Kesalahan qoidah salafi wahabi

1
2,086 views

n00138830-b

Jika tahlilan,mauludan,Dibaan,manaqiban Dll itu Baik,tentu Rosululloh ,para sahabat danTabiinlah yang Pertama Kali Melaksanakan…

ini jawabanya:

Ka’idah salafi wahabi Menyalahi Nash Al-Qur’an, Hadits Mauquf dan Pendapat Ulama

“LAU KAANA KHAIRAN LASABAQUUNAA ILAIHI”
“Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para Shahabat telah mendahului kita mengamalkannya”
sebenarnya…
Inilah yang sering di pakai Abdul Hakim Abdat, dan ustadz salafi wahabi yang lainnya untuk menghantam aswaja.BENARKAH INI KAIDAH BESAR SEHINGGA DIJADIKAN TOLOK UKUR HALAL HARAM DALAM AGAMA KITA….?

Berikut yang saya temukan sehingga akhirnya dapat di simpulkan bahwa ini sebenarnya bukan kaidah besar melainkan kaidah yang membuat pola pikir muslim menjadi dangkal.

(1). Mirip kaidahnya orang kafir ketika menolak al qur’an
Silakan dilihat :

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

“Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya dia (Al Qur’an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahuluikami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”.(QS 46: 11)

Dengan demikian dapat ditanyakan,apa pantas golongan yang menisbatkan diri pada SALAF membuat kaidah baru yang berawal dari ucapan kaum kafir untuk kemudian di jadikan kaidah haram halal ?

(2). Menyalahi nash Al-Qur’an
Sebagaimana kita tahu kaidah besar dalam agama ini di antaranya Ayat ini

وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ َانْتَهُوْا

“Apa saja yang di bawa oleh Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa saja yang di larang oleh Rasul maka berhentilah (mengerjakannya )”.(QS. Al-Hasyr : 7)
Dalam AYAT ini disebutkan bahwa perintah agama adalah apa yang di bawa oleh RasulullahSAW, dan yang dinamakan larangan agama adalah apa yang memang di larang oleh Rasulullah SAW.
Dan tidaklah dikatakan:

وَماَ لَمْ يَفْعَلْهُ فَانْتَهُوْا

“Dan apa saja yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulul maka berhentilah (mengerjakannya).”

(3). Menyalahi hadist mauquf dariIbnu Mas’ud ra.

ما رءاه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن وما رءاه المسلمون سيئا فهو عنداالله سيء

“Apa yang di pandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik pula di sisi الله  dan apa saja yang di pandang buruk oleh kaum muslimin, maka menurut الله pun di golongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad,Bazar, Thabrani dalam Kitab Al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)
Hadits ini dalam kitab-kitab ushul fiqh di jadikan salah satu dalil ijma’ (konsensus ulama mujtahidin) dan dalam kitab-kitab kaidah FIQH dijadikan dalil dalam kaidah al-‘Adah Muhakkamah. Hadits ini marfu’ sampai Rasulullah sehingga dapat di jadikan hujjah (dalil) untuk mentakhsish keumuman hadits tentang semua bid’ah adalah sesat.

Berikut ini komentar beberapa ulama :

ما جاء في أثر ابن مسعودرضي الله عنه:(ما رآه المسلمون حسناً فهو عند الله حسن وما رآه المسلمون قبيحاً فهوعند الله قبيح). كشف الأستار عن زوائد البزار” (1/81)، و “مجمع الزوائد” (1/177)

Dari atsar Ibnu Mas’ud ra. “Apa
yang menurut umat islam umumnyaitu baik, maka baik menurutالله  dan apa yg menurut umat islam umumnya itu buruk, maka buruklah menurut الله  [Kitab Kasy al-Astar an jawaz al-Bazzar juz 1 hal. 81 dan Kitab Majmu’ zawaid juz 1 hal 177]

قال ابن كثير: “وهذا الأثر فيه حكايةُإجماعٍ عن الصحابة فيتقديم الصديق، والأمركما قاله ابن مسعودٍ“.

Ibnu Katsir berkata, “Atsar ini didalamnya menjelaskan kesepakatan sahabat yang telah mendahului dalam hal-hal kebenaran sebagaimana yang di katakan Ibnu Mas’ud”

وقال الشاطبي في “الاعتصام” (2/655):(
إن ظاهره يدل على أن ما رآه المسلمون بجملتهم حسناً؛ فهو حسنٌ، والأمة لا تجتمع على باطلٍ، فاجتماعهم على حسن شيءٍ يدل على حسنه شرعاً؛ لأن الإجماعيتضمن دليلاً شرعياً”)

Imam Syathibi dlm Kitabnya Al-I’tishom juz 2 hal. 655 “sesungguhnya yg secara zhohir apa yg menurut penglihatan orang muslim umumnya mengandung kebaikan maka itu adalah baik, dan umat manusia tidak mgkn sepakat dalam kebatilan. Kesepakatan mereka pada seseuatu akan kebaikannya menunjukkan kebaikan menurut syari’at agama, karena kesepakatan umum mengandung hukum syara'([hukum agama)”.

Disinilah kita bisa mengetahui betapa ahlul hawa(salafi wahabi) telah merusak tatanan agama yang murni ini yaitu dinnul islam, semoga bermanfaat dan الله meberikan kita hidayah…

1 COMMENT

  1. Diantara dalil yang digunakan oleh para pendukung bid’ah hasanah adalah sebuah atsar yang diakui sebagai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
    مَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ حَسَناً؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئاً؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ
    “Apa saja yang dipandang kaum muslimin merupakan kebaikan maka ia di sisi Allah juga merupakan kebaikan. Dan apa saja yang dipandang kaum muslimin merupakan keburukan maka ia di sisi Allah juga merupakan keburukan” (HR Ahmad)

    Karenanya jika kaum muslimin memandang suatu bid’ah baik maka ia juga baik di sisi Allah.

    Sanggahan :

    Bantahan terhadap syubhat ini bisa ditinjau dari beberapa sisi :

    PERTAMA : Nukilan ini bukanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi merupakan perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

    Ibnu Hazm rahimahullah (wafat 456 H) berkata :

    “Mereka berdalil untuk (pembenaran) istihsaan dengan perkataan yang mengalir di lisan-lisan mereka , yaitu : Apa yang dipandang kaum muslimin baik, maka di sisi Allah juga baik”. Perkataan ini sama sekali kami tidak mengetahuinya bersanad sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang tidak diragukan lagi bahwasanya perkataan ini tidak terdapat sama sekali di dalam hadits musnad yang shahih, yang kami ketahui perkataan ini adalah dari Ibnu Mas’uud” (Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam, karya Ibnu Hazm, tahqiq Ahmad Muhammad Syaakir, : 6/18)

    Az-Zaila’i Al-Hanafi rahimahullah (wafat 762 H), berkata

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ((Apa yang dipandang kaum muslimin baik maka ia di sisi Allah juga baik)), aku berkata : Aneh diriwayatkan secara marfu’, dan aku tidak mendapatkan atsar ini kecuali mauquf dari Ibnu Mas’ud” (Nashbur Rooyah, Az-Zaila’i, Muassasah Ar-Royyaan, cetakan pertama, 4/133)

    Al-Haafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

    “Hadits ((Apa yang dipandang kaum muslimin baik maka ia di sisi Allah juga baik)), aku tidak menemukannya diriwayatkan secara marfu’ (dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad secara mauquf dari perkataan Ibnu Mas’ud dengan sanad yang hasan. Demikian pula dikeluarkan oleh Al-Bazzaar, At-Thoyaalisi, At-Thobrooni, dan Abu Nu’aim pada biografi Ibnu Mas’ud, serta Al-Baihaqi dalam kitab al-I’tiqood. Ia juga telah mengeluarkan atsar ini dari jalan yang lain dari Ibnu Mas’ud” (Ad-Dirooyah fi takhriij Ahaadiits Al-Hidaayah, Ibnu Hajar al-Asqolaaniy, tahqiq : Sayyid Abdullah Hasyim Al-Yamaani, Daarul Ma’rifah, 2/187)

    KEDUA : Kalaupun atsar ini shahih akan tetapi sama sekali tidak bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Semua bid’ah sesat” ditinjau dari beberapa sisi :

    Pertama : Yang dimaksud dengan “pandangan/kesepakatan kaum muslimin” dalam atsar Ibnu Mas’ud ini adalah pandangan/ijmak/kesepakatan para sahabat, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh konteks atsar tersebut. Marilah kita perhatikan konteks atsar ini secara lengkap. Ibnu Mas’ud berkata
    إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ
    “Sesungguhnya Allah melihat kepada hati-hati para hamba maka Allah mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang terbaik, maka Allahpun memilih beliau untuk diriNya dan mengutusnya dengan risalahNya. Lalu Allah melihat kepada hati-hati para hamba setelah hati Muhammad maka Allah mendapati hati-hati para sahabatnya adalah hati-hati para hamba yang terbaik, maka Allah menjadikan mereka sebagai para penolong nabiNya, mereka berperang di atas agamaNya. Maka apa yang dipandang kaum muslimin baik maka ia juga baik di sisi Allah, dan apa yang mereka lihat sebagai keburukan maka ia di sisi Allah juga buruk” (Atsar Riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya 3600)

    Kedua : Dalam riwayat Al-Hakim di Al-Mustadrok terdapat tambahan pada akhirnya:
    عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ مَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رآهُ الْمُسْلِمُوْنَ سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّءٌ وَقَدْ رَأَى الصَّحَابَةُ جَمِيْعًا أَنْ يَسْتَخْلِفُوا أَبَا بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ،
    Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata, “Apa yang dipandang oleh kaum muslimin baik maka ia di sisi Allah juga baik, dan apa yang dipandang kaum muslimin buruk maka ia di sisi Allah juga buruk. Dan para sahabat seluruhnya telah memandang untuk mengangkat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah”

    Lalu Imam Al-Haakim berkata, هَذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحُ الإِسْنَادِ وَلَمْ يُخْرِجَاه”Ini adalah hadits yang sanadnya shahih dan tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim” (Al-Mustadrok ‘ala as-Shahihain, no 4465, dan penshahihan Al-Haakim disepakati oleh Adz-Dzahabi)

    Sangatlah jelas bahwasanya Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berdalil dengan atsar ini untuk menyatakan bahwa ijmak para sahabat adalah benar di sisi Allah. Dan Ibnu Mas’ud lebih paham dengan apa yang beliau ucapkan/riwayatkan.

    Karenanya ال (alif laam) yang terdapat dalam lafal الْمُسْلِمُوْنَ bukanlah alif lam untuk istighrooq (yang memberikan faedah keumuman, sehingga mencakup seluruh kaum mulsimin), akan tetapi di sini adalah ال untuk al-‘ahd, yaitu yang dimaksud dengan kaum muslimin di sini adalah para sahabat secara khusus, sebagaimana yang ditunjukkan oleh konteks lengkap atsar tersebut dan sebagaimana yang dipahami oleh Ibnu Mas’ud sendiri

    KETIGA : Sebagian orang menganggap ال (alif laam) yang terdapat dalam lafal الْمُسْلِمُوْنَ adalah untuk istighrooq sehingga mencakup seluruh kaum muslimin, jadi bukan hanya khusus untuk para sahabat. Sehingga dengan demikian jika kaum muslimin memandang suatu bid’ah itu baik/hasanah maka bid’ah tersebut di sisi Allah juga baik.

    Sanggahan

    Kalaupun kita menerima bahwasanya ال (alif laam) yang terdapat dalam lafal الْمُسْلِمُوْنَ adalah untuk istighrooq, maka tentu sudah jelas bahwasanya bukan sekumpulan kaum muslimin secara sembarangan, menimbang dua perkara berikut :

    Pertama : Kalau seandainya ada sekelompok orang jahil dalam agama (misalnya mereka berjumlah 100 orang) lalu memandang sesuatu perkara ibadah baru sebagai kebaikan, tentunya tidak akan diterima pandangan mereka. Sebagai contoh sekelompok sekte di tanah air kita yang memandang bahwasanya menentukan 1 Ramadhan atau 1 Syawwal dengan melihat pasang surut air laut. Tentunya meskipun mereka memandang itu yang terbaik, akan tetapi pandangan mereka tidak akan diterima

    Kedua : Jadi kaum muslimin yang dimaksud dalam atsar tersebut haruslah dari kalangan para ahli ilmu. Lantas kita bertanya lagi, jika ada sekelompok ulama yang memandang baik suatu perkara bid’ah, akan tetapi sekelompok ulama yang lain memandang perkara bid’ah tersebut merupakan perkara yang buruk, maka pandangan kelompok manakah yang menjadi patokan dari kedua kelompok ulama tersebut?.

    Ibnu Hazm Al-Andalusi Adz-Dzohiri (wafat 456 H), berkata :

    “Kalaupun ini adalah hadits yang shahih maka ini pun bukan dalil bagi mereka, karena hanya bisa menjadi dalil untuk ijmak kaum muslimin saja. Karena ia tidak berkata “Apa yang dilihat oleh sebagian kaum muslimin baik maka ia juga baik di sisi Allah”, akan tetapi ia berkata, “Apa yang dipandang kaum muslimin”. Inilah ijmak yang tidak boleh diselisihi jika memang pasti. Dan bukanlah apa yang dipandang oleh sebagian kaum muslimin lebih utama untuk diikuti dari apa yang dipandang oleh sebagian kaum muslimin lainnya. Kalau seandainya demikian, maka berarti kita telah diperintahkan untuk melakukan sesuatu dan melakukan lawan sesuatu tersebut, diperintahkan mengerjakan sesuatu dan sekalian meninggalkannya bersamaan. Ini merupakan berkara yang mustahil yang tidak mungkin dilakukan” (Al-Ihkaam fi Ushuul al-Ahkaam 6/19)

    Karenanya mau tidak mau, makna dari “kaum muslimin” dalam atsar tersebut harus dibawakan kepada makna ijmak para ulama, sebagaimana yang telah terjadi di zaman para sahabat, tatkala para sahabat berijmak dan bersepakat untuk mengangkat Abu Bakr radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah pengganti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Pemahaman inilah yang telah dipahami oleh banyak ulama, bisa dilihat pada poin-poin berikut:

    Pertama : Sebagian ahli hadits membawakan atsar ini dalam bab yang diberi judul bab “Ijmak”. Sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Haafizh Al-Haitsami (wafat : 807 H) dalam kitabnya Majma’ Az-Zawaaid (1/427), beliau membawakan atsar ini dalam bab : بَابٌ فِي الْإِجْمَاعِ (bab tentang ijmak). Demikian juga dalam kitabnya Kasyful Astaar ‘An Zawaaid Al-Bazzar (1/81).
    Kedua : Banyak ulama yang berdalil dengan atsar ini untuk menyatakan hujjahnya ijmak. Diantara para ulama tersebut adalah;

    1. Ibnu Hazm Al-Andalusi Adz-Dzohiri (wafat 456 H), sebagaimana telah lalu perkataan beliau bahwasanya yang dimaksud dengan “kaum muslimin” adalah ijmak kaum muslimin.

    2. Abu Bakar As-Sarokhsi Al-Hanafi (wafat 490 H), ia berkata
    وفي قوله ما رآه المسلم حسنا بيان أن إجماع أهل كل عصر حجة
    “Dan pada perkataannya “Apa yang dipandang kaum muslimin baik…” penjelasan bahwa ijmak kaum muslimin pada setiap masa adalah hujjah” (Ushul As-Sarokhsiy, tahqiq : Abu al-Wafaa Al-Afghooniy, Lajnah Ihyaa al-Ma’aarif An-Nu’maaniyah 1/319)

    3. Al-‘Izz bin Abdis Salaam As-Syafi’i (wafat 660 H), ia pernah ditanya :

    “Pertanyaan : Apakah yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Apa yang dipandang kaum muslimin baik maka baik pula di sisi Allah’?

    Jawaban : Jika hadits tersebut shahih maka yang dimaksud dengan kaum muslimin adalah Ahlul Ijmak, Wallahu A’lam” (Al-Fatawaa li Al-Imaam al-‘Izz bin Abdis Salaam, tahqiq : Abdurrahman bin Abdil Fattaah, Daarul Ma’rifah, cetakan pertama, hal 42)

    4. Al-Haafiz Ibnu Katsiir As-Syaaf’i (wafat 774 H)

    “Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata “Apa yang dilihat oleh kaum mulsimin baik maka di sisi Allah juga baik, dan apa yang dilihat kaum muslimin buruk maka ia juga buruk di sisi Allah. Dan para sahabat seluruhnya telah memandang untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah” Isnadnya Shahih. Aku (Ibnu Katsiir-pen) berkata : Pada atsar ini ada hikayat Ijmak dari para sahabat dalam mendahulukan Abu Bakr sebagai khalifah” (yaitu atsar Ibnu Mas’ud-pen) (Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, tahqiq : Abdullah At-Turki, Daar Hajr, 14/386

    5. Al-Mardaawi al-Hanbali (wafat 885 H), silahkan lihat perkataannya di kitabnya At-Tahbiir Syarh At-Tahriir fi ushuul a-Fiqh, (tahqiq : Abdurrahman al-Jibrin, Maktabat Ar-Rusyd, 8/3823)

    Jika perkaranya demikian maka apakah ada bid’ah hasanah yang disepakati oleh kaum muslimin, disepakati oleh para ulama?, tidak ada seorangpun yang menyelisihi??. Jawabannya tentunya tidak ada !!!

    Akan tetapi berbeda jika yang dimaksud dengan bid’ah hasanah adalah bid’ah secara bahasa yang mencakup al-maslahah al-mursalah sebagaimana yang dipahami dari perkataan Imam As-Syafii –sebagaimana telah lalu-, beliau berkata (sebagaimana dinukil oleh Imam An-Nawawi dalam Tahdziib Al-Asmaa’ wa Al-Lughoot 3/23) :

    “Dan perkara-perkara yang baru ada dua bentuk, yang pertama adalah yang menyelisihi Al-Kitab atau As-Sunnah atau atsar atau ijma’, maka ini adalah bid’ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan-pen) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela”(lihat juga manaqib As-Syafi’i 1/469)

    Lihatlah Imam As-Syafi’i menyebutkan bahwa bid’ah yang hasanah sama sekali tidak seorang ulama pun yang menyelisihi. Jadi seakan-akan Imam Asy-Syafi’i menghendaki dengan bid’ah hasanah adalah perkara-perkara yang termasuk dalam bab al-maslahah al-mursalah, yaitu perkara-perkara adat yang mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan tidak terdapat dalil (nas) khusus, karena hal ini tidaklah tercela sesuai dengan kesepakatan para sahabat meskipun hal ini dinamakan dengan muhdatsah (perkara yang baru) atau dinamakan bid’ah jika ditinjau dari sisi bahasa.

    KEEMPAT : Pendalilan dengan atsar Ibnu Mas’ud ini untuk melegalisasi bid’ah karena penilaian baik sebagian orang ternyata bertentangan dengan perkataan yang masyhuur dari al-Imam As-Syafi’i rahimahullah :
    مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ
    “Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat syari’at”

    (Perkataan Imam As-Syafi’i ini dinukil oleh para Imam madzhab As-Syafi’i, diantaranya Al-Gozaali dalam kitabnya Al-Mustashfa, demikian juga As-Subki dalam Al-Asybaah wa An-Nadzooir, Al-Aaamidi dalam Al-Ihkaam, dan juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Al-Ihkaam fi Ushuul Al-Qur’aan, dan Ibnu Qudaamah dalam Roudhotun Naadzir)

    Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakekatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari’at yang baru.

    KELIMA : Jika telah jelas bahwasanya atsar ini bukanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi merupakan perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, maka bagaimana mungkin dibawakan maknanya kepada bid’ah hasanah?? Sementara Ibnu Mas’ud dikenal sangat menentang bid’ah. Sebagaimana telah lalu dimana beliau mengingkari orang-orang yang berhalaqoh untuk berdzikir secara berjama’ah !!!

    Dan beliaulah radhiallahu ‘anhu yang telah berkata :
    أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّكُمْ سَتُحْدِثُوْنَ وَيُحْدَثُ لَكُمْ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مُحْدَثَةً؛ فَعَلَيْكُمْ بِالْأَمْرِ الْأَوَّلِ (وفي رواية : بِالْهَدْيِ الْأَوَّلِ)
    “Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan berbuat perkara-perkara baru, dan akan diadakan perkara-perkara baru bagi kalian. Jika kalian melihat perkara muhdats/baru (bid’ah) maka berpegang teguhlah kepada perkara yang pertama (dalam riwayat yang lain : petunjuk yang pertama)” (Atsar riwayat Ad-Darimi dalam Sunnahnya no 174, Al-Laaikai dalam Syarh Ushul I’tiqood Ahlis Sunnah no 85, Ibnu Battoh dalam Al-Ibaanah al-Kubro no 181, Al-Marwazi dalam As-Sunnah no 80, dan dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/253 sebagai atsar yang valid dari Ibnu Mas’ud)

    Beliau juga yang telah berkata :
    اِتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا؛ فَقَدْ كُفِيْتُمْ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
    “Beriittiba’lah dan janganlah kalian berbuat bid’ah karena sungguh kalian telah dicukupkan, dan seluruh bid’ah adalah sesat” (Atsar diriwayatkan oleh Al-Laalikaai dalam Syarh Usuul I’tiqood Ahlis Sunnah 1/22, Al-Marwazi dalam As-Sunnah hal 92 no 79, Ibnu Waddooh Al-Qurthubi dalam Al-Bida’ wa An-Nahyu ‘an Haa, hal 17, dan Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid no 853 berkata : “Diriwayatkan oleh At-Thobroni di al-Mu’jam al-Kabiir, dan para perawinya adalah perawi as-shahih)

    rtikel : Hadits – Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits
    Hadits Mauquf
    Kamis, 19 Juli 12
    Definisi:
    Secara Bahasa (Etimologi):
    Ia adalah Isim Maf’ul (objek) dari kata dasar الوقف (berhenti), seakan-akan perawi memberhentikan hadits pada Shahabat, dan tidak menyertainya dengan penyebutan sisa sanad.
    Secara Istilah (Terminologi):
    Apa-apa yang disandarkan kepada Shahabat berupa ucapan, perbuatan atau persetujuan (ketetapan).
    Ada yang memberikan definisi lain, yaitu hadits yang diriwayatkan dari Shahabat, baik berupa ucapan, perbuatan atau selainnya, baik sanadnya bersambung atau pun terputus.
    Penjelasan Definisi:
    Maksudnya ia adalah apa-apa yang dinisbatkan atau disandarkan kepada seorang Shahabat atau sejumlah Shahabat, sama saja apakah yang dinisbatkan kepada mereka tersebut berupa ucapan, atau perbuatan atau persetujuan, dan sama saja apakah sanad yang sampai kepada mereka bersambung atau terputus
    Contoh: Hadits Mauquf Muttashil (Bersambung sanadnya):
    Hadits Malik bin Dinar berkata:

    « رأيت عبد الله بن عمر يبول قائما »
    ”Aku melihat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma kencing dalam keadaan berdiri.”
    Hadits ini disandarkan kepada ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan beliau adalah salah seorang Shahabat, dan yang disandarkan kepada beliau adalah perbuatan beliau. Maka yang seperti ini dinamakan Mauquf.
    Di dalam Muwatha’ Imam Malik disebutkan dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

    « ساعتان تفتح فيهما أبواب السماء قل أن ترد فيهما دعوة »
    “Dua waktu di mana pintu-pintu langit dibuka, jarang do’a tertolak pada kedua waktu itu.”(al-Muwatha’)
    Ini adalah ucapan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, dan hadits ini Mauquf dari Shahabat, dan beliau tidak menyadarkan sanadnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka yang seperti ini dinamakan hadits Mauquf.
    Kedua contoh di atas adalah contoh hadits Mauquf yang bersambung sanadnya, karena Imam Malik rahimahullah mendengar hadits dari Abu Hazim, dan Abu Hazim mendengar dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, dan dalam sanad tersebut tidak ada keterputusan, sehingga ia disebut hadits Mauquf Muttashil.
    Demikian juga hadits sebelumnya, Imam Malik rahimahullah telah mendengarnya dari ‘Abdullah bin Dinar rahimahullah, dan ‘Abdullah bin Dinar rahimahullah melihat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa. Maka ini menunjukkan bahwa hadits Mauquf terkadang Muttashil (bersambung sanadnya)
    Hadits Mauquf Munqathi’ (Terputus sanadnya):
    Dan terkadang hadits Mauquf sanadnya terputus (Munqathi’), sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq rahimahullah dari Ma’mar bahwasanya sampai kepadanya dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

    « كان يرفع يديه في التكبيرة الأولى من الصلاة على الجنازة ثم لا يعود »
    “Bahwasanya beliau (Ibnu Mas’ud) radhiyallahu ‘anhuma, biasa mengangkat keduatangannya pada takbir pertama dari Shalat Jenazah kemudian tidak mengulanginya.” (Mushanaf ‘Abdurrazaq)
    Maka hadits ini adalah Mauquf ke Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, karena ia adalah perbuatan Shahabat dan sanadnya terputus antara Ma’mar dan ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Maka ia bisa disebut sebagai hadits Mauquf yang Munqathi (terputus sanadnya)
    Dan ini juga menunjukkan bahwa hadits Mauquf terkadang Shahih dan terkadang tidak, yakni hadits Mauquf terkadang berlaku padanya tiga hukum suatu hadits, yaitu Shahih, Hasan dan Dha’if, dengan melihat pada terpenuhi atau tidaknya syarat-syarat hadits Shahih dalam sanad hadits Mauquf tersebut. Jika syarat-syarat hadits Shahih terpenuhi pada sanad tersebut, maka hadist Mauquf tersebut Shahih, dan jika terpenuhi syarat-syarat Hasan maka ia menjadi Hasan, dan jika terpenuhi syarat-syarat hadits Dha’if, maka ia pun menjadi hadits Mauquf yang Dha’if.
    Dan inilah hadits Mauquf atau sifat untuk sebuah hadits bahwasanya ia Mauquf, dan ini tidak ada kaitannya dengan ke-shahih-an dan ke-dha’if-an sebuah hadits, namun ia hanya berkaitan dengan kepada siapa ucapan atau perbuatan itu disandarkan.
    Pemakaian Lain Untuk Hadits Mauquf
    Dan terkadang istilah Mauquf dipakai untuk mengungkapkan ucapan atau perbuatan selain Shahabat (Tabi’in atau yang lainnya) namun dengan menggunakan Qaid (batasan/tambahan), misalnya ketika seorang Ulama mengatakan:” Fulan me-waquf/mauquf-kannya ke ‘Atha atau selainnya.” Padahal ‘Atha bukanlah seorang Shahabat. Adapun jika kata tersebut dimutlakkan (tidak menggunakan Qaid), seperti ucapan para Ulama hadits ini Mauquf, maka yang dimaksud adalah Mauquf ke Shahabat radhiyallahu ‘anhum
    Istilah Ahli Fiqih Khurasan Dalam Masalah Ini
    Para ulama Ahli Fiqih dari daerah Khurasan menamakan hadits Marfu’ dengan nama Khabar, sedangkan untuk hadits Mauquf dengan nama Atsar. Adapun para Muhadits (ahli hadits) menamakan keduanya Atsar, karena diambil dari kata {أَثَرْتُ الشَّيْءَ} ”Aku meriwayatkan sesuatu”.
    Hukum Hadits Mauquf
    Hadits Mauquf –sebagaimana sudah anda ketahui- terkadang Shahih, atau Hasan atau Dha’if, namun sekiranya ia Shahih, apakah ia bisa dijadikan Hujjah?
    Jawaban untuk hal tersebut adalah bahwa hukum asal dari hadits Mauquf adalah bukan hujjah, karena ia termasuk ucapan atau perbuatan Shahabat. Akan tetapi jika ia Shahih, maka ia bisa menguatkan sebagian hadits Dha’if –sebagaimana telah berlalu dalam pembahasan hadits Mursal- karena keadaan para Shahabat adalah bahwa mereka beramal dengan Sunnah. Dan ini jika tidak sampai ke hukum Marfu’ (sebagaimana akan datang penjelasannya Insya Allah pada pembahasan yang akan datang). Adapun jika ia sampai ke hukum Marfu –secara hukum- maka ia adalah hujjah seperti hadits Marfu’. Wallahu A’lam.
    (Sumber: Taisir Musthalah Hadits, karya Dr. Mahmud ath-Thahhan, cet. Maktabah al-Ma’arif Riyadh, hal 130-131 dengan sedikit tambahan dari sumber lain. Diterjemahkan dan diposting oleh Abu Yusuf Sujono)
    Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits : index.php
    Versi Online : index.php/?pilih=lihathadits&id=312

Comments are closed.