Wahabi, Konflik Suriah dan Kasih Sayang Ilahi (3)

0
708 views

NDFIslam memiliki kapasitas yang besar dalam menjawab setiap tantangan zaman. Dalam diskusi filsafat agama, salah satu ranah yang perlu digarisbawahi adalah nilai atau tawaran yang diberikan oleh Islam. Islam adalah rahmat yang berlangsung sepanjang zaman. Dengan rahmat tersebut, Islam tetap hidup dan hadir dalam kehidupan umat manusia.

[ Baca bagian pertama di sini, dan bagian kedua di sini]

Sekiranya bunga mawar yang indah tumbuh dan berkembang pada kurun waktu tertentu, dan akan gugur pada waktu tertentu, kita akan mengatakan bahwa keindahan mawar tersebut hanya berlaku pada kurun waktu tertentu pula tidak untuk seterusnya. Tidak begitu halnya dengan Islam. Islam tumbuh dan berbunga melalui nilai-nilai kasih sayang, perdamaian, keadilan, serta penghormatan.Islam tidak terikat oleh waktu. Islam adalah pesan kasih sayang Ilahi yang di bawa oleh Muhammad SAW, sebuah pesan yang berlaku sepanjang zaman, yang lalu, hari ini, dan masa depan.

Islam tidak pernah bereksistensi melalui tindakan teroris, kriminal, pembantaian.Eksistensi Islam adalah keadilan, kasih sayang, dan pesan perdamaian. Islam menawarkan masa depan dan harapan yang cerah bagi umat manusia. Yang dengan semua itu, umat manusia akan terbang setinggi-tingginya untuk menggapai Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.Bukan dengan memaksa pemeluk agama lain untuk memeluk Islam dengan cara mengancam, membunuh, menginjak harga diri mereka, dan menghancurkan masa depan mereka. Islam hadir untuk melawan kebodohan. Islam adalah sebuah kesadaran akan penghormatan kasih sayang yang nilai-nilainya berlaku universal dan mendunia.

Kasih sayang Ilahi

Orang yang keliru menafsirkan kehidupan abadi (akhirat) adalah orang yang merugi. Dengan ketidakmampuannya, mereka menafsirkan kehidupan yang kekal dan abadi dapat di raih dengan memenggal kepala manusia, memakan hati manusia, menyalib manusia tak bersalah, merebus kepala manusia. Para teroris yang melakukan kejahatan perang di Suriah itu tidak mengetahui makna sebuah kasih sayang. Bagi mereka, Allah adalah sosok yang berwatak bengis, yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.

Tidak bisa dipungkiri, dalam beberapa kasus, agama memang mengakibatkan seseorang akan menjadi kejam. Hal itu dikarenakan pemahaman mereka yang keliru dalam memahami agama mereka. Keterbatasan ilmu serta wawasan adalah salah satu penyebabnya. Agama atau kitab suci yang ditafsirkan tanpa menggunakan ilmu maupun akal sehat seringkali menimbulkan permasalahan yang besar pada umat manusia. Penafsiran sesuka hati terkadang akan mengakibatkan permasalahan yang serius.

Filsafat menawarkan banyak hal dalam kasus semacam ini. Filsafat mengajak manusia untuk merenungkan fenomena-fenomena kontemporer, termasuk fenomena yang tengah terjadi di Suriah.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Apa orientasi dari para teroris ini dan untuk apa ia hadir?

Apakah teroris ini mewakili Tuhan di muka bumi?

Diantara isu yang harus dimunculkan dalam konflik Suriah adalah konflik antara Sunni melawan Syiah. Konflik bernuansa Sunni-Syiah di tampilkan sedemikian rupa agar daya tarik Suriah semakin tinggi di mata orang-orang bodoh yang ingin berangkat untuk menjadi teroris di Suriah.

Bila kita mengukurnya dengan menggunakan logika, “Bagaimana mungkin konflik Suriah adalah konflik antaraSunni melawan Syiah, sementara hampir semua menteri, mufti, tentara Arab Suriah (SAA), bahkan mayoritas pendukung Assad adalah Sunni. Jelas sekali, ini tidak masuk akal dan bertentangan dengan akal sehat. Assad tidak akan mampu bertahan sampai sejauh ini apabila militer, mufti, dan rakyat tidak mendukungnya. Mereka yang terjebak pada konflik Suriah dengan mengatakan konflik Suriah adalah konflik antara Sunni melawan Syiah, mereka membawa seni berbohong pada level baru.

Jika kita mendalami konflik Suriah, maka akan terlihat bahwa agama dan mazhab memiliki andil yang sangat besar untuk menarik minat para calon teroris dari seluruh penjuru dunia. Suriah digambarkan sebagai perang Islam melawan Syiah, atau Islam melawan agama-agama lain.

Para teroris ini dan penyokong senjatanya, mengkhianati agama mereka sendiri. Para teroris ini membunuh akal sehat mereka dan sibuk mengurus “tiket” ke surga dengan membunuh orang-orang tak bersalah.

Para teroris ini dengan penuh rasa percaya diri mengatakan mereka tengah berjuang di jalan Allah. Mereka berjuang dengan membantai manusia-manusia tidak bersalah yang mereka anggap kafir dan tidak sepaham dengan mereka. Mereka menginginkan surga dengan cara bertuhan yang keliru. Mereka mengkhianati Tuhan. Mereka menggambarkan Tuhan sebagai “Yang” kejam, jahat, dan melegalkan pembunuhan orang-orang tak bersalah. Mereka menciptakan syurga dalam pikiran mereka sendiri. Bukan syurga yang dijanjikan oleh Allah. Syurga yang mereka peroleh dengan cara melakukan aksi bom bunuh diri, membunuh anak-anak tak bersalah, memennggal, ataupun tindakan tidak berprikemanusiaan lainnya. Konflik berkedok agama terjadi karena kita menggambarkan Tuhan sebagai sosok yang kejam, brutal, dan bengis sembari mengatakan bahwa Tuhan semacam itu akan menyediakan syurga bagi mereka. Orang-orang bodoh ini tidak mau mengenal Tuhan melalui hati yang bersih. Mereka tidak mau mengenal Tuhan dari akal sehat.

Ada yang mengatakan bahwa para teroris ini adalah wakil Allah di muka bumi. Mereka adalah wakil-wakil Allah yang menegakkan agama Allah dengan cara pembantaian orang-orang tak bersalah. Dengan begitu, dengan sombongnya mereka mengklaim syurga adalah milik kelompok mereka. Bagi saya, orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang keliru dalam beragama. Dengan kekeliruannya, mereka mengkhianati Tuhan mereka. Tuhan yang diliputi rasih kasih dan sayang yang tidak terbatas dan menembus cakrawala dunia.

 

sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS