Pangeran Mahkota Saudi Tetap Dukung Wahabi

0
1,315 views

Saudi Interior Minister Prince Nayef binPangeran Mahkota Arab Saudi menegaskan akan tetap mendukung sistem Wahabi yang ada di negaranya dan Arab Saudi tidak akan mundur dari sistem yang ada ini. Menurut laporan televisi Arab Saudi hari ini (Kamis, 29/12), Pangeran Nayef bin Abdul Aziz dalam konferensi “Teladan Salafi” di al-Imam Muhammad Ibn Saud Islamic University dengan bangga menyatakan Arab Saudi mengikuti metode Salafi. Sebaliknya, Pangeran Nayef menyebut bodoh siapa saja yang mengritik model ini.

Keluarga Al Saud senantiasa mendukung ajaran dan pengikut Wahabi, khususnya dalam merusak citra Syiah di negara ini dan di negara-negra Arab lainnya. Sikap anti Syiah itu dapat ditemukan dalam pernyataan Pangeran Mahkota Arab Saudi dan penyelenggaraan konferensi anti Syiah yang diikuti oleh para rohaniwan Wahabi di kawasan timur negara ini. Dalam konferensi yang dipimpin oleh Abdullah Bin Jabrin ini, para peserta meminta Raja Abdullah mengeluarkan perintah serius menghadapi orang-orang Syiah, sekaligus merusak masjid-masjid mereka.

Dalam pertemuan ini, Bin Jabrin menyampaikan pidato kebenciannya dan meminta Raja Arab Saudi melarang orang-orang Syiah mendapat pekerjaan di sektor politik dan militer. Ia juga menuntut agar orang-orang Syiah tidak diberikan kesempatan menduduki pos-pos penting di pemerintah Arab Saudi.

Mencermati kebijakan Al Saud yang mendukung ajaran dan pengikut Wahabi di Arab Saudi membuat ulama ekstrim Wahabi di negara ini memiliki kebebasan untuk berbuat banyak hal. Ironinya kebebasan itu dipergunakan dengan mengeluarkan bahasa yang kasar dan keras terhadap orang-orang Syiah di Arab Saudi. Bahkan sebagian memakai kata bunuh untuk mengungkapkan kebenciannya. Pada saat yang sama, pemerintah Arab Saudi yang tahu bahwa membiarkan pernyataan-pernyataan yang membahayakan keamanan warganya, lebih memilih diam dan tidak mereaksinya.

Di sisi lain, keluarga Al Saud juga tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran mereka akan sampainya gelombang Kebangkitan Islam dari negara-negara lain ke Arab Saudi. Mereaksi itu, mereka mengirimkan pasukan ke negara-negara Arab tetangganya seperti Bahrain untuk mencegah gelombang kesadaran ini ke negaranya dan pada saat yang bersamaan memaksa ajaran Wahabi kepada seluruh warganya. Itulah mengapa pasukan Saudi dengan mudah merusak masjid dan warisan Islam lainnya di Bahrain.

Kekhawatiran keluarga Al Saud dari gelombang Kebangkitan Islam di negara-negara Arab semakin menjadi-jadi, ketika di kawasan timur Arab Saudi sendiri terjadi protes luas rakyat. Pemerintah Arab Saudi bukan hanya tidak memperhatikan tuntutan rakyatnya, justru mengirimkan tentara untuk mendiamkan teriakan rakyat dengan peluru.

Para pengamat politik menilai satu dari variabel Kebangkitan Islam di negara-negara Arab adalah keinginan untuk menggantikan pemerintahan monarki dengan demokrasi. Mereka melihat fanatisme etnis dan mazhab akan menghalangi gerakan Kebangkitan Islam di negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi. (IRIB Indonesia/SL/NA)

 

sumber : http://indonesian.irib.ir/c/journal/view_article_content?groupId=10330&articleId=4969981&version=1.0

NO COMMENTS