Sejarah Ringkas Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

0
10,094 views

Muhammad-Abdul-WahhabSyaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah nama yang sering dibicarakan di seluruh dunia Muslim. Tapi siapa dia sesungguhnya? Apa ajarannya? Apakah ajarannya benar-benar sesuai dengan sunnah Rasul kita Muhammad saw? Apa yang kita tahu tentang dia? Apakah dia mujaddid atau pembaharu agama Islam seperti yang diklaim oleh beberapa orang? Atau justru dia salah satu dari tiga puluh dajjal[1] terkutuk yang dengan mudah berdusta? Atau Khawarij yang muncul di akhir zaman?

 

Untuk memahami pertanyaan-pertanyaan seperti itu maka penting bagi kita untuk melihat biografi singkat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini agar kita bisa memahami secara objektif dan fair tentang dia dan juga misinya yang tentunya menjadi pendorong kiprahnya dalam hidupnya.

Kelahiran

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H, di  desa Uyainah al-Yamaamah, provinsi Najd Tengah, Saudi Arabia yang terletak di bagian barat laut dari ibu kota Sa’udi Arabia Riyadh. Menarik untuk dicatat bahwa inilah tempat asal Musailamah al-Kadzab atau Musailamah si pembohong, yang mengklaim dirinya sebagai Nabi untuk menyaingi kenabian Muhammad saw.

Pendidikan

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dibesarkan di rumah ayahnya, seorang ulama agung ahlu sunnah yang bernama syaikh Abdul Wahhab bin Sulaiman an-Najdi. Ia belajar Fiqh Hanbali dari ayahnya. Namun karena sifatnya yang keras kepala sejak usianya yang sangat muda itu, akhirnya sang ayahnya memaksanya untuk mencari guru yang lain, dan sang ayah lebih fokus untuk mengajar saudaranya yang lebih rendah hati dan lebih saleh, yakni syaikhy Sulaiman bin Abdul Wahhab .

Dikatakan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melakukan perjalanan berulang kali ke Makkah dan Madinah dalam upaya untuk menemukan guru yang cocok yang bisa memuaskan nafsunya dan ambisinya. Dia duduk dengan banyak syaikh, namun dia tidak pernah menyelesaikan studinya karena tidak puas dengan apa yang diajarkan oleh mereka .

Di Makkah dia belajar dengan ulama-ulama yang bermazhab Syafe’i seperti  syaikh  Abdullah bin Salim al-Basri, seorang ulama yang sangat terkemuka dalam ilmu hadis di Hijaz saat itu.[1] Dia juga belajar dengan ulama ahli fikih mazhab Hanbali, seperti syaikh Abu al-Muwahhib al-Bali[2] dan ulama-ulama lain seperti Ali al-Daghstani, Isma’el al-Ajaluni, Abdullah bin Ibrahim al-Saif, seorang ulama dari benua Indo-Pakistan Muhammad Hayat as-Sindi dan juga syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan sebagainya.

Namun Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab ini tidak merasa puas dengan semua gurunya di atas yang akhirnya mendorong dia untuk pergi ke Irak dan coba belajar di sana. Saat itu Muhammad bin Abdul Wahhab ini sudah mulai sangat terpengaruh dengan karya-karya Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibn Qayyum . Bahkan dalam banyak hal, Muhammad bin Abdul Wahab ini lebih ekstrem dari kedua tokoh idolanya tersebut dimana ia bukan hanya membatasi berkutat hanya dalam teori dan pena saja namun ia mempraktekkannya dalam realitas kehidupan.

[divider]


[1] Ada riwayat yang mengatakan bahwa kelak di akhir zaman akan ada tiga puluh dajjal yang berdusta atas nama agama dan menyesatkan ummat manusia dengan nama agama.

[1] The life, Teachings and Influence of Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhab by Jamal Zarabozo, hal 19

[1] The life, Teachings and Influence of Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhab by Jamal Zarabozo hal 17

idolanya tersebut dimana ia bukan hanya membatasi berkutat hanya dalam teori dan pena saja namun ia mempraktekkannya dalam realitas kehidupan.

Ibnu Taimiyyah tidak pernah menghancurkan kuburan atau menghancurkan kubah atau membunuh siapa pun yang dia anggap musyrik, meskipun dalam fatwa-fatwanya ia berkata langkah-langkah ekstrim harus ditegakkan untuk mencegah orang dari melakukan syirik. Namun Muhammad bin Abdul Wahab melakukannya dalam bentuk nyata dengan menghancurkan kuburan dan makam para wali bahkan membunuh dengan sangat kejam orang-orang yang dianggapnya musyrik.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ini pernah belajar dengan para ulama dari berbagai mazhab seperti Hanbali, Shafei dan Hanafi, namun dia menyatakan perang terhadap imam empat mazhab tersebut. Alasannya adalah haram bertaklid buta kepada ulama-ulama di atas. Itu artinya dia merasa bahwa dirinya lebih alim dan lebih pakar dari ulama-ulama agung di atas; dan Ibnu Taimiyyah serta muridnya Ibnu Qayyum bagi Muhammad bin Abdul Wahab jauh lebih alim dari pada mereka semua.

Kekasaran dan sikapnya yang dengan mudah menyalahkan dan mensyirikkan orang muslim akhirnya menyebabkan para ulama Irak mengusirnya keluar dari Irak. Dia pergi meninggalkan  Irak di tengah terik matahari yang sangat panas yang hamper-hampir membuat dirinya mati kehausan. Dia mengemis kesana kemari mencari bekal agar bisa pergi ke Suriah. Namun ketentuan Allah menginginkannya kembali ke Najd, kota asalnya.

Kutukan Guru-gurunya

Muhammad bin Abdul Wahab berguru dengan banyak ulama. Namun tidak satu pun dari mantan gurunya yang  mendukung doktrin yang ia yakini dan sebarkan.  Bahkan banyak mereka yang kemudian mengecamnya dan mengutuknya.

Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan Syekh Muhammad al-Sindi , dua tokoh ulama yang sangat dihormati oleh kaum muslimin  mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab ini sesat dan yang sangat menyedihkan adalah akan banyak orang yang kemudian tersesat karena ulahnya. Dalam rangka mengantisipasi apa yang sangat mereka khawatirkan itu kemudian dua ulama ini bergabung dengan saudara Muhammad bin Abdul Wahab yang bernama syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab menulis sebuah buku yang berjudul al-Sawaa’iq al- Ilahiyah fi ar- Radd ‘ala al-Wahhabiyah (Halilintar Ilahi: Jawaban terhadap Wahabiyah).

Di situ mereka menulis bahwa Muhammad bin Abdul Wahab adalah “dhal mudhil (sesat dan menyesatkan.”

Ayahnya, syaikh Abdul Wahab menangis dan murka kepada sang anak ini setelah membaca karyanya yang berjudul Kitab at-Tauhid. Terjadi beberapa kali perdebatan hebat antara mereka yang menyebabkan ayahnya benar-benar kecewa dan murka kepada sang anak. Sebelum sang ayah meninggal beliau sempat berkata, “kalian akan menyaksikan banyak keburukan yang akan dilakukan oleh anak saya, Muhammad bin Abdul Wahab.

Darah Muslimin Halal 

Sejak ayahnya meninggal, Muhammad bin Abdul Wahhab merasa lebih bebas untuk mempublikasikan ajarannya yang  menyimpang  itu. Ia tidak pernah menghormati lagi saudaranya syaikh Sulaiman dan ulama-ulama agung lainnya.  Fatwa-fatwanya yang membolehkan  membunuh dan merampas harta orang-orang yang dianggapnya “musyrik” meskipun ditentang oleh banyak ulama namun mendapatkan dukungan dari orang-orang badui yang memiliki profesi perampok dan penyamun. Dalam bukunya Kashf-ash-Shubuhat Muhammad bin Abdul Wahab menulis:

“Orang-orang yang meminta syafaat melalui para Nabi dan Malaikat, menyerukan kepada mereka dan bermohon melalui wasilah (tawassul) dalam upaya mereka lebih dekat kepada Allah sesungguhnya adalah orang-orang yang melakukan dosa terbesar. Oleh karena itu diperbolehkan mereka dibunuh dan hartanya boleh dirampas.”

Dan fatwanya itu kemudian ia wujudkan secara nyata. Bersama enam ratus atau lebih bandit-bandit padang pasir mereka kemudian menyerang desa-desa dan menghancurkan makam-makam para wali. Yang pertama kali ia hancurkan adalah makam Zaid bin al-Khattab.  Dia pribadi mengambil kapak dan menghancurkan makam yang mulia itu yang kemudian dilanjutkan oleh para pengikutnya. Orang-orang yang dianggapnya musyrik dibunuh dan hartanya dirampas.

Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab terus menjarah wilayah tetangga seperti Zabir, Ahsa, Huraimala, dan bahkan kampung halamannya Uyainah. Tanpa belas kasih mereka membunuh laki-laki, perempuan dan anak-anak muslim jika mereka menolak untuk menerima dakwahnya. Mereka yang menerima dakwahnya dipaksa untuk mencukur jenggot dan rambut mereka dengan dalih itu adalah rambut kekufuran dan wajib dibersihkan.

Tindakan brutal syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ini sampai ke telinga khalifah Sulaiman bin Urairar. Mereka datang dengan bala tentara untuk menyelamatkan nyawa kaum muslimin  yang diancam oleh gerombolan bandit Syaikh Muhammad bin  Abdul Wahhab. Dengan terpaksa syaikh Wahabi ini kemudian melarikan diri ke Darriyah demi menyelamatkan nyawanya dan nyawa gerombolannya.

(bersambung)

NO COMMENTS