ISIS, Pion dari Sekutu Amerika di Timur Tengah

0
422 views

meyssanThierry Meyssan*
Kehancuran mendadak negara Irak oleh serangan kelompok ISIS, itulah yang disajikan oleh pers internasional. Tapi,  siapakah yang akan percaya bahwa sebuah negara yang kuat, yang ditopang oleh persenjataan dari Amerika Serikat, bisa jatuh dalam waktu yang kurang dari seminggu oleh kelompok jihadis independen? Selain itu, siapakah yang akan percaya bahwa mereka yang mendukung pergerakan ISIS di Suriah, lantas tiba-tiba mengutuk mereka di Irak?

Sejak tahun 2001, Kepala Pertahanan Amerika Serikat telah berusaha untuk memecah  ” lebih banyak lagi Timur Tengah” menjadi banyak  negara-negara kecil,  yaitu negara yang homogen secara etnis. Peta wilayah “Timur Tengah baru” diterbitkan pada bulan Juli 2006. Ia berencana untuk membagi Irak menjadi tiga yaitu negara untuk muslim Sunni, negara untuk muslim Syiah dan negara untuk bangsa  Kurdi.

Kegagalan Israel dalam menghadapi Hizbullah di musim panas tahun 2006, dan juga kekalahan  Perancis dan Inggris di Suriah pada 2011-2014, mengisyaratkan bahwa rencana tersebut telah ditinggalkan. Tapi bukan itu permasalahannya, kini pimpinan militer AS sedang mencoba untuk melanjutkan proyek melalui  modern condottieri, yaitu  menggunakan pasukan bayaran yang tidak terikat pada instansi pemerintahan – dan tentu saja, jihadis inilah yang mereka manfaatkan.

Peristiwa-peristiwa di Irak pekan lalu harus dilihat dalam perspektif ini. Pers internasional selalu menekankan pada gerakan ofensif  ISIS, padahal, hal ini hanya sebagian dari adanya agenda yang lebih luas.

Koordinasi  Serangan Ofensif Antara ISIS dan Kurdi

Dalam satu minggu, ISIS menaklukan  wilayah yang menurutnya harus menjadi bagian dari Daulah Islam (mayoritas berpenduduk Muslim Sunni), sementara Peshmerga menaklukkan wilayah yang mereka hendaki menjadi negara Kurdi yang merdeka.

Tentara Irak, dilatih oleh Washington, menjaga Nainawa dan Kirkuk, dan menerapkan struktur komando terputus, yaitu perwira senior yang diperintah untuk merujuk pada keputusan Perdana Menteri sebelum memindahkan pasukan mereka – tidak diizinkan untuk melakukan inisiatif apapun –sementara itu di lain sisi, mereka juga mengepalai pasukan. Oleh karena itu, mudah bagi Pentagon untuk “merampas” pejabat tinggi Irak, dan menghasut tentara mereka untuk membelot.

Sidang parlemen, yang diselenggarakan oleh Perdana Menteri al-Maliki, juga membelot dan tidak memutuskan sesuatu dalam keadaan darurat karena kurangnya kuorum, dan membiarkan pemerintah begitu saja  tanpa memberikan respon yang posistif.

Terhempas tanpa adanya adanya  pilihan lain untuk menyelamatkan keutuhan negaranya, al-Maliki pun meminta bantuan pada semua yang dianggapnya sebagai sekutu. Pada mulanya, ia meminta kepada rakyatnya sendiri, dan pada milisi Syiah (Tentara Mahdi) milik ‘saingannya’  Moqtada al-Sadr. Lalu, Maliki meminta datang kepada  GardaRevolusi Iran (General Qassem Suleimani,  yang saat ini ada di Baghdad), dan terakhir, ia meminta Amerika Serikat untuk datang kembali dan mengebom  pemberontak.

Pers Barat menekankan, bukan tanpa alasan, bahwa pemerintahan ala  Perdana Menteri  sering digugat oleh kedua kelompok minoritas Muslim Sunni dan Baath sekuler, lantaran kebijakannya yang terlihat  hanya menguntungkan kaum Syiah. Tapi ini sifatnya relatif, mengingat rakyat Irak telah memilih kembali koalisi Al-Maliki saat pemilihan parlemen pada 30 April 2014. Koalisinya mendapatkan seperempat dari jumlah suara, tiga kali lebih banyak daripada kelompoknya Moqtada al-Sadr, dan sisa suara lainnya tersebar dalam banyak partai kecil.

Serangan Ofensif  ISIS dan Pashmerga Telah Disiapkan Jauh-jauh Hari

Kaum Kurdi Irak mulai menampakkan dirinya di bawah perlindungan dari Amerika Serikat dan Inggris, dengan adanya zona larangan terbang yang ditetapkan antara dua kali invasi Barat (1991-2003). Sejak penggulingan Saddam Hussein, wilayahnya memperoleh otonomi khusus, yang dimasuki oleh pengaruh Israel. Dari sudut pandang ini, tidak terbayangkan bahwa Tel Aviv akan absen dari pengambilan Kirkuk. Namun, pemerintah daerah saat ini di Erbil telah memperluas yurisdiksinya atas seluruh wilayah Irak, diprediksi oleh Kepala Pertahanan AS – bahwa mereka hendak  membentuk negara Kurdi yang merdeka.

ISIS  adalah milisi kelompok Islam radikal yang bergabung dengan militan Al-Qaeda di Irak, setelah kepergian PaulBremer III dan penyerahan kekuasaan politik ke tangan rakyat Irak. Pada tanggal 16 Mei 2010, Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin Al-Qaeda di Irak yang telah dibebaskan, tanpa diketahui, telah diangkat sebagai emir dan berusaha kemudian menempatkan organisasinya di bawah otoritas Al-Qaeda.

Pada awal 2012, berdiri Jabhat al-Nusra di Suriah sebagai cabang Al Qaeda di Suriah. Kelompok ini  dimasukkan ke dalam “organisasi teroris” oleh Washington pada akhir tahun, meskipun  menuai protes dari Menteri Luar Negeri Perancis yang menyebut Al-Nusra sebagai  “orang-orang yang melakukan pekerjaan mulia di  muka bumi.”

Keberhasilan para jihadis di Suriah hingga pertengahan tahun 2013 mengubah kecenderungan kelompok mereka. Proyek Al-Qaeda yaitu revolusi Islam yang menyeluruh dianggap semu, sedangkan membentuk negara Islam di suatu wilayah tertentu [yang direpresentasikan ISIS] ternyata bisa dicapai. Karena itulah muncul  ide untuk mempercayakan ISIS untuk menguasai Irak, sebuah proyek yang gagal dicapai oleh  militer AS.

Operasi ISIS pun dimulai pada musim semi 2014 dengan membebaskan tahanan dari negara-negara Barat yaitu Jerman, Inggris, Denmark, Amerika, Perancis dan Italia. Laporan yang dikonfirmasi pertama kali dari badan intelijen Suriah adalah, ISIS dilatih oleh perwira Amerika, Perancis dan Arab.

Dalam konteks ini, terlihat bahwa ISIS tengah  memutuskan hubungan dengan al-Qaeda, seolah-olah kini mereka menjadikan satu sama lain sebagai saingan, sedangkan Al-Nusra tetap menjadi cabang Al-Qaeda resmi di Suriah. Tentu saja semua ini hanya kedok,  karena dalam kenyataannya, kelompok ini sejak awal  telah didukung oleh CIA sebagai perlawanan terhadap kepentingan Rusia di berbagai negara (Afghanistan, Bosnia-Herzegovina, Chechnya, Irak, Suriah).

Transformasi  ISIS pada bulan Mei menjadi organisasi regional (bukan lagi cabang regional dari sebuah organisasi global), dan siap untuk memenuhi peran yang ditugaskan oleh sponsornya beberapa bulan sebelumnya.

Organisasi ini tentu dikendalikan oleh Abu Bakr al-Baghdadi, tetapi berada di bawah otoritas Pangeran Abdul Rahman al-Faisal, saudara Pangeran Saud al-Faisal (menteri luar negeri Saudi ) dan Pangeran Turki al-Faisal.

Pada bulan Mei, al-Faisal membeli sebuah pabrik senjata di Ukraina. Cadangan senjata berat diterbangkan ke bandara militer Turki, lalu MIT (Turki Secret Service) meneruskannya dengan kereta api khusus untuk ISIS. Tampaknya tidak mungkin bahwa arus pasokan senjata tersebut bisa dilakukan tanpa melibatkan NATO.

Serangan Ofensif ISIS

Kepanikan yang mencengkeram penduduk Irak adalah akibat bayang-bayang  kejahatan yang dilakukan oleh ISIS di Suriah, yaitu menyembelih masyarakat sipil dan tentara dan menyalib umat Kristen. Menurut William Lacy, mantan duta besar AS untuk Afrika Selatan, setidaknya 550.000 warga Irak telah melarikan diri saat jihadis menguasai kota.

Mengenai jarahan itu – jika benar mereka mendapatkan uang senilai 429.000.000 dollar tunai, itu telah cukup untuk membayar para pejuang mereka selama setahun penuh. Selain itu, mereka juga telah mendapatkan banyak humvee buatan AS dan dua helikopter tempur. Jihadis ini tidak memiliki kemampuan untuk melatih pilot, lalu, pers internasional menunjukkan bahwa pilotnya adalah dari pendukung partai Baath era Saddam Hussein. Ini sangat tidak mungkin, pertama,  mengingat adanya perang antara pemerintahan Baath sekuler dan jihadis di Suriah, dan kedua,  karena pilot yang telah menghentikan latihan mereka selama beberapa tahun tidak akan serta merta siap untuk berperang lagi.

Ofensif Peshmerga dan ISIS memang diharapkan terjadi oleh para sekutu  Arab Saudi di wilayah tersebut. Juga, oleh  Presiden Lebanon Michel Suleiman [yang telah berpidato pada bulan Januari dengan meneriakkan “Hidup Arab Saudi!” dan bukan  “Hidup Lebanon!”.] Inilah mengapa, ia mencoba segala cara untuk memperoleh perpanjangan mandatnya yang berakhir 25 Mei untuk enam bulan ke depan, sehingga ia memastikan Lebanon berada dalam kontrolnya selama krisis.

Lagi pula, reaksi internasional terhadap krisis Irak ini ternyata inkoheren: semua negara tanpa terkecuali mengutuk ISIS  di Irak dan mengecam terorisme, sementara beberapa dari mereka yaitu Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, bersama-sama dengan ISIS tengah memerangi pemerintah Suriah. Dan sesungguhnya,  negara sponsor dari serangan ofensif ini  adalah Amerika Serikat, Arab Saudi, Perancis, Israel dan Turki.

*Tierry Meyssan adalah jurnalis asal Perancis, tulisan ini diterjemahkan dari voltairenet

 

sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS