Strategi Indonesia-Malaysia Menghadapi ISIS di Asia Tenggara

0
449 views

indHishamuddin Hussein, Menteri Pertahanan Malaysia mengonfirmasikan kesepakatan dengan Indonesia untuk menghadapi kelompok teroris ISIS yang telah menjadi ancaman bagi kawasan Asia Tenggara.

Menurut Hishamuddin, kerjasama, pertukaran informasi dan pengawasan terhadap pergerakan anggota ISIS yang melakukan aksi teror di Suriah dan Irak, khususnya pengawasan atas situs-situs jejaring sosial, termasuk bagian dari kesepakatan dua negara di bidang ini.

Menteri Pertahanan Malaysia menilai penting kerjasama Malaysia-Indonesia sebagai dua negara besar Muslim dan anggota ASEAN untuk menghadapi kelompok teroris ISIS dan meminta seluruh anggota ASEAN untuk bergabung dalam kerjasama ini.

Menteri Pertahanan Malaysia saat menemui timpalannya dari Indonesia di Jakarta sempat menyinggung sejumlah tempat di kawasan Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Indonesia yang digunakan oleh ISIS untuk melakukan aksi terornya. Kondisi ini membuat kerjasama kedua negara sangat urgen dalam menghadapi kelompok ISIS.

Malaysia yang saat ini menjadi ketua periodik ASEAN sebelum ini mengusulkan dibentuknya pasukan penjaga perdamaian ASEAN, dimana negara-negara anggota berusaha membantu terciptanya perdamaian di kawasan dengan menggunakan bendera PBB.

Saat ini kelompok-kelompok teroris seperti Bangsa Moro dan Abu Sayyaf di selatan Filipina yang memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi militan di Malaysia dan Indonesia serta mengumumkan berdirinya “Negara Islam” di kawasan menyebabkan semakin meningkatnya kekhawatiran meluasnya pemikiran ISIS di Asia Tenggara.

Kelompok-kelompok teroris ini membangun jaringannya di Asia Tenggara dengan menggunakan internet dan semuanya bersama-sama proaktif hadir dalam aksi teror di Suriah dan Irak. Saat ini pelatihan para anggota teroris dilakukan di Timur Tengah dan kembalinya mereka sangat mengkhawatirkan negara-negara Asia Tenggara.

Dengan dasar ini, para pejabat Malaysia sangat menekankan perluasan kerjasama regional untuk menghadapi kelompok teroris ISIS dan menuntut pentingnya melakukan perang siber terhadap mereka.

Ayub Khan Mydin, Kepala Bagian Kontra Terorisme Polisi Malaysia menyatakan perang siber harus dilakukan dengan tujuan mencegah ancaman dan menghadapi meluasnya pemikiran ISIS yang merusak. Ayub Khan mengatakan bahwa harus ada upaya melawan cara pandang dan penafsiran keliru dari al-Quran dan Hadis dengan menggunakan kekuatan media dan ribuan pasukan siber di situs-situs jejaring sosial.

Para pengamat politik meyakini penyebaran pemikiran ekstrim tidak terbatas di kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara saja, tapi kekuatan-kekuatan arogan berusaha melakukan infiltrasi ke kawasan penting dunia dengan memperkuat kelompok-kelompok teroris ini.

Barat, terutama Amerika membentuk Koalisa Internasional untuk menghadapi kelompok teroris ISIS, tapi sejatinya ISIS tampil dengan kekuatan seperti ini berkat bantuan sebagian negara-negara Arab dan tentunya izin Amerika. Hal ini dilakukan untuk mengubah konstelasi politik Timur Tengah sesuai kepentingan Amerika. Apalagi keberadaan ISIS menjadi alasan bagi Amerika untuk kembali menempatkan pasukannya di Timur Tengah.

Dengan mencermati kenyataan ini, para pemimpin negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia segera mengambil keputusan menghadapi kelompok teroris, sebelum Amerika melakukan intervensi. Langkah pertama adalah membentuk pasukan penjaga perdamaian ASEAN di bawah panji PBB, kemudian disusul dengan kesepakatan untuk lebih aktif dalam kerjasama regional demi mencegah impor kekacauan yang terjadi di Timur Tengah.

Sejatinya, kesepakatan terbaru Malaysia dan Indonesia sebagai dua negara besar anggota ASEAN untuk bekerjasama, berbagi informasi dan pengawasan ketat atas aktifitas ISIS dapat menjadi langkah awal bagi kerjasama seluruh anggota ASEAN untuk memerangi masalah bernama ekstrimisme di kawasan. (IRIB Indonesia / SL)

No tags for this post.

NO COMMENTS