Kajian Kritis terhadap Pemikiran Wahabi (Bagian Kedua)

0
2,007 views

studi kritis wahabiRasul Saw bersabda, “Ketika bidah mulai tampak di tengah masyarakat, maka wajib bagi para ulama untuk melawan bidah dengan pencerahan-pencerahan mereka.” Dengan munculnya pemikiran-pemikiran sesat Ibnu Taimiyah dan kemudian Muhammad ibd Abdul Wahab, para ulama bangkit untuk melawan penyimpangan-penyimpangan tersebut. Mereka melalui berbagai media seperti, buku dan ceramah mengkritik pemikiran-pemikiran Wahabi. Pemikir besar Sunni, Syamsuddin Zahabi menulis banyak kritik terhadap pandangan-pandangan Ibnu Taimiyah.

Tokoh besar Sunni, Imam Taqiyuddin as-Subki juga tidak diam dalam menyikapi penyimpangan dan bidah-bidah yang diciptakan oleh Ibnu Taimiyah. Imam Subki mengenai Ibnu Taimiyah mengatakan, “Dia di balik jubah pengikut al-Quran dan Sunnah… telah menciptakan bidah dalam akidah Islam dan merusak rukun-rukun Islam.”

Di era modern, para ulama juga berkewajiban untuk memerangi bidah dan akidah-akidah batil kelompok Salafi. Seorang ulama besar dan peneliti senior, Ayatullah Jakfar Subhani mengutarakan beberapa pertanyaan dalam mengkritik akidah Wahabi. Landasan akidah Salafi adalah mengikuti para sahabat dan tabi’in dalam pemikiran dan perbuatan. Kelompok Salafi menegaskan kewajiban untuk mengikuti sirah Salaf Saleh dalam semua urusan. Di sini timbul pertanyaan bahwa siapa yang dimaksud dengan Salaf Saleh oleh Wahabi? Dan apa saja kriteria mereka?

Sekte Wahabi tidak memberikan kriteria untuk membedakan Salaf Saleh dari individu-individu lain. Mereka menganggap semua sahabat dan tabi’in pada tiga abad pertama Islam sebagai Salaf Saleh. Pada tiga abad pertama Islam, ada banyak peristiwa penting yang menghentak masyarakat Muslim dan kebanyakan dari sahabat dan tabi’in terbagi ke dalam berbagai kelompok dan mazhab. Di sini, Ayatullah Subhani bertanya, “Apakah para penguasa Dinasti Umayah yang telah menumpahkan darah Ahlul Bait Nabi as dan ribuan manusia tak berdosa, termasuk Salaf Saleh?” Apakah para khalifah Bani Abbas – khalifah pertama mereka dijuluki as-Saffah (penumpas darah) – juga termasuk Salaf Saleh?” Tokoh-tokoh Wahabi tidak memberi jawaban atas pertanyaan penting ini dan juga tidak mengizinkan para pengikutnya untuk meneliti peristiwa-peristiwa sejarah tersebut.

Ayatullah Subhani lebih lanjut mengatakan, “Jika kelompok Salafi menganggap ucapan dan perbuatan semua sahabat dan tabi’in sebagai parameter dalam bersikap serta menilai mereka semua sebagai Salaf Saleh, lalu bagaimana mereka menjustifikasi kasus pembunuhan khalifah ketiga? Karena khalifah ketiga termasuk salah seorang sahabat dan para pembunuhnya juga dari kalangan sahabat dan tabi’in.” Kelompok Salafi juga memilih diam dalam merespon pertanyaan tersebut dan mengatakan, “Kita tidak boleh berbicara tentang peristiwa-peristiwa di masa itu.”

Kelompok Salafi mengadopsi agamanya dari para sahabat dan tabi’in, tapi memilih diam terhadap perbuatan-perbuatan tercela yang dilakukan oleh sekelompok dari mereka dan mengikuti perilaku-perilaku batil mereka dengan fanatisme buta. Padahal, al-Quran mengajak umat Islam untuk menggunakan akal, berpikir dan mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu dan menganggap hal itu sebagai pelita untuk membedakan antara kebenaran dan kesesatan.

Salah satu ciri khas agama Islam adalah kaya akan hukum dan meliputi berbagai masalah. Agama langit ini memiliki hukum yang tetap dan hukum kondisional (mempertimbangkan keadaan). Dengan cara ini, Islam dapat menjawab semua tantangan zaman dan kondisi-kondisi yang berbeda. Hukum-hukum kondisional dikeluarkan oleh para mujtahid dan ulama besar yang punya kemampuan untuk berijtihad (mengeluarkan hukum syariat dari sumber-sumbernya). Para mujtahid dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan fikih umat Islam dengan fatwa-fatwa baru dan solutif. Pada dasarnya, ijtihad menjadikan agama Islam sebagai sebuah agama yang dinamis dan sempurna.

Di sini, kami paparkan sebuah contoh kasus ijtihad yang akan membantu kita memahami dengan baik dimensi kedinamisan agama Islam. Di era modern, ada banyak fenomena dan penemuan baru yang dijumpai di tengah masyarakat, di mana penggunaan beberapa dari penemuan itu memerlukan fatwa dari para mujtahid. Contohnya adalah inseminasi buatan. Ini merupakan sebuah penemuan baru di mana kaum Muslim tidak mengetahui hukumnya antara halal dan haram. Akan tetapi, para ulama besar seperti, Ayatullah Makarim Syirazi mengeluarkan sebuah hukum fikih mengenai inseminasi buatan dan menyatakan metode itu halal dilakukan dengan menjaga beberapa ketentuan.

Fatwa tersebut secara signifikan membantu umat Islam sehingga mereka dapat memanfaatkan kemajuan sains untuk kehidupan. Sementara kelompok Salafi tetap berpegang pada prinsip keliru mereka yaitu, mengikuti para Salaf Saleh dalam semua masalah secara mutlak. Pandangan awam ini sampai sekarang membuat sekte Wahabi tidak bisa memanfaatkan kemajuan sains dan teknologi. Ayatullah Jakfar Subhani dalam sebuah pertanyaannya kepada kelompok Salafi, mengatakan, “Bagaimana kita akan berpegang pada pandangan Salaf saat ribuan kasus di ranah akidah dan fikih memerlukan jawaban?” Anehnya lagi, para ulama Wahabi sebelumnya bahkan mengharamkan penggunaan telepon selular.

Wahabi sejak pertama kali kemunculannya, menuding kaum Muslim yang berbeda akidah dengan mereka sebagai kafir dan syirik. Mereka menginterogasi akidah umat Islam dan menghalalkan harta dan darah orang-orang yang berseberangan dengan doktrin Wahabi. Uniknya, mereka yang mengaku sebagai pengikut Salaf Saleh, justru tidak mengikuti kaum Salaf dalam menginterogasi akidah kaum Muslim. Ayatullah Subhani meyakini bahwa metode Salaf pada masa lalu adalah orang-orang yang telah mengucapkan syahadat dianggap Muslim dan tidak pernah menginvestigasi isi hati masyarakat atau menginterogasi akidah mereka.

Metode Rasul Saw juga tidak pernah menginterogasi akidah atau menanyakan isi hati masyarakat. Pada saat Khalid ibn Walid, salah seorang dari sahabat Nabi Saw berkata, “Kebanyakan dari jamaah shalat mengucapkan sesuatu melalui lisan meski mereka tidak meyakininya.” Rasul Saw menjawab, “Aku tidak pernah diperintahkan untuk menyelidiki hati masyarakat dan menyelami isi hati mereka.” Menurut riwayat tersebut, Rasul Saw menentang segala bentuk investigasi akidah. Sejak abad pertama dari pengutusan Nabi Saw, hanya kelompok Khawarij yang mengkafirkan pengikut mazhab lain, sementara Wahabi ingin menisbatkan pemikiran-pemikiran sesatnya kepada sirah sahabat dan tabi’in yang disebut Salaf Saleh.

Saat ini, kelompok Salafi yang mengaku mengikuti “Salaf Saleh” menghadapi umat Islam dengan pelabelan kafir atau aksi-aksi ledakan untuk menebar teror. Gerakan Takfiri yang dipromosikan oleh Salafi telah merugikan Islam dari dua sisi. Dari satu sisi, Salafi menjadi alat pengabdian kepada Zionis dan sekutu mereka untuk menciptakan kekacauan di negara-negara Muslim. Dan dari sisi lain, gerakan Salafi dengan penafsiran keliru tentang keadilan dan kebebasan, melakukan kejahatan luas dan pembantaian di banyak tempat. Mereka telah mencoreng citra Islam dan membuat agama suci ini dikenal sebagai agama kekerasan dan teroris. Sebenarnya, Salafi juga mengabdi kepada Amerika Serikat dan sekutunya dalam merusak citra Islam.

Kritik lain yang kerap dialamatkan kepada kelompok Wahabi adalah kekakuan pemikiran dan militansi mereka. Kekakuan pemikiran ini muncul karena mengesampingkan akal, logika dan kemampuan berargumentasi. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa berpikir satu jam dalam masalah penciptaan, sama dengan 70 tahun ibadah. Pengenalan terhadap Tuhan diperoleh dengan memikirkan dan merenungi nikmat-nikmat dan ciptaan-Nya, tapi sayangnya Wahabi menutup rapat-rapat pintu akal. Menurut Ayatullah Subhani, Salafi mengabaikan penggunaan akal sehat yang berakibat pada goyahnya landasan-landasan agama. Sebab, dasar agama tidak lain kecuali pengenalan Tuhan dan para Nabi melalui tafakkur dan perenungan.

Metode Salaf Saleh mengedepankan toleransi dan anti-kekerasan dalam semua masalah. Kunci kejayaan Islam di masa lalu juga diperoleh melalui perilaku mulia beberapa sahabat Nabi Saw dan tabi’in. Namun, metode Salafi zaman modern lebih menonjolkan kekerasan dan intoleransi. Mereka telah menghancurkan apa yang selama ini dimiliki oleh umat Islam, seperti kemuliaan, wibawa dan kejayaan.

sumber: (IRIB Indonesia)

NO COMMENTS