wahabi bunuh Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi ! Wahabi setan nejed ajarkan terorisme dan radikalisme

0
1,434 views

wahabi bunuh Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi ! Wahabi setan nejed ajarkan terorisme dan radikalisme

OBITUARI
Selamat Jalan Syekh Said Ramadhan Al-Buthi

Serangan Bom Bunuh Diri Dimasjid Syahidkan Ulama Sunni

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan bela sungkawa mendalam atas wafatnya Syekh Said Ramadhan al-Buthi, ulama besar Suriah dalam sebuah serangan bom bunuh diri di masjid. Peristiwa tersebut dinilai sebagai babak baru dalam konflik di Suriah yang harus diwaspadai oleh kalangan Muslim dunia.

Ketua PBNU urusan luar negeri H Iqbal Sullam mengatakan, NU dan Syekh Said Ramadhan al-Buthi memiliki kesamaan dalam metode dakwah, di antaranya mengedepankan kesantunan dan moderat dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah.

“Umat Islam dunia pasti merasa sangat kehilangan, termasuk kami dari kalangan Nahdliyin yang ada di Indonesia,” ungkap Iqbal di Jakarta, Jumat (22/3).

Iqbal menambahkan, selama ini PBNU memiliki hubungan yang sangat baik dengan ulama-ulama besar di dunia, termasuk dari Suriah. Selain Syekh Said Ramadhan al-Buthi, terdapat nama lain seperti cendikiawan Syekh Wahbah Zuhaili, Mufti Suriah Syekh Badreddin Hassoun, dan Syekh Rajab Dieb selaku pimpinan kelompok thariqah.

Tahun 2007 silam Iqbal berkesempatan berkunjung ke Suriah dan bertemu langsung dengan Syekh Said Ramadhan al buthi. Selain santun, ulama dari kelompok Sunni itu juga disebutnya memiliki kedalaman ilmu agama yang menjadikannya sangat disegani. “Beliau sangat low profile. Peranannya sangat besar dalam mengembangkan toleransi dalam kehidupan masyarakat Suriah,” ujarnya.

Terkait peristiwa bom bunuh diri di masjid yang menewaskan Syekh Said Ramadhan al buthi, Iqbal menyebut sebagai babak baru dalam konflik politik di Suriah. Kondisi tersebut harus mendapatkan perhatian serius kalangan Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

“Ini menjadi bukti, kepentingan politik sudah menutup mata pelaku bom bunuh diri itu. Demi memenangkan kepentingannya, kelompok tertentu di Suriah sudah tidak melihat bagaimana Syekh Said Ramadhan al buthi seharusnya dihormati karena kesepuhan dan keilmuannya,” urai Iqbal.

Syekh Said Ramadhan al-Buthi, ulama besar Suriah dengan sejumlah karya ilmiah yang terkenal, tewas dalam serangan bom bunuh diri di sebuah masjid di Kota Damaskus. Bom meledak saat Said Ramadhan tengah memberikan ceramah agama kepada sejumlah pelajar. Peristiwa tersebut juga menewaskan 15 orang lain, yang di saat bersamaan berada di lokasi sama.

Atas peristiwa tersebut, jamaah salat Jumat di Masjid An Nahdloh, gedung PBNU, siang tadi sudah melaksanakan salah ghaib. PBNU juga mengeluarkan imbauan untuk seluruh Nahdliyin agar mendirikan salat ghaib sebagai bentuk penghormatan.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya ulama besar Suriah Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi (84) akibat serangan bom bunuh diri, Kamis (21/3).

”Kami sangat menyesalkan kekerasan di Suriah yang mengakibatkan tewasnya ulama besar yang luar biasa pengaruhnya di dunia Islam,” kata Rais Suriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin saat dihubungi NU Online, Jumat malam.

Menurut dia, al-Buthi merupakan ulama Sunni terkemuka dengan tingkat kecakapan yang sangat tinggi pada disiplin keislaman. Karya-karyanya cukup monumental dan sering dirujuk kalangan cendekiawan muslim dunia.

”Semua ulama tahu bahwa beliau aktif di dunia pemikiran, seperti ushul fiqih dan lain sebagainya. Saya kira untuk sementara belum ada bandingannya di dunia ini yang sealim dan setingkat Said Ramadhan al-Buthi,” imbuhnya.

Di antara kitab karangan al-Buthi yang populer adalah Dlawabit al-Mashlahah fi al-Syari’at al-IslamiyyahFiqh SirahMuhadharat Fil Fiqhil Muqharin Ma’a Muqaddimati Fi Bayani Asbabi Ikhtilafi al-Fuqaha’ Wa Ahammiyyati Dirasatil Fiqhil MuqarinAl-Islam Maladz Kulli Mujtama’at Insaniyyah Limadza wa Kaifa, dan lain-lain.

Kiai Ishom menjelaskan, buah pikiran al-Buthi sering sejalan dengan pendapat para kiai NU. Hal ini terutama karena al-Buthi merupakan tokoh penganut mazhab Imam Syafi’i di bidang fiqih dan pengikut mazhab Imam Abu Hasan Asy’ari dalam hal akidah.

Seperti diberitakan media, ulama kelahiran Turki pada 1929 ini menjadi korban keganasan bom bunuh diri yang diduga dari penentang rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad saat memberikan ceramah di Masjid al-Iman yang terletak di Damaskus, ibu kota Suriah. Akibat serangan ini, sedikitnya 49 orang tewas, termasuk cucu al-Buthi, dan 84 orang lainnya terluka.

”Kita merasa kehilangan sekali ulama yang moderat seperti Said Ramadhan al-Buthi,” ujar Kiai Ishom.

Dunia Islam lagi-lagi kehilangan seorang sosok pemikir Islam moderat, al-syaikh al-alim al-allamah Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi. Beliau wafat Kamis malam (21/3) akibat serangan bom bunuh diri yang dilakukan oleh teroris-ekstrem ketika sedang memberikan pengajian mingguan di Masjid Jami’ Al-Iman, Mazraa, Damaskus.

Dalam kejadian yang menelan banyak korban itu, cucu Dr. Buthi—demikian beliau akrab disapa—yang bernama Ahmad juga ikut menjadi korban pengeboman.

Perihal kepergian Dr. Buthi ini, kurang lebih sekitar dua minggu sebelum kejadian tersebut, Habib Ali Al-Jufri ketika menelpon Dr. Buthi seakan sudah mendapat isyarat akan kwafatannya. Di akhir pembicaraan itu, Dr. Buthi berkata kepada Habib Ali: “Tidak akan tersisa umurku kecuali hanya beberapa hari lagi. Sungguh aku telah mencium bau surga di belakangnya. Maka jangan lupa untuk mendoakanku”.

Dr. Al-Buthi adalah figur ulama yang mengabdikan hidupnya sebagai seorang pembimbing dan dai sembari terus menampilkan sikap zuhud di dunia yang fana. Orang yang berprinsip tegas jika memang benar itu adalah benar, tanpa peduli tindakannya nanti akan dicerca orang ataupun sebaliknya.

Beliau juga merupakan seorang pemikir Islam moderat sekaligus penulis yang sangat produktif. Karyanya mencapai bilangan tujuh puluh lima buku. Karya-karyanya juga banyak diterjemahkan  ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, al-Hub fil Qur’an (Al-Qur’an Kitab Cinta), La ya’thil Bathil (Takkan Datang Kebathilan terhadap Al-Qur’an), Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah (Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasul Saw) dan masih banyak yang lainnya. Dalam konteks kepesantrenan, terutama pesantren salaf, bukunya yang berjudul Dhowabitul Maslahah merupakan referensi primer dalam kajian Bahtsul Masail (BM).

Tokoh yang paling berpengaruh di Timur Tengah ini juga termasuk barisan ulama yang getol membendung radikalisme Islam. Paham radikal adalah suatu paham yang anti dengan tradisi bermazhab, menyerukan pentingnya ijtihad, intoleran, cenderung eksklusif dan menganggap kebenaran hanya ada pada kelompok mereka. Kegigihannya dalam membendung paham radikal ini terekam dalam bukunya yang berjudul As-Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarokah la Mazhab Islamiyun danal-La Mazhabiyyah: Akhtoru Bid’atin Tuhaddidus Syariah Islamiyyah.

Selain hal itu, beliau juga salah satu ulama yang menjadi rujukan kalangan Ahlussunnah Waljamaah dalam bidang akidah. Bahkan ada menyebut beliau sebagaighazaliyu-l-ashr  atau Imam Ghozali masa kini. Sebutan ini sebetulnya tidaklah berlebihan. Toh nyatanya beliau dapat membuktikan dengan menulis buku yang berjudul Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah.

Sesuatu yang sama sekali baru dalam buku itu adalah, bahwa kerangka aqoiddiletakkan sebagai basis penangkal aliran pemikiran yang sedang meruyak di era modern ini, seperti teori evolusi Darwin, filsafat dialektika, dan lain sebagainya.

Jadi ketika membaca buku ini, pembaca akan disuguhkan banyak pencerahan yang baru. Tak heran, jika salah seorang muridnya yang juga dai beken di kawasan Eropa, Habib Ali Al-Jufri pernah berujar: “Saya belum pernah menjumpai pembaharuan dasar-dasar agama (ushuluddin) yang benar-benar komprehensif di era sekarang ini kecuali dalam buku Kubra al-Yaqiniyyah karangan Dr. Buthi.

Dalam bidang tasawuf pun, juga tidak bisa diragukan lagi kemampuan intelektual-spiritual Dr. Buthi ini. Syarah kitab Al-Hikam karangan Ibnu ‘Athoillah al-Iskandary yang terdiri dari lima jilid dengan ketebalan rata-rata 400-an halaman menjadi saksi bisu akal hal itu. Alkisah, ketika Dr. Buthi mempunyai keinginan untuk mensyarahikitab tersebut, beliau tidak bisa memulai menulis sebelum berziarah ke makam Imam Ibnu ‘Athoillah dan memohon kepada Allah Swt. supaya diberi jalan mudah dalam mensyarai kitab itu.

Ketika sedang merebak isu penyelewengan jihad atas nama agama, Dr. Buthi juga sangat tanggap dalam menyikapi masalah ini. Konsep jihad, menurutnya, telah ada semenjak Rasulullah Saw. berada di Kota Mekah. Landasan teologis yang dijadikan pijakan oleh Dr. Buthi di antaranya adalah QS Al-Furqan [25]: 52 yang berbunyi:

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjuanglah terhadap mereka dengannya (Al-Quran) dengan (semangat) perjuangan yang besar”

Menurut sebagian besar ulama tafsir, seperti Ibnu Zubayr, Hasan al-Bashri, ‛Ikrimah, ‛Atha’ dan Jabir ayat ini turun di kota Mekah. Sedangkan maksud kata “jihad” dalam ayat itu ialah perintah Allah Saw. kepada Rasul-Nya untuk berjihad dengan memperkenalkan Al-Quran serta menyampaikan segenap isinya kepada kafir Quraisy, berdakwah kepada mereka untuk masuk Islam dengan tanpa rasa takut atas akibat yang akan ditanggungnya nanti dan tabah dalam menghadapai segala macam siksaan. Jihad yang seperti inilah yang menjadi spirit hadits: “Afdlolul jihâd an-tujâhid nafsaka wa hawâka fî dzâtillâhi ta‛âlâ” (jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu dalam jalan menuju Allah SWT) (HR. Al-Dailamî).

Masih menurut Dr. Buthi, jihad disyariatkan tidak untuk memberangus kekafiran di muka bumi ini. Akan tetapi,  alasan (ʻillat) diperanginya orang-orang kafir itu adalah karena kemakarannya. Uraian yang mendalam seputar jihad ini bisa ditemui dalam salah satu bukunya yang berjudul al-Jihad fil Islâm Kaifa Nafhamuhu wa Kaifa Numârisuhu.

Tidak dapat dipungkiri, akhir-akhir ini Dr. Buthi memang terlihat pro dengan pemerintah dan anti terhadap pemberontak. Beliau melakukan hal itu semata-mata karena tidak ingin terjadi pertumpahan darah. Bukan karena membela Asad ataupun pro dengan Syiah.

Terlepas dari semua itu, Al-Buthi tetaplah seorang ulama yang berwawasan luas, mempunyai ilmu yang dalam, dipadu dengan hati yang ikhlas dan bersih menempatkannya sebagai ulama berpengaruh yang dicintai masyarakat dan disegani penguasa.  Selamat jalan syech Al-Buthi, semoga Allah Swt. mempertemukanmu dengan tokoh-tokoh pujaanmu, Muhammad Saw. dan para sahabatnya, Imam As-Syafi’i, Imam Abu Hasan al-Asy’ari, Imam Al-Ghozali dan Imam Ibnu ‘Athoillah al-Iskandari.

Sabtu, 23/03/2013 15:11

Wakil Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) menilai, ledakan bom bunuh diri yang mengakibatkan ulama besar Suriah Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi meninggal dunia mencoreng agama dan peradaban.

”Mudah-mudahan FANATISME yang menghilangkan akal sehat dan KEKERASAN yang melawan Agama dan Peradaban semacam itu membuat sadar kaum muslimin di negeri ini, terutama mereka yang dalam beragama hanya mengandalkan semangat keberagamaan belaka,” tulis Gus Mus di diding akun facebooknya, Sabtu (23/3).

Gus Mus memberi judul status facebooknya “Penistaan terhadap Agama dan Peradaban”. Ia juga mengatakan, umat Islam dunia, pasti juga termasuk mereka yang mempunyai nurani di Saudi Arabia dan Qatar, merasa kehilangan seorang ‘allamah, ahli agama yang mumpuni; dan mengutuk tindakan biadab yang menewaskan 49 muslim yang sedang mengaji di masjid itu.

Al-Buthi gugur bersama cucunya saat mengisi pengajian di Masjid al-Iman di Damaskus, ibu kota Suriah. Selain dikabarkan memakan korban 49 jiwa, tragedi ini juga membuat sekurangnya 84 orang lainnya terluka.

Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin sebelumnya juga menyesalkan tindak kejahatan ini. Pemikiran Al-Buthi dinilai masih dibutuhkan oleh dunia Islam. Hal ini terbukti dari puluhan karya monumentalnya yang menjadi referensi para ulama dunia.

Ditambahkan, al-Buthi termasuk ulama moderat yang buah pikirannya sering segaris dengan pemahaman NU. Ia dikenal sebagai ulama produktif yang teguh berprinsip pada syari’at dan memiliki wawasan ke depan

Umat Islam Tidak Boleh Diam Menghadapi Teror Wahabi

Syaikh Rasul Ja’farian:

Umat Islam Tidak Boleh Diam Menghadapi Teror Wahabi

“Wahabi dalam sepanjang sejarah, bukan hanya memusuhi Syiah, namun juga melancarkan permusuhan dan kebencian terhadap kelompok-kelompok Sufi dan kaum muslimin diluar kelompok mereka. Bagi mereka selain golongan mereka bukan Islam. Mereka dalam beberapa tahun terakhir melakukan berbagai makar dan kekacauan dan bagi mereke, hanya mereka yang layak menyandang gelar kaum muslimin.”

.
Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al Buthi, seorang ulama besar Sunni kenamaan Suriah gugur akibat serangan bom bunuh diri anggota kelompok Wahabi yang menyerang masjid Al-Iman di ibukota Suriah dan menewaskan sedikitnya 25 orang serta melukai 30 lainnya.

Beliau lahir tahun 1929 dan menempuh jalur pendidikan agama di universitas pada bidang ilmu syariat. Beliau telah menghasilkan banyak karya diberbagai bidang ilmu Islam khususnya pembahasan aqidah dan fiqh.

DR. Rasul Ja’farian, seorang sejawarahwan dan akademisi kampus Iran mengatakan, “Kita tidak boleh tinggal diam dalam menghadapi teror dan aksi-aksi kekerasan yang dilakukan kelompok takfiri terutama jika teror tersebut ditujukan untuk menghabisi nyawa ulama-ulama Islam. DR. Buthi memiliki ilmu agama yang luas, menguasai berbagai macam bahasa, Arab, Turki, Ingris dan Kurdi, dan selama 3 kurun dikenal sebagai ulama besar Ahlus Sunnah di dunia Islam. Beliau adalah ulama yang bijak, tawadhu dan disegani. Dan beliau banyak mengungkap penyimpangan-penyimpangan aqidah Wahabi kepada kaum muslimin.”
Beliau melanjutkan, “Pada tanun 1426 H beliau mendapat penghargaan internasional penguasaan terhadap ilmu-ilmu Al-Qur’an dan mendapatkan pengakuan sebagai ulama yang memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dalam bidang keislaman. Diantara karyanya yang paling terkenal adalah, kitab as Siratu al Nabawiyah yang telah berulang kali naik cetak. Beliau bukan hanya menentang aqidah dan penyimpangan Wahabi namun juga tidak memiliki hubungan yang baik dengan kelompok Ikhwanul Muslimin Suriah, sementara dengan Bashar Asad presiden Suriah beliau memiliki hubungan yang baik. Meskipun demikian beliau tetap dikenal sebagai ulama yang bersih dari kekisruhan politik bahkan beliau berkali-kali menegaskan untuk tidak terlibat dalam urusan politik.”

Menurut DR. Rasul Ja’farian, teror yang menimpa ulama besar Suriah tersebut adalah musibah besar bagi dunia Islam. “Syahidnya beliau, dengan kondisi terbunuh lewat ledakan bom oleh kelompok teroris di masjid al Iman yang beliau menjadi imam masjid tersebut beserta 20 orang lainnya menunjukkan bahwa Wahabi meskipun terhadap ulama besar Sunni yang berusia 80 tahun tidak memiliki rasa belas kasihan, dan untuk mencapai tujuan busuk mereka, mereka menghalalkan segala cara. Menyerang masjid dan membunuh ulama. Ini menunjukkan kelompok teroris Suriah bukan orang yang beragama dan apapun yang mereka lakukan yang diuntungkan adalah kelompon Barat dan musuh-musuh Islam.” Ungkapnya.

Dalam penyampaian terakhirnya, “Wahabi dalam sepanjang sejarah, bukan hanya memusuhi Syiah, namun juga melancarkan permusuhan dan kebencian terhadap kelompok-kelompok Sufi dan kaum muslimin diluar kelompok mereka. Bagi mereka selain golongan mereka bukan Islam. Mereka dalam beberapa tahun terakhir melakukan berbagai makar dan kekacauan dan bagi mereka, hanya mereka yang layak menyandang gelar kaum muslimin.”

Syaikh al Buthi, kamis (21/3) gugur bersama 20 orang lainnya ketika beliau sedang menyampaikan pelajaran agama di masjid al Iman di Damaskus oleh serangan bom bunuh diri kelompok Wahabi.

Universitas al Azhar Kecam Aksi Biadab Wahabi di Suriah

Mesir:
 Universitas al Azhar Kecam Aksi Biadab Wahabi di Suriah
Stasiun televisi al ‘Alam menyiarkan berita mengenai kecaman pihak universitas al Azhar atas teror yang menimpa Allamah Sa’id Ramadhan al Buthi di masjid al Iman pusat kota Damaskus Suriah. 

stasiun televisi al ‘Alam menyiarkan berita mengenai kecaman pihak universitas al Azhar atas teror yang menimpa Allamah Sa’id Ramadhan al Buthi di masjid al Iman pusat kota Damaskus Suriah.

Dalam sebuah serangan bom bunuh diri yang dilakukan anasir kelompok teroris Suriah di masjid al Iman kota Damaskus mensyahidkan Allamah al Buthi beserta 49 jama’ah masjid lainnya. Bom tersebut diledakkan disaat Allamah al Buthi sedang memberikan pelajaran ilmu agama kepada puluhan murid-muridnya. Pelaku sebelumnya duduk bersama puluhan jama’ah lainnya dalam majelis tersebut yang kemudian secara tiba-tiba mendekati Allamah dan meledakkan bom yang dibawa bersamanya yang kemudian menyebabkan kesyahidan ulama besar Sunni Suriah tersebut.

Berkenaan dengan aksi anarkis dan biadab kelompok teroris tersebut rektor universitas al Azhar Syaikh Ahmad al Khatib mengutuk aksi tersebut, dan mendoakan semoga arwah Allamah al Buthi diterima di sisi Allah SWT dan tergolong dalam kelompok para syuhada.

 Serangan Bom Bunuh Diri Dimasjid Syahidkan Ulama Sunni

Suriah:
Serangan Bom Bunuh Diri Dimasjid Syahidkan Ulama Sunni
Dalam serangan bom bunuh diri tersebut, Allamah Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al Buthi gugur sebagai syahid bersama puluhan orang lainnya.
 

kelompok teroris Suriah kamis (21/3) menyerang masjis al Iman di pusat kota Damaskus Suriah. Dalam serangan bom bunuh diri tersebut, Allamah Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al Buthi gugur sebagai syahid bersama puluhan orang lainnya.

Syaikh al Buthi adalah ulama besar Sunni yang dalam khutbah-khutbahnya sering menyatakan dukungan terhadap pemerintahan Bashar Asad sehingga mendapat kecaman dari kelompok oposisi Suriah. Beliau sering disebut munafik dan oleh kelompok teroris yang diwakili oleh Ketua Mujahidin Harakah Ahrar asy-Syam al-Islamiyyah sekaligus ketua Al-Jabhah al-Islamiyyah as-Suriyah, Abu Abdullah al-Hamawi mengatakan kepada kantor berita Islam Haq bersyukur atas kematian ulama pendukung rezim Bashar Asad tersebut.
 Turki, Saudi dan Qatar Punya Andil dalam Kesyahidan Syaikh al Buthi

Ayatullah Makarim Shirazi:
Turki, Saudi dan Qatar Punya Andil dalam Kesyahidan Syaikh al Buthi
Tidak bisa dipungkiri, Turki, Arab Saudi, Qatar dan Negara yang merupakan pemimpin dan dalang dibalik semua ini yaitu Amerika Serikat dan rezim Zionis punya andil atas kesyahidan dan tertumpahnya darah suci ulama besar ini. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka ini di Mahkamah Ilahi kelak. 

Ayatullah al Uzhma Nashir Makarim Shirazi berkenaan dengan syahidnya imam besar Ahlus Sunnah di Damaskus Allamah Syaikh Sa’id Ramadhan al Buthi ditangan teroris Suriah menyatakan belasungkawanya yang mendalam dan mengutuk keras perbuatan biadab tersebut. Beliau berkata, “Negara-negara seperti Turki, Saudi dan Qatar memiliki saham atas kesyahidan ulama besar dan imam masjid Suriah tersebut.”

“Di masjid, di rumah Allah yang suci, terjadi kebiadaban yang luar biasa, ulama besar Islam yang sulit dicari padanannya syahid oleh kebengisan kelompok teroris Suriah, yang menodai dan mencoreng kemuliaan ajaran Islam.” Lanjutnya.

Ulama besar dan sekaligus marja taklid Syiah tersebut kemudian melanjutkan penyampaiannya, “Imam Jum’at masjid Jami Damaskus tersebut adalah diantara ulama mufti yang terkenal dikalangan Ahlus Sunnah dan bersama dengan puluhan jama’ah lainnya yang juga adalah ahlus sunnah syahid oleh bom yang diledakkan anggota kelompok teroris, masjid yang mulia tersebut pun ternodai oleh darah-darah orang-orang yang tidak berdosa. Tragedi yang memilukan ini menunjukkan kelompok teroris bukan hanya memusuhi Syiah, bahkan Sunni sekalipun, apakah itu ulama dan imam jama’ah  ataupun bukan, di masjid dan rumah-rumah Allah apalagi selainnya, tidak ada bedanya bagi mereka. Tidak ada satupun ajaran Islam yang membolehkan itu, tidak juga nilai-nilai kemanusiaan. Dan tidak bisa dipungkiri, Turki, Arab Saudi, Qatar dan Negara yang merupakan pemimpin dan dalang dibalik semua ini yaitu Amerika Serikat dan rezim Zionis punya andil atas kesyahidan dan tertumpahnya darah suci ulama besar ini. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka ini di Mahkamah Ilahi kelak. Apakah dengan peristiwa yang luar biasa dasyhat ini, lembaga internasionalpun tetap diam dan menutup mata?.”

Pada akhir penyampaiannya, ulama yang menulis kitab tafsir al Amtsal tersebut menyatakan kecaman kerasnya. Beliau berkata, “Kami menuntut lembaga-lembaga internasional turut mengutuk dan mengecam keras peristiwa tersebut, dan turut menunjukkan perannya dalam menyelesaikan dan menghentikan konflik berdarah di Suriah. Kami nasehatkan kepada kaum muslimin untuk tidak tertipu dan terpedaya oleh pemberitaan-pemberitaan dusta dan manipulatif dari pihak-pihak yang diuntungkan oleh peristiwa ini. Kaum muslimin harus bangkit dari kelalaian dan tidak boleh ridha atas apapun bentuk kekerasan dan pembunuhan atas nama apapun, terutama dari amalan-amalan kekafiran yang mengenakan jubah Islam untuk membenarkan aksi biadab mereka.”

NO COMMENTS