KHALIFAH SALAFI

0
670 views

bandarPangeran Bandar bin Sultan, kepala Dinas Intelijen Arab Saudi adalah arsitek dan pelaku utama instabilitas di Irak, Suriah dan Lebanon.

 

Irak, Suriah dan Lebanon dalam tiga tahun terakhir menjadi ajang operasi teroris dan berbagai peledakan bom. Berbagai petinggi ketiga negara ini khususnya Presiden Suriah, Bashar al-Assad, PM Irak, Nouri al-Maliki dan Sayid Hasan Nasrullah, sekjen Hizbullah berulang kali menyatakan bahwa Arab Saudi memainkan peran utama dalam instabilitas dan kerusuhan di negara mereka.

 

Dalam hal ini, Pangeran Bandar dengan berbagai dalih seperti pengalaman pribadi, kecenderungan sektarian terhadap kebijakan di Dunia Arab dan melayani Rezim Zionis Israel, menjadi koordinator utama operasi teror dan ledakan bom di Irak, Suriah serta Lebanon.

 

Bandar sebelumnya pernah aktif di angkatan udara Arab Saudi. Bandar bin Sultan sejak tahun 1983 hingga 2005 menjabat duta besar Arab Saudi di Washington dan selama menjabat ia memiliki jaringan dengan militer AS serta lobi Yahudi di negara ini. Saat ini pula, Bandar memanfaatkan pengaruhnya di lobi Yahudi serta militer Amerika.

 

Berbagai jabatan seperti sekretaris Dewan Tinggi Keamanan hingga kepala dinas intelijen Arab Saudi membuat Bandar menjadi tokoh penting di bidang militer, keamanan serta spionase. Bandar kini memanfaatkan pengalamannya untuk menjalin hubungan dengan kelompok teroris dan merancang operasi destruktif.

 

Pangeran Bandar bin Sultan di Suriah merupakan arsitek utama perang yang digelar kelompok teroris dan pendukung finansial, pemikiran serta persenjataan kelompok ini. Bandar di tahun 2013 menggelontorkan isu penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Damaskus dan berusaha memaksa Amerika serta Barat untuk menyerang Suriah.

 

Berbagai sumber menyebutkan Bandar bin Sultan mengalokasikan dana langsung sebesar 70 juta dolar untuk mendorong elit politik dan petinggi keamanan Amerika untuk menyerang Suriah. Sumber-sumber berita  hanya beberapa hari selepas kegagalan upaya Arab Saudi, Amerika dan sejumlah negara Arab menyerang Damaskus menyebutkan, Bandar menyerahkan senjata kimia kepada kelompok teroris Suriah dan senjata tersebut digunakan oleh para teroris dalam serangan 21 Agustus.

 

Terkait Irak, kantor berita Barasa merilis dokumen yang menunjukkan bahwa Bandar bin Sultan dua tahun lalu secara pribadi menunjuk Abu Sulaiman sebagai komandan baru al-Qaeda di Irak.

 

Selain itu, Bandar juga menjalin hubungan dengan kubu politik anti pemerintah Irak serta sejumlah tokoh pelarian serta penghianat seperti Tariq al-Hashimi serta memanfaatkan mereka untuk mengatur opersi teror, peledakan bom dan aksi demo anti Baghdad.

 

Seorang petinggi keamanan Irak mengkonfirmasikan masuknya lebih dari 100 anggota anasir teroris dari Pemerintahan Islam Irak dan Syam (ISIL) dari Suriah ke Irak dengan tujuan melakukan aksi pemboman di bulan Muharram. Kelompok ini pun berada di bawah perlindungan Bandar bin Sultan.

 

Sementara Lebanon berbeda sedikit dengan Irak serta Suriah. Lebanon sebelum munculnya gelombang kebangkitan Islam telah merasakan aksi perusakan yang dikobarkan Bandar. Pada tahun 2006, Bandar bin Sultan mengusulkan kepada Ehud Olmert, PM Israel saat itu untuk tidak menghentikan perang hingga Hizbullah ditumpas dengan imbalan Arab Saudi akan memberi dukungan finansial penuh kepada Tel Aviv. Berbagai laporan menunjukkan, Bandar dalam kasus teror Imad Mughniyah, komandan militer Hizbullah juga terlibat kerjasama dengan Israel.

 

Bandar bin Sultan dengan dukungan Israel serta Amerika berencana menghadapi gelombang kebangkitan Islam dengan memanfaatkan gerakan radikal, sesat dan kelompok teroris. (IRIB Indonesia)

NO COMMENTS