Gerakan Salafi Kontemporer: Dari Timur Tengah Hingga Indonesia

0
1,780 views

INFOSALAFI.COM: Belakangan ini kembali merebak gerakan umat Islam Indonesia yang dipengaruhi oleh gerakan Islamisme di Timur Tengah. Dalam konteks historis, hubungan Islam Timur Tengah dengan Islam Indonesai bukanlah hal baru, tetapi telah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Namun, jika dulu hubungan tersebut punya kecenderungan intelektualisme, kini hubugan itu cenderung radikalisme baik baik dalam bidang pemikiran hingga konflik di lapangan. Satu hal yang menjadi benang merah, gerakan tersebut mengusung kembali tema-tema yang digaungkan oleh salafisme dan wahabisme. Karenanya sejarah kemunculan gerakan salafisme kontemporer suatu hal yang menarik untuk ditelusuri. Pada kesempatan ini, redaksi menurunkan tulisan ahli tentang gerakan salafi dan wahabi kontemporer yang mempengaruhi gerakan radikalisme di Timur Tengah hingga Indonesia.

———-

Di kancah gerakan Islam Timur Tengah kontemporer, istilah salafiyun adalah terminologi baru, yang sulit diketahui kapan mulai tersebar penggunaannya. Sebelumnya, salafi bukan merupakan sebuah mazhab, sebagaimnana misalnya Mazhab Hanafi ia juga bukan kelompok terorganisasi, seperti IM (Ikhwanul Muslimin). Ia merupakan semangat yang menyebar ke dunia Islam semenjak masa tabiin dan terkenal dengan sebutan al-salaf atau ahl al-asar yang dilawankan dengan ahl al-ra’yi dan al-mutasawwif. Istilah tersebut biasanya diidentifikasi dengan ahl al-hadis, atau para pengikut Ahmad bin Hambal yang mewarisi aliran Ahlul Hadis sebagai lawan dari ahl al-kalam dalam akidah, serta ahl al-ra’yi dalam fikih.

Sepanjang sejarah, telah banyak perbedaan serta pertentangan teori dan juga praktik yang terjadi antara para pengikut Ahmad bin Hambal dan pengikut aliran lain. Baik itu dari kalangan al-Asy’ariyah maupun al-Maturidiyah.

Inti perselisihan antara salafiyun dan kelompok-kelompok di seberangnya terfokus pada boleh-tidaknya penafsiran terhadap ayat-ayat maupun hadis sifat yang berkaitan dengan Allah yang dapat menyamakan-Nya dengan makhluk. Misalnya firman Allah, “(Yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah, Yang Bersemayam di atas Arsy”(Thaha : 5). Atau tentang turunnya Allah ke langit bumi di sepertiga akhir malam. Sebagaimana telah disebutkan dalam sebuah hadis. Demikian pula dengan penyebutan tangan, wajah, sisi, kaki, mata, serta nama-nama milik Allah. Mereka berselisih apakah itu semua bisa ditetapkan, diserahkan penuh kepada-Nya, atau bisa ditafsirkan.

Ahl al-Asar, atau para dai salaf, menetapkan itu semua hak Allah, sebagaimana Dia menetapkan hal itu bagi diri-Nya; tanpa perlu mempertanyakan bentuk, padanan, penafsiran maupun kapasitasnya. Sebagian kaum salaf cenderung menyerahkan makna dan meyerahkan interpretasinya kepada Allah, sehingga kita tidak tercebur untuk mendefenisikan atau menafsirkannya. Namun demikian ada kelompok lain yang menolak penisbatan pendapat kedua ini pada kaum salafiyun kelompok mereka. Sekalipun memang, pendapat ini diucapkan oleh sejumla orang dari mereka.

Orang-orang yang paling giat menyebarkannya, membela, melahirkan pikiran-pikiran serta menerangkan ajaran-ajaran salafiyah ini dalam bidang akidah, fikih, maupun etiket, adalah Syaikh al-Islam Ibnu Taymiyah beserta alirannya. Dan di antara murid-muridnya yang menonjol : Imam Abu Abdullah bin Qayyim. Kedua Syekh ini meninggalkan literatur yang sangat kaya demi kepentingan aliran salaf, yang muncul pada masa mereka dalam performa pembaruan dan reformasi.

Muhammad bin Abdul Wahhab

Muhammad bin Abdul Wahhab

Di zaman modern, aliran salafiyah kembali muncul lewat tangan pembaharu salafiyah di Jazirah Arab : Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, yang gerakannya memiliki karakter khusus memerangi segala bentuk syirik dan khurafat, menyerukan kemurnian tauhid, serta melindungi tauhid dari segala noda. Ia ingin membebaskan umat setelah mereka terkungkung dalam bid’ah zaman kemunduran dan tidak mengikuti salaf. Selain itu, Syekh Ibn Abdul Wahab juga memerangi penafsiran terhadap ayat-ayat maupun hadis-hadis tentang pelbagai sifat Allah. Dan inilah akar utama dalam aliran-aliran salafiyah.

Kemunculan aliran salafiyah di tangan Ibn Abdul Wahab ini mewarisi kecenderungan orang-orang sebelumnya dalam memahami teks-teks syariat secara harfiah, mengenyampingkan kajian akan beragam tujuan, makna, serta sebab-musabab yang melatarbelakangi hukum-hukum tersebut. Ini berbeda dengan dua imam aliran mereka : Syekh Ibn Taymiyah maupun Ibn al-Qayyim.

Oleh karena itu, meskipun disangkal oleh kalangan salafi, menurut Abou el-Fadhl, Gerakan Salafi dan Gerakan Wahabi merupakan gerakan yang sama. Wahabisme didirikan oleh muballigh abad 18 oleh Muhammad bin Abdul Wahab di Semenanjung Arab. (Ibn) Abdul Wahab berusaha membersihkan Islam dari kerusakan yang dipercayainya telah merasuk dalam agama. Dia menerapkan literalisme yang ketat yang menjadikan teks sebagai satu-satunya sumber otoritas yang sah dan menampilkan permusuhan ekstrem kepada intelektualisme, mistisisme, dan semua perbedaan sekte yang ada dalam Islam.

Menurut doktrin wahabi, sangat penting kembali pada kemurnian, kesederhanaan, dan kelurusan Islam yang dapat sepenuhnya diperoleh kembali dengan penerapan perintah Nabi secara harpiah dan dengan ketaatan penuh terhadap praktik ritual yang benar. Patut dicatat, wahabisme menolak semua upaya untuk menafsirkan hukum Allah secara historis dan kontekstual dengan kemungkinan adanya penafsiran ulang ketika kondisi berubah. Wahabisme menganggap sebagian besar sejarah umat Islam merupakan perusakan terhadap Islam yang benar dan autentik. Selain itu wahabisme mendefenisikan ortodiksi secara sempit dan sangat tidak toleran terhadap semua kepercayaan yang bertentangan dengan kepercayaannya.

Pada akhir abad ke-18, keluarga Saud bergabung dengan gerakan wahabi ini dan memberontak kepada kekuasaan Usmaniyah di Jazirah Arab. Pemberontakan ini sarat dengan pertumpahan darah, karena kaum wahabi membantai kaum Muslim dan Non-muslim tanpa pandang bulu. Ulama terkenal saat itu, seperti Hanafi ibn Abidin dan Maliki al-Sawi, menyebut kaum wahabi sebagai kaum khawarij modern, serta mengutuk fanatisme dan intoleransi mereka. Pada tahun 1818, bala tentara Mesir yang dipimpin Muhammad Ali memadamkan pemberontakan tersebut, dan wahabisme tampaknya ditakdirkan untuk menjadi sekadar peristiwa sejarah pinggiran yang tidak mempunyai pengaruh kuat pada teologi Islam.

Abd_Aziz ibn Saud 1927

Abd_Aziz ibn Saud 1927

Namun. Doktrin wahabiyah dibangkitkan lagi oleh Abdul Aziz ibn Saud pada awal abad ke-20 yang menggabungkan dirinya pada pemberontakan militan wahabi yang dikenal dengan ikhwan, pada awal kemunculan Arab Saudi. Meskipun disertai dengan tatanan negara Arab Saudi, wahabisme tetap merupakan doktrin yang terbatas pengaruhnya hingga pertengahan tahun 1970-an ketika harga minyak melonjak tajam, bersama dengan penarikan Arab Saudi yang agresif, secara dramatis berpengaruh pada penyebaran wahabisme di dunia Islam.

Wahabisme tidak menyebarkan dirinya sebagai salah satu aliran pemikiran atau salah satu orientasi tertentu dalam Islam, tetapi menyatakan diri sebagai “jalan lurus” Islam. Dengan menyatakan memiliki ketaatan harfiah pada teks agama Islam, dia dapat membuat klaim keautentikan yang dapat dipercaya pada saat identitas Islam sedang diperebutkan. Selain itu, para penganjur wahabisme menolak untuk disebut atau dikategorikan sebagai pengikut tokoh tertentu, bahkan termasuk (Ibn) Abdul Wahab sendiri. Para penganjurnya menegaskan diri bahwa mereka hanya sekadar mematuhi ketentuansalaf as-salih (para pendahulu yang terbimbing yaitu Nabi dan Para Sahabatnya) dan dengan demikian, kaum wahabi dapat memanfaatkan simbol dan kategori salafisme.

Ironisnya, sebagai sebuah gerakan, salafisme justru didirikan pada awal abad ke-20 oleh al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Rida sebagai teologi berorientasi liberal. Untuk merespon tuntutan modernitas, kata mereka, kaum Muslim perlu kembali pada sumber murni Alquran dan sunnah (tradisi Nabi) dan mengaitkan diri dengan penafsiran terhadap teks. Motor utama gerakan salafiyah, Muhammad Rasyid Rida (pendiri majalah al-Manar, penulis Tafsir al-manar, serta berbagai buku-buku reformis lainnya) banyak terwarnai oleh gurunya, Syekh Muhammad Abduh yang sangat terbuka terhadap gagasan Barat. Hal ini membuat Rasyid Rida tidak terlalu dilirik oleh kaum salafiyun modern. Mereka tidak memanfaatkan aliran pembaruan Rasyid Rida sebagaimana mestinya. Padahal, ia adalah pimpinan sejati dari aliran salafiyah yang tercerahkan.

Pada awal 1970-an wahabisme telah berhasil mengubah salafisme dari teologi berorientasi modernis liberal, menjadi teologi literalis, puritan dan konservatif. Harga minyak yang menaik tajam pada 1975, menjadikan Arab Saudi penganjur utama wahabisme, dapat menyebarkan doktrin wahabisme dengan wajah salafisme, yang dimaksudkan untuk kembali pada dasar-dasar autentik agama yang belum dirusak oleh berbagai tambahan praktik sejarah.

Kelompok-Kelompok Salafiulama wahabi salafi takfiri (2)

Kaum salafiyah kontemporer di Timur Tengah tidak berwujud dalam satu kelompok saja, tapi menjadi beberapa kelompok.

Pertama, kelompok salafiyah politik yang dengan alasan universalitas risalah Islam lebih menaruh perhatian pada persoalan-persoalan politik ketimbang akidah. Mereka adalah kelompok yang terpengaruh oleh pemikiran Ikhwan al-Muslimin. Mereka biasa disebut salafiyun sururiyyun dengan merujuk pada dai Syiria Muhammad Syurur Zein al-Abidin, seorang anggota IM yang memisahkan diri. Kelompok inilah yang menentang keberadaan Amerika Serikat dan intervensi militernya dalam perang Teluk ke-2. Mereka juga menentang politik Saudi Arabia yang terpaku pada banyak pertimbangan. Itulah sebabnya banyak dari mereka yang harus masuk penjara, menyulitkan para pengikut mereka, serta mempersempit ruang gerak mereka di negeri Raja Saud tersebut. Tokoh-tokoh kelompok ini antara lain Salman al-Audah, Safar al-Hwali, Aid al-Qarni, dan lain-lain. Namun mereka kemudian dibebaskan dan terjadi rekonsiliasi dengan pemerintah.

Kedua, salafiyun al-albaniyun yang mengikuti Syaikh al-Muhaddis Nasiruddin al-Albani. Mereka memerangi fanatisme mazhab fikih dan menolak taklid, sekalipun oleh kalangan awam. Namun, pada saat yang bersamaan, mereka justru mentaklidi semua pendapat Syaikh Nasiruddin al-Albani, dan mentahbiskan diri mereka sebagai “mazhab kelima”.

Ketiga, salafiyun al-jamiyun (salafiyun yang beringas). Tokoh kelompok ini adalah Syekh Rabi’ al-Madhkhali. Kelompok ini gemar menyalahkan dan menyerang semua ulama maupun dai yang bertentangan dengan mereka. Tak ada figur yang selamat dari serangan kelompok ini, baik dari zaman klasik maupun modern. Imam Nawawi dan al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani, termasuk yang mereka salahkan, hanya karena mereka berdua seorang penganut Asy’ariyah. Di antara ulama modern yang sering diserang antara lain : Hasan al-Banna, Sayid Qutb, Syekh Muhammad al-Ghazali, Yusuf al-Qardhawi, Muhammad Imarah, Fahmi Huwaidi, Ali al-Tantawi, dan sebagainya. Kelompok ini menulis beberapa buku untuk menyerang mereka.

Keempat, salafiyun pengikut Syekh Abdurrahman Abdul Khalik di Kuwait.

Kelima, salafiyun pengikut Syekh Bin Bazz dan Syekh Usaimin di Saudi Arabia.

Kedua kelompok ini terakhir ini belum berbentuk organisasi yang rapi.

LIPIA

LIPIA

Persentuhan awal para aktivias Gerakan Salafi  di Indonesia dengan pemikiran salafisme terjadi pada tahun 1980-an bersamaan dengan dibukanya Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA) di Jakarta. Lembaga yang kemudian berganti nama menjadi LIPIA ini memberikan sarana bagi mereka untuk mengenal dan mendalami pemikiran-pemikiran para ulama salafi. LIPIA adalah cabang dari Universitas Muhammad Ibnu Saud di Riyadh. Pada awal tahun 1980 Imam Muhammad bin saud University di Riyadh yang telah memiliki cabang di Djibouti dan Mauritania memutuskan membuka cabang ketiga di Indonesia.

Pembukaan cabang baru di Indonesia ini terkait dengan gerakan penyebaran ajaran wahabi yang berwajah salafi ke seluruh dunia Islam yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi pasca bom minyak pada pertengahan tahun 1970-an. Sejak masa booming minyak itu, terdapat berbagai lembaga Islam di dunia termasuk di Indonesia yang memperoleh  bantuan keuangan maupun bentuk lain dari pemerintah Arab Saudi. Di Indonesia, sebagian besar bantuan ini diterima oleh lembaga-lembaga dakwah yang berafiliasi secara ideologis kepada organisasi  puritan, seperti : Persis, Al-Irsyad maupun organisasi puritan modernis seperti Muhammadiyah dan DDI (Dewan Dakwah Islamiyah).

Selain menyediakan beasiswa studi di Arab Saudi bagi mahasiswa Indonesia, pemerintah Arab Saudi mendirikan lembaga pendidikan di Indonesia yang memiliki misi menyebarkan ajaran wahabiyah/salafiyah dan penyebaran bahasa Arab pada pertengahan tahun 1980-an. Pada awalnya lembaga pendidikan yang memberikan beasiswa penuh kepada semua mahasiswanya ini bernama LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab). Setelah membuka fakultas syariah dan program diploma, lembaga ini mengubah namanya menjadi LIPIA. Lembaga ini telah melahirkan ribuan alumni yang pada umumnya berorientasi wahabi-salafi dan berbagai variannya. Sebagian menjadi aktivis Partai Keadilan (sekarang PKS—peny) dan sebagian lain menjadi penganjur dakwah salafi. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa dari semua agen penyebaran salafisme di Indonesia, tak satu pun yang lebih penting dari LIPIA.

Upaya membuka cabang di Indonesia ini di awali dengan datangnya Syekh Abdul Aziz Abdullah al-Ammar, seorang murid tokoh paling penting salafi di seluruh dunia Syekh Abdullah bin Baz ke Jakarta. Oleh bin Baz, ia disuruh bertemu dengan Muhammad Natsir sesampainya di Jakarta. Muhammad Natsir menyambut baik rencana pendirian lembaga ini dan bersedia menjadi mediator dengan pemerintah Indonesia. Selanjutnya, Natsir dan DDII memegang peran penting dalam rekruetmen mahasiswa-mahasiswa baru. Maka sejak awal berdirinya lembaga ini, sebagian besar mahasiswa LIPIA berasal dari lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki jaringan dengan DDII, misalnya : PERSIS, Muhammadiyah dan al-Irsyad.

Lembaga baru ini mengikuti kurikulum lembaga induknya dan di fakultas-fakultasnya terdapat ulama-ulama salafi yang dikirim Saudi Arabia. Lembaga ini memberikan beasiswa penuh mencakup buku-buku, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup yang standar 100-300 real, setara dengan 27-82 dollar. Terdapat sejumlah mahasiswa yang memperoleh beasiswa melanjutkan studinya di prgram Master dan Doktor di Riyadh. Di antara lulusan pertama lembaga ini menjadi tokoh-tokoh terkenal gerakan salafi. Di antara mereka adalah Abdul Hakim Abdat, Yazid Jawas, Farid Okbah, Ainul Harits, Abu Bakar M. Altway, Abu Nida, Ja’far Umar Thalib, dan Yusuf Usman Baisa.

Setelah lulus dari LIPIA, Abdul Hakim Abdat secara otodidak mengkaji ilmu hadis dan pemikiran para ulama salafi yang tersedia lengkap di perpustakaan LIPIA. Pendalaman intensif ilmu hadis ini mengantarkan ia terkenal sebagai ahli hadis di kalangan gerakan salafi, khususnya di Jakarta. Sedangkan Yazid Jawas, Farid Okbah, Ainul Harits, dan Abu Bakar M. Altway selepas dari LIPIA langsung mendirikan berbagai lembaga dakwah.

Abdul Hakim Abdat

Abdul Hakim Abdat

Menurut Abdul Hakim Abdat, ia mengenal pemikiran salafi sejak menjadi mahasiswa di LIPIA. Ia adalah siswa LIPIA angkatan pertama. Melalui persentuhan dengan LIPIA ia berkenalan dengan pemikiran para ulama salafi  yang diajarkan  para dosen. Selanjutnya ia mempelajari secara intensif pemikiran salafi yang tersedia banyak di perpustakaan LIPIA. Bahkan hingga kini, perpustakaan LIPIA tetap ia kunjungi secara teratur. Maka ia mendalami kitab-kitab karya Abdullah bin Baz, Syekh Nasir, Syekh al-Albani dan sebagainya. Selain itu, ia juga memiliki hubungan khusus dengan para dosen LIPIA, karena sesungguhnya LIPIA bermazhab dan bermisi salafi.

Sebagaimana yang dikatakan Abdul Hakim, lembaga ini memang mengajarkan pemikiran-pemikiran ulama salafi. Dari materi kuliah ini para mahasiswa menerima ajaran salafi dari dosen, buku-buku rujukan dan nadwah-nadwah (kuliah umum). Pemikiran-pemikiran lebih mendalam dari para ulama salafi juga bisa didapatkan dari membaca sejumlah besar buku di perpustakaan kampus.

Selain menerima pengajaran di kampus, para mahasiswa juga mendapatkan mater-materi kesalafian di nadwah-nadwah yang diselenggarakan di asrama. Nadwah-nadwah ini menghadirkan para dosen yang sebagian besar dari Arab Saudi. Kelompok-kelompok diskusi kecil dengan bimbingan senior (mahasiswa semester akhir) juga dibentuk di kamar-kamar asrama. Kelompok diskusi ini dirasakan lebih efektif, karena bisa mengontrol langsung perilaku, ucapan dan bahan bacaan para mahasiswa. Jika ada mahasiswa yang dianggap menyimpang dari ajaran salafi baik tindakan, pemikiran maupun buku-buku yang dibaca, sang senior langsung menegur dan meluruskan.

Pembentukan keyakinan, pandangan, sikap dan tindakan yang sesuai dengan ajaran salafi menjadi orientasi utama. Dalam perkuliahan sehari-hari, mahasiswa ditekankan untuk memahami, menghayati dan menghapal materi-materi kuliah yang berbasis faham salafi itu. Di kelas tidak berkembang suasana mendorong olah pemikiran. Atmosfer indoktrinasi lebih mewarnai perkuliahan. Menyampaikan pemikiran lain apalagi menyangkal ajaran-ajaran utama salafi khususnya soal akidah (teologi) sangat tidak dikehendaki. Jika didapati mahasiswa yang memiliki pandangan dan keyakinan lain, maka ia terancam mendapatkan nilai buruk dan pada akhirnya akan tereliminasi pada kenaikan tingkat berikutnya.

Susana resistensi terhadap pemikiran-pemikiran non-salafi juga sangat terasa di asrama. Para mahasiswa tidak dibenarkan mengikuti kajian-kajian Islam yang lain termasuk kegiatan organisasi ekstra kampus, seperti : PMII, HMI maupun IMM. Organisasi-organisasi ini dianggap menyebarkan pandangan-pandangan Islam yang menyimpang, karena mengedepankan rasionalisme dalam agama. Pada awal 1990-an, masih memungkinkan sebagian kecil dari mahasiswa yang secara diam-diam bergabung dengan PMII dan HMI. Namun, pada akhir 1990-an, hingga sekarang tidak lagi dimungkinkan mahasiswa mengikuti kegiatan organisasi ekstra kampus. Satu-satunya kajian Islam di luar salafi yang bisa berkembang di LIPIA adalah pengkajian tarbiyah Ikhwanul Muslimin.

Selain dari LIPIA, beberapa tokoh gerakan salafi juga menimba ilmu di Arab Saudi, Yaman, Afghanistan dan Pakistan. Yusuf Usman Baisa dan Abu Nida misalnya, selepas dari LIPIA melanjutkan studinya di Universitas Islam Imam Muhammad Ibn Saud di Riyadh, universitas induk LIPIA. Selepas dari Riyadh, Yusuf Usman Baisa mendirikan pesantren al-Irsyad di Salatiga. Adapun Abu Nida—yang bernama asli Chamzah Sofwan—selama berada di Riyadh, atas bantuan Ustadz Abdul Wahid (Kepala Kantor DDII di Riyadh) menjalin hubungan banyak dengan organisai di Timur Tengah, sehingga memiliki kontak yang luas, khususnya dengan organisasi funding Islam. Melalui DDII Riyadh pula Abu Nida berkenalan dengan organisasi Kuwait Jamiat Ihya al-Turats al-Islami.

Setelah lulus pada 1985, ia pergi ke perbatasan Pakistan-Afghanistan untuk bergabung dengan Jamil al-Rahman selama tiga bulan. Lalu ia kembali ke Indonesia untuk mengajar di Pesantren Ngruki pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Pada 1986 ia menikah dengan santri Ngruki dan pindah ke Sleman Yogyakarta, di mana ia mengajar di Pesantren DDII, Ibnul Qayyim, dan mulai menyebut dirinya guru salafi. Dia dikenal orang yang berjuang untuk menyebarkan Islam di Yogyakarta yang telah dirusak oleh “pembaharuan dan modernisasi”.

Sedangkan Ja’far Umar, sebelum lulus dari LIPIA ia bertengkar dengan salah seorang gurunya dan pergi ke Institut Maududi di Lahore dengan bantuan beasiswa dari DDII pada 1986. Ia juga bertengkar dengan gurunya di Institute Maududi, dan pada 1987 ia bergabung dengan perjuangan melawan Uni Soviet di Afghanistan. Selama dua tahun ia belajar dan di training oleh Jamil al-Rahman di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Ia kemudian menyatakan mengadopsi manhaj salafi pada januari 1990. Setelah mengajar di Pesantren al-Irsyad yang dipimpin oleh Yusuf Baisa selama dua tahun, ia kemudian tinggal di Yaman pada tahun 1991 untuk belajar kepada tokokh salafi Syekh Mukbil ibn Hadi al-Wadi di Dammaz.

Dari penjelasan intelektual para tokohnya terlihat jelas bahwa sistem pengajaran timur Tengah menjadi faktor penting perkenalan lebih mendalam, internalisasi dan pendalaman ajaran salafi di kalangan aktivis salafi di Indonesia. Namun demikian pengaruh pemikiran dari organisasi puritanis, seperti : DDII, Muhammadiyah, al-Irsyad dan Persis yang menjadi latar belakang dari mana mereka berasal juga memberikan dasar-dasar yang tidak bisa diabaikan.

(sumber: “Arus Baru Islam Radikal : Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia”  oleh M. Imdadun Rahmat by:liputanislam.com)

 

sumber : http://www.infosalafi.com/

NO COMMENTS