Takfiri ISIS Asal Indonesia Tewas di Irak

0
1,117 views
Islam Times- “Memang benar, Wildan adalah seorang siswa di sekolah al-Islam saya selama tiga tahun, sebelum pergi ke sebuah sekolah Islam di Mesir,” kata Ali Fauzi mengutip Jakarta Globe, Rabu (19/2), di markas besar Polri di Jakarta Selatan.
Foto ilustrasi gerakan Takfiri di Jakarta saat menggelar demo di Polsek Bekasi

Foto ilustrasi gerakan Takfiri diJakarta saat menggelar demo di Polsek Bekasi

Seorang jihadis takfiri asal Indonesia dilaporkan tewas dalam kekerasan yang dilancarkan gerombolan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Irak baru-baru ini. Ia dikabarkan bergabung dengan kawanan ISIS yang berafiliasi dengan al-Qaeda untuk melancarkan terror terhadap penduduk dan pemerintah Suriah di Aleppo sebelum akhirnya bertolak ke Irak.

Lelaki ingusan Wildan Mukhollad bin Lasmin itu dilaporkan tewas pada awal Februari di Irak saat ISIS bentrok dengan pasukan yang loyal pada pemerintah. Kabar tentang tewasnya jihadis itu dikonfirmasi Ali Fauzi yang juga adik bungsu dari dua teroris yang dieksekusi mati pada 2008, Amrozi dan Ali Ghufron , atas perannya dalam merencanakan pengeboman Bali tahun 2002 yang menewaskan 202.

“Memang benar, Wildan adalah seorang siswa di sekolah al-Islam saya selama tiga tahun, sebelum pergi ke sebuah sekolah Islam di Mesir,” kata Ali Fauzi mengutip Jakarta Globe, Rabu (19/2), di markas besar Polri di Jakarta Selatan.

“Saya belum bisa mengontaknya sejak ia berangkat ke Irak. Ketika saya berbicara dengannya, ia tak pernah mengatakan pada saya kalau dirinya bermaksud menjadi pengebom bunuh diri di Irak atau Suriah,” imbuh Ali.

Tersingkapnya keterlibatan warga Indonesia dalam kekerasan atas nama agama yang menggerus wilayah itu memperkuat laporan yang dikeluarkan bulan lalu oleh The Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) yang menyebutkan bahwa puluhan warga Indonesia ikut angkat senjata bersama kelompok pemberontak di Suriah melawan Presiden Bashar al-Assad.

“Sejauh yang kami tahu, jumlah kombatan Indonesia masih puluhan, namun [jumlahnya] bisa bertambah,” ujar direktur IPAC, Sidney Jones, dalam laporan bertajuk “Indonesia dan Konflik Suriah”. Tampaknya kini tim bantuan kemanusiaan jihadis juga memfasilitasi masuknya pejuang (ke Suriah).”

Menurut IPAC, organisasi Indonesia yang paling aktif di Suriah sejak konflik meletus adalah Jamaah Islamiyah–organisasi sama yang bertanggung jawab atas pengeboman Bali nanun yang “telah terlepas dari kekerasan di Indonesia” sejak 2007. “Para pemimpinnya, yang telah difitnah dalam beberapa tahun terakhir oleh kelompok-kelompok yang lebih militan karena meninggalkan jihad, kini meraih kembali gengsi mereka,” kata IPAC.

“Mereka berpendapat bahwa ‘percobaan jihad ‘ di Indonesia hanya buang-buang energi yang agaknya lebih tepat jika digunakan dalam perang dengan konsekuensi global.”

Laporan itu juga mengatakan bahwa keterlibatan warga Indonesia di Suriah dapat memunculkan pelbagai dampak domestik. “Pulangnya para mujahidin dapat menanamkan kehidupan dan kepemimpinan baru terhadap apa yang telah menjadikan gerakan jihad lemah dan tidak efektif,” lanjutnya.

“Hal ini telah menghidupkan kembali martabat JI namun itu juga bisa memperkuat kelompok-kelompok lain yang membuktikan dirinya mahir menggalang dana untuk Suriah. Ini juga dapat mengubungkan kembali Indonesia dengan jihad global, dari sebagian besar yang telah dihapus sejak tewasnya gembong teroris Noordin M. Top,” dalang pengeboman Bali.

Pihak pemerintah mengaku belum dapat mengkonfirmasi keterlibatan para jihadi teroris Indonesia dalam konflik Suriah. “Kami belum bisa memverifikasi itu. Tapi pemerintah sudah berupaya untuk memulangkan semua warganya dari negara itu,” ujar Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Senin (17/2), seperti dikutip Antara.

Noor Huda Ismail, pendiri Institute for Peace Building International, yang membantu dalam program deradikalisasi pemerintah terhadap mantan teroris, mengatakan pada The New York Times bahwa kembalinya para jihadis Indonesia dari medan konflik membawa bahaya, ditinjau dari isu Sunni-Syiah, karena dapat memperburuk ketegangan kedua kelompok Muslim itu di Indonesia. (IT/JG/rj)

sumber : http://www.islamtimes.org/

NO COMMENTS