkan untuk mencari makanan sambil mencari informasi yang beredar di kota mereka. Begitu pemuda tersebut masuk ke dalam kota, ia merasa heran dengan perubahan yang ada, seperti bangunan-bangunan rumah yang berubah, cara bicara, gaya pakaian, adat kebiasaan, dan aturan-aturan bersikap yang tidak sama seperti saat mereka meninggalkannya. Bahkan tidak ada satupun orang di kota yang dikenalnya lagi. Puncaknya, saat ia membeli makanan, uang yang dibayarkannya tidak berlaku lagi karena uang itu berasal dari tiga ratus tahun yang lalu. Gambar yang ada di uang itu adalah gambar raja zalim tiga ratus tahun yang lalu, sedangkan sekarang, penguasa mereka adalah seorang raja yang soleh dan baik.

Dengan penuh keheranan ia kembali ke gua dan mengabarkan semuanya kepada teman-temannya. Mereka semua terkejut dan sulit memahaminya. Mereka kemudian meminta kepada Allah agar mereka disegerakan bertemu dengan Allah swt, dan Allah mengabulkannya. Mereka meninggal dunia di dalam gua tersebut. Para pemuda ini dikenal dengan nama ashabul kahfi, dan kisah kehidupan mereka ini disebut Allah sebagai tanda kekuasaan-Nya yang menakjubkan, “Atau apakah engkau mengira bahwa para penghuni gua dan (pemilik) batu bersurah adalah tanda-tanda kekuasaan Kami yang menakjubkan” (Q.S. al-Kahfi: 9).

Dengan cepat berita tentang pemuda yang datang ke pasar itu menyebar di tengah-tengah masyarakat. Mereka beramai-ramai menuju gua dan menyaksikan para pemuda yang telah wafat. Maka terjadilah perselisihan pendapat tentang apa yang akan dilakukan pada gua ashabul kahfiyang menjadi makam pemuda-pemuda beriman tersebut? Muncullah dua pendapat. Sebagian menyatakan agar mereka membangun monumen di atas gua yang menjadi kuburan mereka. Sedangkan sebagian lainnya yang sadar akan rahasia dan keutamaan para pemuda tersebut menyarankan agar dibangun mesjid (tempat ibadah), agar kenangan terhadap mereka tidak dilupakan orang,Alquran menceritakan, Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka,sebagian mereka berkata, “Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.” Tetapi orang-orang yang mengetahui rahasia mereka berkata, “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah masjid di atas mereka” (Q.S. al-Kahfi: 21)

Dengan jelas Alquran menyebutkan pendapat mereka dan tidak mengkritiknya sama sekali. Ini menunjukkan bahwa membangun sebuah kuburan dan tempat peribadatan untuk menghormati makam para wali dibolehkan dan mulia di sisi Allah swt. Sebab, jika hal itu terlarang, maka sudah pasti Alquran akan mengkritik dan menyangkalnya.Jadi,Alquran secara tegas menyebutkan dan mendukung kisah Ashab al-Kahfi dan kisah tentang pembangunan masjid di atas kuburan mereka.

Namun, belakangan ini, dunia Muslim dikejutkan dengan munculnya gerakan jihadi-takfiri ISIS yang merusak ketenangan di bumi Irak. Gerakan ISIS ini mirip seperti ZionIS-ISrael yang tak memiliki tanah tetapi ingin merampas tanah negara yang sah. Jika ZionIS-ISrael ingin merampas tanah Muslim Palestina, maka ISIS, ingin merampas tanah Muslim Suriah dan Irak. Bahkan belakangan, gerakan ini tidak hanya menargetkan Suriah dan Irak, tetapi menjadi gerakan mendunia, termasuk ingin dieksport ke Indonesia. Berbagai dukungan dan bai’at (sumpah ketaatan) dari beberapa kelompok Islam di Indonesia tersebar dibeberapa daerah. Baru-baru ini ada video bai’at yang dilakukan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga penyebaran video yang menunjukkan orang Indonesia yang telah bergabung dengan pasukan ISIS di Irak dan mengajak umat Islam Indonesia untuk bergabung dengan mereka. Karena itu umat Islam Indonesia harus waspada, dan pemerintah harus tegas mengawasinya. Sebab, gerakan mereka di Irak telah menumpahkan darah kaum Muslim. Aneh in ajaib, mereka memerangi umat Islam Irak, tetapi sama sekali tak peduli dan tak berani menyerang ZionIS-ISarel yang telah dengan nyata-nyata memerangi dan membunuhi kaum Muslim Palestina. Lagi-lagi ada titik kesamaan yang nyata antara ISIS dan ZionIS-ISrael. Jika ZionIS-ISrael membunuhi muslim Palestina, maka ISIS membunuhi muslim Irak dan Suriah.

Begitu pula, jika ZionIS-ISrael menghina Masjid suci al-Aqsha, maka ISIS menghina dan menghancurkan tempat-tempat suci yang dibangun untuk menghormati para Nabi dan para wali. Sebab, di antara yang menjadi sasaran penghancuran ISIS adalah situs-situs suci umat beragama. Misalnya, makam Nabi Yunus as yang belakangan ini video penghancurannya oleh ISIS disebarkan di dunia maya. Padahal seperti dikisahkan di atas, Alquran tidak melarang pembangunan Masjid di makam ashabul kahfi, dan tentu saja Nabi Yunus as lebih mulia dari ashabul kahfi. Demikian pula, Islam mengajarkan untuk menghormati setiap peninggalan para Nabi, wali, dan orang-orang saleh, karena merupakan dari tanda-tanda kekuasaan Allah swt dan syiar-syiar ajaran Islam. untuk berikutnya pada bagan kedua akan dibahas makna syiar Allah swt tersebut sebagai bukti bolehnya mendirikan bangunan di makam para manusia suci. (hd/liputanislam.com)


Mari share berita terpercaya, bukan hoax
sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS