Awas! Indonesia Terjangkit Gerakan Takfiri Internasional

0
302 views
FOTO-KAKI
SUARA-MUSLIM.COM, Surabaya – Umat Islam dunia menghadapi persoalan serius. Adalah Konflik berlatarbelakang sektarian. Hal yang sama mulai berkembang di tanah air, Indonesia. Ada gerakan menyamakan Indonesia dengan Saudi Arabia. Konflik Timur Tengah bisa merembet ke mana-mana. Sejumlah kiai di Indonesia merasa khawatir dengan maraknya gerakan Islam radikal. Mereka sudah terang-terangan, dan mudah menyulut konflik horisontal. “Kita semua harus berpikir jenih mengantisipasi semua itu,” tegas salah seorang kiai di Surabaya, Senin (2/9).
Ia kemudian mengingatkan peta politik (islam) internasional. Beberapa waktu lalu, mantan menteri Libanon, Dr. Fayez Shukr Sraha dalam sebuah wawancara terdengar sangat mengejutkan, dia mengklaim akan menghancurkan Kabah, rumah Allah dipersembahkan untuk Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Fayez adalah ketua partai “The Arab Socialist Ba’ath Party of Lebanon”, yang tak ada sangkut pautnya dengan gerakan Hizbullah Libanon, hanya saja Fayez pernah menjabat sebagai Menteri negara itu selama tujuh tahun.

 

Dia lebih jauh mengancam akan menghancurkan Riyadh dan Jeddah dengan harga apapun demi Presiden Suriah, Bashar al-Assad. Tapi, ironisnya, oleh media pro Taliban dan al-Qaeda Indonesia, pernyataan Fayez di atas dianggap sebagai statmen yang dihubung-hubungkan dengan gerakan Hizbullah, Libanon, bahkan dianggap sebagai Jubir gerakan perlawanan itu.

 

Di berbagai media takfiriyah, umat atau pembaca memang disuguhi kue pertikaian mazhab dan agama, dan tak tanggung-tanggung pemirsanya dianggap sebagai tong sampah yang tak punya pilihan. Karenanya tak mencurigakan jika media-media tersebut tengah menyuarakan perang sektarian dan menganggap bumi Indonesia, adalah bumi kerajaan Saudi Arabia dan dengan itu mereka selalu membangkitkan emosional umat Islam Indonesia.

 

Karena itu, penting juga mendengar pernyataan Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj perihal gerakan Islam radikal di Indonesia. Kiai Said pernah menyebut bahwa ada 12 yayasan berkedok Islam di sejumlah daerah merupakan cikal bakal teroris di Tanah Air. Tak tanggung-tanggung, yayasan-yayasan itu mengajarkan doktrin pengeboman dan pembantaian di Indonesia. Ini tidak boleh dianggap sepele. “Kami telah merekomendasikan ke-12 yayasan itu agar dipantau gerakannya, bahkan sebaiknya dibubarkan saja,” kata Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj setelah melantik kepengurusan PWNU Jatim 2013–2018 di Surabaya, Kamis (22/08).
KH. Said Aqil Siradj juga mengatakan, salah satu yayasan itu adalah Yayasan AF, beralamat di Surabaya. Sementara di Jakarta, ada Yayasan AS, tepatnya di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Ajaran salafi Wahabi juga ada di Jalan Kali Tanjung, Kecamatan Grahsan, Cirebon, Jawa Barat. Paham mereka, menurut Kiai Said, di bawa naungan Yayasan AS yang radikal itu. “Wahabi memang bukan teroris, tetapi ajarannya yang radikal itu jika dipoles sedikit bisa mengarah ke teroris. Buktinya, pentolan teroris di Indonesia bersumber dari situ semua,” kata Kiai Said sebagaimana dikutip Duta beberapa waktu lalu.
Bahkan menurut Ketua Umum PBNU itu, mereka menganggap ziarah kubur itu bid’ah dan menuduh warga NU kafir. “Kita hanya bisa menjaga agar warga NU, terutama anak-anak muda agar tidak tertarik kepada mereka. Itu yang akan kita jaga dengan memberi pemahaman yang benar,” katanya.
Dan otoritas keamanan Indonesia memang harus tetap membangun kewaspadaan tinggi. Jika tidak, dunia sedang berputar cepat, revolusi meletus di banyak tempat, dan kabar TV hari-hari ini telah memperlihatkan bahwa ketakutan pada senjata dan bom itu ada batasnya. Dan ketika batas itu terlampaui, ketika gagal filosofi senjata dan bom, maka dikhawatirkan berpindah menjadi pemberontakan untuk melawan dan dengan enaknya menghakimi lawan. Inilah yang harus diantisipasi oleh para ulama dan umara di Indonesia. (am/ duta)

NO COMMENTS