Sekilas Pemikiran Ibnu Taimiyyah

0
475 views

INFOSALAFI.COM – Ahmad bin Taimiyah lahir pada tahun 661 H (Durar al-Kaminah,jilid 1,halaman.144) lima tahun setelah runtuhnya kekuasaan Bahgdad di Harran. Di kota itulah ia memulai pendidikannya. Setelah expansi bangsa Mongol ke Suriah, ia dan keluarganya pindah ke Damaskus dan di sanalah ia tinggal bersama dengan keluarganya. Pada tahun 698 H pengaruh-pengaruh ajaran sesat mulai terlihat pada dirinya  terutama dalam menafsirkan ayat,  “al-Rahman ala al-Arsy istawa.” (Qs. Thaha [20]: 5)

Dalam kitab  alAqidah Hamawiyah429 dia berkata:   Inna Allah taala fauqa kulli syaiin wa ala kulli syaiin wa annahu fauqal arsyi wa annahu fauqa al sama-i. (Sesungguhnya Allah Swt berada di atas segala sesuatu dan di atas segala sesuatu dan Dia berada di atas Arsy dan di atas langit).

Penafsiran seperti ini  sangat bertentangan dengan ayat al-Qur’an (laisa kamtslihi syai-un ) dan (wa lam yakun lahu kufu-an ahad ), karena Tuhan suci dari sifat-sifat makhluk.

Berkembangnya pemikiran-pemikiran sesat (Ibnu Taimiyah) telah membuat gaduh suasana di kota Damaskus dan sekitarnya. Hal ini telah membuat ulama dan penguasa pada waktu itu (Jalaluddin Hanafi) menjatuhkan hukuman in absentia padanya. Karena Ibnu Taimiyah berhalangan hadir dalam persidangan.

Ibnu Taimiyah selalu berbeda pendapat dengan pemikiran–pemikiran  dan akidah–akidah yang ada, sehingga pada 8 Rajab 705 H, penguasa pada masa itu mengadakan debat antara Kamaluddin dan Ibnu Taimiyah. Dari debat itu, kesesatan pemikiran dan akidahnya dapat dibuktikan dan kemudian ia diasingkan ke Mesir.

Demikian pula di Mesir karena pemikirannya yang menyimpang tersebut ia dipenjarakan oleh penguasa (Ibnu Mahluf Maliki), kemudian dibebaskan pada tanggal 23 Rabiul Awal 707 H. Akan tetapi karena akidahnya yang sesat tersebut, ia kembali dipenjarakan oleh penguasa (Badruddin) karena telah melakukan penghinaan kepada Rasulullah Saw dalam masalah tawassul. (al-Bidayah wal-Nihayah, 14/17)

Akhirnya pada tahun 708 H ia kembali dibebaskan, akan tetapi karena aktivitas- aktivitasnya yang menyimpang tersebut ia kembali diasingkan ke Iskandariah pada akhir bulan Safar 709 H, dan setelah delapan bulan ia kembali ke Kairo.

Ibnu katsir berkata, “Pada 22 Rajab 720 H, Ibnu Taimiyah hadir di Dar al-Sa’adah, penguasa dan para mufti mazhab Islam (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali ) memenjarkannya karena akidahnya yang bertentangan dengan mazhab Islam, dan pada tanggal 2 Muharram 721,  ia kembali dibebaskan.(al-Bidayah wa al-Nihayah, 14/111)

Ibnu Hajar al-Asqalani juga berkata, Ibnu Taimiyah di bawa ke hadapan penguasa Maliki dan ia tidak menjawab pertanyaan penguasa tersebut. Ia menimpali pertanyaan penguasa, Penguasa (Maliki) ini mempunyai permusuhan dengan saya. Akan tetapi Ibnu Taimiyah sama sekali tidak menjawab pertanyaan penguasa tersebut, sehingga ia dipenjara dalam sebuah benteng. Sewaktu berita sampai kepada penguasa bahwa orang–orang mendatangi Ibnu Taimiyah, ia mengatakan: kalau karena kekafirannya yang sudah jelas ia tidak dibunuh, namun ia harus disiksa, karena itu ia dipindahkan ke tahanan pribadi. Setelah kejadian tersebut penguasa (Maliki) kembali ke kotanya dan di Damaskus ia mengumumkan, barang siapa mempercayai akidah Ibnu Taimiyah maka halal darah dan hartanya, khususnya bagi mazhab Hanbali.

Pengumuman ini dilakukan oleh ulama-ulama Ahlusunnah, yang dibacakan oleh Syahab Mahmud di Masjid Jami’ Damaskus, dan dihadiri oleh pengikut-pengikut mazhab Hanbali dan yang lainnya. (Durar al-kaminah, jilid 1, halaman.147).

 

sumber : http://www.infosalafi.com/

NO COMMENTS