Skenario Wahabi Takfiri di Indonesia

0
182 views

Bangsa yang tengah membangun peradabannya sendiri, dan bangsa yang memiliki segala sumber daya, juga menjadi pasar yang menarik, dan tengah beranjak menjadi negara maju. Hanya bisa diruntuhkan oleh hal hal sepele seperti perang ideologi dan keyakinan politik. Percaya atau tidak, hanya dengan mengelola rumor dan menyebarkan kabar kabar palsu, negara yang paling kokoh dan terkuat pun bisa runtuh dengan sendirinya. Di antara materi dan kabar kabar palsu itu, ditujukan untuk menyerang pemerintahan melalui isu isu bertolak belakang dengan fakta, bersembunyi dibalik kebebasan berpendapat, mereka lantas menyebarkan rumor seolah olah negara dalam keadaan genting ekonominya. Tidak peduli fakta bahwa negara sedang membangun, dan pertumbuhan ekonomi tengah terjadi.

Namun, tidak berhasil melalui wacana negara sedang genting ekonomi, maka negara sedang genting politik diciptakan, caranya melalui penyebaran permusuhan antar umat dan golongan (SARA). Ini cara yang paling mudah, karena setiap golongan tengah bersaing mencari pengikut, dan persaingan itu tidak jarang menimbulkan pergesekan kecil, dan dari sini rumor rumor bisa dilepaskan, dengan harapan gesekan kecil membawa konflik terbuka.

Sejarah pun telah mengajarkan bahwa para rumoris, joker card, mata mata lawan yang bertugas melakukan fabrifikasi kabar telah dikenal sejak perang penyatuan di China, terutama saat pemberontakan sanggul kuning dalam kisah Romance of Three Kingdoms.

Dalam kisah perang Mahabharata, peran rumor dan kabar bohong turut membawa seorang jenderal Hastina Pura, begawan Dhorna yang perkasa menjemput ajalnya.

Rumor turut membawa Kaisar Romawi, Julius di tangan senat dan anak angkatnya sendiri, menjadikan Romawi kekaisaran yang sangat rapuh setelahnya.

Rumor dan fabrifikasi berita juga turut menjatuhkan Konstantinopel ke tangan Khalifah Ottoman, di mana terdapat rumor bahwa jika Paus Katolik membantu Kaisar Konstantin maka penganut Kristen ortodhox akan disingkirkan.

Dan terbaru, rumor telah membawa perang ke Syria, menjatuhkan ekonomi Mesir menjadi tergantung pada hutang luar negeri, rumor juga membuat kawasan Yaman yang tenang dengan pantai atraktif menjadi lautan penuh darah anak anak dan wanita.

Skenario Chaos Disengaja, Demi Keuntungan Kelompoknya

Rumor, gossip, dan fabrifikasi berita adalah pekerjaan sistematis yang dalam pengajaran Public Relations, menjadi bagian dari strategi komunikasi, dengan tujuan tujuan bisnis. Apabila suatu negara begitu kokohnya menerapkan kebijakan nasionalistik yang tidak menguntungkan perusahaan kapitalistik raksasa dunia,  dan ketika para aparatnya, hingga pucuk pimpinannya sudah tidak bisa dibeli dengan apapun juga, ,aka sudah menjadi tugasnya rumor untuk membereskan “masalah nasionalisme” tersebut.

Rumor oleh karenanya disebarkan kepada anak bangsa yang mudah menerimanya, mengelolanya, dan menyebarkannya dengan senang hati. Dan siapa penerima rumor yang paling mudah, pengelolanya, penyebarnya? Adalah mereka yang tidak memiliki kepentingan terhadap persatuan bangsanya sendiri. Dan siapa mereka, tentu saja para fanatik ideologis, di mana ideologinya menolak dan alergi pada ideologi negara.

Para fanatik ideologis ini dalam skala prioritas, tidak akan memprioritaskan kepentingan bangsanya, apalagi ambil pusing pada pertumbuhan ekonomi, masalah fiskal negara, masalah pembangunan infrastruktur, ataupun kebijakan kebijakan pemerintah yang pro ekonomi kerakyatan. Dalam pemikiran para fanatik ideologis, perkara yang paling utama adalah menguasai kekusaan nasional untuk kepentingan diri mereka sendiri.

Karena kerap terpolusi oleh pemikiran akan menguasai suatu negara, dan belakangan menguasai dunia di bawah ideologi tunggalnya, para fanatik ideologis ini akan dengan senang hati melihat negara dalam keadaan chaos, karena bagi mereka dalam kondisi chaos inilah, saatnya negara dikuasai. “Jangan sampai keduluan yang lain. Jangan sampai momentum jatuh para pihak lainnya.” Pikir mereka.

Oleh karena itulah, mereka sangat mendambakan negara yang chaos, negara yang penuh rusuh dan huru hara, karena melalui jalan itu mereka berpikir bisa melakukan konsolidasi kekuasaan, dan mengkonsentrasikan kekuatan demi merebut pemerintahan demokratis, di mana saat mereka bertarung di dalamnya mereka selalu kalah tersingkirkan.

Dari titik ini, para fanatik ideologis akan mudah menerima kebohongan dan rumor rumor, bukan sebagai kebohongan dan rumor, tapi sebagai senjata untuk membuat keadaan bangsa menjadi penuh syak wasangka, di mana rakyat akan terterror oleh rasa takut kehilangan masa depan.

Rumor Bagian dari Perang Proxy

Para fanatik ideologis tentu saja tidak percaya kabar yang mereka sebarkan sendiri, dan mereka tidak perlu mempercayai segala rumor yang dibuat oleh “tim sukses rahasia” entah dari mana asalnya untuk menggoyang Indonesia.

Mereka cukup menyebarkannya, tugas mereka cukup melempar sekian banyak rumor dan tidak perlu ngotot mempertahankan kebenaran rumor tersebut, sebarkan berulang ulang, dan buat rakyat Indonesia percaya lalu merasa takut, membenci pemerintahannya sendiri, karena cuma itu cara untuk memancing kekuasaan dalam kondisi chaotik.

Mengapa penulis percaya bahwa Indonesia tengah dibidik oleh ribuan rumor sebagai bagian dari perang proxy? Karena semua ini bukan berasal dari penulis sendiri, atau penulis sedang memanas-manasi situasi, mengada-ngada, dan berimajinasi liar. Semua fakta ini diungkapkan oleh TNI sendiri. Oleh Kepala TNI Angkatan Darat Jenderal Gatot Nurmantyo, yang menyatakan  sejak 2014 Indonesia terancam oleh perang proxy.

Menurut sang Jenderal serangan proxy itu mesti diwaspadai oleh masyarakat Indonesia, karena mereka sulit ditebak, mereka bisa merupakan organisasi bayangan yang sulit di identifikasi tetapi menjadi ancaman serius dan terus tumbuh, mereka bisa menjadi separatis, LSM, organisasi masyarakat sipil, Media Massa atau individu individu, yang bertindak sebagai outlet utama, sebagai antek antek bayaran dari entitas yang tersembunyi yang menyerang kepentingan Indonesia.

Ancaman ini, menurut Gatot tersirat, dapat mencakup organisasi dan individu di Indonesia.Bahkan, TNI telah memiliki daftar “pelaku” yang mesti diwaspadai. Akan halnya alam demokrasi memang menuntut segala kecurigaan dari aparat mesti melalui proses pengadilan, dengan tudingan yang jelas. Indonesia belum memiliki hal semacam itu, sehingga hal maksimal yang bisa dilakukan oleh TNI, dilakukan melalui dua jalan.

TNI

Pertama menjaga keutuhan NKRI dengan terlibat langsung memastikan daya tahan ekonomi masyarakat melalui daulat pangan, utamanya di pedesaan melalui swasembada pangan. Ya benar, pemerintahan baru Joko Widodo memberikan TNI ruang lebih besar sebagaimana tupoksi TNI sendiri dalam “perang semesta” dan dilibatkan dalam target swasembada, mengerahkan babinsa untuk mendukung pembukaan lahan persawahan, ladang dan kebun, demi tujuan ini.

Kedua melakuan sosialisasi akan bahaya perang proxy, dengan melibatkan dan memberikan kuliah umum pada generasi muda dan kaum pelajar serta mahasiswa. Generasi muda ini memang merupakan sasaran utama dari perekrutan pihak asing, dengan cara cuci otak ideologis yang membahayakan keutuhan NKRI.

Hanya dengan kedua jalan konstitusional inilah, TNI bisa bergerak mencoba menangkal segala upaya perang proxy, dan penyebaran rumor negatif pada masyakarat, baik rumor yang berupaya memanas-manasi agar ada konflik sektarian dengan jalan adu domba isu antar umat seagama, atau antar umat beragama, atau melalui rumor yang menyerang pemerintahan agar tidak percaya pada suatu pemerintahan, dan proses demokrasi yang berlangsung.

Di mana medan perang proxy itu tengah berlangsung?  Anda bisa menebaknya sendiri, ketika mereka sulit mendapatkan ruang gerak melalui jalan penghasutan masyarakat secara riil, maka jalan menghasut secara online yang dilakukan.

Siapapun dari diri kita, apabila memiliki identitas “warga negara online” alias netizen, adalah sasaran utama dari kampanye para penghasut yang akan berupaya sekuat tenaga menjadikan Anda yakin negara tengah genting, saat genting ekonomi gagal disebarkan, maka sedang ada bahaya syiah, bahaya sunni, bahaya kristenisasi, bahaya ahmadiyah, bahaya komunisme, liberalisme, kapitalisme, sosialisme, dst demi tujuan memindahkan konflid berdarah di Timur Tengah ke Indonesia.

Pertama tama Anda perlu tenang, negara ini tidak sedang bahaya, baik semua ideologi di atas, sunni, syiah, liberal, sosialis, kristen, budha, adalah entitas penting dari bangsa ini, bagian dari NKRI, yang sudah semestinya bersatu dan berkerjasama.

Mereka yang berupaya menyebarkan permusuhan itulah yang tidak sedang tenang, mereka gusar, geregetan, ingin berkuasa dengan segala macam cara secepatnya. Ingin merusak stabilitas Indonesia, agar ekonomi Indonesia tersendat. Tapi mereka tidak akan ke mana mana, jika Anda tetap tenang dan tidak terbakar oleh hasutan hasutan tersebut.

Jika di suatu laman sosial media, Anda menemukan yang semacam itu? Bully saja sambil senang senang.. itu layak mereka dapatkan.

No tags for this post.

NO COMMENTS