Perempuan; Korban Kekerasan Kelompok Takfiri

0
715 views

Kekerasan Kelompok TakfiriDewasa ini istilah pelecehan seksual, penyiksaan, penghinaan, dan ketakutan bagi perempuan di seluruh dunia telah akrab di telinga kita. Meski telah ada organisasi internasional dan berbagai konvesi internasional untuk memperhatikan posisi serta kepribadian perempuan dan menegakkan hak-hak mereka, namun banyak laporan dari media massa mengindikasikan kondisi yang mengkhawatirkan dan memilukan perempuan di seluruh penjuru dunia, khususnya kawasan Timur Tengah oleh kelompok takfiri. Kini milisi takfiri seperti al-Qaeda, Taliban, Boko Haram, DIIS dan semisalnya. Milisi-milisi tersebut dengan mengatasnamakan Islam mulai gencar melanggar hak-hak perempuan dan gadis khususnya di Afghanistan, Yaman, Irak, Suriah dan Nigeria.

Kini kekerasan dan keras kepala kelompok takfiri membuat kawasan Timur Tengah dan Afrika akan menghadapi kendala lebih besar khususnya terkait perempuan dan anak gadis. Saat ini, kelompok takfiri yang menjadi model kekalahan Taliban di Afghanistan, mulai menebar kejahatan dan operasi teror di sejumlah wilayah. Boko Haram yang beroperasi di Nigeria juga termasuk salah satu dari kelompok takfiri. Boko Haram melarang setiap tradisi dan pendidikan Barat. Namun dalam hal ini, Boko Haram sangat radikal dan fanatik. Lebih parah lagi, kelompok ini bahkan mengharamkan pemanfaatan sejumlah fasilitas hidup.

Realitanya adalah Boko Haram bukan saja menolak budaya Barat, bahkan menolak pula seluruh ajaran dan kehidupan modern. Kelompok ini terilhami oleh pemikiran radikal al-Qaeda dan kelompok takfiri. Kemudian secara bertahap Boko Haram mulai beraksi di utara Nigeria. Di wilayah Boko Haram, perempuan tak ubahnya sebagai budak seks dan barang komoditas. Milisi bersenjata Boko Haram pimpinan Abubakar Shekau pada April tahun ini melakukan tindakan memalukan dengan menculik 200 siswi.

Setelah menculik 200 siswa perempuan dari sebuah sekolah di Nigeria, Abubakar Shekau melalui pesan videonya mengumumkan bahwa siswi tersebut akan dijual sebagai budak atau bakal dipaksa untuk kawin. Kecabulan kelompok takfiri ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam dan nilai-nilai kemanusiaan. Artinya penculikan ratusan anak perempuan dan menjadikannya mereka secara paksa menjadi budak seks merupakan pelanggaran nyata terhadap hak-hak anak perempuan. Baru-baru ini Boko Haram juga menculik 60 perempuan dan anak gadisdi wilayah timur laut Nigeria.

Kelompok Daulah Islamiyah fil Iraq wa Syam (DIIS) juga tercatat sebagai kelompok takfiri lainnya. Sebagian kalangan menyebut DIIS sebagai kelompok takfiri paling radikal di Timur Tengah. DIIS menganggap dirinya sebagai penerus Ben Laden dan al-Qaeda. Banyak bukti yang menunjukkan esensi terorisme kelompok ini. Mereka dengan luar biasa melakukan aksi pembantaian warga tak berdosa serta melanggar hak-hak perempuan di Suriah dan Irak.

Kelompok teroris ini setelah berhasil menguasai sebuah kota dan kejahatan luas, pasti menerapkan undang-undang sangat aneh khususnya yang berkenaan dengan perempuan. Pelanggaran terhadap peraturan yang mereka tetapkan akan diganjar dengan hukuman cambuk, potong tangan atau bahkan eksekusi. Misalnya, memakai celana jins bagi perempuan hukumnya haram. Memandang pakaian wanita yang pajang di etalase toko hukumnya juga haram dan laki-laki dilarang bekerja di toko yang menjual peralatan perempuan. Memasang iklan potong rambut bagi perempuan dilarang. Perempuan dilarang merujuk ke dokter kandungan dan untuk berobat. Perempuan dilarang duduk di kursi dan lain sebagianya. Peraturan kaku ini mengingatkan pada era pemerintahan Taliban di Afghanistan dan pemerintah Arab Saudi.

Ulah DIIS di Suriah telah mengancam keamananperempuan dan setiap menguasai sebuah kota, kelompok takfiri ini menerapkan peraturan yang sangat ketat. Dalam pandangan DIIS, segala sesuatu diharamkan bagi perempuan Suriah dan menurut mereka, perempuan harus terpenjara di dalam rumah. Melanggar peraturan ini akan diganjar dengan hukuman cambuk. DIIS melarang perempuan aktif di laman-laman sosial. Salah satu anggota DIIS menghukum mati seorang gadis Suriah dihadapan khalayak ramai di kota Raqqa gara-gara anak perempuan tersebut menjadi anggota Facebook.

Baru-baru ini, mufti Wahabi dari Tunisia, Muhammad al-Arifi  dalam fatwanya memperbolehkan jihad nikah dengan memanfaatkan anak gadis Suriah atau non Suriah. Dalam fatwanya tersebut, al-Arifi menyeru perempuan dan anak gadis untuk menyerahkan diri kepada kelompok teroris yang meraja lela di Suriah. Yasin al-Ajluni, mufti Wahabi lainnya dalam sebuah fatwanya yang memalukan membolehkan untuk menawan perempuan Syiah Suriah dan menekankan bahwa para teroris menjadi pemilik tawanan tersebut.

Selain itu, para teroris juga menentukan harga dan memperjual belikan anak gadis Suriah. Harga anak gadis tersebut didasarkan pada tempat asal, warna kulit dan mata. Pelanggaran DIIS terhadap perempuan menyebabkan mayoritas wanita Suriah mengungsi ke perbatasan Turki. Arus pengungsian ini juga menciptakan beragam kendala termasuk kemiskinan, gelandangan, pelecehan seksual dan jual beli perempuan di wilayah perbatasan.

Sementara di Irak, langkah brutal DIIS dan pelanggaran nyata terhadap perempuan jugaterjadi di berbagai kota termasuk Mosul. Ketika pertama kalinya memasuki Mosul, anasir DIIS telah memperkosa 14 perempuan. Departemen Hak Asasi Manusia (HAM) Irak meminta organisasi internasional melakukan langkah-langkah antisipasi untuk mencegah pelecehan seksual oleh anasir DIIS. Kelompok takfiri ini memperlakukan perempuan Mosul seperti budak non Muslim yang jatuh ke tangan mereka melalui peperangan. Mereka juga menjustifikasi pelecehan seksual terhadap perempuan yang menentang dan tidak seakidah dengan mereka. DIIS menyebutnya sebagai Syiah atau bahkan menganggapnya sebagai rafidhi, majusi atau ateis, sehingga mereka bisa berbuat apa saja terhadap perempuan malang tersebut.

Kelompok takfiri memiliki pandangan sangat berbeda mengenai agama dan siapasaja yang tidak sepaham dengan kelompok ini dianggap kafir. Dengan membawa ideologi seperti ini, anasir DIIS telah melakukan kejahatan brutal terhadap perempuan dan anak gadis. Ketika melakukan tindakan amoralterhadap perempuan, teroris DIIS akan berusaha untuk mencitrakan legal tindakannya. Misalnya ketika sejumlah teroris memperkosa sejumlah anak gadis di Mosul, mereka mendapat protes luas dari kabilah di daerah tersebut. Kondisi ini memaksa DIIS mengirim wakil untuk menyelesaikan kasus ini dan mencitrakan kejahatan tak bermoral ini sesuai dengan syariat Islam. Dalam hal ini tidak ada yang berani membantah karena DIIS memiliki persenjataan lengkap.

Saat ini perempuan dan anak gadis Irak, siang dan malam berada dalam ancaman pembunuhan atau pemerkosaan luas oleh anasir DIIS. Sampai-sampai sejumlah perempuan di berbagai kota yang berada di bawah ancaman DIIS selalu membawa racun mematikan, supaya ketika mereka berada dalam ancaman kelompok teroris ini dan terancam diperkosa, mereka akan menelan racun tersebut untuk bunuh diri.

Aksi bunuh diri sejumlah perempuan Mosul ketika terancam diperkosa anggota DIIS, termasuk salah satu kejahatan kelompok takfiri yang mengklaim akan membentuk sebuah pemerintahan Islam di Irak dan Syam. Dengan demikian apakah pelaku kejahatan ini dan mengaku sebagai mujahidin dengan perbuatannya tersebut bukannya telah menyimpang dari ajaran agama dan nilai-nilai kemanusiaan?

Tak diragukan lagi kejahatan terhadap perempuan seperti ini jelas-jelas melanggar ajaran suci Islam. Dalam pandangan Islam, perempuan memiliki posisi tinggi. Rasulullah Saw memberikan penghormatan khusus kepada kaum perempuan. Beliau senantiasa mewasiatkan untuk berbuat baik, penuh kasih sayang dan toleran terhadap perempuan. Sikap Rasulullah ini telah mengangkat derajat kaum perempuan yang dalam pandangan Arab saat itu dianggap sebagai makhluk tak bernilai.

Kini teroris takfiri kembali menghidupkan tradisi Arab jahiliyah dan tidak menghormati hak-hak perempuan. Dengan kejahatannya terhadap perempuan, teroris takfiri berencana merusak citra Islam. Ketika Islam menekankan untuk menghindari kezaliman dan menjaga hak-hak manusia termasuk hak serta kehormatan perempuan, apakah klaim mereka yang mengaku muslim seperti anggota DIIS yang tangannya belepotan darah ribuan umat Islam serta memperkosa perempuan dapat diterima?

Mengingat beragam kejahatan kelompok takfiri termasuk DIIS di Suriah dan Irak, sepertinya untuk menghentikan pembantaian warga tak berdosa dan pelanggaran nyata terhadap kehormatan perempuan, organisasi internasional termasuk Dewan HAM dan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) harus melakukan tindakan praktis menyikapi kejahatan DIIS dan pendukungnya.(IRIB Indonesia)

 

sumber : http://indonesian.irib.ir/

NO COMMENTS