Lebih Dekat Mengenal Abu Sufyan (Bagian:1)

0
2,242 views

firanda wahabi

Mengenal Lebih Dekat Gembong Kaum Kafir dan Penganjur Ke Dalam Api Neraka Kebanggaan Ustadz Firanda!

Tanggapan Atas Pembelaan Ustadz Firanda Kepada Abu Sufyân Dan Mu’awiyah

Abu Sufyan Adalah Gembong Kaum Kafir Musuh Bebuyutan Nabi Islam!

Dalam bantahannya atas kami yang ia tulis dengan judul:

Tipu Muslihat Abu Salafy (bag 5), “Perkataan Abu Salafi : Abu Sufyan Kafir Bahkan Gembong Orang-orang Kafir??!!”

Ustadz Firanda berkata:

Abu Salafy berkata : ((Mu’awiyah putra Abu Sufyan -salah seorang aimmah kekafiran dan buah kemunafikan yang masih tersisa dan selamat dari tajamnya pedang para sahabat-)) (lihathttp://abusalafy.wordpress.com/2011/01/15/ustadz-firanda-kebakaran-jenggot/)

Abu salafy:

Yang mengatakan bahwa Abu Sufyan sebagai salah seorang aimmatul kufri yang masih tersisa bukan kami….  tetapi adalah para sahabat dan tabi’in (yang biasanya Anda banggakan sebagai Salaf Shaleh!).

Kami tidak akan menyita banyak waktu pembaca. Kami akan mengajak Anda dan para pemerhati untuk merenungkan bukti di bawah ini! Namun sebelumnya kami akan perkenalkan nama lengkap Abu Sufyan dan nasabnya agar menjadi jelas bagi Anda..

Abu Sufyân, Nama dan Sebagian Sifat dan Prilakunya!

Nama lengkapnya adalah Shakhr bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams. Abu Sufyan sepuluh tahun lebih tua dari nabi saw. dan hidup dua puluh tahun setalah wafat Nabi saw. … wafat tahun 31 H ada yang berpendapat: tahun 30 ada yang mengatakan tahun 33 atau 34 H dalam usia sembilan puluh tahun.”

Tafsir Salaf Shaleh Tentang Ayat 12 Surah at Taubah

Allah SWT berfiman

وَ إِنْ نَكَثُوا أَيْمانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَ طَعَنُوا في‏ دينِكُمْ فَقاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لا أَيْمانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ

Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (QS. At Taubah [9];12)

Para mufassir Salaf; sahabat dan tabi’în sepakat bahwa yang dimaksud dengan:pemimpin-pemimpin orang-orang kafir” dalam ayat di atas adalah Abu Sufyan.

Imam an Naisaburi dalam tafsir Gharâib al Qur’ân-nya[1],:Barang siapa yang sikap penipuan, tidak menepati janji dan tidak punya rasa malunya separah ini maka pasti ia sangat kental/mendalam dan terdepan dalam kekafirannya.. tiada tertandingi oleh orang kafir lainnya. Ada yang berpendapat bahwa ia khusus untuk pimpinan-pimpinan kaum kafir, sebab yang lainnya hanya mengekor saja.”

.

Siapa Gerangan Yang Dimaksud Pemimpin-pemimpin Kaum Kafir Yang Harus Diperangi?

Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa merekka adalah para gembong kekafiran. Para ulama telah menyebut nama-nama pemimpin kekafiran (ingat bukan sekedar pemimpin kaum kafir!). dan setiap kali para mufassir Ahlusunnah menyebut nama-nama mereka, tidak pernah ketingalan menyebut nama Abu Sufyan (Gembong kaum Kafir yang dibanggakan Ustadz Firanda sesuai doktrin yang ia terima dari paraMasyâikh Nawâshib) di Kampusya! Bahkan ada yang hanya menyebut nama Abu Sufyan seorang!

Untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti keterangan para mufassir Ahlusunnah generasi Salaf!

Imam Ibnu Jarir ath Thabari berkata, “Allah Yang Maha Tinggi sebutan-Nya berfirman, “Jika mereka dari kalangan suku Quraisy yang telah kalian ikat dengan janji itu merusak janji mereka setelah kesepakatan untuk tidak memerangi kalian dan tidak membela musuh-musuh kalian dan {mereka mencerca agamamu} mereka mengecam agama kalian; Islam dan mencaci dan melecehkannya, {maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu}

Setelah menjelaskan sepintas maksud kalimat-kalimat dalam ayat di atas, beliau menyebutkan sederetan riwayat tafsir Salaf yang keseluruhannya menyebut Abu Sufyan sebagai salah satu dari “Gembong-gembong Kekafiran!” ia berkata dengan pasti, “Sebagian ahli tafsir berkata, ‘Mereka adalah Abu Jahl bin Utbah bin Hisyâm, Utbah bin rabî’ah, Abu Sufyan bin Harb dan yang semisalnya. Dan adalah Hudzaifah berkata, “Yang dimaksud dalam ayat ini belum datang.” (maksudnya masih ada yang belum diperangi hingga mati.. masih ada yang gentayangan hidup di tengah-tengah umat Islam dalam keadaan aman_pen)

Kemudian Imam ath Thabari berkata, “Menyebut para ahli tafsir yang berpendapat bahwa mereka adalah yang telah disebut nama-nama mereka….

Lalu beliau menyebutkan riwayat tafsir dari:

  • Dari Sa’di dari Qatadah, ia berkata, “Dan di antara para Aimmatul Kufriadalah Abu Jahl bin Hisyam bin Umayyah, Umayyah bin Khalaf, Utbah bin rabi’ah, Abu Sufyan dan Suhail bin ‘Amr. Dan merekalah orang-orang yang telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul.”
  • Dari Tsaur dari Ma’mar dari Qatadah, ia berkata, “para Aimmatul Kufriadalah Abu Sufyan, Abu Jahl, Umayyah bin Khalaf, Suhail bin ‘Amr dan Utbah bin Rabî’ah.
  • Dari Abu Bisyr dari Mujahid tentang ayat ini: {maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu} ia berkata, “Abu Suyfan dari mereka yang dimaksud.”.
  • Dari Abdurrazzâq dari Ma’mar dari Qatadah tentang ayat ini: {maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu} ia berkata, “Abu Sufyan bin Harb, Umayyah bin Khalaf, ‘Utbah bin Rabî’ah, Abu Jahl bin Hisyam dan Suhail bin ’Amr. Merekalah yang telah merusak perjanjian dengan Allah  dan yang telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul.”

Setelahnya beliau menyebutkan riwayat pernyataan Hudzaifah bin al Yaman ra. yang telah beliau singgung sebelumnya dengan tiga sanad/jalur.

Dengan sanad bersambung kepada Zaid bin Wahb dari Hudzaifah, “Maka perangilah pemimpin-peminpin orang-orang kafir” ia berkata, “Pemilik (mereka yang dimaksud dalam) ayat ini belum diperangi hingga saat ini.”[2]

Imam Jalaluddîn as Suyuthi dalam tafsir ad Durr al Mantsûr-nya[3] telah merangkum banyak riwayat, di antaranya adalah yang telah disebutkan ath Thabari di atas, dan beliau menambahkan beberapa lainnya dari para sahabat dan tabi’în. Di antaranya:

  1. Dari sahabat Ibnu Umar ra. ia berkata tentang ayat: “Maka perangilah pemimpin-peminpin orang-orang kafir” Abu sufyan dari mereka yang dimaksud. (HR. Ibu Abi Hatim, Abu Syaikh dan Ibnu Mardawaih.).
  2. Dari Zaid bin Wahb ra. tentang ayat:{Maka perangilah pemimpin-peminpin orang-orang kafir}, “Kami berada di sisi Hudzaifah ra. lalu ia berkata, “Tidak tersisa (masih hidup _pen) dari yang dimaksud dengan ayat ini (yang turun berkenaan dengan mereka_pen) kecuali tiga orang dan tidak tersisa dari orang-orang munafik (yang hidup di masa hidup Nabi saw._pen) kecuali empat orang.” ….. “  (HR. Ibnu Abi Syaibah, Imam Bukhari dan Ibnu Mardawaih.).

.

Abu Salafy:

Ustadz Firanda yang mulia, apa yang aneh dari kalimat yang kami tulis sehingga Anda sekali lagi kebakaran jenggot membacanya: Abu Salafy berkata: ((Mu’awiyah putra Abu Sufyan -salah seorang  aimmah kekafiran dan buah kemunafikan yang masih tersisa dan selamat dari tajamnya pedang para sahabat-)) dan kemudian Anda berkata: “Wahai Ustadz Abu Salafy, kenapa anda begitu berani mencaci maki Abu Sufyaan radhiallahu ‘anhu?”

Dan setelahnya Anda berpidato seakan sedang latihan di hadapan kaum Muallaf di Papua sana?!

Bukankah Sahabat Hudzaifa bin al Yamân yang mengatakan bahwa pemilik ayat itu belum sempat diperangi habis oleh kaum Muslimin!

  • Bukankah Khalifah Umar bin al Khaththab ra pernah berkata menegaskan bahwa: Abu Sufyan adalah musuh Allah‘aduwwullah! Seperti diriwayatkan dalam kitab Muntakhab Kanzul ‘Ummâl.[4]
  • Bukankah Ibnu Abbas ra,. telah berkata meperkenalkan kepada kita semua siapa sejatinya Abu Sufyan. Ia berkata, Sesungguhnya Abu Sufyan adalah Pemimpin kemusyrikan sampai kematiannya. Demikian dilaporkan oleh al Balâdzuri dalam Ansâb al Asyrâf-nya.[5]
  • Abul Faraj al Isfahani –salah seorang ulama besar Ahlusunnah- dalam kitabal Aghâni-nya[6] mengatakan: Abu Sufyan adalah Shakhr bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams. Ia adalah salah seorang pemimpin perang Ahzâb melawan Rasulullah saw. dan dia adalah Gua/pelindung kaum munafik di masa hidup Nabi saw.

Karena para sahabat dan kaum Muslimin generasi awal yng hidup di zaman nabi saw. telah mengenal siapa sejatinya Abu Sufyan, maka mereka tidak menghargainya dan bahkan tidak sudi bermesraan dengannya. Perhatikan riwayat Imam Muslim di bawah ini:

.

كان المسلمون  لا ينظرون إلَى أبي سفيان ولا يُقاعِدونه.

“Adalah kaum Muslimin tidak menganggap Abu Sufyan dn tidak pula mengajaknya duduk-duduk bersama-sama.”[7]

.

Kenapa Anda mendadak menjadi berseberangan dengan sahabat mulia kepercayaan Nabi saw. demi membela Abu Sufyan? Mengapakah Anda lebih membela Abu Sufyan dan membuang jauh-jauh sikap para sahabat terhadap Abu  Sufyan?! Apakah karena Abu Sufyan ayah Mu’awiyah Si Pemimpin Kelompok Penganjur kepada Neraka yang dengan kezaliman memberontak Khalifah yang sah; Ali bin Abi Thalib ra.? Apakah karena Abu Sufyan kakeknya Yazid yang membantai Imam Husain dan keluarga Nabi saw. di padang Karbala? Yazid yang menyerang kota suci Madinah dan menghalalkan bagi pasukannya untuk berbuat apa saja sekehendak nafsu iblis mereka, sehingga mereka membunuh kaum Msulimin tidak berdosa, menghabisi sisa-sisa sahabat Anshar di kota Madinah serta memperkosa ratusan gadis dan wanita Madinah; putri-putri para sahabat? Yazid yang menyerang kota suci Mekkah dan membombardir Ka’bah dengan bola batu api/manjanîq sehingga tiral ka’bah terbakar dan dindingnya retak semua?

mengapakah Anda mendadak membela Abu Sufyan, apakah karena ia seorang munafik sehingga bernafsu membelanya?

Allah SWT berfirman:

الْمُنافِقُونَ وَ الْمُنافِقاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ.

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama… .”(QS at Taubah;67)

Atau mengapa?

Mengapa kaum Wahhâbi tidak pernah menampakkan sepersepuluh saja dari semangat pembelaan mereka untuk Abu Sufyan, Mu’awiyah, Yazid dan kaum munafik lainnya untuk membela Sayyiduna Ali dan keluarga Nabi saw.?!

Adapun tanggapan Ustadz Firanda yang lebih mirip dengan latihan pidato itu banyak hal yang menggelikan yang mencerminkan kemuallafannya dalam dunia sejarah dan kajian agama. Kami tidak tertarik membuang banyak waktu untuk meladeninya! Masih terlalu banyak masalah penting yang harus diberi prioritas untuk diteliti. Namun sekedar untuk membuktikan betapa lucunya Ustadz Firanda, maka kami akan tanggapi sekedarnya saja!

Abu Sufyan Berjuangg Bersama Nabi saw.

Ustadz Firanda berkata membanggakan keikut sertaan Abu Sufyan dalam beberapa peperangan bersama Nabi saw. segera setelah ia menyatakan islamnya. Ia berkata:

Apakah anda pernah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?? Tidakkah anda tahu bahwa Abu Sufyan ikut serta perang bersama Nabi dalam dua peperangan, perang Hunain dan perang Thoif??, dan setelah wafatnya nabi beliau ikut serta perang Yarmuuk??

Abu Salafy:

Entah untuk apa ia bertanya kepada saya dengan pertanyaan: Apakah anda pernah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?? Sedangkan ia tahu bahwa saya hidup di abad 21 M/14 H dan telah dipisah empat belas abad dengan masa kehidupan baginda Rasulullah saw.?!

Tetapi ketidak-ikutan-sertaan saya bersama Nabi mulia saw. memerangi Abu Sufyan dan para gembong kaum kafir lainnya demi menegakkan Kalimatullah sepenuhnya bukan salah saya, sebab bukan saya yang memilih untuk lahir di abad ini dan jauh dari kota Nabi saw. dan tidak lahir di masa hidup beliau saw.!

Namun perlu diketahui bisa jadi apabila seorang berjuang dengan ikhlas membela kalimatullah di masa ini… bisa jadi ia lebih besar pahalanya dari mereka yang hidup bersama Nabi saw. Sebab, ia beriman dan berjuang hanya berdasarkan mu’jizat Al Qur’an sementara mereka yang hidup sezaman dengan Nabi saw. menyaksikan berbagai mu’jizat agung beliau. Jadi pantas saja jika mereka kemudian mantap imanya… Tetapi yang mengherankan adalah orang kafir seperti Abu Sufyan yang menyaksikan langsung berbagai mu’jizat Nabi saw. tetapi malah memeranginya hingga ketika tidak lagi punya daya dan kekuataan baru mulai mengucapkan syahadatain! Itupun dengan berat hati dan penuh dusta!

Kami juga geli menyakiskan Ustadz Firanda membanggakan kehadiran Abu Safyan dalam parang Hunain dan Thaif. Apa ia tidak membaca sejarah bahwa kehadiran Abu Sufyan dalam peperangan itu justeru membuktikan betapa mendalam kekafiran dan kemusyrikan Abu Sufyan! Saya tidak membayangkan jika Uatsdz Firanda seawam itu dalam pengetahuan sejarah Islamnya?! Mungkin memang bukan spesialisasi beliau… spesialsasi beliau dalam menghujat Sang Habib dan urusan kuburan!

Dalam kesempatan ini kami tidak berniat bercerita tuntas tentang perang Hunain yang sempat diabadikan Allah dalam Al Qur’an dan bagaimana sikap para muallaf benar-benar membuat repot Nabi saw. dan pejuang Muslim. Kami hanya akan menyebutkan kutipan kecil yang dilaporkan Ibnu Katsir (seorang sejarawah, muhaddis dan mufassir yang sering dibanggakan kaum Wahhâbi dan yang memang terkenal kurang simpatik kepada Sayyiduna Ali –karramallahu wajhahu– sampai-sampai Ibnu Katsir mengatakan bahwa Sayyiduna Ali  bukan tergolong Ahlulbait Nabi ra.) Ya, kami hanya akan membawakan laporan kecil Ibnu Katsir yang mengungkap kekafiran dan kemusyrikan Abu Sufyan betapaun ia telah mengikrarkan dengan lisannya syahadatain!

Ibnu Katsir berkata, “Dan ketika manusia (Muslimin) mengalami kekalahan sebagian orang dari orang-orang Arab yang kaku menyakatan isi hati mereka berupa kedengkian. Lalu Abu Sufyan bin Harb berkata –yaitu dan islamnya Abu Sufyan masih diragukan dan azlâm[8] kecil pada hari itu masih ia bawa-, “Kekalahan pasti akan mereka alami sebelum mereka sampai lautan/pantai.””[9]

Kahadiran Abu Sufyan dalam peperangan Hunain (dengan membawa al Azlâm dan berharap-harap agar cawan kekalahan dan kebinasaan segera diteguk Nabi saw. dan kaum Muslimin) seperti dibanggakan Ustadz Firanda tidak hanya disebutkan Ibnu Katsir, hampir seluruh sejarawan Islam menyebutkannya. Di antaranya dalam kalangan sejarawan klasik adalah Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah-nya[10] dan dari kalangan panulis sejarah kontemporer adalah Muhammad Husein Haikal dalamHayât Muhammad:270. Ia berkata,

“… ketika kekacauan menyelimuti urusan kaum Muslimin dan mereka mengalami kekalahan, ketakutan telah menguasai jiwa-jiwa mereka, sampai-sampai sebagian dari yang ikut serta dalam peperangan itu mengumbar omongannya bersama angin… sampai-sampai Abu Sufyan bin Harb berkata –sedang senyum kegirangan atas kekalahan kaum Muslimin yang beberapa tahun lalu mengalahkan kaum Quraisy- tampak dari kedua bibirnya, ia berkata, “Kekalahan pasti akan mereka alami sebelum mereka sampai ke pantai.” Syaibah bin Utsman bin Abu Thalah berkata, “Hari ini aku bisa menemukan balas dendamku atas Muhammad…. .”

Apakah keikut-sertaan Abu Sufyan dalam peparangan Hunain di mana ia membawa serta azlâm-nya itu yang Anda banggakan wahai Ustadz Firanda?! Mestinya Anda harus merahasiakan kehadirannya dalam peperangan itu bukan malah membanggakannya!! Tatapi itu….

مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلا هادِيَ لَهُ وَ يَذَرُهُمْ في‏ طُغْيانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Barang siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang- ambing dalam kesesatan.” (QS. Al A’râf [7];186)

.

وَ مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَما لَهُ مِنْ هادٍ * لَهُمْ عَذابٌ فِي الْحَياةِ الدُّنْيا وَ لَعَذابُ الْآخِرَةِ أَشَقُّ وَ ما لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ واقٍ

“Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorang pun yang akan memberi petunjuk. Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah.” (QS. Ar Ra’ad [13]33-34)

وَ مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَما لَهُ مِنْ سَبيلٍ

“Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidaklah ada baginya sesuatu jalan pun (untuk mendapat petunjuk).” (QS. Asy Syura [42];46)

.

Abu Salafy:

Saudaraku Ustadz Firanda mengapakah sampai sejauh ini pembelaan Anda kepada Abu Sufyan?! Bukankah semua ini telah jelas?! Mengapakah Anda berpaling dan mencar-cari data-data yang sama sekali tidak valid dan tidak akan mampu Anda pertahankan?! Apa arti sebuah keikut-sertaan seorang berparang bersama Nabi saw. jika tidak didasari oleh keimanan kepada keesaan Allah dan kenabian Rasul-Nya? Bukankah kaum munafik seperti Abdullah bin Ubay bin Salûl dan rekan-rekan munafiknya juga ikut serta berparang bersama Nabi saw.?! Lalu apakah Anda akan membanggkan juga kehadiran mereka dalam peparangan-peparanga bersama Nabi saw itu?!

Semua tentang keutamaan Abu Sufyan yang Anda sebutkan dan Anda jadikan modal untuk membanggakan Abu Sufyan adalah tidak ada yang valid dan mu’tabarah di mata para ulama!

Lalu apa gunanya Anda menghimpun “data-data afkir” yang Anda anggap dapat menyemalatkan wibawa Abu Sufyan?!

Sekilas Tentang Praktik Kaum Musyrik Mengundi Dengan Al Azlâm!

Praktik mengundi nasib dengan Al Azlâm dua kali disebut Al Qur’an dalam surah al Maidah ayat:3 dan 90 dengan kecaman keras sebagai kekafiran yang paling sangat! Allah SWT berfiaman:

.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَ الدَّمُ وَ لَحْمُ الْخِنْزيرِ وَ ما أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَ الْمُنْخَنِقَةُ وَ الْمَوْقُوذَةُ وَ الْمُتَرَدِّيَةُ وَ النَّطيحَةُ وَ ما أَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ ما ذَكَّيْتُمْ وَ ما ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَ أَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلامِ ذلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذينَ كَفَرُوا مِنْ دينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَ اخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دينَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتي‏ وَ رَضيتُ لَكُمُ الْإِسْلامَ ديناً فَمَنِ اضْطُرَّ في‏ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحيمٌ

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada- Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Mâidah [5];3)

Asy Syaukani ketika menafsirkan bagian ayat ini yang berkenaan denganazlâm/”Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan”, ia mengatakan, “Kata al Fisq artinya keluar dari batas. Dan telah lewat diterangkan maknanya. Dalam kalimat itu (Padanya terdapat kefasikan/adalah kefasikan) termuat ancaman yang sangat keras. Karena sesungguhnya al fisq adalah kekafiran yang sangat, bukan seperti apa yang diistilahkan kebanyakan orang yang artinya adalah tingkat pertengahan antara keimanan dan kekafiran.”[11]

Sekali lagi kami katakan kepada Ustadz Firanda, “Apakah Anda masih belum mengerti juga bahwa membanggakan Abu Sufyan (si Munafik tua yang hidupnya dipenuhi dengan kesialan itu) adalah justru sesuatu yang memalukan?!” Abu Sufyan dengan masih membawa al Azlâm membuktikan dirinya bahwa kekafiran yang sangat itu masih sangat melekat dalam jiwanya… dan bukan sembarang kekafiran.. kekafiran yang sangat, seperti ditegaskan asy Syaukani!

Lucu, Ustadz Firanda Membanggakan Abu Sufyan Sebagai Mertua Nabi saw.!

Ustadz Firanda juga berkata menghujat kami:

“Apakah anda pernah menjalin kekerabatan melalui pernikahan bersama Rasulullah…???!! Tidakkah Anda tahu bahwa Abu Sufyan adalah mertua Rasulullah, karena putri Abu Sufyan Ummu Habibah radhiallahu ‘anhaa adalah istri Nabi?”

Abu Salafy:

Yang ini juga! Entah apa karena sedang kepepet atau memang karena keluguan (baca; kedunguan) sehingga Ustadz Firanda juga berdalil dengan kasus di atas.Apakah Ustadz Firanda tidak tahu bahwa Ummu Habibah dikinahi oleh Nabi saw. jauh sebelum Abu Sufyan terpaksa menyatakan keislamannya! Ummu Habibah sebagai seorang Muslimah yang ikiut serta berhijrah ke negeri Habasyah… di sana, suaminya murtad dan memilih memeluk agama Nashrani. Sepulang dari hijrahnya… dan langsung ke kota Madinah –karena Nabi saw. dan para sahabat beliau sudah hijrah-. Maka Ummu Habibah tidak mungkin kembali ke keluarganya sebagai janda. Karena ayahnya; Abu Sufyan dan ibunya; Hindun serta segenap anggota keluarganya; Mu’awiyah dan Yazid abangnya adalah musuh-musuh Allah yang sangat keras permusuhan dan gangguannya kepada Nabi saw. dan kaum Muslimin. Oleh sebab itu, Nabi saw. menikahi Ummu Habibah ra. Jadi, pernikahan itu bukan atas kehendak Abu Sufyan dan tidak juga ia suka dengan hubungan pernikahan itu!

Jika sekedar menjadi mertua Nabi saw. (walaupun seorang itu kafir atau munafik) harus Anda banggakan, maka mengapakah And tidak juga membanggakan dua mertua Nabi saw. dari kalangan kaum Yahudi yang sangat kafir dan getol memerangi Nabi saw…. ayahnya Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab dan Juwairiyah. Kedua istri Nabi saw. ini adalah dari bangsa Yahudi!

Janganlah karena pembelaan buta kepada gembong kaum munafik Anda tanggalkan akal sehat Anda dan Anda campakkan cara berpikir yang logis!

.

Abu Sufyan Didoakan Umat Islam?!

Anda juga berkata:

Tidak tahukah anda bahwasanya jutaan kaum muslimin mendoakan keridhoan bagi Abu Sufyaan…??

Ini juga menggelikan! Yang mendoakan Abu Sufyan dengan keridhaan mungkin hanya Anda dan kelompok Anda. Sementara ratusan juta kaum Muslimin mungkin mengutuknya! Lalu jika benar apa arti doa Anda dan kelompok Anda untuk Abu Sufyan jika Allah dan rasul-Nya telah mengutuknya?! Bergunakah doa kalian itu?!

.

Abu Sufyan Ma’ruf Sedangkan Abu Salafy Majhûl!

Adapun hujatan Anda dengan kata-kata:

Yang jelas Abu Sufyaan ma’ruuf dikenal oleh kaum muslimin… adapun anda maka nakiroh majhuul, tidak diketahui identitas anda..

Maka sungguh memprihatinkan! Mulai kapan keterkenalan seorang itu menjadi jaminan bahwa dia orang baik?!

Bukankah Fir’aun juga dikenal oleh kaum Muslimin?!

Bukankah Abu Lahab juga dikenal oleh kaum Muslimin?!

Bukankah Abu Jahl juga dikenal oleh kaum Muslimin?!

Bukankah Abdullah bin Ubay bin Salûl juga dikenal kaum Muslimin?!

Dan apakah ketidak-dikenalannya identitas Mukmin dari kkeluarga Fir’aun mengurangi kedudukannya di sisi Allah?!

Apakah ketidak-dikenalannya seorang hamba Mukmin yang dikisahkan dalam surah Yasin mengurangi keagungannya?

وَ جاءَ مِنْ أَقْصَا الْمَدينَةِ رَجُلٌ يَسْعى‏ قالَ يا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلينَ

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib An Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata:”Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. “ (QS. Yasin [36];20)

وَ قالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إيمانَهُ أَ تَقْتُلُونَ رَجُلاً أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَ قَدْ جاءَكُمْ بِالْبَيِّناتِ مِنْ رَبِّكُمْ وَ إِنْ يَكُ كاذِباً فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ وَ إِنْ يَكُ صادِقاً يُصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذي يَعِدُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

“Dan seorang laki-laki Mukmin yang merahasiakan imannya berkata: ”Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan- keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.”Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS.al Ghafir [40]28)

Dua ayat di atas mengisyaratkan bahwa identitas jangan selalu dianggap penting… tetapi isi seruan dan ajakannya yang harus kalian perhatikan!

Hanya kaum kerdil saja yang masih meributkan identitas seorang penyeru kebenaran setelah jelas kebenaran yang dibawahnya!

Anda juga mengatakan:

Abu Sufyan Baik Islamnya?!

Apakah seseorang tetap dicap dengan keburukannya meskipun telah bertaubat??

Abu Salafy:

Buktikan terlebih dahulu bahwa Abu Sufyan talah dengan ikhlas dan tulus menaggalkan kekafiran dan kemusyrikannya dan dengan jujur menerima keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad saw.

Tidakkah cukup sekelumit data yang kami sebutkan di atas bahwa Abu Sufyan belum menaggalkan baju kekafiran dan kemusyrikannya?! Demikian juga tidakkah cukup bukti yang akan sebentar lagi akan kami sebutkan bahwa Abu Sufyan masih menyimpan dendam dan kebencian sehingga berandai-andai mampu memerangi dan menghabisi Nabi saw.!

Dan apa yang Anda fahami dari ucapan Hudzaifah tentang ayat Aimmatul Kufri di atas?! Tidakkah itu bukti nyata bahwa Hudzaifah menolak anggapan keimanan Abu Sufyan? Ia hanya berpura-pura alias munafik… Abu Sufyan tetap menyandang status sebagai Aimmatul Kufri!

Dan Anda juga berkata:

Kaum muslimin mengetahui bahwasanya Abu Sufyan dahulunya adalah termasuk gembong-gembong kekafiran tatkala perang Uhud dan perang Khondak. Akan tetapi setelah itu iapun masuk Islam dan baik islamnya.

Abu Salafy:

Anda tidak jujur dalam menyebutkan kejahatan Abu Sufyan! Mengapakah Anda tidak menyebutkan kejahatan Abu Sufyan dalam peperangan lainnya yang ia  kobarkan untuk memerangi Allah dan Rasul-Nya, seperti perang Khandaq/Perang Parit, atau yang juga dikenal dengan perang Ahzâb?

Adapun klaim bahwa “Akan tetapi setelah itu iapun masuk Islam dan baik islamnya”adalah sama sekali tidak berdasar. Baca kembali kesaksian Ibnu Katsir (bukankah beliau ulama kebanggaan kalian?!)! apakah seorang musyrik yang berpura-pura memeluk Islam dan berperang bersama Nabi saw. akan tetapi di saat genting ia lari dan berharap kekalahan total segera diamali Nabi sawdan kaum Muslimin dan ia juga membawa arca sesembahannya di dalam kantungnya?! Apakah ini arti bahwa ia baik islamnya?!

Terlalu banyak bukti bahwa Abu Sufyan masih mengindap penyakit kekafiran dan dendam kusumat serta kedengkian yang mendalam kepada Nabi saw. dan kaum Muslimin!

Dan sekadar bukti kecil, perhatikan riwayat sahabat Ibnu Abbas ra. sebagai diriwayatkan oleh para sejarawan Islam, di antaranya adalah Ibnu Katsir, beliau ra. berkata, “Abu Sufyan menyaksikan Rasulullah saw. sedang berjalan sementara para sahabat berjalan di belakang beliau, maka Abu Sufyan berkata dalam hatinya, “Andai aku kobarkan lagi peperangan melawan orang ini?!”

Maka Rasulullah saw. mendatangi Abu Sufyan seraya memukul dadanya sambil bersabda, “Jika demikian, Allah pasti akan menghinakanmu!” (Baca as Sirah an Nabawiyah,3/576)

.

Apakah seorang yang telah menyatakan Islam dengan lisannya kemudian berandai-andai untuk memerangi kembali Nabi saw. itu Anda katakan baik Islamnya! Islam apa yang Anda maksud?!

Jadi apa arti klaim Anda bahwa Abu Sufyan baik Islamnya?!

.

Abu Sufyan Pemilik Banyak Keutamaan?!

Demikianlah yang diyakini Ustadz Firanda. Namun sayang ia tidak menyertakan siapa ulama yang menyebutkan keutamaan Abu Sufyan tersebut! Mungkin ia tau benar bahwa tidak ada keistimewaan yang dimiliki Abu Sufyan. Yang ada justru kejahatan dan keburukan sikap!

Perhatikan bagaimana Ustadz Firanda menulis:

Sungguh terlalu banyak kitab-kitab tarjamah (biografi para pembesar Islam) yang mencantumkan tentang biografi Abu Sufyan Sokhr bin Harb Al-Qurosyi Al-Umawi ini. Seluruh ulama tersebut mencantumkan Abu Sufyan sebagai sahabat Nabi, dan biografi yang mereka tulis penuh dengan pujian terhadap Abu Sufyan dan penyebutan keutamaan-kutamaan Abu Sufyan”.

Abu Salafy:

Adalah lucu pembandingan yang dilakukan Ustadz Firanda ketika membandingkan Abu Sufyan dengan Khalifah Umar bin Khaththab ra.

Apakah ada ayat yang turun menyebut bahwa Umar bin Khaththab ra. seperti ayat yang turun untuk Abu Sufyan?! Ayat Aimmatul Kufri misalnya?!

Setelah itu, Ustadz Firanda mulai merinci berbagai perkata yang ia katakan sebagai keutamaan Abu Sufyan.

Untuk menaggapi uraian Ustadz Firanda kami harap Anda bersabar sampai ketemu pada edisi akan datang, insya Allah!

(Bersambung insya Allah)


[1] Tafsir Gharâib al Qur’ân (dicetak dipinggir Tafsir Jâmi’ al bayân; Imam ath Thabari),10/45

[2] Keterangan di atas dapat Anda baca dalam Tafsir Jâmi’ al Bayân; Imam ath Thabari,10/62-63.

[3] ad Durr al Mantsûr-nya,3/388.

[4] Muntakhab Kanzul ‘Ummâl,4/2801.

[5] Ansâb al Asyrâf-nya,15/19.

[6] al Aghâni-nya,6/363

[7] Baca Shahih Muslim, dengan syarah Imam Nawawi,16/62-63. Dan mungkin kami akan kembali mendiskusikan kelanjutan hadis ini dalm kesempatan lain, jika diperlukan.

[8] Azlâm bentuk jamak dari kata Zalam. Ia adalah alat lotre yang biasa dipergunakan kaum Musyrik Arab ketika mereka hendak menjalankan aktifitas tertentu atau ingin mengetahui status apakah si polan ini anak bapaknya atau anak orang lain dll. Mereka mengambil satu batang busur yang tertulis dengan tulisan: tuhanmu memerintahkannya… tuhanmu melarangnya, yang tersedia sebagai bahan lotre itu kemudian membacanya, jika tertulis perintah maka mereka melaknsanakannya. Jika larangan maka mereka pun tidak mengerjakannya. Dan perlu diingat di sini bahwa mereka melotrenya di hadapan Arca Hubal sesembahan mereka.

[9] Lebih lanjut baca al Bidâyah wa an Nihâyah,4/374.

[10] Sirah Nabawiyah:765. Dan sengaja kami kutipkan dari kitab tersebut terbitan Dâr al Kotoob Al ilmiyah. Beirut – Lebanon. Sebab ia adalah penerbit Salafi yang banyak menerbitkan buku-buku Wahhâbi dan Ibnu Taimiyah. Dan sering pula merubah-rubah isi kitab yang tidak sesuai dengan doktrin Wahhâbi untuk dihapus atau dirubah-rubah. Tidak terkecuali kitab Sirah nabawih-nya Ibnu Hisyam dalam beberapa bagiannya. Dan kebiasaan merusak isi kitab ulama Ahlusunnah adalah bukan hal baru di kalangan kaum Wahhâbi Salafi!

[11] Tafsir Fathu al Qadîr,210.

NO COMMENTS