Wahabi Masuk Televisi Nasional Seperti RCTI, TVOne dan ANTV, Waspada yang Lainnya

0
440 views

Bachtiar Nasir, Lc. Alumni Univ Islam Madinah, Sekjen MIUMI, dan aktif ceramah berbagai tempat ini adalah seorang misionaris wahabi di Indonesia. Beberapa tahun lalu dia berhasil menembus televisi swasta nasional ANTV bersama Yusuf Mansur dengan acara audisi pendakwah atau da’i muda. Kemudian di TVOne beliau juga pernah dengan keras mengemukakan anti-komunisme-nya dan mengisyaratkan bahwa orang-orang yang berpaham marxis-sosialis tidak berhak hidup di Indonesia. Sekarang ini sekali lagi dia menembus stasiun televisi dalam acara KULTUM di RCTI.

Paham wahabi adalah paham yang gampang sekali mengkafirkan dan mengatakan sesama muslim sebagai sesat, bid’ah, dan khurafat jika ada hal-hal yang menurut mereka tidak sesuai atau menyelisihi al-Qur’an, Sunnah, dan tiga generasi pertama umat Islam yang sering mereka istilahkan salaf al-shalih. Khusus untuk Bachtiar Nasir ini, dia menyebarkan ajaran wahabi–salah saktu sekte dalam komunitas muslim dunia–setelah menyelesaikan studinya di Saudi.

Ada pengalaman pribadi ketika beberapa tahun lalu di Bekasi, tepatnya pada khutbah shalat ied, dia mengatakan bahwa Islam adalah agama sekaligus ideologi paling benar dan terletak di atas isme-isme yang ada di dunia, seperti nasionalisme, kapitalisme, sosialisme, dll. Menurutnya, umat Islam Indonesia tidak boleh mempunyai rasa nasionalis terhadap negara apalagi menjadikan sesuatu yang bukan dari Islam seperti Pancasila serta UUD 45 sebagai pedoman, panutan, dan hukum.

Kemudian dia berulah lagi dengan mengatakan bahwa Syi’ah adalah sesat dan bukan dari Islam. Karena itu, ketika terjadi kekerasan di Sampang seperti yang dialami oleh minoritas Syi’ah di sana, dia malah membandingkannya dengan tragedi di Suriah yang menurutnya adalah perang antara Sunni-Syi’ah abad modern. Sebagaimana yang tercantum dalam situs pribadinya yang bertajuk, “Jangan Ragu Memvonis Kesesatan Syi’ah.”

Kali ini dia menyerang Jokowi yang dicapreskan PDI-P di akun twitternya. Pemerintah Kita kurang tegas dan lemah. Orang semacam ini yang membuat Indonesia kacau. Media di Indonesia juga sekali lagi memegang peranan penting dalam membuat sebagian bangsa menjadi radikal, karena media hanya memikir duit. Tidak ada upaya media untuk memikirkan deradikalisasi bagi para radikalis, tapi malah melegitimasi keberadaan mereka. Sangat disayangkan.

bachtiar-nasir bachtiar-nasir1

 

 

 

No tags for this post.

NO COMMENTS