Tango Maut AS-Al-Qaeda: Rencana Strategis Al-Qaeda Menguasai Dunia Islam Pada 2020 (3)

0
280 views

Jelas sekali bahwa permusuhan yang berkobar-kobar pada Iran dan Hizbullah ini sebuah tarian tango maut antara dinas intelijen Amerika Serikat dan Al-Qaeda untuk menggiring umat memiliki momok baru, musuh buatan, untuk mengalihkan pandangannya dari musuh yang sebenarnya.

Bagian Ketiga (Terakhir)

Para ideolog al-Qaeda kini seperti mendapat angin segar. Rencana-rencana strategis mereka tampak tak terlalu jauh melenceng dari situasi yang ada. Bumi Irak dan Suriah yang mereka idam-idamkan sebagai pijakan jihad masih membara. Poros Anglo-Saxon, yang dapat direpresentasikan sebagai Uni Eropa pun kian lunglai. Lagi-lagi seperti yang sudah mereka prediksikan.

Secara khusus, menyaksikan apa yang kini terjadi di kawasan Timur Tengah dan berbagai belahan dunia Islam lain, pimpinan al-Qaeda bisa jadi sedang kipas-kipas. Kini, mereka menyongsong fase keenam dalam rencana strategis mereka sambil membusungkan dada. Fase yang dimulai dari tahun 2016 dan berakhir pada 2020, dalam rencana mereka merupakan tahap Armagedon alias perang pamungkas antara “kaum beriman melawan kaum kafir”.

Fase ini akan berpuncak pada tegaknya Kekhalifahan Islam di bawah panji hitam Al-Qaeda — atau begitulah yang mereka yakini.

Para perumus strategik al-Qaeda percaya bahwa tahun 2016 adalah babak awal menjelang tegaknya kekhalifahan Islam. Babak ini akan ditandai dengan meluasnya usaha mujahidin mendirikan ‘kekhalifahan Islam’, menggaungkan apa yang kerap dinyatakan oleh Usama bin Laden sebagai “penerapan hukum Allah di muka bumi”. Fase ini digambarkan bakal ditandai dengan kian meratanya aspirasi umat untuk kembali pada ‘sistem kekhalifahan’. Periode kekerasan dan perang bakal terus berlanjut hingga kemenangan telak tercapai sekitar tahun 2020.

Pada saat itu, menurut para ‘pemikir al-Qaeda’, “kapabilitas negara Islam telah sampai pada tingkat di mana semua musuh akan gentar menghadapinya.” Apalagi, dalam hitungan mereka, 1.5 milyar umat di seantero dunia akan mendukung cita-cita khilafah tersebut, setelah gagalnya berbagai eksperimen umat dengan berbagai sistem sekuler yang dipaksakan.

Menariknya, dokumen-dokumen yang bocor dan memuat cerita seputar rencana strategis al-Qaeda, umumnya terbit antara tahun 2000 hingga tahun 2006. Artinya, sebelum ada tanda-tanda meleduknya gonjang-ganjing yang dikenal dengan ‘Arab Spring’ di akhir 2010 hingga hari ini, al-Qaeda telah bersiap memasuki suatu era konfrontasi akbar dan kemenangan puncak. Rencana strategis yang konon merangkum berbagai ide, pengalaman, dan prediksi para perumus al-Qaeda yang beraliran salafi jihadi takfiri itu, tersusun sedemikian realistis hingga lebih akurat dari naskah pra produksi dari sebuah film. Rangkaian adegannya berurut seperti film kolosal: adegan serangan atas New York dan Washington tahun 2001; serangan AS-NATO atas Afghanistan dan Irak yang kini justru berbalik jadi pangkalan membangun “pasukan jihadi”; Arab Spring yang merentang dari Afrika Utara hingga jantung Arab, Suriah; dan terakhir, deklarasi Negara Islam Irak dan Syam pada tahun 2013 (yang lebih dikenal dengan singkatan ISIS/ISIL atau Al-Daulah al-Islamiyyah fi Al-Iraq wa Al-Syam [DAIIS]), sejalan dengan berbagai dokumen yang dipublikasi tahun 2005.

Pertanyaannya, akankah al-Qaeda terus menguat sampai benar-benar mampu meraih kemenangan pamungkas pada tahun 2020 dan mendirikan ide kekhalifahan Islam internasional? Orang bisa berbeda di sini.

Para perumus dan simpatisan al-Qaeda yang merasa ‘mewakili Allah’ di bumi, barang tentu melihat semua yang terjadi sejauh ini sebagai ‘pertolongan Allah’ atas apa yang mereka perjuangkan. Mereka bakal kian berhalusinasi melihat ‘kemenangan akbar’ saat Abu Bakar Baghdadi mendeklarasikan negara Islam di Suriah dan Irak (DAIIS). Bagaimana tidak? Dua negara yang pernah menjadi ibukota dua imperium besar Islam, Umayyah dan Abbasiyah, kini telah menjadi satu negara dalam kekuasaan mereka. Apalagi jika kita ikuti riwayat-riwayat yang mereka yakini berasal dari Nabi seputar nubuat kemenangan Islam yang dimulai dengan prahara di Suriah dan Yaman. (Catatan: Suriah yang dikenal dengan Syam dan Yaman memiliki signifikansi khusus dalam sejarah teologi Islam. Riwayat-riwayat yang menubuatkan kedatangan Imam Mahdi seragam menyebutkan posisi strategis bagi kedua negara tersebut. Meski demikian, sejumlah mazhab Islam berselisih ihwal identitas dan proses kemunculan Imam Mahdi).

Tapi, benarkah demikian? Benarkah situasi kiwari menunjukkan kian dekatnya al-Qaeda dengan cita-cita kekhalifahan Islam yang mereka impikan?

Analisis lebih jauh akan situasi yang terjadi saat ini tampaknya menunjukkan trend yang bertolak belakang dengan rencana strategis al-Qaeda. Seperti yang pernah disinyalir Sekjen Hizbullah Sayyid Hasan Nashrallah, tahun lalu, krisis Suriah adalah ‘jebakan batman’ (baca: perangkap) bagi al-Qaeda dan organ haus darah sebangsanya. Bagaimana bisa? Sedikitnya ada beberapa alasan: Pertama, perancang jebakan ini tak lain adalah perumus al-Qaeda itu sendiri –bukan hanya sejak tahun 2000 silam, tapi bahkan sejak era 80-an. Karenanya, para penjebak itu paham betul bagaimana menjinakkan ‘hewan’ piaraannya sendiri. Berbagai keselarasan yang demikian mencolok antara rencana strategis al-Qaeda dan rencana strategis dinas intelijen Amerika Serikat (dan Israel) di Timur Tengah memperkuat teori ini.

Kedua, al-Qaeda adalah organisasi jihad yang dirancang, dibesarkan (atau dibesar-besarkan), dan diperalat justru untuk mengubur jihad yang sebenarnya.

Menurut teori ini, absurditas ideologi salafi jihadi takfiri yang dikembangkan al-Qaeda tak mungkin dapat tumbuh dalam masyarakat Muslim yang plural. Ia hanya bertahan saat ada kekerasaan dan kekacauan, karena raison d’etre-nya adalah untuk membunuh, merusak dan menghancurkan. Tidak ada unsur kehidupan dalam ideologi al-Qaeda dan segenap turunannya. Absurditas ideologis al-Qaeda dapat berguna membidas kelompok pengusung jihad sejati sekaligus melindungi dalang yang sebenarnya. Toh, al-Qaeda berhasil mengalihkan ribuan “mujahid” Palestina dan Arab dari tanah air mereka yang dijajah untuk memerdekakan tanah air lain. Pada gilirannya pula, penjajah yang sebenarnya dapat hidup tenang dalam negeri jajahannya senyampang mengirim kaum terjajah untuk membebaskan tanah air yang lain.

Ketiga, krisis Suriah adalah perangkap tuan besar untuk melumat senjata-makan-tuan bernama al-Qaeda dan turunannya. Mujahidin yang pada dekade sebelumnya dikenal sebagai sekrup AS-NATO untuk melawan Uni Soviet kini sudah mulai membahayakan keamanan anak-anak emas tuan besarnya, yakni rezim-rezim Arab dan Israel. Untuk itu, para perancang ini memancing al-Qaeda dengan umpan paling menggiurkan: peluang menguasai Irak dan Syam sekaligus!

Para pembuat perangkap tentu yakin bahwa penerimaan rakyat Irak dan Suriah terhadap al-Qaeda takkan seperti rakyat Afghanistan. Akibatnya, mayoritas rakyat kedua negara itu akan bangkit melawan al-Qaeda dengan segala cara. Mereka terlalu berbudaya untuk dapat menerima ideologi al-Qaeda. Dan perlawanan rakyat dua negara itu, ujung-ujungnya, akan membabit al-Qaeda dalam lingkaran setan perang yang takkan bisa dimenangkan. Tentu, dalam prosesnya, ratusan ribu –bahkan mungkin jutaan — nyawa yang tak berdosa bakal jadi tumbalnya.

Keempat, perpecahan antara organisasi induk al-Qaeda dan DAIIS adalah bukti lain keabsahan teori jebakan ini.

Fakta perpecahan antara ISIS/DAIIS di satu sisi dan Jabhah Al-Nusrah- Al-Jabhah Al-Islamiyyah-Ahrah Al-Syam dan sebagainya di sisi lain, atau antara Abu Bakar Al-Baghdadi dan Abu Muhammad Al-Julani, memperlihatkan adanya penetrasi intelijen asing yang menyusup sampai ke otak al-Qaeda — untuk tidak menyebut al-Qaeda adalah virus yang sengaja disebar untuk menggerogoti imunitas umat itu sendiri.

Terakhir, dan paling mencemaskan, upaya mati-matian al-Qaeda dan sekutunya untuk mengobarkan perang sektarian di tengah Muslimin. Permusuhannya pada Iran dan Hizbullah, dua musuh bebuyutan AS dan Israel di kawasan, tidak mungkin dianggap ‘polosan’, sekadar persoalan historis. Jelas sekali bahwa permusuhan yang berkobar-kobar pada Iran dan Hizbullah ini sebuah tarian tango maut antara dinas intelijen Amerika Serikat dan Al-Qaeda untuk menggiring umat memiliki momok baru, musuh buatan, untuk mengalihkan pandangannya dari musuh yang sebenarnya.

Khusus untuk alasan kelima, kita dapat merujuk pada berbagai buku yang beredar luas di situs-situs salafi jihadi takfiri, seperti situs Minbar al-Tauhid wa al-Jihad yang banyak memuat pikiran-pikiran Abu Muhammad Al-Maqdisi, mentor Abu Mush’ab Al-Zarqawi. Di antara buku terbitan internal al-Qaeda yang menyerang habis Hizbullah adalah karya Syaikh Abu Abdul Mun’im Mushtofa Halimah (Abu Bashir Al-Tharthusi) yang berjudul “Hizbullah Al-Lubnani wa Tashdir Al-Madzhab Al-Syi’i Al-Rafidhi” (Hizbullah Lebanon dan Penyebaran Mazhab Syiah Rafidhoh).

Dalam buku itu, penulis pada intinya memperingatkan masyarakat Sunni Timur Tengah bahwa Hizbullah adalah gerbang terbesar gerakan Syiah internasional, menggunakan pintu Palestina, untuk menyebarkan Syiah ke segenap penjuru dunia.

Seorang Muslim yang waras tentu akan bertanya: Apakah pentingnya mazhab dalam menghadapi penjajahan dan penindasan rezim Zionis Israel atas kiblat pertama umat dan pengusiran bangsa Palestina? Mengapa perlu ada peringatan seperti ini, di saat tanah air dan tempat-tempat suci umat dinistakan bukan alang kepalang? Bukankah ini suatu pengalihan yang nyata atas fokus jihad yang sejati? Bukankah ini cara paling ampuh untuk memutar senjata agar dapat saling membunuh satu barisan, dan mengamankan musuh dari bidikan peluru kita?

Sumber: islamtimes.org

NO COMMENTS