Khotbah Al-Baghdadi menunjukkan ketidaktahuannya tentang Islam,

0
1,584 views

ulama mengatakan :Pendidikan direnggut dan perempuan dipaksa melakukan “jihad seksual” di daerah-daerah Irak dan Suriah yang dikendalikan ISIS, warga mengatakan.

Khusus untuk Khabar oleh Hassan al-Obaidi di Baghdad

Para ulama Irak menolak khotbah ketua Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Abu Bakr al-Baghdadi, yang sarat kesalahan dan menjadi bukti ketidaktahuannya tentang Islam dan hukum Islam.

  • 140723_SHORFA_CHILDREN-310_207
    Seorang anak mengibarkan bendera hitam ISIS selama acara propaganda di al-Raqa, Suriah. Warga mengatakan kelompok itu mencuci otak anak-anak dengan mainan dan ceramah. [Foto milik Mahmoud al-Amin]

Menurut seorang Irak yang dipaksa untuk menghadiri pidato al-Baghdadi di Mosul tanggal 4 Juli, banyak khotbah hasil rekaman video itu diedit karena penuh dengan kesalahan dan omong kosong. Pidato oleh al-Baghdadi itu, yang jarang terlihat di depan umum, muncul lima hari setelah ISIS mengumumkan mereka mendirikan kekhalifahan di wilayah rampasan yang mengangkangi Suriah dan Irak dan menyebut al-Baghdadi sebagai khalifah.

“Semua orang menemukan kesalahan dalam khotbah al-Baghdadi ini, yang begitu parahnya hingga seorang santri syariah pun takkan mungkin membuat kesalahan seperti itu,” kata Sheikh Mahmoud al-Khalidi, seorang anggota Otoritas Iftaa Irak dan seorang pengkhotbah di Masjid Abu Hanifa di Baghdad. “Khotbah ini hanya bisa disampaikan oleh seseorang yang sepanjang hidupnya memprioritaskan darah, daripada pengampunan dan toleransi.”

Sheikh Khaled al-Obaidi, seorang ulama Sunni di Baghdad, menunjukkan bahwa pengikut al-Baghdadi memasuki masjid dengan membawa senjata, yang dilarang.

“Para pengikutnya membawa senjata dan berdiri di dekat kepala para jamaah, yang mengisyaratkan bahwa jamaah dipaksa untuk mendengarkan khotbahnya, yang bersusunan kata-kata buruk ini,” katanya.

Al-Baghdadi juga diejek karena memakai jam tangan mencolok selama pidato yang bisa bernilai lebih dari $6.000, Telegraph dari Inggris melaporkan.

“(Dia mengakhiri khotbah) dengan berkata dia tidak menjanjikan kami kemewahan,” kata Mohammed Abu Saad, yang menghadiri khotbah itu. “Lalu, apa perannya? Apakah kekhalifahannya berarti pembunuhan, pencambukan, hukuman dan pengekangan kami, sementara para pengikutnya menyantap makanan terlezat dan menggunakan mobil mewah, dan kita hidup dalam kekurangan dan kesengsaraan? Menurut saya, Islam tidak mengajarkan itu.”

Perekrutan anak-anak

“Hidup di bawah kekuasaan ISIS adalah mustahil, terutama dalam hal pendidikan untuk dua putra saya di sekolah yang dikendalikan oleh kelompok-kelompok ekstremis ini,” kata pedagang Suriah Mahmoud al-Idliby, yang melarikan diri ke Kairo dengan keluarganya empat bulan lalu.

“Sebuah sekolah, dalam pandangan ISIS, adalah pusat perekrutan, tidak lebih dan tidak kurang, di mana jam pelajaran digunakan untuk mencuci otak para siswa, terutama yang lebih muda, dan melatih mereka untuk menerima perintah dan menjalankannya tanpa keberatan, dan menghafal Al Qur’an seperti robot tanpa pemahaman, ditambah puluhan fatwa yang menghasut pembunuhan dan pertumpahan darah. ”

ISIS telah menghapuskan pelajaran ilmu pengetahuan, biologi, pendidikan Islam, pendidikan nasional, sejarah dan geografi, dan menggantinya dengan buku-buku yang menjelaskan ideologi Salafi-jihadis, penghafalan Al-Qur’an dan penafsiran ekstremis kitab suci Islam, menurut Mahmoud al-Amin, seorang pensiunan guru di al-Raqa.

“Lembaga-lembaga pendidikan telah menjadi pusat untuk mencuci otak anak-anak muda dan mengubah mereka menjadi bom waktu bergerak yang bisa meledak kapan saja, di mana saja.”

Peneliti dari Pusat Studi Strategis Regional, Wael al-Sharimi, mengatakan situasi akan bertambah buruk sementara makin banyak anak menyaksikan kekerasan secara terus-menerus.

“Pemikiran jihad ekstremis menjadi pikiran yang benar bagi mereka setelah mereka mengalami proses cuci otak, dan dengan demikian terbentuklah generasi jihad yang baru.”

Dipaksa melakukan hubungan seks

Warga Irak yang tinggal di Lebanon mengungkapkan kemarahan bahwa ISIS memaksa kaum wanita dan anak gadis di Irak utara melakukan “jihad seksual”. Mereka yang tidak berdosa ini dipaksa menikahi para pejuang ISIS untuk jangka waktu yang singkat agar para pejuang ini dibenarkan untuk memanfaatkan mereka, lalu dengan cepat menceraikan mereka.

“ISIS adalah asing bagi kita dan harus dihancurkan sebelum memangsa kehormatan perempuan dan anak perempuan,” kata Assil Flaih, yang menuntut ilmu di American University of Science and Technology di Beirut. “Kami tidak akan mengembalikan Irak kepada hukum yang menghina wanita dan merusak martabat mereka, dan kami tidak akan menyerahkan kehidupan sipil modern yang telah kita peroleh ini.”

Islam menghormati wanita dan mengakui hak mereka untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan dan mengeluarkan pendapat, kata Dahlia al-Jaddouh, seorang ibu rumah tangga Irak dan ibu dari dua anak perempuan.

“ISIS memperbolehkan apa yang dilarang dan melarang apa yang diperbolehkan,” katanya. “Tidak ada tempat dalam masyarakat kami di Irak untuk ‘khilafah Islam’ yang dilontarkan ISIS, dan tidak ada tempat untuk putusan yang mereka paksakan pada kaum wanita Irak, yang mempertahankan hak-hak sipil mereka yang telah diabadikan dalam konstitusi.”

Rashid Najm dan Nohad Topalian di Beirut berkontribusi untuk laporan ini.

 

Sumber : Khabarsoutheastasia

NO COMMENTS