Wawancara ekslusif dengan warga NU di Suriah

1
954 views

Wawancara ekslusif dengan warga NU di Suriah

 

nahdatul-ulama-_120720112019-361LI: Ustadz selaku warga NU, �bagaimanakah memandang kehidupan beragama di Suriah? Ada informasi yang pernah beredar bahwa katanya Assad mengaku Tuhan yang minta disembah dan ini disampaikan oleh Sheikh Muhammad Arifi dari Saudi.

UMM: Disini pemerintah berpaham sekuler. Semua kepercayaan boleh tumbuh. �Bahkan partai komunis juga ada di Suriah. Tetapi pemerintah melarang agama diseret �ke dalam ranah politik, dan karenanya tidak diperkenankan agama atau kesukuan menjdi dasar sebuah partai. Walaupun demikian, fiqh Hanafi menjadi salah satu sumber hukum utama dalam hukum akhwal syakhsiyyah disini.

Di Damaskus saja bertebaran puluhan Tsanawiyah Syar?iyah (setingkat MTs dan Madrasah Aliyah Keagamaan) dan 5 ma?had syar?i (mirip pondok pesantren) di bawah kementrian Awqaf. Itu smua milik Sunni. Di Damaskus juga terdapat satu hauzah (pendidikan tinggi) milik Syiah.

LI: Lalu bagaimana dengan kondisi masyarakatnya? Dengan bebasnya semua agama dan aliran hidup dan berkembang di Suriah kemungkinan yang terjadi adalah timbul gesekan-gesekan dari kelompok A dengan B. Contoh saja di Indonesia, meski ada pasal yang menerangkan terjaminnya hak-hak warga negara dalam meyakini dan beribadah sesuai dengan kepercayaannya, disana-sini kini marak bom di depan wihara, di gereja dan kadangkala ada pembubaran acara yang diadakan oleh suatu kelompok dengan alasan bid?ah, sesat �dsb. Di Suriah bagaimana Ustadz?

UMM: Itulah bedanya Indonesia dengan Suriah. Kerukunan di sini tidak diurus pemerintah. Yang fokus terhadap �kerukunan adalah tokoh agama masing-masing dan setiap individu itu sendiri. Jangan heran ketika Natal tiba, ada deretan kursi diluar gereja dan melihat kaum muslimin yang menata kursi. Kursi-kursi� itu memang disediakan untuk kaum muslimin yang ingin mengucapkan selamat kepada umat Kristiani setelah melakukan misa. Itu saya lihat langsung di pinggiran Damaskus.

Semboyan disini, al din lillah; wal wathan li al jami? (agama untuk Allah, negara untuk masyarakat)
Juga jangan heran ketika tokoh besar Islam meninggal, semua gereja-gereja di Damaskus membunyikan lonceng sebagai tanda belasungkawa.Jangan heran pula jika melihat tokoh tokoh �gereja datang dan memberikan �sambutan di majelis ta?ziyah ulama-ulama. Mereka hadir, tapi tidak ada yang saling mengikuti peribadatan masing-masing. Sudah sepuluh tahun saya di sini, dan tidak pernah ada gesekan berbau agama dan keyakinan.

LI: Apakah pemerintah Suriah memfasilitasi kegiatan keagamaan di sana? Misalnya, membangun masjid dan menanggung biaya pemeliharaan.

UMM: Pembangunan dan pemeliharaan masjid dan sekolah-sekolah keagamaan dibiayai oleh masyarakat lewat yayasan-yayasan sosial keagamaan. Sedangkan imam, khatib dan penjaga masjid digaji oleh pemerintah. Kecuali masjid-masjid dan situs yang termasuk dalam cagar budaya pemerintah, maka biaya pemeliharaan dan operasional ditanggung negara, seperti �Masjid Agung Umawi, Gereja St Paulus, benteng hingga museum.

LI: Bagaimanakah karakter masyarakat Suriah ditinjau dari sisi agama? Apakah mereka religius atau cenderung moderat? Bagaimana dengan aturan berpakaian, adakah kewajiban pakai hijab atau burqa selama ini untuk wanita muslim? Saya baca di salah satu media pendukung pemberontak, kabarnya di wilayah Raqqa yang saat ini dibawah ISIS, mulai dijalankan syariat Islam seperti wajib memakai cadar, dan wajib shalat berjamaah bagi laki-laki. Yang tidak shalat berjamaah akan dihukum. Apakah aturan seperti ini cocok untuk Suriah menurut Ustadz?

UMM: Setahu saya, rakyat Suriah itu cukup religius tapi mereka juga� moderat, dalam artian setiap orang berhak dan bebas menjalankan keyakinannya masing-masing. Disini bebas pakai �cadar atau jeans. Yang menentukan etika dalam berpakaian dalam hidup bermasyarakat adalah para agamawan bukan pemerintah.

Dan lazimnya dalam masyarakat, pasti ada yang berakhlak baik serta peduli aturan dan syariat agama, dan ada juga yang tidak. Tapi yang pasti, pengajian dan masjid cukup ramai didatangi para jamaah. Jauh berbeda dengan Lebanon. Dan yang menggembirakan, yang s[truncated by WhatsApp]

1 COMMENT

Comments are closed.