Perang Takfiri vs Takfiri di Suriah Hingga Indonesia

0
1,325 views

Jihadis-vs-JihadisLiputanIslam.com — Bagi khalayak yang sudah mengikuti konflik Suriah dari awal, pertentangan antara kelompok pemberontak di Suriah yang kini berujung dengan saling bunuh satu sama lain bukanlah hal yang mengejutkan. Gelagat itu sudah mulai tercium sejak pertengahan tahun lalu walau berusaha ditutupi mati-matian oleh pendukungnya.
Adalah Arrahmah, yang kini telah terang benderang memposisikan diri sebagai pendukung kelompok Jabhat Al Nusra mengungkapkan kekecewaannya terhadap ISIS.

Arrahmah mengakui;

Di tengah kegembiraan kaum muslimin dan mujahidin tersebut, berita buruk menampar kaum muslimin. Jama’ah Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS) justru mengepung dan menyerbu markas-markas mujahidin Jabhah Nushrah di propinsi Hasakah dan Deir Ezzur. Tikaman yang khianat dan zalim tersebut sangat menghentikan pengiriman bantuan amunisi dan logistik bagi mujahidin Jabhah Nushrah yang melakukan ribath di front terdepan melawan pasukan rezim Nushairiyah Suriah dan sekutu-sekutunya.

 

Namun berita tersebut dibantah oleh media pendukung ‘jihadis’ lainnya, yang pro ISIS yaitu Shotussalam;

Aktivis media Suriah paling terpercaya dan terbaik di Provinsi Hasakah melaporkan, bahwa seluruh pejuang Harakah Ahrar Syam di wilayh tersebut menyatakan bai’at dan bergabung dengan Daulah Islam Iraq dan Syam, pada hari Kamis (6/2/2014).Aktivis media tersebut adalah al Akh Jawaad al Haskawiy, aktivis media lokal Hasakah yang selama ini menjadi salah satu sumber berita rujukan paling terpercaya dan terbaik di Provinsi tersebut.Redaksi Shoutussalam mencoba untuk menghubungi via jejaring sosial miliknya, @hasska24. Ia membenarkan kabar tersebut, dan menampik setiap berita yang beredar bahwa semua pejuang Ahrar Syam di wilayah tersebut berbai’at pada Daulah Islam atas dasar paksaan di bawah todongan senjata.
arrahmah dicaci makiDi  thread jejaring sosial, Arrahmah pun dibully oleh para pendukung ISIS. Berbeda dengan kondisi tahun lalu ketika ada media independent yang memberikan informasi seputar perpecahan di tubuh pemberontak, para pendukungnya senantiasa menuduh media tersebut; liberal, Syiah, kafir dan sebutan lainnya yang tidak layak diucapkan oleh seorang muslim. Ketidak-akuran para penegak ‘khilafah’ di Suriah pada akhirnya berimbas kepada berita-berita yang dipublikasikan di tanah air. Satu sama lain saling menjatuhkan dan mencaci maki, tidak jarang mereka saling ancam untuk tebas leher.  Tentunya, bagi kita yang awam akan bertanya-tanya, “Bagaimana bisa menegakkan sebuah khilafah atau negara Islam jika para pejuangnya sendiri saling bantai?” (LiputanIslam.com/arrahmah/shotussalam/AF)
sumber : http://liputanislam.com/

NO COMMENTS