Keganasan Salaf Wahhabi/Salafi!

1
1,705 views

Pendahulu Kaum Wahhâbi Melarang Kaum Asy’ariyah Menuniakan Shalat Jum’at Di Masjid Jami’!

Kekakuan an keganasan sikap serta kebengisan perlakuaan yang sering kali kita saksikan dari kaum Wahhâbi/Salafi di berbagai daerah di tanah air dan juga seperti diberitakan di berbagai belahan duni Islam, khususnya ketika mereka merasa kuat… baik disebabkan banyak jumlah merreka atau karena ada dukungan dari penguasa … semua itu bukanlah hal baru dan sikap yang lahir dari kehampaan… Akan tetapi ia adalah model didikan dan doktrin yang ditanamkan dalam jiwa sempit mereka… ini adalah doktrin turn-temurun yang sudah menjadi bagian tak terpisahlkan dari ediologi dan keyakinan keberagamaan komunitas ini…

Sejarah mencatat bahwa pendahulu kaum Wahhabi/Salafi telah mengajarkan doktrin kekerasan dengan praktik nyata bagaimana mereka harus menyikapi lawan-lawan mereka; kaum Muslimin dari mazhab-mazhab lain selain mazhab Hanbali (yang mereka modifikasi menjadi mazhab galak dan sadis)!

Ibnu Katsir (ahli sejarah dan mufassir yang tak henti-hentinya dibanggakan kaum Salafi Wahhâbi) melaporkan (tentu kaum Wahhâbi harus menerimanya, sebab beliau adalaah imam terpercaya dalam keyakinan mereka)  bahwa kaum pendahulu kaum Wahhâbi (Hanâbilah) telah berbuat kejahatan agamis dengan melarang kaum Muslimin beraliran Asy’ariyah menunaikan shalat jum’at!

Dengar apa laporang Ibnu Katsir ketika beliau melaporkan pristiwa tahun 447 H:

وفيها وقعت الفتنة بين الأشـاعرة والحنابلـة ، فقـوي جانب الحنابلة قـوة عظيمـة ، بحيث أنه كان ليس لأحد من الأشاعرة أن يشهـد الجمعة ولا الجماعات .

“Pada tahun ini terjadilah fitnah (kekacauan) antara penganut Asy’ariyah dan kaum Hanâbilah. Lalu kuatlah posisi kaum Hanâbilah dengan kekuatan yang sangat sehingga tidak seorang pun dari pengikut Asy’ariyah yang dibolehkan menhadiri shalat Jum’at dan jama’ah.”[1]

Ibnu Jauzi juga melaporkan pristiwa tahun 447 H sebagai berikut:

ووقعت بين الحنابلة والأشاعرة فتنة عظيمة حتى تأخر الأشاعـرة عـن الجمعـات خـوفاً من الحنابلة .

“Dan terjadilah fitnah/kerusuha besar antara kaum Hanâbilah dan Asy’ariyah sampai-sampai kaum Asy’ariyah meninggalkan shalat jum’at karena takut dari kaum Hanâbilah.”[2]

Keurusahan yang terjadi, sekali lagi diakaibatkan kaum Hanbaliyah menyebarkan akidah sesat tentang tajsîm dan demi menikat hati kaum awam mereka membawa-bawa nama Imam Ahmad ibn Hanbal! Ibnu Kahldun merekam dengan rinci keganasan yang dipicu oleh pendahulu/Salaf kaum Salafi Wahhâbi dal;am masalah sifat Allah SWT. Ia melaporkan:

… وبين الحنابلة والشافعية وغيرهم من تصريح الحنابلة بالتشبيه في الذات والصفات ، ونسبتهم ذلك إلى الإمام أحمد ، وحاشاه منه ، فيقع الجدال والنكير ، ثم يفضي إلى الفتنة بين العوام .

“Dan antara kaum Hanbaliyah dan Syafi’iyah dan penganut mazhab lainnya terjadi perdebatan di mana kaum Hanbaliyah berterang-terangan dalam akidah tasybîh(menyerupakah Allah dengan makhluk-Nya) dalam Dzat dan Sifat dan mereka menisbatkan akidah itu kepada Imam Ahmad (dan tidak mungkin beliau berakidah seperti itu), lalu terjadilah perdebatan dan penolakan keras kemudian menyulut fitnah di kalangan kaum awam.”[3]

Abu Salafy:

Selamanya kaum Hanbaliyah (yang kini diwakili kaum Wahhâbi/Salafi) meracuni kaum awam (walaupun ulama mereka juga tidak kalah awamnya dengn kaum awam yang sangat awam) dengan bahasan-bahasan tentang tauhid yang berorientasi kepada doktrin penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. Walaupun mereka selalu ngoto mengelak bahwa akidah mereka itu adalah inti akidah tasybîb dan tajsîm!

Kini cara-cara itu juga mulai dipergunakan kaum Wahhâbi selalui otot-ooto preman bayaran untuk melarang kaum Muslim yang tidak mereka sukai untuk menegakkan shalat di masjid-masjid; rumah ibadah!

Jika nanti mereka kuat, mungkin saja apa yang diprktikkan pendahulu mereka juga dikalukan kepada kaum Mulim non Wahhâbi…

Coba perhatikan sikap mereka ketika mendapat sedekit angin segar… ketika sedikit merasa kuat.. langgar-langgar kaum Muslim yang dahulu membaca Mauludan dan Diba’an atau tawassul dan istighatsah mereka kuasai kemudian semua acara ritual itu diporak-porandakan… dilarang… dengan alasan bid’ah! Mengandung unsur syirik.. dll. masjid-masjid yang dahulu membaca qunut dilarang dengan alasan Nabi saw. tidak pernah mensunnahkan qunut!

Al hasil… mereka adalah kelompok ganas yang tidak pernah mentolerir perbedaaan mazhab! Hanya mazhab mereka saja yang boleh dijalankan… sebab hanya mazhab mereka yang mengikuti Al Qur’an dan Sunnah! Mazhab-mazhab lain sesat! Menyimpang dari tuntunan Salaf!

Bukankah cara berpikir seperti itu adalah bahaya?!

 


[1] Al Bidâyah wa an Nihâyah,12/71. terbitan Dâr ar Rayyân Li at Tutrâts-Kairo.

[2] Al Muntadzim,15/347.

[3] Tarikh Ibn Khaldûn,3/477.

 

sumber : http://abusalafy.wordpress.com/

1 COMMENT

  1. Kalau memang nabi tidak pernah melakukannya kenapa juga kita melakukannya bahkan memarakkannya??? Kurang kerjaan apa??? Yang dicontohkan nabi aja belum seluruhnya dilaksanakan malah bikin yang baru. Mau menyimpangkan umat dari ajaran nabi ya??

Comments are closed.